— — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — —

Awal tahun ajaran baru akan selalu menarik mengingat akan dtgnya dd2 lucu yg penuh antusiasme dan kuriositas yg ckp tinggi

Selebihny sorotan akan jd lebih seru bila ditujukan pd unit2 kajian yg barang pasti brbut massa kaderan dlm kontestasi yg agaknya bakal sengit, ini jg mengingat tantangan tahun2 mendatang terkait hadirny fakultas humaniora d kmpus

Daya tawar yg disajikan olh masing2 unit kajian mestinya, (agar seru), tidak menonjolkan sosok2 individual yg mendulang “kesuksesan” d ranah aktivisme kmahasiswaan, pun mengandalkan popularitas segelintir pentolan organisasi

Daya tawar semcm itu hanya akan menjadi bumerang bagi unit2 kajian tatkala calon kaderan hanya melihat unit kajian sbg “spotlite”, bukanny malah tmpat belajar

Efekny? Unit kajian kehilangan taji, hilang gairah/ruhnya, semangat akan melemas seiring waktu, dan dinilai melempem oleh kalangan luar. Anggota2 dlm organisasi yg mengejar sbatas “spotlite” pun akan smkin individualis dan memberikan sumbangsih nihil bg si unit, pun begitu mereka yg hanya ikut2an tanpa gairah berlebih, kebingungan, gamang arah. Genderang kematian unit kajian pun semakin kentara bunyinya

Kalau begitu mesti apa? Kontestasi antar unit dlm perebutan massa kader MESTI tdk boleh menonjolkan aspek popularitas dan pencapaian semata. Yg seyogyanya disorot adlh kekhasan/gaya masing2 unit kajian utk menghadirkan kekayaan pilihan dlm menentukan preferensi-lebih cocok mana. Ini sekligus menjawab faktor2 pembeda antar unit kajian yg selama ini terkesan dipukul rata sama

Pembedaan tsb. menghadirkan adanya keberagaman corak shg analisis antar masing2 unit semakin kaya, dan bila mungkin menemukan ruang dialektika yg asik & seru, terlebih dalam tataran akademis untuk menghadirkan iklim intelektual yg sehat. Daya tawar yg tadinya condong ke sekadar perseorangan/tokoh/figur (spotlite), dengan begitu ditarik ke ranah yg lebih seksi dan tajam, sembari melancarkan agenda “pengobatan” kemelempeman unit2 kajian sbgmana common sense skrg, melalui proses pendidikan yg lebih “niat”

Pembedaan/distingsi itu menemukan mediumnya yg paling kaya dalam ajang bernama “kaderisasi”, spesifiknya: “kurikulum”. Merupakan tantangan bagi para kaka2 pengkader & tentunya BP unit2 kajian dlm merumuskan kurikulum yg bgmana untuk dd lucu kita ini

Tentu sungguh menarik dan lucu ditunggu hasil jadinya bila penekanan trhd diferensiasi unit2 kajian d ITB difokuskan. Sepintas terbayang: Majalah Ganesha agaknya mmpertahankan warna ke”merah-merah”an, berhaluan new-left ala Frankfurters (teori kritis) yg tak meluputkan pembahasan studi budaya dan teori diskursus yg khas sbgmn digembar-gemborkan golongan Habermasian; menuju masyarakat komunikatif dan ttp melandasinya dgn daya emansipatoris, semangat pembebasan, dan kritik akan ketimpangan sosial

Tiben? Bergelut dengan manusia dan menandaskan pembedaan bds ideologi, identitas, dsb dgn penyorotan yg lebih pd manusiany, kehendaknya. Lebih moderat/putih/poros tengah, mengambil sudut pandang humanis-perspektivis-pluralis. Dimensi humaniora, kebudayaan, seni, menjadi pemanis dan pewarna sekaligus tandem bagi studi sosial dan sosiologi yg tajam dan seksi meski kaku-rigid dan hambar. Bhsan etika-moral pun akan jd kekhasan Tiben mungkin (?)

PSIK dgn nuansa politik praksis Machiavellian atwpun imperium Romawi. Pun warna nasionalis dan sistem komando sdh menggariskan kekhasan yg jelas dlm unit kajian yg lebih condong pd isu kebijakan strategis-kenegaraan ini. Terlepas dr ke3nya, tentu akan menarik bila muncul lagi satu haluan yg lebi berfokus pd paradigma logis-analitik-positivistik dalam menelaah sistem2 masyarakat, gamblangnya, penggunaan epistemologi saintifik dalam kajian sosial dengan tools2 ala anak2 teknik

Dengan keberagaman2 tsb dharapkan terlaksana kontenstasi yg bukan saling meminggirkan tetapi konstruktif dan saling melengkapi dgn kekhasan dan kekuatan masing2

Sbg catatan tambahan, ini mengingat unit2 kajian menaruh perhatian pd isu2 sosial, maka urgensi yg perlu dbangun dlm diri setiap anggota semua unit tsb adlh ketanggapan sosial dan pembangunan militansi dasar utk brgerak. Gerbang awal paling mudah dlm membangun sense ini adlh pendekatan marxisme trutama dlm menyoroti ketidakadilan, ketimpangan, dan penindasan

— — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — — —

Sebagai salah satu ketua dari unit kajian yang disebutkan saudara Arlin diatas, mau tak mau saya pun berterimakasih atas tulisannya. Setidaknya rasa terimakasih saya ada untuk 2 hal : pertama untuk turut membantu mengangkat wacana mengenai tantangan bagi unit kajian, dan yang kedua tentu saja untuk kontennya yang berisi sebuah paket lengkap analisis kondisi beserta saran perbaikan.

Unit kegiatan mahasiswa yang bercorak kajian, setidaknya di kampus saya, sedang loyo! Tidak terdengar lagi gaung praktik pergerakan yang nyata bersama masyarakat. Analisis-analisis yang membedah persoalan sosial yang kerap ditemui saban hari pun semakin tumpul. Padahal secara historis, unit kajian yang disebut saudara Arlin sejatinya lahir dari pergerakan yang mengambil bentuk sebagai unit kajian. Tak terkecuali Majalah Ganesha.

Sedikit bercerita mengenai Majalah Ganesha. Dahulu, Majalah Ganesha berdiri sebagai alternatif dari gerakan mahasiswa yang terkesan elitis. Para pendirinya yang tidak setuju akan gerakan yang elitis tersebut kemudian membelot dan mendirikan poros baru yang bernuansa ‘merah’. Pola-pola pergerakannya pun dapat dikatakan berkiblat kepada kaum kiri. Buku Das Kapital menjadi makanan wajib bagi kader baru sebagai landasan membangun pisau analisis yang kekiri-kirian. Kader-kader MG yang dulu khatam betul dengan konsep histomat. Pendidikan secara praktik dilakukan dengan turut serta dalam kehidupan buruh, tinggal dan makan bersama. Dahulu, pola-pola yang demikian amatlah seksi terutama bagi mahasiswa yang gerah dengan pergerakan mahasiswa yang cenderung jalan di tempat menghadapi ketidak adilan orba. Model pendidikan yang mengawinkan teori dengan praktik a la Mandel tersebut membuat kader-kadernya solid dan militan. Tak heran, bukan hanya tulisan yang dihasilkan, melainkan juga pengorganisiran kaum buruh. Masa-masa awal reformasi hingga satu dasawarsa setelahnya merupakan dark age bagi Majalah Ganesha yang seperti mati suri ditinggal anggota. Setelah masa itu Majalah Ganesha coba dihidupkan kembali. Nuansa ‘merah’ masih dipertahankan meski tidak sekental dulu. Analisis yang tajam kembali mencuat dan bahkan mampu memberikan wacana tandingan yang dibawa oleh kabinet. Namun tak lama kemudian banyak pentolan yang sibuk diluar dan mendirikan organisasi yang mengurusi konflik agraria. Dan MG kembali memasuki masa-masa sulit karena proses penurunan nilai belum sepenuhnya terjadi pada kader-kadernya yang baru. Nuansa ‘merah’ semakin berkurang bahkan hilang. Praktik-praktik live-in juga sudah tidak pernah dilakukan. Hal tersebut menjadikan argumen-argumen dalam tulisan semakin hambar dan jauh dari realitas. Posisi sebagai poros pemberi wacana tandingan untuk kabinet mulai lepas, bukan karena politik yang dilakukan kabinet, melainkan impotensi kader-kader MG dalam memunculkan wacana tandingan baik dari sisi intelektuil maupun praktik. Sehingga nyinyir kini menjadi sebuah cap baru alih-alih ‘kritis dan menggerakkan’. Persis disinilah pokok dari tantangan yang harus dihadapi oleh semua unit yang bercorak kajian, tidak hanya Majalah Ganesha : mengganti nyinyir kembali menjadi ‘kritis’, bagaimanapun corak kajian dari masing-masing unit tersebut.

Setidaknya ada beberapa faktor yang menjadi penyebab ompongnya MG. Penyebab pertama adalah terputusnya rantai kadersisasi anggota. Fase ini paling parah terjadi pada masa yang saya sebut dark age diatas. Corak kiri yang dulu menjadi landasan organisasi tidak mendapat tempat yang sama ketika MG mencoba kembali bangkit. Hal ini, tentu saja merupakan akibat logis dari terputusnya kaderisasi yang terjadi dalam organisasi. Padahal, bagi sebuah organisasi, khususnya organisasi yang melandaskan kesamaan pada ide, kaderisasi adalah napas. Jika terputus, tentu akan tersengal dan lebih buruk, mati.

Kondisi tersebut mengantarkan pada penyebab yang kedua, yakni kaburnya pegangan atau landasan yang diusung oleh MG. Lagi-lagi, kehilangan landasan merupakan salah satu hal yang amat vital dalam organisasi berbasis ide. Praktis tradisi-tradisi yang lekat di landasan tersebut, seperti kegiatan bersama basis masyarakat, perlahan juga menghilang. Apalagi, setelah jatuhnya orde baru, terjadi tren pendikotomian antara teori dan praktik yang semakin tajam.

Sampai di titik ini MG sudah sempoyongan tidak punya pegangan. Memang, perspektif lain mulai masuk dan dapat memperkaya pisau analisis. Namun, tanpa landasan yang jelas corak tersebut hanya akan memberikan warna-warni yang buram. Agaknya budaya egaliter dan anti-doktrin yang dibangun dalam organisasi justru sudah kebablasan dan malah menjadi bumerang yang merugikan baik untuk organisasi maupun anggotanya. Semangat anti-doktrin justru menghambat proses belajar yang terjadi. Dan semangat egaliter yang kebablasan justru menghilangkan kesempatan bagi pengkader untuk mendorong kader-kadernya berkembang.

Penyebab terakhir, adalah salahnya pilihan cerita yang didongengkan bagi kader-kader baru. Hal ini sudah ditandaskan Arlin dalam kritiknya, bahwa alih-alih mendongengi kadernya dengan ide, Majalah Ganesha justru menjual ketokohan anggotanya. Sehingga, spotlite lah yang menjadi semnagat utama. Dengan mengikuti unit kajian, kader berharap menjadi terkenal laiknya para ikan besar organisasi. Ingin diakui memang merupakan salah satu kebutuhan utama manusia. Dan itu sangat normal. Namun, menjadikan hal tersebut tujuan utama mengikuti unit kajian tidaklah tepat. Jika orientasinya sorotan publik, ketajaman tidak lagi menjadi penting. Cukup momentum dan kontroversial. Niat untuk mendapatkan banyak massa justru harus dibayar dengan kader yang salah kaprah.

Perlu tindakan yang revolusioner jika Majalah Ganesha tidak ingin berlarut-larut dalam kondisi dekaden tersebut. Jika tidak, titel unit kajian dari Majalah Ganesha layak untuk copot.

Hal yang paling mendasar dan tepat dilakukan adalah dengan cara menegaskan kembali dasar organisasi. Tidak harus sama persis dengan masa-masa yang sebelumnya, namun yang jelas harus tetap ada landasan dasar. Marxisme klasik bisa menjadi salah satu opsi. Atau sedikit lebih kekinian, Neo-Marxisme, dapat menjadi pilihan lainnya. Penegasan landasan dasar tersebut penting untuk menentukan corak organisasi. Sampai titik ini kita mesti paham bahwa tujuan dari penegasan landasan dasar tersebut bukanlah untuk membatasi lajur ide yang lain melainkan sebagai pedoman organisasi agar tidak menye-menye. Kesalahan besar dari Majalah Ganesha pada tahun-tahun belakangan adalah ketidakmampuan untuk secara tegas menentukan dan menerapkan dasar organisasi. Sehingga, dengan kondisi yang demikian Majalah Ganesha tidak melangkah kemana-mana, bahkan mundur ke belakang.

Mari berandai-andai bahwa rembung anggota bersepakat bahwa landasan dasar organisasi yang disepakati adalah marxisme dan segala turunannya. Maka, dasar tersebut mesti diterapkan dalam menjalankan organisasi. Hal tersebut meliputi pembagian kerja, sudut pandang isu, pendidikan dasar, dan sebagainya. Disini saya berbicara mengenai sebuah organisasi, masalah preferensi individu di dalamnya itu lain cerita. Saya beri ilustrasi sederhana. Pendidikan dasar misalnya, karena sudah ada mufakat bahwa dasar dari Majalah Ganesha adalah Marxisme dan turunannya maka konsep histomat dan turunannya mesti dijejalkan betul dalam pendidkan dasar. Para kader, setuju tidak setuju harus menerimanya. Sebuah konsekuensi logis bagi seseorang yang ingin mengikuti sebuah organsisasi untuk mengikuti aturan dalam organsisasi tersebut. Lain lagi urusannya dengan preferensi individu anggota. Setelah pendidikan dasar, kader yang telah menjadi anggota sah-sah saja menyatakan ketidak setujuannya terhadap konsep marxisme. Yang demikian tentu akan memperkaya sudut pandang dan pisau analisis. Namun sekali lagi jika berbicara mengenai organisasi, maka tetap mengacu pada landasan yang telah disepakati.

Selanjutnya mengenai budaya organsiasi. Budaya egaliter yang berkembang di Majalah Ganesha saya kira sudah melampaui batas dan justru malah kontra produktif. Saya akui sikap egaliter penting dalam membangun modal kultural yang solid, namun egaliter yang kebablasan akan menyebabkan penugasan dalam organisasi macet. Pun juga doktrin anti-doktrin yang diajarkan justru tidak mengantar organisasi kemana-mana. Yang ada, karena belum terisi sebelumnya, doktrin yang demikian justru menjauhkan diri anggota dari semangat mengisi gelas kosong masing-masing. Sudah saatnya budaya egaliter dijalankan sesuai dengan porsinya. Sedikit bumbu fasis dalam mendoktrin pun saya kira tak jadi soal. Namun yang jelas, sebagai perkumpulan yang bertumpu pada ide, porsi dialektis dalam keberjalanan organisasi, terutama yang menyangkut pendidikan dasar, harus mendapat porsi yang besar. Hal tersebut bertujuan agar pemahaman akan suatu ide dari kader Majalah Ganesha menjadi kokoh sebagai hasil benturan-benturan pemikiran.

Kemudian, terkait hal teknis seperti metode pendidikan dasar perlu juga mendapat perhatian. Dongeng-dongeng mengenai pembebasan mungkin bisa menjadi pemantik awal ketertarikan (jangan lupa disediakan penawarnya agar tetap waras). Selanjutnya praksis dari teori dan praktik harus dijalankan menurut hubungan yang dialektis. Sudah terlalu lama teori dan praktik dipisahkan menjadi dua kutub yang saling berbeda sehingga menjauhkan teori-teori dari realitas. Analisis teoritik dari Marxisme perlu dibenturkan terhadap realitas empirik yang ada di masyarakat sekitar. Metoda live-in dan turun ke basis masyarakat layak dicoba kembali. Hal-hal yang demikian saya cukup yakin akan membuat ‘kiri’ kembali seksi.

Kesulitan utama yang mungkin muncul adalah bagaimana merumuskan landasan organisasi dengan baik. Mengingat, Majalah Ganesha yang sekarang sudah hampir teputus sama sekali dengan ideologi kiri, tentu akan cukup sulit merumuskan ‘yang kiri’ tersebut. Masalah lain yang bisa muncul kemudian adalah ketiadaan mentor yang memadai bagi anggota maupun kader yang sedang dalam masa pembinaan untuk bisa bergerak dalam rel yang tepat. Maka, sebuah lingkar diskusi kecil yang militan perlu dibentuk. Lingkar kecil tersebut berisi anggota-anggota yang sekiranya masih punya daya juang yang tinggi. Nantinya, lingkar tersebut harus dapat menjadi motor kebangkitan organisasi. Kelompok kecil itu diharapkan dapat menentukan landasan organsasi dan secara mandiri dapat memperkaya wawasan sebagai infrastruktur utama yang menunjang jalannya organisasi.

Beberapa poin diatas adalah otokritik saya terhadap Majalah Ganesha sekaligus usulan langkah-langkah perbaikan. Sampailah pada pertanyaan seorang kawan : “Bentuk apa yang diambil Majalah Ganesha? Unit Kajian? Unit Media? Unit Pergerakan? Atau bahkan unit kebudayaan?”

Saya sendiri kurang setuju dengan penggolongan-penggolongan yang demikian. Jawaban mengenai bentukan organisasi Majalah Ganesha sebetulnya sudah terdapat dalam slogan “kritis dan menggerakkan”. Kata ‘kritis’ disana tentu merepresentasikan suatu bentuk kecerdasan intelektuil dari unit kajian. Kemudian kata ‘menggerakkan’ yang mengikuti berarti dari analisis yang tajam dari buah pemikiran mesti dihasilkan sebuah langkah konkret berupa ‘gerakan’ yang juga dapat menggerakkan entitas yang lain. Dengan bentuk ini diharapkan Majalah Ganesha dapat menjadi think tank sekaligus dinamisator dalam urusan isu-isu sosial yang terjadi tidak hanya di kampus, melainkan juga di masyarakat. Lalu bagaimana Majalah Ganesha menyikapi peran sebagai unit media, mengingat ada kata ‘Majalah’ tersemat disana? Jawabnya mungkin terkesan agak sloganistik : “Ideologi adalah panglima, media adalah senjata!”. Predikat sebagai unit media justru harus dimanfaatkan Majalah Ganesha, pertama untuk menyebarkan gagasan dan kedua untuk membantu gerakan.

Akhirnya sampailah saya pada ujung risalah singkat ini. Sengaja tidak saya jabarkan hal-hal teknis di dalamnya meski sedikit saya usulkan mengenai teknis. Karena, selain akan menyita waktu Kerja Praktek saya, alangkah lebih elok jika kawan-kawan yang lebih muda dan masih lama berjuang di rimba bernama Majalah Ganesha yang merumuskan hal-hal yang menyangkut teknis. Risalah ini pun tidak berniat mengambil kedudukan seperti manifesto komunis yang begitu sentral, melainkan hanya sedikit sumbangsih saya bagi organisasi. Tabik!

Ditulis oleh Andhika Bernad