Dinanti-nanti kemunculannya sejak lama, satu tahun saya kira adalah waktu yang panjang bagi sebuah film untuk ditunggu kemunculannya dengan kegirangan yang terus membakar di kalangan penggemarnya. Rasa kegirangan ini selain dibangun dengan ide cerita dan para tokohnya yang sangat terkesan ‘wah’ juga ditopang dengan trailer yang mereka rilis, yang saya pikir merupakan salah satu yang terbaik di antara trailer film superhero lain yang pernah saya tonton. Suicide Squad merilis dua trailer dan setidaknya 7 teaser yang memperkenalkan para karakternya. Belum ditambah trailer khusus dirilis pada pagelaran comic-con. Dan saya pun ikut merasakan kegirangan ini sampai saat saya mulai menonton filmnya.

Kegirangan yang saya rasakan sebelumnya, hanya bertahan bahkan tidak sampai film selesai. Yang berganti menjajah pikiran saya adalah satu hal bahwa Rotten Tomatoesmungkin  tidak sepenuhnya salah memberikan rating 26% dari 100%, atau seorang kawan yang saya percaya selera filmnya memberi nilai 4/10. Perasaan seperti ini membawa saya pada waktu pembacaan buku kelima seri novel Supernova, Gelombang. Atau menonton ending serial televisi How I Met Your Mother. Maksudnya, suatu masakan yang terbuat dari bahan unggulan belum tentu berakhir menjadi hidangan yang lezat. Ide awal cerita yang menarik serta barisan aktor dan karakter yang memukau tidak memberikan jaminan sebuah film menjadi sama baiknya.

Ada beberapa penyesalan yang saya temukan di film ini, namun yang utama adalah alur cerita. Alur cerita Suicide Squad tidak lebih daripada film medioker zombie apocalypse atau invasi alien ke bumi dimana ada sejumlah orang tersisa di sebuah kota untuk bertahan hidup dan berusaha melenyapkan zombie dan alien yang tersisa demi melestarikan kehidupan manusia di bumi. Tujuan para alien, penyihir dalam Suicide Squad, pun tidak jelas. Setelah mantra Enchantress selesai dan kekuatannya terkumpul penuh, lalu apa? Mau jadi apa? Mau kerja di perusahaan multinasional? Mau kerja di bank dengan gaji awal 10 juta? Atau jadi aktivis di LSM membela hak-hak rakyat kecil seperti pedagang kaki lima? Loh loh, ternyata ini bukan Enchantress tapi anak ITB. Hehe.

Penyesalan berikutnya adalah Joker. Jelas saja, siapa sangka? Awalnya saya berpikir Joker yang baru dengan Jared Leto sebagai aktornya akan datang dengan sesuatu yang asyik. Saya berekspetasi Leto akan melakukan tugasnya dengan baik (lagi) dalam memerankan sebuah karakter yang berbeda seperti saat ia memerankan seorang transgender pecandu obat terlarang di Dallas Buyers Club. Alih-alih menjadi baru dan berbeda, Jokernya Leto mencoba terlalu keras untuk terlihat sadis dan gila. Memang dengan segala pernak-perniknya yang lebih meriah dibanding Joker sebelumnya, Joker terlihat berbeda dan baru. Tapi kiranya, berbeda dan baru tidak selalu baik. Tentu kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Jared Leto. Joker pertama yang saya saksikan adalah versi Heath Ledger dan malang bagi Leto, Joker versi Ledger adalah standar yang sangat tinggi untuk dicapai.

Ada beberapa hal lagi yang membuat Suicide Squad menjadi film medioker dan overrated. Pencitraan karakter yang lemah di awal film adalah salah satunya. Saya tidak mendapat kesan apapun dari si manusia batu Killer Croc selain karakter yang jarang ngomong tapi sekalinya ngomong bisa bikin ngakak satu studio. Karakter macam ini, saya kira, pasti selalu ada di film-film superheroes atau box office lainnya. Ini jadi satu indikator yang membuat Suicide Squad tidak berbeda dari film lainnya. Berikutnya adalah hal-hal remeh di sepanjang film yang ‘apa banget’ dan gak perlu-perlu amat seperti scene slowmotion saat Deadshot hendak menembak bom yang dilempar Killer Croc dan Deadshot mesti pinjam pistolnya Harley Quinn. Tolonglah, kamu bawa senjata segudang, tapi gak punya satu pun di saat paling genting. Kemunculan Katana pun, saya pikir, adalah “apaan nih” of the year. Gak penting dan perlu banget. Terakhir adalah cara mati para penyihir, Enchantress dan saudara laki-lakinya. Di dunia DC, para penyihir sakti ini, yang mampu meluluhlantakkan suatu kota dalam satu malam, membelah kereta, melakukan blink (berpindah tempat dalam sekejap mata) sambal mencuri rahasia militer negara lain, dan hidup ribuan tahun, mati karena kena bom dan bomnya tidak lebih besar dari mobil Agya. Saya kira DC bisa lebih baik dari ini. Mungkin, Harley Quinn bisa melakukan semacam ritual pengusir setan misalnya.

Kesimpulannya adalah Suicide Squad biasa aja seperti mie goreng yang kelewat matang. Kamu tidak bisa berbohong kalau mie goreng adalah salah satu mukjizat tuhan yang muncul di era modern. Tapi dalam perjalanannya menjadi sebuah hidangan yang mantap, apabila ditangani dengan cara yang tidak tepat, mie goreng tidak melulu membuktikan dirinya menjadi mukjizat tuhan. Suicide Squad, seperti mie goreng yang kelewat matang, menjadi lembek dan kehilangan daya magisnya karena cacat yang terdapat di sepanjang film. Namun mie goreng tetaplah mie goreng. Suicide Squad tidak sepenuhnya buruk. Penampilan Harley Quinn oleh Margot Robbie tidak mengecewakan. Dan siapa yang tidak suka Cara Delevingne? Terlepas karakter Enchantress yang lemah secara cerita, namun Cara adalah Cara. Harley Quinn > Enchantress. Cara Delevingne > Margot Robbie.

image
image