bbb

Nyatanya panggung bisa dimana saja. Tidak harus di amphiteater. Tidak harus di hall yang mewah. Panggung bisa hadir kapan saja dan dimana saja. Bahkan di dalam kamar rumah sakit, dan bahkan juga di atas ranjang orang sakit. Dengan tirai rumah sakit dan lampu kuning di atas ranjang, sang pasien laki menampilkan wayang sang putri yang dikejar buto yang ingin mencuri rembulan. Yang puan menonton bagaimana aksi buto dan putri berkejar-kejaran, timbul dan tenggelam dalam nyanyi tembang.

Pun dalam adegan lain, yang puan mengajak kembarnya menari dalam pertarungan, atau bertarung dalam pertarian. Sungguh elok dengan menampakkan satu ruang pasien menjadi medan sabung manusia dengan estetik, pengewejantahan yang puan ingin berduel seperti ayam jago. Akhirnya tarian ditutup dengan kalahnya yang puan, yang setengah berharap dengan kemenangan kembarnya bisa membawa sinar bulan kembali bersinar pada sang adik. Khayali anak-anak yang kuat tidak didasarkan logos, namun lebih jatuh kepada pathos.

Dan adegan pamungkas pun menampilkan satu lagi tarian dengan latar persis sama dengan tarian ala sabung ayam sebelumnya. Kali ini yang puan sendirian. Tidak ada lagi ekor ayam yang semarak dari daun kelapa. Ekor berganti menjadi tunggal dan kokoh. Tidak ada lagi paruh. Sang puan sudah meluruh menjadi serupa dengan wanara dan mengaduk emosi untuk menghantar si adik yang sudah tergolek sayu. Menghantar kemana? Apakah peredaran bulan akan berakhir? Apakah satu batang padi yang ditanam bersama oleh kembar bunting memang harus dipindah –representasi dunia yang harus berganti-?

eee

Sekala Niskala hadir sebagai film yang mistis, magis, surealis dan entah is apa lagi. Tak ada narasi bercerita dan mono-dialog yang memandu penonton, tidak. Kekuatan narasi bertutur dari nenek moyang, luruh bersalin rupa menjadi kekuatan narasi visual yang merupakan inti dari sinema itu sendiri. Sinema tidak akan bisa menjadi sinema jika merupakan jiplakan dari buku maupun penuturan. Sinema adalah sinema, citra bergerak yang ditangkap oleh lensa. Kekuatan sinema adalah penggambaran ulang imajinasi manusia, yang berbeda dengan kekuatan literasi yang memberikan ide-ide imajinasi. Saling bertautan dengan hubungan kasualitas, karena sinema datang belakangan setelah literasi. Namun semakin lama, ketika dunia sinema menjadi industri raksasa, kekuatan sinema justru luntur dan berubah menjadi sekadar kekuatan literasi yang divisualkan. Kadang cocok kadang juga tidak, bergantung.

Film ini jatuh menjadi film seni dari awal hingga akhir. Kekuatan sinema memang mengakar kuat pada kategori art film, yang terkadang juga menggiring pemeran nya untuk menggunakan method acting atau menggunakan pemeran asli seperti yang digiring oleh gerakan neorealism Italian. Dengan realisme yang sungguh asli, sutradara bereksperimen dengan ide-ide lanjutan imajinasi, bukan bereksperimen dengan ide-ide awal imajinasi. Ada kesebangunan film karya Kamila Andini dengan beberapa film ayahnya, Garin Nugroho. Yaitu dalam bangunan art film, yang terdapat keserupaan antara Sekala Niskala dengan Opera Jawa (2006) dan Setan Jawa (2016). Bisu atau minim dialog, penuh visualisasi tarian yang bersumber dari alam sekitar, dan tentu tak lupa backsound yang terkadang ingin berdiri sendiri tanpa visual seperti suara baling-baling pengusir burung di sawah yang bersalin rupa menjadi baling-baling kipas angin rumah sakit.

aasd

Kekuatan dari narasi visual film ini adalah fokus nya terhadap satu titik, yang tidak menghambur dengan mencoba meraup hal-hal yang bisa jatuh pada cocoklogi. Konsisten. Tidak ada adegan tokoh utama bersekolah. Tidak ada adegan tokoh utama berbelanja atau bermain HP juga misalnya. Murni. Murni pada konsep hubungan kembar bunting. Tidak ada satu satuan waktu mubazir untuk menggambarkan hal yang tidak bertalian dengan tali hidup-mati kembar bunting ini.

Kesatupaduan kerangka film ini menguat pada beberapa momen. Selain momen yang menjadikan kamar rumah sakit sebagai panggung, momen tarian dibawah rembulan yang insyaf akan ditelan Raksasa Kala Rau menjadi puncak dari simbol bulan dalam film. Tantra, sang adik yang tergolek lemah, berujar, ”Hidupku seperti bulan purnama itu, yang makin lama makin melemah.” Dualitas antara kuat lemah terang gelap ini diperhalus juga dengan available light, dimana cakupan cahaya tidak dibuat-buat. Tantri, yang puan, ingin menjalar-jalar dengan tariannya berusaha menjaga sinar bulan purnama tetap terang bagi adiknya.

Momen yang berkaitan dengan telur, setidaknya tampak dalam empat adegan. Momen awal dimana Tantra mengambil telur dari sesaji untuk dimasak oleh Tantri. Tantra suka bagian kuning. Tantri bagian putih. Dualitas kuning dan putih telur. Lalu terdengar suara aneh dan Tantra yang penasaran menghilang, dan lalat-lalat pun mencicipi sajian di atas piring mereka. Berlanjut ketika Tantra yang sudah tergolek di rumah sakit, dan Tantri hanya mau melihat dari pintu dengan mengenggam telur yang lalu pecah di tangan, representasi harapan yang musnah mungkin. Juga, ketika Tantri ngambek karena sang nenek masih saja memasak telur dan tetap memberikan bagian kuning pada Tantri. Namun momen pusatnya adalah adegan ketika Tantri memakan telur rebus dan tidak menemukan bagian kuning pada telur tersebut. Seakan dualitas sudah benar-benar lenyap yang menimbulkan ketakutan kepada Tantri.

Momen yang tidak kalah penting adalah bagian niskala dari anak-anak alam. Anak-anak berbaju dalam dan bercelana pendek putih tanpa ekspresi, yang mengikuti Tantri dalam menari dan melagukan tembang, menghantarkan Tantra menuju alam tak diketahui, dan menggelinding juga mengepakkan tangan laiknya sayap ayam. Perwujudan khayali anak-anak dalam menghadapi dunianya dan mencoba memahaminya (?).

Gambar terkait

Dan momen-momen seperti membasuh diri di selokan antara ibu-anak, berdoa dalam pura yang penuh kera, pelepasan sang ibu (Ayu Laksmi jadi ibu lagi) kepada anak yang tak berdaya dengan tembang dan siter, dan momen kecil lainnya, membentuk kekokohan imajinasi yang direka ulang. Multi tafsir arahnya, bahkan pralambang dan simbol kultural bertebaran hingga ke backsound.

Tak pelak, film ini menambah pengalaman bersinema bagi siapa saja, mulai dari yang menguap berkali-kali hingga keluar dari studio dengan sesenggukan. Menambah rumit pembentukan berlanjut identitas film Indonesia, yang seakan-akan tak ada, dari apa yang disebut oleh sebagian orang new wave Indonesian films.

Film esais. Jika boleh dibilang.

n.b : Adegan favorit masihlah ketika dialog antara perawat (Happy Salma) dan Tantri sebagai backsound, dengan visual medium long shoot seekor anjing yang diberi makan oleh Tantri. Mendalam.

n.b 2: sumber materi dari blog terutama cinemapoetica dan jurnalruang karena saya masih cupu. sumber gambar dari trailer youtube

n.b 3: aku bingung menutup review ini karena banyaknya impresi yang didapat dari film ini.

Ditulis pada 18 Maret 2018