Tidak asing dengan istilah ‘neolib’ kepanjangannya neoliberal? Neolib Banyak dipakai jadi mantra jika mau mencercai seorang politikus, ataupun lawan argumen politik. Apa benar Indonesia sekarang termakan ideologi ini? Sebenarnya apa sih neoliberalisme? Neolib itu bagus atau tidak?

Menurut Boas dan Gans-Morse pada esai mereka “Neoliberalism: From New Liberal Philosophy to Anti-Liberal Slogan”, neoliberal merupakan kata kosong yang dipakai akademisi kontemporer untuk mendeskripsikan banyak ideologi yang terkait, bahkan kebanyakan untuk menjadi kata hina, atau yang merendahkan orang lain. Pertama kali ini dilakukan adalah ketika istilah ini menyebrang laut Atlantik dan mengelilingi tanjung selatan Amerika ke negara Chili, di mana intelek-intelek menggunakan istilah neoliberal untuk mendeskripsikan reformasi ekonomi Chili yang dijalankan oleh pemerintah Pinochet. Sejak itu, neoliberalisme mendapatkan konotasi buruk dan mulai jarang dipakai oleh pendukung pasar bebas. Namun, asal-usul neoliberalisme itu apa memang?

Depresi besar (Great Depression) menjatuhkan kepercayaan masyarakat umum di barat terhadap sistem ekonomi mereka, yang saat itu didasari oleh liberalisme klasik. Liberalisme banyak dianggap gagal dan tidak berguna untuk zaman modern. Beberapa ekonom dan akademisi dari aliran sekolah Freiberg (contohnya Friedrich Hayek, Milton Friedman, Ludwig von Mises) membentuk Himpunan Mont Pèlerin. Mereka mencoba untuk mengadaptasi liberalisme untuk dunia modern, dan mereka menyebut update ini sebagai liberalisme neoklasik, atau juga disebut ordoliberalisme Jerman. Aliran inilah yang menjadi bibit neoliberalisme zaman sekarang. Namun, ada beberapa sifat liberalisme neoklasik ini yang mungkin berbeda dengan neoliberalisme yang Anda kenal.

Para sarjana Freiberg menolak kapitalisme laissez-faire yang penuh, dan menekankan nilai kemanusiaan dalam sistem ekonominya. Neoliberalisme yang mereka studi malah merupakan kritik terhadap liberalisme yang sudah umum saat zaman itu, dengan menyerang fundamentalisme pasar bebas penuh. Ideologi alternatif ini lebih menganut percaya bahwa pemerintah harusnya lebih aktif dalam regulasi ekonomi, contohnya dalam menghancurkan monopoli untuk mendorong persaingan. Walau begitu, ideologi ini masih mengacu pada kebebasan pasar, dengan membatasi intervensi pemerintah dalam membuat regulasi yang terlalu mencekik.

Setelah perang dunia kedua, AS mulai mengarah ke bentuk negara yang menganut ideologi “demokratik liberal”, yang membawa liberalisme ke arah yang lebih terkontrol oleh pemerintah, contohnya dalam pembuatan lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat. Kebijakan fiskal dan moneter yang disebut ‘Keynesian’ pada tahun-tahun sebelumnya membuat ekonomi AS menjadi stagnan. Negara-negara mulai berintervensi pada kebijakan industri dan membuat standar untuk welfare system (kesehatan, pendidikan, dsb). Bentuk pengorganisasian pemerintahan ini disebut liberalisme embedded (embedded liberalism).

Liberalisme embedded sukses terjalankan di barat dan memberikan pertumbuhan pesat untuk negara-negara kapitalis di barat pada dasawarsa 1950-1960an. Namun, perkembangan ekonomi ini sulit disebar ke negara-negara yang “belum berkembang”, sehingga ekonomi di belahan dunia timur dan selatan kurang lebih terhenti. Para proponen neoliberalisme pun mendefinisikan sistem yang dapat membebaskan negara dari pasar bebas sehingga kondisi pemerintahan suatu negara (baca: kontrol pemerintah terhadap industri-industri tertentu) bisa lepas dari perkembangan ekonomi negara tersebut. Ini pun terwujud pada dasawarsa 1970an, saat banyaknya negeri masuk periode krisis moneter, yang menunjukkan bahwa prinsip Keynesian sudah tidak bekerja. Ideologi neoliberalisme meledak populernya karena pembuktian pada AS dan Inggris pada masa kepemimpinan Ronald Reagan dan Margaret Thatcher. Ditambah lagi gold standard yang mulai tidak dapat dianut banyak negara, sehingga kurs mata uang mereka mengambang.

Karena neoliberalisme lebih merujuk ke sistem ekonomi, neoliberal policy yang tersahkan tidak terlalu terpengaruh oleh budaya negara, dan dapat diadaptasi untuk budaya manapun (jika Anda sering mengoprek political compass, ini merupakan cultural axis). Dengan kata lain, negara yang pandangannya konservatif maupun liberal mengenai adab, tradisi, dan budaya, dapat melaksanakan kebijakan arus neolib. Inilah yang membuat neolib sangat mencekam di dunia modern, ditambah globalisasi dan pengaruh-pengaruh negara barat seperti Inggris, AS, Jerman, dan lainnya.

Nah, kembali lagi kita ke tanah air. Setelah turunnya Soekarno, sudah banyak terlihat masuknya pengaruh barat ke politik negeri. Soeharto membuka oportunitas bagi perusahaan asing untuk melakukan investasi modal ke ekonomi sektor umum di Indonesia dengan menetapkan undang-undang penanaman modal asing (PMA). Pada 1970an, IMF (International Monetary Fund) dan ADB (Asian Development Bank) membentuk konsortium IGGI (Intergovernmental Group on Indonesia), yang melegalkan sejumlah negara-negara “industri maju” untuk membiayai pembangunan Indonesia. Ini bisa dilihat sebagai penyusupan ideologi neolib barat masuk ke sela-sela tanah air, ataupun hanya keputusan pragmatis untuk melanjutkan perkembangan ekonomi negara.

Setelah keuangan negara ambruk saat krisis moneter Asia Tenggara, makin banyak undang-undang liberal yang datang saat masa reformasi: privatisasi sejumlah BUMN, pengundangan bagi IMF untuk mengurus perekonomian Indonesia yang saat itu hancur, nilai kurs rupiah yang mulai diambang bebas, penghapusan subsidi pemerintah pada minyak, dan sebagainya. Bahkan sampai sekarang di zaman Jokowi pun sekarang terlihat makin-makin saja terlihat dampak kebijakan liberalisasi ekonomi Indonesia. Pencabutan subsidi makin banyak, kepemilikan sektor swasta terhadap hal-hal yang seharusnya milik negara (contohnya migas, kehutanan, pertambangan), dan hutang ke luar negeri makin saja bertambah.

Walaupun berganti-ganti definisinya selama masa hidupnya, neoliberalisme bertahan hingga saat ini, sebagai pengarah sistem ekonomi pada negara-negara barat dan zone of influence mereka, walau tidak ada yang berani menyebut mereka sendiri sebagai seorang neoliberal. Contohnya di AS, di mana kedua partai politik utama (Democrat dan GOP) dapat saja dibilang menganut ideologi ekonomi neolib, dan hanya berbeda di hal-hal yang terlihat di permukaan saja (contohnya politik identitas dan hak LGBT). Neoliberalisme pada zaman sekarang merujuk ke model kebijakan yang pro-pasar, seperti deregulasi pasar, pengurangan hambatan dagang, dan mengurangi pengaruh negara dalam ekonomi. Seperti liberalisme klasik, neoliberalisme berpercaya bahwa kehidupan manusia dapat lebih baik apabila kebebasan individual dalam berkewirausahaan dinaikkan melalui perdagangan bebas dan penswastaan sektor-sektor industri.

Kelihatannya memang susah kita keluar dari cengkeram neoliberalisme ini. Seperti sejak Chili, orang yang menganut sistem ekonomi sesuai neoliberalisme pun tidak suka disebut neoliberal. Menurut saya, kita harus tahu apa asal-usul dari masalah negara kita, dan coba untuk dicabut dari akarnya. Kebanyakan, masalah itu dapat distribusikan ke kebijakan neoliberal yang berlebihan di tanah air yang didasari Pancasila, yang salah satu silanya berbunyi “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”, bukan “Keadilan Sosial Bagi Yang Dapat Menjadi Investor Dengan Share Terbesar”. Oleh karena itu, harus kita kenali apa sebenarnya neolib, jangan hanya mengatai musuh debat dengan kata itu.

Jadi, sudah tidak asing bukan dengan kebijakan hari ini?


[1] van Otten, George. "The End of Economic Liberalism“.
https://www.e-education.psu.edu/geog597i_02/node/767

[2] Boas, Taylor C. & Gans-Morse, Jordan. “Neoliberalism: From New Liberal Philosophy to Anti-Liberal Slogan”.
https://faculty.wcas.northwestern.edu/~jlg562/documents/BoasandGans-Morse--SCID.pdf

[3] Hartwich, Oliver M. “Neoliberalism: The Genesis of a Political Swearword”.
https://www.cis.org.au/app/uploads/2015/07/op114.pdf

[4] “Neoliberalism – the ideology at the root of all our problems”, George Monbiot, 2016, The Guardian.
https://www.theguardian.com/books/2016/apr/15/neoliberalism-ideology-problem-george-monbiot

[5] https://news.detik.com/opini/d-1136671/neoliberalisme-dan-indonesia

[6] “Hantu Itu Bernama Neolib”, Maulida Sri Handayani, Tirto. https://tirto.id/hantu-itu-bernama-neolib-bCpx

[7] Harvey, D. “A Brief History of Neoliberalism”.