Sumber: bosq.deviantart.com

Adalah sebuah pertanyaan yang tak lagi jarang bilamana saya mendengar lontaran kalimat “apa sih perbedaan unit-unit kajian di ITB? Mengapa tidak ‘disatukan’ saja?” Tentu hal ini merujuk kepada tiga unit kajian yang berdomisili di suatu zona kumuh di kampus Ganesha (baca: Sunken Court) yakni, Perkumpulan Studi Ilmu Kemasyarakatan ITB (PSIK ITB), Majalah Ganesha — Kelompok Studi Sejarah Ekonomi Politik ITB (MG-KSSEP ITB), dan Institut Sosial Humaniora ‘Tiang Bendera’ ITB (Tiben ITB). Sampai pada poin ini, mungkin terkesan bahwa saya melupakan satu unit kajian lagi. Namun nyatanya tidak, sebab yang satu itu telah cukup jelas pembedanya jika disandingkan dengan tiga lainnya.

Ada sebuah anekdot alegoris yang diutarakan oleh kamerad Reynaldi Satriountuk menjelaskan jawab atas pertanyaan tersebut. Hal ini acapkali digunakan untuk membedakan tiga unit kajian di atas dan boleh jadi ini karena — selain beliau telah cukup populer di kalangan tertentu di kampus — jawaban dalam bentuk narasi-dialog ini dapat dengan cukup jitu menjawab persoalan terkait dan relatif mudah dicerna meski menyisakan pertanyaan lanjutan.

‘Dapatlah kita ibaratkan bahwa PSIK, MG, dan Tiben merupakan restoran-restoran yang dapat Anda kunjungi di saat Anda lapar.

Ketika datang, Anda akan ‘dilayani’ dengan perlakuan yang berbeda-beda. Bila berkunjung ke PSIK misalnya, restoran tersebut akan memberikan makanan yang mampu mengenyangkan Anda. Lain lagi di MG. Anda akan disodorkan menu makanan untuk dapat memilih makanan yang Anda suka. “Anda mau memesan apa?”, tanya MG. Sementara di Tiben, mereka akan melontarkan pertanyaan yang mungkin membuat Anda berpikir kembali untuk memesan makanan (dan boleh jadi disusul disentri dan radang usus). “Mengapa Anda lapar? Dan apa itu lapar?”, demikian tanya penghuni Gedung Tengah tersebut.’[1]

Anekdot tersebut telah mampu membuat sebagian orang merasa puas sekaligus menerka-nerka maksud dari padanya. Namun bagi saya pribadi, hal itu memanglah cukup, tetapi agaknya kurang membuat saya kenyang. Atau dalam istilah kamar mandi, mampu mencapai ‘orgasme’ setelah beronani pikir. Mari kita coba untuk kaji kembali melalui perspektif yang berbeda. Maka dalam tulisan ini, (semoga saja) dapat diperjelas perbedaan antara ketiga unit PSIK, MG, dan Tiben, meski saya akan lepas tanggung jawab bila pembaca malah mengalami disentri dan radang usus secara bersamaan. Dan ditambah muntah-muntah.

Jamban, Ideologi, dan Tiga Negara

Psikoanalis sekaligus filsuf asal Slovenia, Slavoj Žižek, pernah dan bahkan berkali-kali mengutarakan perihal arsitektur jamban dalam beberapa kuliahnya. Hal ini disampaikan dalam pembahasannya menyoal eksternalitas material dalam ideologi pada masa kini. Ini mengatakan bahwa ideologi menampakkan semacam ‘kesaruan’, mewujud dalam eksternalitas yang mengandungnya, dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan berjalan dalam sebuah kerangka refleksif. Ia menjadi cenderung untuk tidak kita sadari tetapi justru melarut dalam keseharian kita. Žižek mengambil contoh jamban untuk hal ini. Ia membeberkan bahwa ketiga jenis jamban di Jerman, Prancis, dan Inggris, tanpa kita sadari telah menyiratkan ideologi dalam masing-masing bentuk arsitekturalnya.

Di jamban tradisional Jerman, lubang jamban tempat jatuhnya tahi dan untuk kemudian disiram dengan air berletak tepat di bagian depan. Ini memungkinkan orang-orang Jerman untuk membaui dan memeriksa ada tidaknya tanda-tanda penyakit pada tahinya. Sedangkan pada jenis jamban yang umumnya kita temui di Prancis, hal yang terjadi malahan sebaliknya. Lubang jamban terletak jauh di belakang — sehingga, tahi bisa dengan segera lenyap. Sirna dari hadapan pengeksekusi pembuangan hajat. Berbeda lagi dengan jamban jenis anglo-saxon (Inggris atau Amerika) yang justru menjadi semacam sintesis. Lubang jamban menjadi titik tengah antara kedua kutub, dimana jamban (kloset) tipe inipun penuh dengan air. Oleh karena itu, tahi dimungkinkan untuk bisa mengambang di dalamnya. Tahi menjadi dapat terlihat, tetapi tidak untuk diperiksa.

Jamban di Jerman. Sumber: flushitblog.wordpress.com
Jamban di Prancis. Sumber: www.dongo.org
Jamban jenis anglo-saxon yang kerap dijumpai di Inggris/Amerika. Sumber: weirdthoughtsihave.com

Melalui penjabaran tersebut, dapat kita lihat bahwa jamban tidaklah sekadar sebagai tempat membuang tahi. Jamban-jamban tersebut menyiratkan persepsi ideologis tentang bagaimana subjek berhubungan dengan apa yang dikeluarkan melalui tubuh organisnya. Dan nyatanya, Žižek bukanlah manusia pertama yang menyampaikan gagasan ini. Hal ini, telah sebelumnya diutarakan Hegel dalam menafsirkan triad geografis Jerman-Prancis-Inggris sebagai tiga perilaku eksistensial yang berbeda.

Adalah sifat yang penuh refleksi dari bangsa Jerman, ketergesaan revolusioner dari bangsa Prancis, serta pragmatisme utilitarian dari bangsa Inggris. Tidak sampai di situ, pembahasan tentang jamban ini bukan hanya membedakan tiga negara tersebut dalam domainnya yang paling intim, tetapi juga mengidentifikasi mekanisme yang mendasarinya. Ini dilihat melalui tiga perilaku yang berbeda dalam menyikapi pembuangan hajat tersebut, yakni, ketertarikan kontemplatif yang ambigu terhadap tahi (Jerman), hasrat menyingkirkan tahi secepat mungkin (Prancis), dan keputusan pragmatis untuk memperlakukan tahi sebagai hal yang biasa saja dan bagaimana membuang tahi tersebut dengan cara yang tepat (Inggris).

Triad Sunken Court

Sepengamatan saya sebagai seorang massa kampus yang terjerembab dalam zona kumuh kampus Ganesha, hal serupa sepertinya terjadi pula khususnya dalam ketiga unit kajian yang sedang dibingungi ini. PSIK dengan kegiatan politik praksis disertai kajian seputar kebijakan dan isu-isu terhangat; Majalah Ganesha sebagai media progresif berslogan ‘Kritis dan Menggerakkan’ dengan penerapan program dan aksi yang silih ganti di setiap pergantian kepengurusan; dan Tiang Bendera yang bergelut dengan filsafat dan kontemplasi, permenungan yang radikal, serta penelaahan hal-hal remeh hingga signifikan sejak aspek metafisis-ontologis di balik pembahasan yang dikaji.

Memang tidak sepenuhnya benar bila saya katakan bahwa apa yang terjadi pada tiga unit kajian Sunken Court mengikuti triad pemikiran besar dunia Barat. Namun rasanya sah-sah saja kalau saya mengibaratkan PSIK sebagai Inggris, Majalah Ganesha sebagai Prancis, dan Tiang Bendera sebagai Jerman. Toh ketiga sekretariat masing-masing juga membentuk rupa segitiga bila disambungkan dengan garis (ini adalah suatu contoh justifikasi yang cukup buruk, saya akui).

Maka dari itu, anekdot alegoris a la Reynaldi dapat tetap digunakan untuk menjawab, tetapi kali ini boleh jadi ditambahkan dengan pengibaratan tiga negara yang saya tuliskan. Tetapi tentu itu tidak direkomendasikan. Sebab sekali lagi, saya akan lepas tanggung jawab bila pembaca malah mengalami disentri dan radang usus setelah membaca tulisan ini. Itu belum termasuk kebingungan yang mungkin tambah menjadi-jadi.


Rujukan :

[1] http://ask.fm/ReySatrio/answers/137854046435

Ditulis oleh Andhika Bernad