Kematian kiranya merupakan hal yang lumayan jarang diperbincangkan. Paling tidak menurut pengalamanku selama aku bergaul dengan orang yang masih hidup. Karena memikirkan tentang mati saja sudah mengerikan, apalagi mengalaminya secara langsung. Atau, karena membicarakan tentang kematian merupakan hal tabu yang sebaiknya jangan dibahas.

Minimalnya, kita baru ingat akan mati saat mendengar kabar ada orang lain atau orang terdekat kita yang mati. Atau ikut pengajian yang membahas tentang kematian. Kalau tidak ada momen-momen tertentu seperti itu, kita mungkin tidak akan memikirkannya.

Padahal, kita semua tahu bahwa semua makhluk yang bernyawa pasti akan mati nantinya, tak terkecuali manusia. Datang tanpa berkompromi dan negosiasi, tanpa bertanya apakah kita siap atau tidak, dengan cara apapun.

Jika ditanya apakah kita takut mati, mungkin kita hanya akan menjawabnya dengan jawaban seperti : lumayan, khawatir sedikit, belum siap, atau jawaban lain yang serupa. Ada juga yang mengaku berusaha tidak mengingat kematian. Tapi dibalik semua jawaban itu, sebenarnya mereka mungkin enggan untuk mengakui bahwa dirinya benar-benar takut mati.

Berusahalah untuk duniamu dan beribadahlah untuk akhiratmu seakan kamu mati sebentar lagi.

Sebenarnya kita harus bersyukur akan adanya kematian. Dengan menerima dan menyadari adanya kematian yang sebenarnya sudah ada di depan mata, kita jadi lebih memikirkan betapa pentingnya segala keputusan yang akan kita ambil, serta menjadi lebih berani untuk mengambil risiko yang ada di depan. Atau bagi yang mempercayai adanya kehidupan setelah kematian, minimalnya akan jadi lebih sering ibadah, karena takut masuk neraka atau disiksa di alam kubur.

Tapi yang paling utama, kita akan lebih menghargai setiap detik yang kita jalani bersama orang-orang terdekat dengan sepenuhnya. Mengingat bahwa pasti ada orang yang akan bersedih jika kita pergi mendahului mereka. Menggunakan waktu, yang entah masih tersisa berapa lama, untuk sekedar bersenda gurau dengan orang-orang tersebut.

Dan barangkali, semakin manusia dekat dengan kematian, semakin bijak manusia dalam menghidupi hidupnya dan menghadapi segala persoalannya. Memahami bahwa umur yang panjang semata tidaklah cukup, jika tidak berbuat yang terbaik pada sesama manusia. Karena manusia tidak dapat mengubur dirinya sendiri. Yang akan menghantarkan kematian kita, mengenang kematian kita, serta mendoakan kematian kita, adalah manusia lainnya.

Jadi, bukankah yang membuat kehidupan menjadi lebih berarti adalah kematian itu sendiri?

Di luar semua itu, jika boleh meminjam sepotong bagian dari novel yang berjudul ‘Ziarah’ karya Iwan Simatupang, bahwa tiap langkah kita adalah sebuah ziarah, menginjak pekuburan manusia-manusia di bumi ini yang telah lama mati ribuan tahun lalu. Bahkan sebelum kau sampai di pekuburan yang kau tuju, tiap langkah kita adalah sebuah ziarah pada kemanusiaan. Ziarah adalah cara manusia untuk terus mengingat kematian.

Dengan menulis ini, semoga saya lebih banyak ingat bahwa suatu saat aku pasti dapat giliran menyusul Ibuku, menyusul mereka yang sudah lebih dulu diziarahi. Kalau ada yang masih ingat kalau aku pernah hidup tentunya.

Entah oleh siapa.

Itupun kalau belum kiamat.

Ditulis oleh Farhad Zamani