Beberapa waktu lalu saya menghadiri sebuah diskusi sebagai salah satu rangkaian dari Festival Kampung Kota di Dago. Echa, seorang kritikus film yang kala itu menjadi salah satu pembicara mengemukakan sebuah pendapat yang kira-kira sudah lama saya pendam dalam hati. Kalimat-kalimatnya persis mewakili saya. Intinnya begini, dunia sudah semakin absurd dan berjalan terbalik. Ruang, yang sejak dahulu merupakan milik publik, kini semakin tersekat sekat dan menjadi semakin privat. Akhirnya, hampir selalu ada yang kehilangan ruang yang seharusnya menjadi milik bersama. Contoh mudahnya adalah penggusuran yang kian marak terjadi, masyarakat yang tergusur tentu kehilangan ruang milik mereka, dan yang mendapatkan ruang tersebut bisa ditebak, merupakan tangan tangan yang memiliki kapital. Sementara ruang semakin bersifat privat, waktu yang seharusnya sangat privat kini menjadi sangat ‘publik’. Tiap manusia memiliki ‘waktu’nya masing-masing. Dalam meraih kesuksesan contohnya, ada yang meraih kesuksesan di usia senja, seperti pendiri KFC, ada pula yang sudah sukses di usia muda seperti pendiri Facebook. Namun kecenderungan sekarang, waktu menjadi milik publik. Semua orang menginginkan untuk menuai sukses sedini mungkin. Masuk PTN favorit, lulus dengan nilai tinggi, bekerja di perusahaan multinasional dan meniti karir disana. Semua dilakukan sedini mungkin.

Kembali ke permasalahan ruang yang semakin privat tadi, penggusuran di Kota Bandung kian hari menjadi barang biasa. LBH bandung melaporkan sebanyak 13 kasus penggusuran terjadi di wilayah Bandung. Bahkan seorang kawan organisator masyarakat, sebut saja Bepe, menyebutkan bahwa setidaknya ada 22 kasus konflik tanah yang terjadi di Bandung. Di luar Bandung tentu tidak kalah banyaknya, sebut saja yang sedang panas dan cukup besar adalah kasus New Yogyakarta International Airport (NYIA) yang mendapat penolakan keras dari mahasiswa seluruh Indonesia namun malah didukung pemuda setempat. Cukup menggelitik memang. Tapi sudahlah, dalam setiap konflik tentu ada pihak pro dan pihak kontra dan itu merupakan hal wajar.

Ambil contoh kasus penolakan NYIA (dan mungkin hal serupa terjadi di hampir semua konflik agraria), argumen yang mendukung alih guna sawah menjadi bandara berdasar pada prinsip ekonomi sederhana. Dengan membangun bandara, ekonomi masyarakat akan ikut tergenjot. Dan masyarakat akan sejahtera. Lagipula, ganti rugi sudah diberikan ke warga yang terdampak. Begitu kira-kira bunyi argumennya.

Sementara kubu yang kontra, masih dalam konteks NYIA, akan berteriak lantang mengenai penggusuran tidak serta merta selesai dengan ganti rugi. Mau pindah kemana mereka yang tergusur? Bisa kerja apa mereka yang tergusur selain bertani? Petani diminta jadi petugas bandara? Jangan mimpi! Ditambah dengan serentetan problem hukum yang banyak diterabas dalam pembangunan NYIA. Pokoknya lawan! Tolak!

Dan pihak pro akan menimpali : “Makanya daripada demo mending fokus ajarin warga gimana caranya memanfaatkan uang yang didapat dari hasil ganti rugi!”. Dan perbedatan pun berlanjut. Meski kampung saya hanya berjarak 15 menit dari pusat konflik, dan tanah nenek saya ikut terbeli, saya belum pernah kesana untuk melakukan investigasi langsung ke lokasi konflik. Dan karena saya masih mengamini kata-kata Mao Zedong “Unless one has made an investigation, one doesn’t have the right to speak”, maka saya tidak akan melanjutkan bahasan mengenai NYIA. Sila dicari sendiri bahasan terkait.

Yang menarik dari pola-pola perlawanan terhadap perampasan sepihak terhadap ruang adalah selalu atau hampir selalu bersikap reaktif. Artinya bentuk perlawanan baru terjadi setelah muncul konflik dan mereda seiring kasus selesai, entah menang atau kalah. Pola-pola demikian membuat bentuk perlawanan selalu tertinggal beberapa langkah sehingga sering menemui kekalahan. Gejala tersebut tidak hanya menjangkiti mahasiswa agent of change yang sering angin-anginan karena dihadang rintangan akademik, katanya. Namun kerap terjadi di kalangan aktivis yang sudah cukup berpengalaman dalam konflik seperti ini.

Melawan tidak sesederhana menghadang excavator yang tiba-tiba datang dan menghancurkan paksa rumah warga, berteriak lantang berdemonstrasi di depan pengadilan menuntut keadilan, atau menempuh jalur hukum. Dibutuhkan sinergi dari kegiatan-kegiatan serupa. Seperti yang terjadi di Kebon Jeruk Bandung, warga yang tergusur tidak hanya menempuh jalur hukum untuk memperoleh hak-haknya, namun juga melakukan demonstrasi pada setiap sidang perkara kasus mereka. Tidak sekadar memberikan pendampingan hukum, namun juga memberi pengertian-pengertian akan hal-hal yang lebih bersifat fundamental sehingga sekarang warga Kebon Jeruk telah mampu membincangkan bentuk-bentuk kapitalisme yang paling dasar.

Melawan juga tidak seharusnya pilih-pilih. Miris juga rasanya tau bahwa seorang mahasiswa di Bandung yang selalu berteriak lantang mengenai kasus NYIA (di medsos) malah diam saja ketika ditanya mengenai konflik di Tamansari, Bandung. Lima langkah dari kampus!

Melawan juga bukan soal datang-foto-lalu pergi. Berkoar (di medsos) soal penggusuran, bahkan berfoto dengan wajah ceria di depan lokasi, namun kemudian hilang tak tahu rimbanya. Jangankan peduli pada kelanjutannya, disodori info terkait saja tidak menanggapi. Yang penting sudah berfoto di lokasi, sudah kelihatan jiwa aktivisnya, sudah keren! Titik.

Yang paling memuakkan adalah golongan yang selalu menjadikan rakyat sebagai objek kampanye mereka. Ya terutama jaman-jaman Pemilu Raya di kampus begini. Berbusa-busa mereka menjual gerakan bersama rakyat. Di forum-forum, teks-teks visi-misi, fasih betul. Dihiasi bahasa-bahasa a la intelektual yang penuh istilah akademis. Kesannya pintar, namun kosong. Jangankan bergerak bersama rakyat, ada konflik lima langkah dari kampus saja tidak tahu. Datang ke lokasi pun tidak pernah. Wahai Presiden, Ketua BEM atau apalah itu sebutannya, rakyat yang mana yang Anda maksud?

Maka benar sudah kalimat ini :

“Sesungguhnya golongan yang paling menderita akibat konflik agraria adalah rakyat kecil. Yang paling bahagia? Ya mahasiswa yang bisa foto-foto supaya terlihat aktivis!”

Ditulis oleh Ismail Faruqi