Review Lagu: Pangalo! -Menghidupi Hidup Sepenuhnya

Untuk mendengarkan lagunya silakan klik di sini.

Beberapa kali menghabiskan liburan bersama kawan-kawan dengan mengunjungi so-called objek wisata membikin saya sadar kalau saya tak pernah benar-benar tertarik dengan tempat yang kami akan sambangi. Entah itu sunrise di pantai, pemandangan di puncak gunung, atau kolam air panas yang mengalir langsung dari mata air pegunungan. Pada akhirnya yang berhasil jadi obrolan asyik di tongkrongan bukan seberapa menakjubkannya tempat itu tapi bagaimana si A dikejar babi hutan, si B yang terjebak badai di tengah laut dengan nelayan setempat, atau cerita lainnya yang terjadi di sepanjang perjalanan dengan teman terdekat sebagai aktor utama.Dalam hal ini rasanya saya mesti setuju dengan kalimat klise: “yang penting mah proses, bukan hasil akhir”.

Ingatan manis seputar hangatnya pertemanan masa muda yang berhasil dibangkitkan “Menghidupi Hidup Sepenuhnya”, lagu pertama dari album terbari Pangalo! “HURJE: Maka Merapallah Zarathustra” yang akan dirilis dalam waktu dekat. Meski begitu Pangalo! tak sekali pun menyebutkan apa-apa tentang anak muda dalam lagu ini.

Kalau tahun 1975 Rhoma Irama memandang tindak-tanduk anak muda sebagai segala yang dianggap sembrono dan egois di lagu “Darah Muda”-nya, maka Pangalo! menceritakannya sebagai pemberontakan, baik terhadap lingkungan pun dirinya sendiri, dengan cara yang amat romantis. Mudahnya, Rhoma berkisah tentang ‘remaja’ tapi Pangalo! bicara soal ‘pemuda’, dua kata yang menandakan beda cara pandang terhadap satu objek yang sama. Coba dengarkan rapalan Pangalo! di bagian chorus:

Aku menari dalam kelam dunia ini, kawan.
Merayakan hidup dengan hasrat pemberontakan.
Berjanji dalam hati bahwa aku tak berhenti.
Melampaui diri sendiri dengan amorfati.

Dipersenjatai dengan beat penuh tenaga dan rawan dansa yang disadur dari “Come Around”-nya Orgone, bait di atas terasa seperti mantra untuk tidak loyo-loyo saja menjalani hidup, tapi mencintainya dengan cara membangkang, merayakannya dengan melawan. Ia tak berhenti di proses menerima dan mencintai apa yang terlanjur terjadi tapi berlanjut dengan anjuran menghidupi hidup sambil memelihara amarah, harapan, dan ketulusan, sekalipun absurd serta melelahkan.

Kontradiksi macam ini dan “Fatum brutum amor fati”, berarti ‘mencintai takdir walau itu buruk’, yang diulang berkali-kali dalam track sepanjang 4 menit 27 detik menandakan kuatnya dosis pemikiran Nietzsche yang disuntikkan oleh Pangalo! dalam lagu yang juga menjadi bagian dari Album Kompilasi “Pretext For Bumrush”, salah satu album musik lokal terbaik tahun 2017. Belum lagi ide tentang eternal recurrence dan will to power yang sedikit disinggung di potongan verse ke-2:

Kehendak berkuasa menantang penguasa,
merumuskan senjata dengan tanjam kata-kata.
Kumati berkali dan lahir kembali,
menata kembali moralku yang basi.

Luapan semangat yang berhasil diledakkan sejak verse pertama sampai chorus dinetralisir dengan rasa rindu kepada kawan lama. Barangkali lewat lagu ini Pangalo! sedang menuliskan sebuah surat untuk kawan lamanya. Di awal ia bertanya bagaimana kabar kawannya sekarang lalu di akhir lagu ia berharap agar kawannya ini tetap menyalakan gairah hidupnya.

Sepanjang lagu, memori tentang kawan-kawan lama yang sekarang tak lagi seakrab dulu berjejalan di dalam kepala. Lalu berganti wajah dengan mereka yang belakangan ini kerap saya sambangi untuk menjadi penawar dari pahitnya rutinitas .Yang belakangan datang bersama kegamangan karena saya tahu kalau momen-momen itu mungkin adalah yang terakhir. Bukan karena “umur siapa yang tahu” tapi boleh jadi minggu depan kami berkonflik dan tak pernah benar-benar berdamai atau mungkin memang tak lagi sejalan satu semangat yang sama. Akan ada sedikit rasa canggung untuk sekadar minta rokok atau kopi. Lucunya kami sama-sama memaklumi karena toh orang datang dan pergi, termasuk kawan, dan menyayangkan atmosfer yang dulu mungkin tak akan datang lagi. Tapi kami juga tahu kalau memang tak ada usaha lebih yang perlu dilakukan untuk “memperbaiki” ini.

Dan hari ini saya masih saja heran dan terpukau membayangkan bagaimana bisa Pangalo! berhasil membuat saya seketika melankolis tapi tetap ingin bergoyang.