"Kenapa sih kak divisi itu nggak punya kebanggaan atas divisinya sendiri, beda dengan divisi lain?”

Pertanyaan itu sepertinya tidak jarang dilemparkan oleh penduduk kampus ganesha tingkat satu akhir-akhir ini. Berbagai jawaban pun dilontarkan untuk memuaskan rasa ingin tahu pemberi pertanyaan tersebut. Namun tentu saja tidak semua jawaban itu dapat dipertanggungjawabkan karena sepengetahuan saya, tidak pernah ada pembahasan logis dan bukti empirik yang kuat untuk mendukung jawaban-jawaban itu.

Nah, karena kebetulan saya sedang iseng, akhirnya saya mencoba untuk membuat satu tulisan ini. Tidak usah serius-serius amat menanggapinya, toh saya tidak melampirkan bukti empirik. Tulisan ini hanya hipotesis berdasarkan studi pustaka minim terkait bias kognitif manusia. Yaah anggap saja setengah ilmiah. Mari mulai.

Social Pressure

Akui saja bahwa kita seringkali masih terpengaruh oleh opini publik yang populer sehingga menjadikannya bukti atas suatu hal. Semakin banyak orang yang mengiyakan suatu opini, semakin dipandang sebagai sesuatu yang benar pula opini tersebut. Hal ini biasa terjadi dalam kehidupan sehari-sehari bukan? Tekanan sosial memang sulit diatasi kok, sudah ada penelitian (walau berbeda konteks) yang cukup ekstrim terkait tekanan sosial[1].

Dalam konteks pembahasan kali ini, opini yang saya maksud adalah kabar burung klasik yang biasa dibuka dengan kalimat “Kata kakak tingkat sih……,” diisi dengan format “[NAMA DIVISI] tuh [OPINI POSITIF/NEGATIF] nggak kayak [DIVISI LAIN]” dan direspon dengan penuh kepercayaan. Familiar? Bagus. Opini-opini positif yang condong pada suatu divisi tertentu jelas mampu membuat pandangan penelan opini tersebut terhadap divisi itu positif pula. Opini positif itupun akhirnya bisa dijadikan kebanggaan. Padahal kenyataannya juga belum tentu sesuai dengan opini. Coba dipikir lagi:

“If fifty million people say something foolish, it is still foolish.” – W. Somerset Maugham.

Scarcity Error

Oke mungkin yang didengar itu fakta, bukan opini. Misalnya seputar jumlah anggota divisi lapangan tertentu. Dari sini kebanggaan juga bisa muncul. Jelas lah ya divisi lapangan mana yang memiliki jumlah anggota yang relatif lumayan sedikit dibanding divisi lain, dan anggotanya lebih memiliki “pride”. Memang mudah untuk menilai lebih tinggi suatu hal yang langka[2], seperti keanggotaan divisi.

Logis? Tergantung. Jelas aneh apabila seseorang sebetulnya lebih menghargai sistem yang ada di divisi lain, baik dari cara kerja maupun pendidikannya, tapi malah membanggakan jumlah sedikit karena terlihat eksklusif. Nggak jernih itu mikirnya.

Effort Justification

Beda lagi ceritanya apabila seseorang sudah berpikir jernih, sehingga ia tidak asal menelan gosip dan membanggakan eksklusifitas berdasarkan angka. Jangan-jangan kebanggaan anggota divisi lapangan itu memang ada karena sistem di dalam divisinya mendukung? Bisa jadi. Nah oleh karena itu, pendekatan terakhir pada tulisan ini akan meninjau sistem pendidikan yang ada pada dalam tiap divisi.

Effort justification adalah pendekatan terakhir yang saya rasa sangat relevan dengan kebanggaan anggota divisi lapangan. Secara singkat, 'justifikasi usaha' adalah kecenderungan seseorang untuk menilai (secara subjektif) suatu hasil lebih tinggi daripada nilai objektifnya, karena orang tersebut sudah berusaha mencapainya. Kok bisa? Yaaa, biar nggak stres-stres amat lah menghadapi disonansi kognitif (kondisi di mana pikiran dan perilaku saling bertentangan sehingga harus disesuaikan kembali)

Hal ini terjadi pada diklat divisi lapangan, dimana pendidikan di dalamnya tergolong lebih 'keras' dibanding divisi nonlapangan. Usaha besar untuk menjalani diklat divisi berminggu-minggu demi (salah satunya) mencapai titel panitia lapangan, kemungkinan besar dapat meningkatkan kebanggaan atas titel tersebut.

Dalam divisi lapangannya sendiri pun, kita tahu bahwa ada divisi yang dipaksa untuk mengeluarkan usaha lebih, baik secara fisik maupun mental. Tidak heran apabila divisi yang dipersepsikan lebih 'keras' pendidikannya memiliki anggota yang bangga atas titelnya. Selain itu ada juga divisi yang dibuat berusaha keras memutuskan urat malunya bersama-sama. Hal itupun bisa memunculkan kebanggaan.

Kejadian ini nggak hanya ada di diklat divisi lapangan loh. Tapi juga di penerimaan kelompok tertentu yang melibatkan treatment 'keras’[3]. Mungkin ini penjelasan di balik solidaritas geng motor ataupun kumpulan siswa yang senang tawuran. Lucu ya, semakin ditindas semakin bangga?


Sekian tulisan singkat saya. Maaf kalau terkesan membodoh-bodohi, kan saya sudah tulis di awal kalau studi pustakanya tentang bias kognitif manusia. Lagipula, berpikir rasional tidak selamanya baik kan? Menurut saya sih, jangan jadi justifikasi ya.

Pesan terakhir untuk capanlap yang kebetulan membaca tulisan ini, semoga kebanggaan kamu nggak hanya disebabkan tiga hal yang saya sebutkan di atas. Jangan lupa, hal-hal seperti ini bakal menghampiri kalian lagi setelah diklat divisi berakhir.

Jadi, masih ingin merasakan kebanggaan-kebanggaan seperti ini lagi?

Salam Pembebasan!

Penulis: Reynaldi Satrio Nugroho (Lascaya Andamarsa)
Penyunting: Renanda Yafi Atolah (Nara Harsaya)
Poster: Devi Kava (Calon Panitia Lapangan)

Karena ngaku setengah ilmiah, berikut referensi studi psikologi klasik yang digunakan:
[1] Asch, Solomon E. "Opinions and social pressure". Readings about the social animal (1955): 17-26.
[2] Stephen Worchel, Jerry Lee, and Akanabi Adewole, "Effects of Supply and Demand on Ratings of Object Value," Journal of Personality and Social Psychology 32, no. 5 (November 1975): 906-14.
[3] Elliot Aronson and Judson Mills, "The Effect of Severity of Initiation on Liking for a Group," Journal of Abnormal and Social Psychology 59 (1959): 177-81.