Hai kamu yang mungkin sedang berada di depan monitor, membaca tulisan ini. Aku ingin menyampaikan draft-draft pemikiran yang sudah berseliweran di kepalaku. Sayangnya draft itu tidak pernah menjadi ucapan nyata saat aku bertemu denganmu ataupun tulisan utuh saat aku menyentuh media tulis. Kenapa ya kira-kira? Ah sudah tulis sajalah pikirku, biarkan saja mengalir, kecuali ada typo yang krusial. Toh yang penting pesanku bisa sampai, setidaknya sebagian, dengan cara menulis.

Ya, menulis. Aku berharap sepenuh hati, bahwa kamu yang membaca ini di depan layar smartphone, laptop, atau apalah itu gadgetnya, bisa mengerti apa yang aku maksud. Tapi aku kembali memutar otak, apakah ini cara berkomunikasi yang benar-benar baik? Simbol-simbol yang ada pada layar kaca yang sedang kamu tatap ini hanyalah simbol tanpa arti bernama huruf. Manusia lah yang memberi huruf ini arti. Arogan sekali ya, kita merasa bisa memberikan arti pada suatu benda mati. Untungnya semua manusia senaif itu memaknai simbol. Kita menjadi berani berkomunikasi satu sama lain dengan media tulis, tanpa takut dengan kemungkinan akan hilangnya makna yang ditangkap pembaca. Luar biasa.

Ah, andai berpegangan tangan seperti pada film PK bisa membuat kita bertelepati dengan sempurna. Sungguh, aku meragukan keefektifan simbol yang sekarang kamu sedang baca ini, dalam menyampaikan pesanku. Bisa saja kata ‘aku’ dan ‘kamu’ yang kamu kirim terasa lumrah bagimu. Tapi bagiku, dua kata pada layar kaca ini merupakan kebahagiaan sesaat yang bisa membuatku lupa akan ironi dunia. Padahal mungkin maksud kamu mengirimkan dua kata tersebut hanyalah sebatas sebutan biasa saja, tanpa makna istimewa di dalamnya. Toh memang bahasa menulis sehari-harimu seperti itu. Sedangkan aku hanya terpaku kepada kata ‘gue’ dan ‘lo’ untuk menghilangkan rasa intim dalam sebuah sebutan. Pesan yang dikirim secara tertulis memang sulit ditebak ya.

Sempat terpikir, bagaimana apabila aku berbicara via telepon? Ah tapi, ekspresi wajah dan gerak-gerik tubuhku tidak akan bisa kamu lihat. Walaupun tidak ada simbol berupa huruf yang terlibat di dalam percakapan itu, kamu tetap akan terpaku pada intonasi, warna suara dan pemilihan kata. Aku sedih, suaraku bukanlah suara mas-mas yang ada di iklan permen penyegar tenggorokan. Sekat berupa persepsimu akan warna suara itu menghalangi pemikiran asli yang ingin kusampaikan. Kesedihanku bertambah saat muncul pertanyaan, bagaimana caranya mengekspresikan pemikiran yang begitu kompleks ini ke dalam kata-kata tanpa menyempitkan maknanya? Koleksi kataku saja sangat sedikit. Tidak semua kata dalam KBBI aku kuasai. Bahasapun aku hanya bisa hitungan jari.

Baiklah sepertinya memang cara terbaik untuk menyampaikan pemikiran ini adalah dengan berkomunikasi langsung tanpa alat bantu komunikasi buatan manusia. Eh, aku masih ragu juga sih. Gestur mengangkat jempol saja berbeda arti di negaraku dan negara lain. Iyasih, memang ada ekspresi universal seperti tertawa. Tapi jujur saja, aku tidak sepeka itu untuk menyadari arti dari setiap mimik wajah yang kamu buat. Kutengok media sosial, ternyata sudah banyak juga bercandaan yang muncul atas ketidakpekaan ini. Rupanya banyak juga yang sepertiku.

Tapi apa daya? Pemikiranku selalu tertabrak dinding persepsimu. Padahal aku hanya ingin menyampaikan satu hal yang sangat kompleks, namun biasa dirangkum dalam satu kalimat yang dengan catchy:

Gue naksir lo nyet.

Ditulis oleh Reynaldi Satrio Nugroho