Hasil gambar untuk greek temple wallpaper

Manusia adalah objek semesta yang paling menakjubkan yang pernah ada yang kita tahu. Rasa keingintahuan seorang manusia terhadap lingkungan kosmosnya tak lekang oleh waktu. Sungguh luar biasa seonggok DNA, sekumpulan protein, bisa berpikir mengenai keeksistensian dirinya di dalam semesta ini.

Manusia sejak lama senang memahai semesta dengan berandai-andai. Dari mengandaikan para dewa Olympus, hingga mengandai-andai bahwa deret Taylor itu tak terbatas, terbatas atau fana. Fantasi. Fantasi seorang pujangga, fantasi seorang Elon Musk, hingga fantasi seorang pedofil. Fantasi yang membawa orang yang meminangnya ke awang-awang, keluar dari bumi dan alam tempat ia berdiri. Dengan fantasi itu, ia dapat menyatukan ruhnya dengan alam kosmos. Ia merasa dirinya bagian dari semesta. Fantasi ini disebut juga extase. (Hatta, 1943)

Tidak selamanya orang berfantasi saja. Terkadang, dari fantasi timbul pertanyaan dari benak mereka. Apakah fantasi ini bisa diterima mentah-mentah? Apakah fantasi ini nyata atau berdasar sesuatu yang bisa diujibandingkan? Demikianlah, dari fantasi, timbul lama-kelamaan keinginan akan kebenaran.

Bangsa Grik adalah salah satu bangsa pujangga kuno yang membentuk iklim akan budaya kritis yang bebas. Kritis akan semesta kosmik hingga keinsafan etik pada diri sendiri. Kekritisan ini sendiri adalah salah satu keunggulan manusia (yang dicerminkan bangsa Grik) yang terutama adalah kekritisan untuk penggunaan logika akan pola. Pola menjadikan salah satu unsur keberhasilan manusia untuk survive dan berevolusi hingga sekarang. Tanpa logika pengenalan pola, kalkulus tak akan diciptakan, kimia unsur tak akan dikenal, dan kita mungkin punah. Pengenalan pola oleh bangsa Grik adalah fantasi mengenai pola bintang yang mana salah satu logika terhebat dalam peradaban kuno. Manusia modern saja tak akan bisa mengenali pola bintang yang akan selalu terulang setiap tahunnya tersebut dan menghubungkan nya dalam satu keteraturan. Yah, manusia modern tidak seselo banga Grik. Yang mana mereka di malam hari, timbul di hatinya keinginan hendak mengetahui rahasia alam itu. Lalu timbul pertanyaan lain, dari mana datangnya alam ini, bagaimana kemajuannya, dan kemana sampainya. Beratus tahun, alam besar ini menjadi soal dan pertanyaan yang memikat perhatian ahli-ahli pikir Grik.

Hasil gambar untuk space

Kehausan akan kebenaran oleh bangsa Grik tidak terbatas. Menurut ahli Grik, semua hal di semesta ini sejatinya hanyalah ada satu, hanya satu kebenaran. Maka dari itu ilmu oleh bangsa Grik hanya ada satu saja: philosophia, yang artinya “cinta akan pengetahuan”. Arti cinta akan pengetahuan sendiri sangat kompleks. Pengetahuan sendiri sebenarnya susah untuk dicintai. Perlu kecintaan dan kehausan akan kebenaran. Faraday adalah contoh terbaik yang bisa digunakan. Dimana di segala keterbatasan beliau, dia mau untuk mencari kebenaran dari alam itu sendiri, sehingga beliau menjadi salah satu penerus dasar fisika optika Newton dan peletak dasar fisika listrik praktis. Tetapi, keingintahuan Faraday sendiri menembus beberapa disiplin ilmu.

Berbeda dengan kehidupan modern, bangsa Grik tidak mengkotak-kotakkan ilmu itu sendiri. Ilmu itu utuh, bulat, tak terpisah dan berkaitan satu dengan yang lain akan kebenaran semesta. Hal ini sangat logis tentu saja di masa itu. Tentu saja, sulit dilakukan untuk di masa kini. Ilmu zaman modern ini telah dibungkus dan disajikan dengan rapi dan cantik kepada manusia modern. Ilmu sekarang memotong-motong kehakikian dari alam seperti layaknya kue tart, dan setiap potongan itu diselidiki masing-masing terapan tanpa mempedulikan potongan lainnya (biasanya). Sedangkan filosof-filosof Grik sendiri biasanya mempelajari segala terapan yang dikenal ahli modern, alkimia; astronomi; ilmu hukum; ilmu sosial hingga apa yang kini disebut filsafat (filsafat sendiri merupakan turunan dari kata philoshopia, maka tentu saja filsafat yang mempertanyakan segalanya, dari keeksistensian diri sendiri hingga eksisnya alam ini adalah ibu dari semua ilmu). Aristoteles dan Archimedes adalah contoh dari filosof-filosof lintas disiplin yang merintang untuk seluruh daerah ilmu yang diketahui peradaban kuno. Bagi orang Grik tidak ada ilmu yang spesial, melainkan ilmu yang universal.

Hasil gambar untuk philosophia

Philosopia, atau filosofi sendiri bisa disebut berpikir merdeka dengan tiada dibatasi kelanjutannya. Atau menurut Windelband, filosofi sifatnya merentang pikiran sampai sejauh-jauhnya tentang suatu keadaan atau hal yang nyata. Disinilah letak perbedaannya. Dimana ilmu spesial (ilmu modern) membatasi medannya hingga alam yang dapat diamati, alam empirika. Ilmu modern yang mungkin terkadang membatasi pertanyaanya hanya sekadar “bagaimana?” atau “apa sebabnya?”, alih-alih meninjau pertanyaan “apa itu?”, atau “dari mana? ke mana?”.

Filosofi mencari pengetahuan akan penghidupan dan alam, yang akan senantiasa dicari dan tak pernah timbul penghabisan. Filosofi sendiri mencukil soal yang lebih dalam. Filosofi tidak mencari sebab dan akibat saja, tapi lebih menuju apa sebenarnya dari masalah itu, dari mana dia berasal, mempertanyakan apakah barang yang lahir itu barang yang sebenarnya atau hanya bayangan dari yang sifat yang lebih pokok? Hampir selalu filosofi dipandang dua dunia yaitu fana dan baka. Dunia fana adalah kiasan dari dunia baka, yang fana dipahamkan sebagai tubuh sementara yang baka. Maka tak heran, jika ada masanya, yakni awal tarikh Masehi hingga Zaman Tengah, filosofi dibalut dan bertaut dengan agama, dimana filosofi kedudukannya hanya sebagai anggota akal untuk menyuluhi “kebenaran yang lebih sempurna”, yang didapat sebagai wahyu yang diturunkan Tuhan. (Hatta, 1943)

Nb1: Tulisan kali ini timbul dan didasari karena kekaguman akan pendahuluan dari buku Alam Pikiran Yunani, yang ditulis Hatta ketika ia sedang memperjuangkan harkat martabat bangsa kita di Banda Neira. Untuk mengenang wafatnya Hatta, 37 tahun yang lalu.

Nb 2: Perhatikan bahwa untuk gelar post-doctoral, terkadang disematkan PhD, atau Dokter of Philosophy, yang menunjukkan bahwa manusia tersebut sudah meraih secungkil ilmu dari filosofi itu sendiri. Ironis karena, filosofi sendiri harusnya adalah sesuatu yang menembus segala disiplin dan terapan ilmu. Tapi, memang dengan berkembangnya ilmu, untuk mengefektifkan kemajuan dari ilmu untuk manusia, ilmu harus dikotak-kotakkan dan dispesialisasi untuk manusia. Terutama untuk engineer-engineer dan scientist-scientist. Namun terkadang, kawan-kawan engineer lupa untuk bertegur sapa dan mengetahui terapan sebelah. Kadang masih diperlukan untuk bertegur sapa, karena tenggang rasa merupakan salah satu ciri manusia mahluk sosial, bukan?

foto :

https://wall.alphacoders.com/big.php?i=452984, http://www.storywarren.com/space/, http://digitalsojourner.com/2012/03/07/dont-know-much-about-philosophy/philosophia/

Ditulis pada 18 Maret 2017