Pengantar

Dalam suatu ruangan yang biasa digunakan sebagai kelas kuliah pada pukul 19.00–22.30 WIB, berjalan sebuah diskusi yang mengangkat tema aktivisme 2.0 dalam rangka memahami wujud aktivisme dalam era informasi. Diskusi tersebut diadakan oleh Majalah Ganesha (MG) dan Himpunan Mahasiswa Informatika (HMIF) ITB dan dihadiri oleh sejumlah mahasiswa yang cukup antusias menanggapi isu yang relatif baru ini. Dibuka dengan pemaparan materi singkat oleh narasumber dari kedua lembaga perintis acara, diskusi diakhiri dengan sesi di mana setiap individu yang hadir bebas bertukar pikiran. Pada kesempatan saat itu, saya hadir dan berinteraksi langsung dengan massa yang ada. Banyak insight yang saya dapat dari diskusi ini, sehingga saya merasa merugi apabila pengetahuan yang didapat tidak diarsipkan dengan baik. Berkaitan dengan alasan tersebut akhirnya tulisan ini dibuat dengan harapan pembaca bisa mendapatkan pemahaman lebih mengenai aktivisme 2.0.

catatan: aktivisme 2.0 merujuk pada istilah aktivisme dan web 2.0.

Pemaparan Materi Aktivisme 2.0

Joshua Bezaleel A., pemateri dari HMIF, membuka diskusi umum ini dengan model hierarki pengetahuan yang ia dapat dari kelas kuliah. Dalam piramida ini terdapat empat komponen yang saling berhubungan satu sama lain yaitu data, informasi, pengetahuan dan kebijaksanaan. Pemateri memberikan contoh berupa logo beberapa instansi untuk memberikan gambaran. Berikut adalah rincian keempat komponen tersebut secara singkat:

  1. Data adalah simbol atau tanda yang merepresentasikan stimulus atau sinyal. Data tidak memiliki arti.
  2. Informasi adalah kumpulan data atau informasi lain yang telah diproses sehingga terdapat relasi yang membentuk arti.
  3. Pengetahuan terbentuk dari pola-pola yang terdapat pada data, informasi atau pengetahuan lainnya. Pola inilah yang akan dipahami dalam pengetahuan.
  4. Kebijaksanaan adalah pengakuan bahwa pola pengetahuan itu diciptakan dari prinsip-prinsip fundamental dan pemahaman dari prinsip-prinsip tersebut.

Apa hubungan hierarki pengetahuan ini dengan aktivisme 2.0? Dalam era informasi ini, semakin banyak data dan informasi yang beredar dengan mudah. Apabila kita merujuk pada piramida ini, seharusnya pergerakan bisa semakin maju dengan pengetahuan dan kebijaksanaan yang semakin banyak terbentuk dari data dan informasi. Dari pemaparan tadi, jelas bahwa pemahaman akan aktivisme dalam era informasi ini menjadi modal pergerakan yang penting.

Aktivisme dalam pembahasan kali ini didefinisikan sebagai upaya yang dimaksudkan untuk mengemukakan masalah perubahan yang terkait dengan masyarakat, kuasa pemerintahan, tatanan masyarakat atau lingkungan. Berangkat dari definisi tersebut, Joshua memaparkan contoh-contoh aktivisme internet atau Internet Activism. Arab Spring merupakan contoh aktivisme yang menggunakan internet sebagai media pergerakannya. Gerakan ini merujuk pada pemberontakan demokratis yang terjadi di negara-negara jazirah Arab pada tahun 2011. Mesir, Libya, Syria, Yaman, Bahrain, Arab Saudi dan Tunisia adalah negara-negara yang dimaksud. Contoh lain dari Internet Activism ini adalah penggunaan situs change.org sebagai media penghimpun suara yang digunakan untuk membuat petisi. Dog meat festival petition adalah salah satu petisi di situs tersebut yang sempat viral di dunia maya. Kasus-kasus yang ditampilkan oleh pemateri menunjukkan bahwa aktivisme akan semakin diwarnai oleh teknologi informasi.

Dari contoh yang diberikan, Joshua mengambil kesimpulan bahwa fenomena aktivisme 2.0 ini memiliki dampak yang cukup besar pada pola pergerakan. Salah satunya adalah bentuk aktivisme yang semakin bervariasi karena media informasi bisa diisi dengan mudah oleh bermacam isu. Power yang dihasilkan oleh aktivis pun bisa semakin besar, hanya dengan mengumpulkan like pada media sosial tertentu sebuah isu dapat cepat diangkat. Dampak lainnya adalah aktivitas terkait perubahan oleh aktivis akan semakin banyak dilakukan bahkan mungkin saja digantikan dengan internet. Namun sayangnya, kebenaran akan tersaji dalam versi yang semakin banyak sehingga sulit untuk mendapatkan fakta yang sah.

Renanda Yafi selaku pemateri dari Majalah Ganesha memberikan materi tambahan setelah perwakilan HMIF menutup presentasinya. Ofek, panggilan akrab dari pemateri MG, memberikan materi seputar semiotika dan hiperrealita. Semiotika adalah studi tentang simbol-simbol yang dibuat untuk mempresentasikan realita. Apabila ternyata simbol yang ada justru menggantikan realita, maka terjadilah fenomena hiperrealita. Hal inilah yang dapat digunakan oleh para aktivis 2.0 untuk mencapai tujuannya. Dengan memperbanyak publikasi gerakan di media sosial dengan simbol-simbol yang mendukung tujuan gerakan, aktivis bisa mendapatkan lebih banyak dukungan karena realita pembacanya akan dibentuk berdasarkan simbol yang dibuat. Salah satu fakta yang memperkuat alasan aktivis Indonesia untuk menggunakan media sosial adalah statistik penggunaan media sosial yang ada di atas. Jelas bahwa pengguna media sosial sudah sangat banyak sehingga potensi dukungan sangat besar.

Selain materi semiotika, Ofek juga menyajikan beberapa istilah yang cukup menggambarkan kejadian pada era aktivisme 2.0. Clictivism adalah penggunaan media sosial untuk tujuan tertentu, biasanya dicirikan oleh klik pada suatu situs kampanye. Walaupun bisa membuat suatu kampanye lebih terdengar, aktivisme dengan bentuk seperti ini sebetulnya tidak memberikan dampak lain yang cukup besar dan berpotensi mengurangi bentuk aktivisme yang memberikan kontribusi lebih nyata. Istilah berikutnya yaitu Slacktivism adalah aksi yang dilakukan via Internet untuk tujuan tertentu dengan ciri minimnya waktu dan usaha yang diperlukan. “Saya udah klik sana klik sini, wah dunia sudah berubah menjadi lebih baik!” Begitulah kalimat pada salah satu slide pemateri dari MG yang bisa menjelaskan fenomena clictivism dan slactivism. Ofek berpendapat, gratifikasi instan seperti kalimat sebelumnya lah yang menjadi bahan bakar penggerak para clicktivist dan slactivist.

Pelaku aktivisme 2.0 juga menggunakan fitur hashtag, like dan share untuk mencapai tujuan gerakannya. Di era informasi ini, tidak jarang kita menemukan tulisan-tulisan yang menggunakan ketiga fitur tersebut demi menyebarkan pesan di dalamnya. Google juga digunakan oleh banyak pihak untuk memperkuat argumen atas pergerakannya. Padahal, belum tentu argumen tersebut betul-betul bisa ditunjukkan oleh pihak yang menulis di saat tidak ada internet.

Presentasi asli dari perwakilan HMIF:

https://drive.google.com/file/d/0B-scj0mGL9jxblBiVE9GRnJJQ09RY2Vrb1NYbW5YT3hTUHhJ/view?usp=sharing

Presentasi asli dari perwakilan MG:

https://drive.google.com/file/d/0B-scj0mGL9jxWmZvM2JOdDJKQUhkZUxWYmo4YXNWZzdHdFRN/view?usp=sharing

Diskusi Bebas

Diskusi umum aktivisme 2.0 dilanjutkan dengan sesi diskusi bebas setelah kedua pemateri selesai menampilkan presentasinya. Saya akan merangkum diskusi tersebut dalam bentuk poin-poin pendapat yang saya anggap relevan dengan topik, karena tidak ada arahan diskusi yang baku. Berikut beberapa pendapat dari peserta diskusi yang hadir:

  • Sisi positif dari aktivisme 2.0 perlu disadari. Masyarakat di luar Indonesia semangat berbaginya tinggi sehingga banyak hal bermanfaat yang muncul dari web 2.0. Terkait mental digital, sebetulnya kajian apresiasi dalam bentuk like dan share sangat menarik untuk dilakukan.
  • Perilaku ikut-ikutan like dan share bisa saja bersumber pada pola perilaku masyarakat yang ada. Internet hanyalah salah satu media untuk ikut-ikutan. Sebaiknya kita tidak hanya meninjau efek ikut-ikutan dari fasilitas yang sekarang serba instan ini, namun juga meninjau budaya masyarakat yang ada.
  • Mental manusia meminta segalanya menjadi lebih cepat dan cenderung tidak berpikir terlebih dahulu. Di era banjir informasi ini, karena terlalu banyak informasi yang masuk, respon manusia menjadi lebih reaktif namun tidak ada yang mengendap menjadi ideologi. Kurang lebih itulah yang dapat menjelaskan fenomena ikut-ikutan like dan share.
  • Salah satu cara untuk membuat internet tetap menjadi positif dalam pergerakan adalah menyadari dampak yang ditimbulkannya. Setidaknya dengan menyadari hal tersebut, penggunanya tidak menggunakan internet asal-asalan sehingga lebih bermanfaat.
  • Petisi online dibuat hanya untuk mendapatkan dukungan dengan tanda tangan semata. Sebetulnya, petisi dimenangkan apabila ditanggapi oleh pihak yang bersangkutan. Jadi tidak ada jaminan gerakan petisi online ini membuahkan hasil nyata.
  • Crowdfunding adalah output lain dari aktivisme 2.0 selain petisi ataupun blowup isu. Mendapatkan uang untuk membiayai pergerakan bisa dilakukan dengan internet. Jadi outputnya tidak hanya dukungan suara saja.
  • Studi kasus yang muncul pada diskusi kali ini adalah tulisan-tulisan di media sosial yang bisa memicu perpecahan bangsa, misalkan tulisan provokatif terkait gereja Tolikara. Sebetulnya regulasi tentang Internet di Indonesia terdapat pada UU keterbukaan informasi, namun karena kasus penyalahgunaan internet di Indonesia belum seadvance negara lain, belum banyak UU yang mengatur kasus-kasus semacam tulisan di media sosial tadi. Solusi yang diusulkan salah satu peserta diskusi adalah mengontak website yang bersangkutan agar menghapus tulisannya atau menggalang dukungan untuk block website tersebut dengan cara seperti report as spam.
  • Pergerakan pada era aktivisme 2.0 bisa saja macet walaupun di awal isunya sangat terangkat karena konten di media sosial sangat baik. Pada akhirnya kita harus menyadari bahwa tercapai atau tidaknya suatu pergerakan memang ditentukan oleh konsistensi aktivisnya. Alat-alat pada era aktivisme 2.0 ini hanyalah katalis saja.
  • Konten isu yang diangkat oleh aktivis sebaiknya bisa membahasakan dan menyentuh target supaya bisa viral. Indonesia belum sepenuhnya memasuki era informasi. Masih terdapat daerah-daerah yang masih tertinggal di era industrialisasi bahkan agraris. Fakta inilah yang harus diingat aktivis agar tidak melulu menggunakan internet sebagai media pergerakan dan tidak mengecilkan bentuk pergerakan di media lainnya.

Penutup

Tulisan ini dibuat hampir dua bulan setelah diskusi aktivisme 2.0 dilaksanakan. Kemungkinan besar banyak hal yang telah saya lupakan sehingga saya memohon maaf apabila terdapat banyak kesalahan pada tulisan kali ini. Saya sangat terbuka terhadap kritik dan saran yang membangun. Semoga setiap lini pergerakan yang bertujuan mulia dapat tercerahkan dengan adanya tulisan ini.

Salam Pembebasan!

Reynaldi Satrio Nugroho

Teknik Industri ITB

13414034