Pada esainya yang berjudul “Inilah Senjakala Kami…” Bre Redana, seorang wartawan senior  Kompas, menjelaskan bagaimana media cetak menghadapi akhir dari peradabannya. Salah satu hal yang ditengarai oleh Bre sebagai sebabnya ialah perkembangan teknologi digital yang membawa konsekuensi bisnis karena kebanyakan investor lebih memilih memasang iklan di media digital. Di dalam esai tersebut, Bre juga menjelaskan bahwa hari ini, keutamaan berita menjadi “yang penting pertama dan tercepat” sehingga menyebabkan turunnya kualitas informasi yang diberikan dan dengan sendirinya membuat kualitas jurnalis/wartawan yang ada saat ini turun pula.

Esai tersebut  terbit pada Harian Kompas tanggal 27 Desember 2015. Saya membaca esai tersebut dan isinya cukup membekas karena tulisannya menuai berbagai macam respon dari jurnalis maupun penullis lain. Malam tadi[A1]  (20/11), fragmen-fragmen esai ini kembali mampir ke otak saya, saat saya menghadiri Hearing K3M Sunken. Tentu saja, dalam wujud yang berbeda meskipun saya merasakan banyak kesamaan di antara keduanya (jurnalisme dan Hearing Sunken).

Dengan cukup yakin, saya bisa berkata bahwa hearing malam tadi adalah salah satu yang paling melempem, kalau ‘terburuk’ dirasa terlalu kasar. Bagi Anda yang merasakan hearing Sunken tadi malam  sebagai hearing Sunken pertama, saya tidak bisa menyalahkan kalau Anda merasa hearing Sunken biasa saja, cenderung membosankan. Tapi bagi Anda yang pernah merasakan hearing Sunken tahun-tahun ke belakang, barang tentu hearing tadi malam terasa janggal dan salah. Seperti ada, bahkan banyak, yang hilang tadi malam. Dan sialnya lagi, sesuatu yang hilang ini adalah yang membuat hearing Sunken menjadi hearing Sunken. Bahkan bisa dibilang, Sunken hilang dari hearing Sunken tadi malam.

Lalu apa yang membuat hearing Sunken menjadi hearing Sunken? Memang, saya baru merasakan satu kali hearing Sunken sebelum hearing tadi malam tapi lewat sekali hearing itu, saya bisa menikmati bagaimana atmosfer yang biasa tercipta di hearing Sunken seperti yang pernah diceritakan tetua unit-unit Sunken. Sesuatu yang bisa membikin saya berkata dalam batin, “Oh jadi begini hearing Sunken”. Di hearing Sunken “yang seharusnya”, adalah sesuatu yang biasa bila Anda menemukan para kandidat ditanyai tentang ideologinya selama dua jam, ditanyai apa fantasi sex terliarnya, atau ditanyai apakah sudah sarapan atau belum. Di sini pun, tidak mengherankan jika Anda menyaksikan para kandidat dibentak-bentak karena salah menyebut kepanjangan singkatan dari sebuah unit atau peserta hearing membikin kandidat menangis karena tidak bisa memenuhi janji. Setidaknya sudah ada dua kandidat dari dua tahun berbeda yang berhasil dibikin nangis oleh hearing Sunken.

Anda mungkin berpikir kalau hal yang saya bangga-banggakan sejak tadi tidak lebih dari sekumpulan orang arogan dan tanpa tata krama, tapi justru inilah yang membuat hearing Sunken ditunggu. Hearing Sunken justru menjadi opsi ketika pada hearing biasa yang diadakan panpel, kita hanya dapat menemukan pertanyaan-pertanyaan template seperti bagaimana proker yang mereka bawa bisa berdampak pada kehidupan kampus atau, yang paling klasik, bagaimana cara mereka membangun kembali kepedulian massa KM ITB saat ini. Karena pada hearing biasa, aturan membuat kita untuk berada pada sebuah koridor dimana pertanyaan yang muncul tidak jauh dari hal-hal seperti itu, sebab kita hadir di sana sebagai perwakilan suatu lembaga seperti himpunan ataupun sebagai sekumpulan orang yang dianggap tidak tahu apa-apa saat kita masih TPB.

Bagi saya, bukan kandidat mana yang akan memenangkan Pemira, atau siapa yang hendak mencalonkan diri, yang menjadi hal paling menarik di tiap Pemira. Hearing Sunkenlah jawabannya. Saya bisa bilang, hearing Sunken menjadi ritual di tiap Pemira. Tahun lalu, panpel Pemira tidak mengagendakan ritual ini ke dalam rangkain kegiatan Pemira. Karena itu, massa Sunken mengajukan hearing by request dan dikabulkan. Ritual pun dijalankan dengan atmosfernya yang khas itu. Hearing Sunken tak ubahnya seperti audisi pada acara pencarian bakat, dimana ia bukanlah merupakan mata acara utama tapi menjadi yang paling menarik. Di audisi pencarian bakat, kita bisa menemukan kejadian paling konyol sampai bakat-bakat yang menakjubkan sebelum diasah.

Lantas apa hal yang memaksa saya berkesimpulan bahwa hearing tadi malam melempem dan cenderung membosankan? Pertama adalah massa yang jauh lebih sedikit dari hearing Sunken biasanya. Banyak unit yang absen tadi malam, yang membuat ritual hearing kehilangan sebagian besar ruhnya karena tidak terlibatnya beberapa unit yang memberi warna khas di tiap hearing Sunken. Kedua, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu hilangnya pertanyaan-pertanyaan “gila” yang biasanya dilontarkan oleh massa “triad unit kajian Sunken” (PSIK, MG, Tiben). Yang sesungguhnya hilang dari poin ini sebenarya adalah kegilaan pikiran yang dimiliki oleh triad unit kajian ini. Adalah salah bila saya menyebutkan bahwa pertanyaan-pertanyaan “gila” hilang dari hearing kemarin karena, toh, masih ada yang bertanya tentang fantasi seks terliar para kandidat atau perintah supaya kandidat menjawab pertanyaan sambil angkat barbel. Tapi pertanyaan macam ini bukanlah hal baru dari hearing Sunken sebelum-sebelumnya. Bahkan kebanyakan pertanyaan trivia yang kemarin dilontarkan diambil dari notulensi hearing Sunken tahun lalu, dan dijadikan monopoli oleh anak-anak MG disadari ataupun tidak.

Hal terakhir ini menyalakan kekhawatiran di diri saya bahwa akan lenyapnya Sunken dari jiwa para penghuninya, terutama penghuni barunya termasuk saya. Saya takut kalau kami, yang baru di Sunken, tidak bisa meneruskan apa yang selama ini telah menjadi ciri khas anak-anak Sunken. Saya khawatir kalau sampai pada akhirnya nati daya pikir kami masih begini-begini saja dan tidak menyamai, atau bahkan mendekati, daya pikir pendahulu kami. Meskipun saya yakin orang-orang yang saya maksud pendahulu tadi tertawa membaca kalimat terakhir tadi. Saya takut kalau kami bakal terlalu sibuk membuat keributan di comment section sebuah post di Line (kalau yang satu ini jelas tertuju ke anak unit yang satu itu). Saya takut kalau nanti jari-jari kami lebih lincah dari otaknya.

Dan bukan hanya soal daya pikir tapi kegilaan yang ada di dalamnya. Siapa pula orang kurang ajar yang berpikir untuk bertanya fantasi seks dan membuat nangis calon ketua kabinet keluarga mahasiswa beranggotakan ribuan orang. Pada akhirnya, jika keadaanya tetap begini maka kita mesti bersiap untuk menghadiri hearing Sunken yang sepi dan monoton dan mengahadapi senjakala jiwa Sunken sambil memandang “Sunken” benar-benar tenggelam.

Ketakutan terbesar saya adalah adalah kami telah merasa cukup dengan label yang dicapkan pada kami sebagai anak Sunken, anak kajian, dan sebagainya. Sehingga kami malah berlindung di bawah label itu padahal keadaannya sudah tidak seperti dulu lagi. Dan yang paling berbahaya adalah kalau kami lupa dengan tujuan awal kami pergi ke Sunken. Atau mungkin, secara tidak sadar, kami pergi ke Sunken memang hanya untuk memperoleh label anak Sunken itu sendiri.

Namun seperti halnya esai Bre yang disanggah oleh banyak pihak: bahwa banyak juga media cetak yang masih bertahan bahkan menjadi lebih baik dalam era digital, bahwa Bre terlalu mengglorifikasi jurnalis media cetak, dan esai yang ditulisnya begitu sloganistik dan merasa paling baik. Tulisan ini pun banyak membawa kebanggaan akan keadaan masa lalu dan tendensius. Atau mungkin justru lenyapnya jiwa yang saya jelaskan tadi disebabkan pikiran-pikiran seperti pada tulisan ini: terlalu bangga dan mengglorifikasi apa yang ada di masa lalu. Semoga saya salah besar.