Pada Jumat-Minggu (13-15/07/18), peringatan satu tahun perjuangan warga RW 11 Tamansari diselenggarakan. Bertempat di puing-puing reruntuhan belakang Baltos, warga bersama jaringan solidaritas dari berbagai daerah menyelenggarakan acara bernuansa festival dan pameran karya.

Pengunjung mulai tampak berdatangan semenjak sore hari. Ketika malam mulai menjelang, gemerlap lampu seakan melengkapi dinginnya Bandung pada saat itu, syahdu. Apalagi dengan ditemani nikmatnya kopi dan “seblak perjuangan”, pengunjung dimanjakan dengan penampilan panggung musik. Beberapa di antaranya yaitu Bin Idris, Wangi Gitaswara, Dimas Wijaksana, Sombanusa, dll.

Beginilah cara warga melawan, unik, kreatif, indah. Manifestasi dari sebuah kritik atas tuduhan kampung kumuh dari pemerintah. Selain penampilan pada panggung utama, perlawanan juga diwujudkan dalam berbagai foto yang ditempel pada tembok reruntuhan. Live mural juga dilakukan beberapa seniman, pun tak lupa pameran karya ilustrasi juga memanjakan mata pengunjung. Tampak beberapa pengunjung mengambil beberapa swafoto untuk mengabadikan momen yang langka ini, terutama di mesin setan (baca : backhoe).

Acara lainnya juga diisi oleh workshop, mimbar bebas, dan screening film. Rangkaian acara ini menandakan suatu bentuk konsistensi warga RW 11 Tamansari dalam menolak ketidakadilan. Jalur hukum sudah ditempuh oleh warga melalui gugatan ke PTUN. Namun pada sidang putusan, gugatan warga ditolak dengan dalih itu bukan wewenang PTUN untuk memutuskan. Sama halnya dengan gugatan lainnya perihal kompensasi yang diterima warga terdampak, kekalahan ada pada pihak penggugat, warga yang terdampak.

“Harlah satu tahun Tamansari Melawan adalah marka, panggilan, dan penegas ihwal perlawanan yang urung tugur, tentang perjuangan yang akan terus berlangsung.”

#1TahunTamansariMelawan

ditulis pada 15 Juli 2018