Hasil gambar untuk peta jawa kolonial

Selamat datang di Republik Jawanesia. Ketika semua sumber daya diserap dari pulau Benggala hingga pulau Liki untuk disetor ke Jawa. Ketika masyarakat pedalaman hanya bisa memaklumi kelabilan stok air bersih, listrik, sembako dan bensin. Ketika masyarakat terpencil hanya bisa terdiam melihat perbedaan harga pulsa dan harga majalah National Geographic dengan di pulau Jawa-Sumatra.  Ketika masyarakat ujung tombak republik hanya bisa termangu disuguhi dinamika politik Jawanesia, terlebih politik di ibukota yang baru saja berakhir dengan lika-liku yang panas dan sudah setara dengan pemilu pemimpin republik.

Dan mungkin rakyat kecil disana banyak yang terpikir adalah suatu kesalahan pembesar daerah mereka di masa lampau masih saja mendukung Republik Jawanesia pada waktu revolusi, dan membiarkan penyerapan kekayaan daerah mereka untuk disetor habis-habisan ke Jawa pasca revolusi. Mengapa kita tidak menjadi republik sendiri saja, kekayaan Republik Sumatera untuk kemakmuran urang Minang saja misalnya, tidak usahlah dibagi dengan orang Jawa, toh mereka tidak melakukan apapun.

Mengapa Jawa adalah segalanya? Ketika orang-orang luar Jawa selalu menganggap negara ini terlalu Jawa-sentris, tentu saja mereka tidak bisa disalahkan. Memang benar, mau bagaimanapun asas otonomi daerah diasaskan hingga didoktrinkan esensinya mulai anak kelas 4 SD, tetapi tetap saja pembangunan terpusat di Jawa. Mau infrastruktur apapun, semua dilakukan di Jawa terlebih dahulu. Memang, tingkat kejomplangan tidaklah sebesar masa orde lama maupun baru, tapi tetap saja, terdapat perbedaan signifikan antara Jawa dan luar Jawa. Maka sikap dari Permesta, GAM, dan OPM, bisa dipahami, walaupun mungkin tidak bisa dibenarkan.

Lalu, mengapa Jawa adalah koentji? Mengapa bukan, katakanlah Bali, atau Aceh, atau daerah Bhumi Sriwijaya?

Hasil gambar untuk sketch of candi

Posisi Hikayat Sejarah Negara

Pelajaran sejarah adalah alat untuk mendoktrinisasikan suatu versi dari seorang pemenang (perang). Sejarah pada dasarnya adalah catatan yang ditulis pemenang (menurut versinya) dan bukan versi dari si pecundang. Lika-liku catatan sejarah Gestok-Supersemar adalah salah satu contoh kongkret. Meskipun beberapa pecundang pada masanya seperti John Milton, adalah suatu pengecualian, dimana pemenang masa itu menjadi pecundang esok hari.

Pelajaran sejarah negara republik ini juga ditentukan dan diatur oleh pemenang masa revolusi : pejabat di Jawa, meskipun ada yang bukan berasal dari Jawa. Dari pelajaran sejarah bisa dilihat bagaimana sejarah Indonesia, sejak zaman pasca prasasti pertama ditulis sudah berkisar pada pulau Jawa.

Jika ditinjau dari zaman Hindu-Buddha praktis kerajaan non-Jawa yang disebutkan hanyalah : Kutai, Sriwijaya, dan Melayu. Dari zaman Islam masuk, ada beberapa yang selalu terpampang dalam buku teks: Samudra Pasai, Aceh, Ternate-Tidore, dan Gowa-Tallo. Selebihnya hanya sekilas, kadang ada kadang tidak.

Jadi pelajaran sejarah di sekolah-sekolah bersifat subjektif atau objektif? Sebenarnya objektif dengan sedikit subjektif. Kita ketahui bahwa pengertian dari yang dibesar-besarkan Muhammad Yamin terhadap kerajaan nasional I dan II adalah suatu kehiperbolaan sejarah. Lalu apakah daerah selain kerajaan terkenal seperti yang telah didoktrinisasi di sekolah itu tidak bertuan? Tidak juga. Memang, kerajaan-kerajaan selain yang ditulis dalam pelajaran wajib kurang lebih adalah kerajaan kecil dan tidak terlalu berpengaruh, hanya mempunyai pengaruh kecil, dengan kurang lebih hanya 30 km persegi, dan biasanya tidak ada peninggalan sejarah yang sangat mencolok. Kerajaan Bali, Sumbawa, Bima adalah salah satu contoh. Lalu pada zaman kerajaan Islam, sebut saja, Kesultanan Banjarmasin, Kesultanan Siak, Kesultanan Deli, dan masih ada di tiap-tiap daerah lain. Anggap saja unsur subjektifitas muncul ketika penyederhanaan pelajaran dilakukan. (Jikalau murid Indonesia masih saja mengeluh belajar sejarah, ketahuilah pelajaran sejarah kalian sudah disederhanakan, dan coba bayangkan saja kalau dibandungkan dengan anak RRC sana, yang harus menghapalkan sejarah bangsa mereka sejak zaman dinasti Xia, Qing, Han, Mongol, Manchu hingga masa republik).

Unsur subjektifitas terlihat sekali ketika, (hal yang tak pernah dibayangkan anak di Jawa) bagaimana anak pulau Rote atau pulau Natuna, malas untuk mempelajari sejarah Mataram; Kediri; Singasari; ataupun Majapahit, karena mereka merasa tidak memilikinya. Sejarah kerajaan tersebut merupakan sejarah nenek moyang orang di Jawa. Absurd memang statement di atas. Karena tidak menutup kemungkinan bahwa orang Jawa merantau dan anak-anak di pulau terpencil ini masih ada darah Jawa. Tetapi, darah itu pastilah sudah tergerus dan yang tinggal hanyalah keceriaan mereka semata akan alam indah di pulau terpencil mereka dan berkata, “Bodo amatlah dengan sejarah Jawanesia, mending cari ikan bisa dibakar, perut kenyang hati senang.”

Mengapa Jawa?

Sudah disinggung di atas, bahwa kerajaan-kerajaan non-Jawa agak kurang terkenal. Mengapa bisa demikian? Mungkin sudah ditakdirkan dari Tuhan, bahwa letak pulau Jawa memang agak di tengah-tengah condong ke barat di wilayah Indonesia. Sedikit banyak, agak memudahkan posisi Jawa.

Satu hal yang masih kurang bisa dipahami, bahwa sejarah tercatat pertama kali di Indonesia adalah di Kutai. Kutai, bagian pulau Kalimantan yang menghadap ke timur. Ada apa di timur? Nothing. Nihil. Tidak ada peradaban besar di timur Indonesia. Peradaban di Indonesia, dengan agama Hindu-Buddha, merupakan hasil dari para revolusioner-revolusioner kaum Waisya India, yang mengacuhkan larangan agama mereka untuk menyeberangi laut dan menikahi kaum di luar kasta mereka. Yah, namanya pedangang tetaplah ingin mencari untung, dan sejak lama nusantara sudah dikenal penghasil rempah-rempah bermutu. Hanya agak mengherankan bahwa prasasti pertama bukan terletak di Aceh, atau daerah Sumatra lainnya, tapi di pesisir timur Kalimantan. Jadi, pedagang India berdagang dan menyebarkan agama Hindu-Buddha, namun pesisir Sumatra dan Jawa masih mengacuhkannya untuk menuliskan prasasti mereka? Sedangkan di pesisir timur Kalimantan, Kutai menjadi pelopor adanya prasasti.

Ketika akhirnya Tarumanegara merilis eksistensi mereka, dan diikuti Kalingga, barulah nalar berjalan. Dan kemudian baru diikuti Melayu dan Sriwijaya. Aneh memang, seakan arus searah bergerak mundur bukan menjauhi tapi mendekati sumber peradaban besar dunia. Aceh, yang notabene wilayah nusantara terdekat dengan anak benua, masih sunyi senyap.

Dari segi penyebaran peradaban, Sumatra dan Jawa adalah wilayah prioritas, dan memang demikian adanya. Dengan posisi paling dekat dengan benua Asia, proses infiltrasi peradaban memang seharusnya lebih maju dibandingkan daerah lain. Kerajaan-kerajaan besar silih berganti di dua pulau tersebut. Dibandingkan di wilayah lain, termasuk Kutai, peradaban di Sumatra dan Jawa meningkat sangat pesat dengan peninggalan candi-candinya yang masih tegak berdiri hingga sekarang.

Lalu, mengapa Jawa bisa meninggalkan Sumatra untuk menjadi pusat republik? Apakah karena faktor kejayaan kerajaan di Jawa seperti di masa sebelumnya? Ketika Jawa masih dikuasai Majapahit, Sumatra sudah berdiri kerajaan Islam : Samudra Pasai dan Aceh. Baru kemudian muncul Demak dan Banten. Sebenarnya, tipe kerajaan di Jawa lebih stabil dan cenderung stagnan, dengan tipe kerajaan agrarisnya, kecuali Demak dengan Pangeran Sabrang Lor-nya dan Banten yang menginvasi Sumatera daerah selatan yang memang menjadikan kerajaan tersebut semi-maritim. Namun kerajaan di Jawa setelahnya adalah kerajaan yang agraris, dan terkungkung dengan daratan pesisir di utara dan laut selatan yang memang terkenal ganas. Loh, ada apa dengan Laut Jawa? Jawabannya : VOC.

Hasil gambar untuk voc

Setelah 17 provinsi Belanda merayakan pengusiran penjajahan Spanyol, Republik Serikat Belanda bersiap menguasai perairan dunia setelah armada Spanyol kalah telak melawan armada Inggris-nya Elizabeth I. Ekspedisi-ekspedisi dilakukan, VOC didirikan. Dan VOC, EIC dan PEI saling bersikut-sikutan di Samudra Hindia dengan hasil nusantara adalah daerah dimana VOC berhasil lebih unggul. Apa yang dilakukan VOC sangatlah berpengaruh pada posisi Jawa di masa depan.

Pada awalnya VOC hanya singgah dan mendirikan kantor kongsi dagang di sepanjang jalur Amsterdam-Ambon. Tetapi, karena berbagai faktor, dan dengan dana yang cukup, VOC mulai melakukan pendudukan daerah dan melegalkan hukum mereka sendiri. Sebagai pusat kongsi dagang mereka, semula adalah di Ambon. Ketika daerah-daerah lain mulai didapatkan, pastilah VOC mempertimbangkan berbagai hal mengenai pusat kegiatannya, karena orang Belanda cenderung teliti. Dan, seperti sudah takdir, posisi Jawa akan selalu dianggap menguntungkan jika memiliki pemikiran visioner untuk mengontrol seluruh nusantara, dengan posisi cenderung di tengah.

Ketika akhirnya Jayakarta berhasil diduduki, mulailah cikal bakal pemimpin nusantara ditentukan. Pusat kongsi dipindah dari Ambon ke Batavia merupakan langkah strategis, dan merupakan akar mengapa Jawa akhirnya menjadi pusat republik. Jika VOC masih saja berpusat di Ambon, belum tentu Jawa menjadi pusat. Dan hingga seterusnya, dari serangan Sultan Agung, pembuatan jalan Anyer-Panarukan, penaklukan Aceh, hingga Jepang masuk, Batavia kadung menjadi pusat kegiatan kolonial, dan dengan sendirinya pembangunan di Jawa adalah prioritas, yang diteruskan hingga saat ini.

Rasa iri akan Jawanesia

Anak-anak di Jawa sendiri memang cenderung terkadang tidak pernah membayangkan bagaimana hidup anak di pulau-pulau terpencil. Mungkin bisa terbentuk sisi egois dari anak yang hidup di Jawa dengan segala kemudahan mereka, dan melupakan saudara mereka di ujung sana, yang merembet hingga menjadi pejabat, dan tetap melupakan saudara nelayan mereka di ujung tombak republik sana.

Bayangkan jika menjadi anak Papua. Apakah tidak ada rasa sakit hati, kekayaan daerah mereka disedot, hanya untuk negara dan bahkan sebagian besar justru mengalir ke luar negeri. Realitanya, yang mereka terima hanyalah sebagian kecil. Jika mereka berdiri sendiri, tidak menjamin juga manajemen tata negara akan lebih baik daripada ikut Indonesia, tapi mereka akan merasa paling tidak mereka akan sudah berusaha memajukan infrastruktur mereka sendiri, yang sudah dinomor sekiankan oleh pemerintah kolonial Belanda, dan masih sama saja oleh pemerintah Indonesia.

Jadi, Jawanesia, pusat republik, hingga kapan?

sumber gambar : maps collection of leiden university, urbansketch-indonesia.blogspot.com, sahistory.org.za

Ditulis pada 5 Mei 2017