”Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.” – Ki Hajar Dewantara

PENGANTAR

Secara terminologis, definisi kaderisasi adalah proses pencetakan kader. Sedangkan definisi kader itu sendiri adalah orang yang dipercaya mampu melanjutkan dan melaksanakan tugas-tugas yang ada dalam suatu organisasi. Tetapi, kaderisasi itu lebih dari sekedar mencetak kader. Kaderisasi adalah nafas sebuah organisasi. Ketika nafas seorang manusia tersengal-sengal, dapat dikatakan bahwa tubuh orang itu sedang dalam keadaan tidak sehat. Begitu juga halnya dengan organisasi.

Jika boleh dianalogikan, kaderisasi ini adalah sebuah pabrik yang memroses manusia menjadi apa yang dibutuhkan oleh organisasi tersebut. Bedanya, manusia adalah makhluk hidup yang pasti akan bereaksi terhadap hal tersebut. Itulah yang menyebabkan produk yang dihasilkan oleh kaderisasi ini berbeda-beda. Tapi hal itu bukan merupakan sebuah masalah, karena pada dasarnya setiap orang adalah unik.

Ketika pabrik gagal dalam mencetak suatu produk, bisa saja dengan mudah pabrik itu membuangnya. Tetapi, ketika kaderisasi itu gagal dalam membentuk seorang manusia, tidak mungkin kita menghapuskan keberadaannya. Kalaupun dibuang, mereka yang ‘produk gagal kaderisasi’ itu tetap akan menjadi seorang manusia yang merupakan bagian dari masyarakat, yang nantinya akan memiliki sejumlah pengaruh untuk peradaban.

Dan kaderisasi seharusnya merupakan proses yang tidak pernah berhenti, entah secara aktif maupun pasif, karena ‘yang dikader’ itu adalah seorang manusia yang terus beradaptasi terhadap lingkungan dan selalu belajar dari pengalaman. Beda halnya dengan pabrik yang mencetak benda mati, yang apabila diberi perlakuan seburuk apapun, mereka tak akan melakukan perlawanan, atau bahkan memberi masukan pada pabriknya. Dan setelah mereka menjadi suatu produk, produk itu tak akan berubah, yang hal itu tidak berlaku pada manusia.

ASPEK-ASPEK DALAM KADERISASI

Minimalnya, kaderisasi – jika tinjauannya adalah organisasi – mencakup tiga hal, yaitu pengetahuan, sikap dan perilaku, serta keterampilan. Cakupan pengetahuan disini adalah tentang hal-hal dasar tentang organisasi yang perlu diketahui oleh yang dikader. Lalu sikap dan perilaku, adalah hal-hal yang akan ditanam sehingga mengembangkan kepribadian yang dikader, seperti tanggung jawab, disiplin, jujur, tepat waktu, dan sebagainya. Yang terakhir adalah keterampilan, dalam artian hal-hal yang berkaitan dengan kemampuan (softskill) sebagai sesuatu yang bakal dibutuhkan oleh kader tersebut sesuai tantangan zaman, atau keterampilan lain yang diperlukan sesuai kebutuhan organisasi.

Ketiga hal diatas itulah beberapa yang tidak bisa didapatkan dari duduk di bangku kelas. Itulah sebab dibutuhkan adanya kaderisasi sebagai salah satu bentuk pendidikan. Jika salah satu saja dari tiga hal itu tidak didapatkan, akan terjadi ketidakseimbangan yang menyebabkan adanya ‘yang gagal’ itu tadi, dengan contoh kasus yang sangat beragam. Sehingga, perlu adanya kaderisasi yang dapat memastikan ‘yang dikader’  memahami hal-hal tersebut.

Jika kita tinjau dari Dokumen Sinergisasi Kaderisasi KM-ITB, kaderisasi sebagai proses pendidikan dalam aspek kemahasiswaan apabila ditinjau sebagai metode pemenuhan kebutuhan pendidikan pada dasarnya hanya dapat melakukan intervensi pada beberapa aspek sebagai berikut:

  1. Aspek pengembangan karakter melalui aspek eksternal dengan mengembangkan kultur kehidupan berkemahasiswaan dalam rangka pembentukan karakter.
  2. Aspek pengembangan karakter melalui aspek interaksi dengan memastikan pola hubungan antar anggota dalam kegiatan kemahasiswaan.
  3. Aspek pendidikan kemampuan aplikasi melalui pendalam terapan baik ilmu yang berkaitan langsung dengan keprofesian ataupun penunjang keilmuan.
  4. Aspek pendidikan softskill dan bakat melalui pembiasaan ataupun pendidikan langsung terkait kemampuan personal yang dapat membantu penerapan ilmu kognitif.

“Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan, serta memperhalus perasaan.” – Tan Malaka

PENUTUP

Lalu, bagaimana seharusnya kaderisasi itu?

Suatu hari aku pernah mendengar hal ini: Kaderisasi adalah sebuah pendidikan yang harusnya mampu membebaskan ‘yang dikader’ dari segala hal yang membatasi dirinya. Bisa merdeka dalam berpikir dan bertindak, serta mampu melihat melewati tembok yang selama ini menutup pandangan terhadap realita yang sesungguhnya. Selain itu, sikap bertanggung jawab tetap harus dimiliki. Karena pada akhirnya, apapun yang kita lakukan nantinya harus bisa berjalan beriringan dengan alam dan peradaban, untuk mencapai kehidupan yang lebih baik lagi.

Apakah memang begitu?

Ditulis oleh Farhad Zamani