Sosial media kini telah menjadi sesuatu yang sangat lumrah dimiliki oleh tiap orang. Informasi dapat dengan mudahnya dipertukarkan, begitu juga keadaan di belahan dunia lain dapat diketahui dengan sekejap mata. Hal ini tentu merupakan sesuatu yang bagus untuk kesejahteraan umat manusia, pengetahuan dapat disebar dengan bebas, sehingga awareness manusia terhadap isu-isu sosial maupun sains lebih meningkat. Manusia dapat lebih bijak dalam menanggapi sesuatu karena ragamnya informasi yang ada. Seorang yang ignorant dan intolerant pada ideologi tertentu dapat lebih terbuka pikirannya, karena dalam sosial media (dan internet pada umumnya), mereka saling bertemu—antara dua kubu yang saling berlawanan dapat berkomunikasi dan bertukar pikiran—dan setidaknya, antara dua kubu ekstrem dapat saling mengetahui konsep ideologi masing-masing. Namun, dunia nyata tidaklah seindah itu…

Pada tahun 2016, Oxford Dictionary menganugerahkan suatu penghargaan untuk dunia sastra dan linguistik, bukan kepada manusia, namun kepada bahasa itu sendiri. Bahasa tersusun atas kalimat, dan kalimat tersusun atas kata-kata. Suatu kata memiliki sejarah tersendiri dalam dunia bahasa, baik di dalam masyarakat, media, maupun di kalangan sastra. Sejarah panjang suatu kata sering mencerminkan keadaan sosial dan politik di mana kata itu hidup. Kata sering kali berganti-ganti makna, menyesuaikan zaman dan keadaan masyarakat saat itu. Oleh karenanya, kata dianggap penting untuk diingat, diperingati, dan dikenang. Oxford akhirnya memilih kata yang dapat kita ingat dan kenang, kata yang sangat berarti dalam rentang waktu tertentu, kata yang seakan menguasai dunia, kata yang menggerakkan roda kehidupan, kata yang menentukan arah hidup umat manusia. Kata itulah yang disebut Oxford Dictionary sebagai Word of The Year, atau “kata tahun ini”. Word of The Year (WoTY) merepresentasikan suatu kata yang mewakili keadaan dunia selama setahun, bagai seluruh peristiwa dapat dirangkum dalam kata itu. Untuk tahun 2016, Oxfrod Dictionary memilih kata post-truth Era sebagai WoTY. Pemilihan ini, secara ringkas, disebabkan oleh terjadinya dua peristiwa besar pada tahun 2016 yang berhubungan erat dengan sosial media dan penyebarluasan informasi, yang pada akhirnya, berdampak pada efek yang besar.

post-truth Era secara sekilas merupakan sesuatu yang aneh. Adakah sesuatu “setelah” kebenaran? Apakah sesuatu itu lebih benar daripada yang benar? Bahkan untuk memahami kebenaran sendiri, manusia tidak mampu, dan sekarang, kebenaran telah dilampaui oleh sesuatu yang bernama “post-truth”. Meskipun bahasan post-truthlebih terkesan bahasan filsafat, namun sejarah kata ini sebenarnya lahir dari ranah sosial, dan karenanya, post-truth tidak terlalu memikirkan tentang “apa yang melampaui kebenaran”, “metatruth”, dan lain sebagainya. Definisi post-truth secara singkat ialah suatu keadaan di mana fakta kurang dapat berperan untuk menggerakkan kepercayaan umum daripada sesuatu yang berhubungan dengan emosi dan kebanggaan tertentu (seperti agama, kepercayaan, kebangsaan, ras, etnis, dan kepentingan politik)[1]. Maksud dari prefiks “post” memang tidak selalu menunjukkan sesuatu yang sesudahnya sesuatu. Kata-kata seperti “post-racial” dan “post-nation” menunjukkan makna suatu konsep (yang menyudahi prefiks post) menjadi irelevan dan nirmakna. Paradoks terjadi di sini, dan seakan menguatkan bahwa konsep tersebut telah tersudahi oleh konsep sejenis yang merupakan kebalikan dari konsep itu sendiri. Dalam kata post-truth misalnya, kebenaran menjadi semakin sulit untuk dicari, untuk diraih, kita dihadapkan akan segudang informasi yang belum tentu benar, dan informasi tersebut—bukannya berisi fakta objektif—malahan menyandarkan argumennya melalui pendekatan emosional dan kepercayaan. Konsep inilah yang sekiranya merupakan kebalikan dari “Truth”.

Dalam konsep post-truth, aspek yang dapat membedakannya dari sekadar kebohongan ialah reaksi yang terjadi saat suatu konsep post-truth dimunculkan pada masyarakat. Seseorang atau kelompok yang melancarkan “politik post-truth” akan terus menyuarakan suatu argumen post-truth meskipun mereka terus dikritik, telah disuarakan letak kesalahannya, dan dibabat habis-habisan oleh para pakar[2]. Anehnya, masyarakat lebih percaya dengan argumen post-truth tersebut daripada kebenaran yang disuarakan oleh para pakar, meskipun argumen post-truth tersebut telah dibabat habis-habisan, tidak peduli seberapa aneh dan seberapa nyelenehnya argumen itu. Trump pernah berkata bahwa Obama lah yang mendirikan ISIS, China adalah penyebar hoax perubahan iklim dunia, dan perkataan konyol lainnya[3]. Namun, suporter Trump tetap menurut sahaja, meski banyak media telah mengkritik pernyataan Trump. Hal yang sama terjadi di Indonesia, dan menurut saya, lebih ekstrem “levelnya”. Kita tentu mendengar kabar dari media bahwa kelompok ormas tertentu ingin melaporkan Gubernur Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan, lantaran lambang Bank Indonesia pada uang mirip lambang PKI—palu arit[4]. Toh dengan logika anak SD kita telah mengetahui bahwasannya jika lambang tersebut, jika dilihat dengan sinar ultraviolet atau kita terawang, merupakan lambang penuh dari logo Bank Indonesia. Meski pernyataan ini sungguh menggelikan, banyak juga masyarakat yang percaya akan argumen tersebut, lantara personal belief masyarakat Indonesia yang menolak, membenci, dan melaknat PKI serta ideologi aneh-aneh lainnya. Berbicara mengenai ideologi, telah terjadi juga contoh dari penerapan konsep post-truth yang cukup menggelikan. Masyarakat Indonesia memang membenci PKI, dan mereka—seseorang yang memanfaatkan fakta ini—mencoba menggunakan fakta tersebut demi tujuan masing-masing. Telah beredar spanduk yang menuliskan bahwa “komunis = liberal”, terkejut? Tunggu dulu, ada yang lebih aneh daripada itu. Pada spanduk yang sama, ditunjukkan bagaimana mereka membuktikan argumen tersebut. “PKI menolak agama; Liberal menolak agama;  PKI = Liberal”. Argumen menggelikan ini diamini oleh tidak sedikit masyarakat yang termakan buaian agama dan kebencian PKI. BBC mewawancarai anggota demo menolak komunisme; mereka berkata pada reporter BBC, bahwasannya mereka sendiri tidak tahu apa arti “komunisme” dan “liberalisme”. “Kita mah, ikut-ikut saja pak. Tanya saja yang lain, saya takut salah kalau jawab”, begitu ujar seorang pendemo anti komunisme[5].

Dengan semakin menyebarnya informasi ­post-truth dalam masyarakat, Mattew Norman menyatakan bahwa kita sedang memasuki dunia ­post-truth. Lebih jauh dari itu, Ralph Keynes telah menulis buku berjudul The Post-Truth Era, yang terbit pada tahun 2005. Kita pasti tidak asing dengan novel 1984 karangan George Orwell yang diterbitkan pada tahun 1949. Orwell menceritakan tentang dunia di mana kebenaran tidak ada, semua kebenaran ialah fakta yang telah diukir dan dipahat dengan indah oleh pemerintah. Masyarakat dengan tidak berdayanya terpengaruh oleh propaganda tersebut, menolak segala hal yang rasional dan hanya bertumpu kepada perintah “Bung Besar”. Konsep kebenaran dirombak, bahkan yang paling logis sekalipun, seperti matematika. Dua tambah dua sama dengan empat, kebodohan ialah kekuatan, perang ialah damai, dan berbagai jargon lainnya. Dunia sekarang tidaklah berbeda dengan dunia imajinasi Orwell. Kebenaran menjadi semakin sulit dicari, dusta dan kebenaran tak dapat lagi dibedakan. Penulis dan para filosof seakan telah memperingatkan kita akan datangnya hari di mana dusta dan kebenaran tak dapat dibedakan. Namun, bagaimana sesungguhnya penyebaran informasi post-truth ini terjadi? Salah satu dari jawaban pertanyaan tersebut terletak pada algoritma personalisasi sosial media. Filter Bubble adalah sebuah algoritma pencarian yang memungkinkan kita mendapat feed hanya dari berita yang kita suka dan kita lihat paling sering. Hal ini memungkinkan seseorang hanya berada dalam satu lingkar tertentu, dalam suatu lingkar yang ia paling nyaman[6]. Masalah muncul ketika lingkar tersebut ialah lingkaran penuh dusta. Seseorang yang memasuki lingkaran tersebut hanya akan mendapatkan informasi post-truth dan tidak ada informasi dengan sudut pandang yang lain. Istilah ini pertama kali digunakan oleh Eli Pariser dalam bukunya yang berjudul sama. Pariser menyatakan bahwa keberadaan algoritma filter bubble ini menyebabkan seseorang terperosok dalam jurang kebodohan yang begitu dalam. Pengguna media sosial akan semakin sedikit terpapar oleh pandangan lain yang bersebelahan, dan terisolasi secara intelektual oleh masyarakat yang satu lingkar dengannya. The Guardian merangkum konsep ini dengan elegan, “semakin kamu masuk, semakin kamu terperangkap”. Menurut Pariser, filter bubble ini sangat rentan akan manipulasi dan propaganda oleh orang-orang yang mempunyai agenda tertentu. Pariser juga mengemukakan konsep autoindoctrination, yaitu suatu pendoktrinan di mana kita lah yang mendoktrin diri kita sendiri dengan ide dan pemikiran kita. Filter bubble juga disebut sebagai “cyberbalkanization” atau “splinternet”, yaitu memisahnya dua komunitas dan membatasi dirinya bertemu satu sama lain sehingga mereka gagal untuk melihat sudut pandang pemikiran satu sama lain, seperti yang terjadi pada China yang dijuluki dengan Great Firewall untuk kebijakan politiknya, dan Korea Utara yang memang memisahkan diri dari peradaban dunia.

Referensi

  1. Oxford English Dictionary Editor. “Post-Truth Definition“. https://en.oxforddictionaries.com/definition/post-truth.
  2. Peter Preston (9 September 2012). “Broadcast news is losing its balance in the post-truth era“. The Guardian. Retrieved 11 July 2016.
  3. Alfa Noe (2 Desember 2016). “Is Being ‘Post-Truth’ A New Concept?“. NPR. Retrieved from http://www.npr.org/sections/13.7/2016/12/02/502542397/is-being-post-truth-a-new-concept
  4. Nabilla Tashandra (11 Januari 2017). “Rizieq Akan Laporkan Gubernur BI, Menkeu, dan Peruri soal Logo Palu Arit“. Kompas. Retrieved from http://nasional.kompas.com/read/2017/01/11/18334631/rizieq.akan.laporkan.gubernur.bi.menkeu.dan.peruri.soal.logo.palu.arit
  5. BBC Indonesia (3 Juni 2016). “Menyoal ‘spanduk Liberal=PKI’ dalam demo antikomunis“. Retrieved from http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/06/160603_trensosial_demo_antipki
  6. Bozdag, Engin (23 June 2013). “Bias in algorithmic filtering and personalization“. Ethics and Information Technology. 15 (3): 209–227.

Sumber gambar: http://theconversation.com/the-surprising-origins-of-post-truth-and-how-it-was-spawned-by-the-liberal-left-68929