Lumrahnya, makan malam dinikmati bersama, bukan seorang diri. Entah itu di warung pedagang kaki lima dekat kampus atau restoran mewah dengan rekan bisnis atau mungkin di atas meja makan bersama keluarga kecil, makan malam selalu digunakan untuk ajang berkumpul satu sama lain. Mungkin ketika liburan di rumah adalah suatu hal yang membuatmu eneg ketika ibumu berkali-kali menyuruhmu keluar dari kamar untuk sekedar makan bersama. Tapi, makan malam itu sendiri menjadi suatu tradisi di mana orang-orang duduk bersama, bercengkrama sambil menikmati apa yang tersaji di atas piring. Tidak peduli apakah itu masakan ibu atau omelette du fromage yang padahal cuma telur dadar dikasih keju tapi mahal sekali, kamu akan lebih menikmatikya ketika kamu makan sambil bercengkrama bersama yang duduk satu meja denganmu.

Biasanya, saya pulang dari kampus cukup malam. Setelah kelas terakhir, saya biasanya nongkrong di sekretariat organisasi. Setelah hari menjadi gelap, pasti ada salah satu di antara semua yang nongkrong mencetuskan untuk makan di warung pedagang kaki lima terdekat atau kalau sedang banyak uang mungkin melanglang buana entah kemana . Di sini lah saya bisa menghabiskan waktu paling banyak. Dari menunggu hidangan di sajikan hingga piring di atas meja bersih, tiada hentinya kami mengobrol. Dari sekedar gosip, hingga bertukar ide.

Tidak bisa dipungkiri, banyak ide-ide — mulai dari brilian hingga sinting — lahir saat semua duduk mengitari meja makan. Bermula dari gosip-gosip tidak penting tapi asyik untuk ditertawakan, mengeluh mengenai kondisi lingkungan sekitar, sampai lahirlah suatu ide. Mungkin mengejutkan, tapi ide-ide yang lahir di kepala saya dan beberapa teman saya lahir sambil melakukan santap malam. Mulai dari ide mengenai metode kaderisasi yang gila tapi lucu juga bila berhasil dieksekusi, tulisan-tulisan sentil-meyentil gundu, propagada-propaganda yang unik, bahkan ada beberapa ambisi saya yang lahir seiring santap malam bersama teman. Dan semua lahir secara lancar, ditemani oleh sepiring (biasanya) nasi dengan ayam goreng yang disajikan bersama sambal, tahu, dan tempe. Coret ayamnya jika akhir bulan. Mungkin mereka tidak benar-benar lahir di saat semua masih duduk mengelilingi meja makan, tapi ketika kamu sedang mengendarai motor, di tengah matamu yag mulai melemah, ide-ide tersebut berenang-renang di dalam kepala, meronta untuk segera dilahirkan.

Kalaupun ide tidak lahir di atas meja makan, mungkin yang ada adalah ide yang tertanam di atas meja makan. Mungkin kaderisasi meja makanterdengar lucu, tapi kenyataannya hal itu dapat terjadi. Cukup dengan makan bersama, lalu mengobrol, dan saat semua pulang, paradigma beberapa orang akan berubah. Mungkin hanya tergeser sedikit, tapi toh, tetap berubah. Tidak perlu repot-repot merumuskan metode yang tepat untuk menggeser paradigma si kader, cukup duduk bersama, menikmati santap malam ditemani segelas kopi, lalu mengobrol sedikit, dan voila, tergeserlah paradigma si kader seiring habisnya nasi dan sambal di atas piring.

Kondisi-kondisi di atas dapat mengalir dengan lancar saat semua duduk melingkari meja makan, dan tanpa disadari, membentuk dan mengencangkan ikatan kekeluargaan. Terdengar fana, tapi itu benar adanya. Wajar saja, bila kamu pilih-pilih dengan siapa kamu mau menyantap makan malammu lebih dari apa yang mau kamu makan malam itu.

Mungkin karena hal-hal sesepele “ingin membicarakan sesuatu”, makan malam bersama menjadi seperti sebuah tradisi. Selama kamu masih bersama dengan keluarga juga, pasti tidak terdengar asing teriakan orang tua yang mengajakmu makan malam bersama. Atau ajakan teman-temanmu untuk sekedar menikmati malam di gerobak-gerobak pedagang kaki lima dengan segelas kopi.

Ketika Mao Tse Tung mengatakan “Revolution is not a dinner party”, bisa dibilang saya sedikit tidak setuju. Revolusi memang bukanlah suatu acara makan malam, tapi revolusi bisa lahir saat makan malam, di atas meja makan, ketika kamu bersama orang-orang yang tepat.

Ditulis oleh Aisha Putri Mirauli