Bayangkan rasanya tidak bisa melihat langit biru setiap pagi. Ketika mendongak, alih-alih warna biru yang membuat tenang, justru kelabu yang menyambut digelayuti asap. Mungkin sulit membayangkannya karena kita terbiasa dengan langit biru yang memayungi kita tiap hari. Namun, tidak bagi masyarakat Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Langit mereka kelabu.

Sebuah akun bercuit di twitter bahwa isu kebakaran hutan yang terjadi di daerah-daerah tadi adalah ‘pengalihan isu’. Masyarakat tak boleh terpaku pada pengesahan RUU KPK, agar diam-diam bisa diketok palu. Betul, memang bisa jadi begitu. Skenario ngawur yang bisa saya bayangkan: ada oknum yang ‘disuruh’ membakar hutan untuk menurunkan isu pengesahan RUU KPK. Sekali dayung, 2 pulau terlampaui: lahan jadi terbuka, dan fokus masyarakat teralihkan. Mantap! Harusnya kita bersyukur dua kali lipat.

Yah, meskipun lingkungan dan hutan jadi tumbalnya, sih. Tetapi, siapa peduli, kan? Selama ini isu lingkungan tidak pernah jadi pertimbangan utama: selalu uang, uang, dan uang. Biarlah hutan-hutan disana tetap terbakar supaya masyarakatnya merasakan simulasi neraka! Di setiap tarikan nafas mereka, ada partikulat-partikulat yang berbahaya bagi hidup mereka. Ironi, memang, ketika bernafas justru membuatmu makin dekat menuju kematian. Namun, lagi-lagi, bodo amat. Selama uang mengalir lancar, bodo amat dengan jerit tangis warga disana.

Ketika menjelajahi jagat twitter, saya melihat salah satu orang yang saya ikuti me-retweet pernyataan Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko. Moeldoko mengunggah kutipan surat Al-Baqarah tentang bencana beberapa waktu lalu.

“Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Segala musibah datangnya dari Allah SWT dan diperuntukkan untuk hambaNya yang Ia percayai dengan porsiNya masing-masing. Musibah bisa datang kapan saja, kepada siapa saja, dan dimana saja,” tulis @Dr_Moeldoko, Jumat (13/9/2019). “Dan yang perlu kita lakukan bukannya mengeluh tapi berusaha menjalaninya dengan ikhlas dan berdoa meminta pertolongan Allah SWT. Termasuk musibah yang menimpa Pekanbaru, Riau yang sedang terjadi juga datangnya pun dari Allah SWT. Al-Fatihah untuk seluruh saudara-saudara yang terkena musibah di sana, semoga selalu diberi ketabahan dan keselamatan.” [1]

Kolom komentar sesak, penuh dengan orang-orang yang kontra dengannya. Pada mulanya, saya juga sama seperti mereka: menggoblok-goblokkan Kepala Staf Kepresidenan itu. Punya kepala tapi nggak ada otaknya! Begitu pikir saya. Tanpa berpikir panjang, saya mengklik bentuk hati terhadap salah satu komentar, komentar yang memberi ayat balasan tentang perintah Allah untuk tidak berbuat kerusakan di bumi.

Moeldoko menyatakan bahwa yang perlu kita lakukan bukanya mengeluh tapi berusaha menjalaninya dengan ikhlas dan berdoa meminta pertolongan Tuhan. Dalam kerangka kepercayaan Moeldoko, bisa jadi memang Tuhan mengirimkan musibah itu untuk Indonesia. Lagipula, Moeldoko berhak berpegang pada kepercayaannya. Kalau ada yang percaya bahwa gempa itu disebabkan Tuhan yang marah karena banyak orang gay, tidak salah juga. Bahkan, UUD menyatakan dengan jelas pada pasal 28E ayat 2: “Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.” Biarlah Moeldoko tetap pada kepercayaannya. Janganlah kita usik keyakinan yang adiluhung itu.

Mari kita berandai-andai, bayangkan saja semua orang Indonesia seperti Moeldoko. Ketika seluruh Indonesia ditempa banjir, mungkin alih-alih mencoba memperbaiki sistem pengairan yang buruk, atau mengatasi masalah sampat yang membuat mampat, orang-orang justru akan memenuhi masjid dan gereja untuk berdoa. Mungkin kita akan duduk ongkang-ongkang kaki sambil menunggu pertolongan Tuhan saja. Indonesia akan jadi negara yang amat religius, dekat dengan ilahi, jauh panggang dari alternatif solusi. Banyak berdoa, tetapi tetap banyak masalah.

Moeldoko, Moeldoko.

Kalau saya punya kuasa yang cukup besar, mungkin saya akan membuat simulasi: kurung Moeldoko dalam suatu ruangan yang penuh asap, dengan udara yang setara dengan kualitas udara di Kalimantan atau di Riau. Kurung selama sebulan dan lihat apa yang terjadi. Mungkin bisa juga kurung orang-orang terdekatnya.

Atau kalau itu terlalu ekstrem dan kalian merasa kalian masih punya hati, kita coba ajak Moeldoko langsung ke lokasi. Tinggal disana, di antara masyarakat. Jangan tinggal di hotel yang fasilitasnya mewah dan udaranya sudah disaring. Buat dia tinggal di pinggir kali, atau di tenda-tenda pengungsi. Perlihatkan bayi empat bulan yang mati karena menderita infeksi saluran pernapasan akut [2], ajak dia ke hutan untuk melihat orangutan yang tertatih-tatih mencari perlindungan [3]. Ajak juga ia untuk beribadah, untuk salat, dan perlihatkan bagaimana masyarakat sudah bertahun-tahun sabar dan berdoa dan menjalani ini semua karena ‘tidak ada pilihan lain’. Perkenalkan ia pada seorang Ibu yang mengurut dada anak bungsunya yang batuk-batuk setiap malam.

Dengan begitu, saya yakin Bung Moeldoko akan menghapus cuitan lamanya itu.


[1] https://www.suara.com/news/2019/09/16/082656/soal-kabut-asap-moeldoko-itu-datang-dari-allah

[2] https://tirto.id/yang-keliru-dari-pernyataan-moeldoko-soal-korban-karhutla-riau-eicd

[3] https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4063538/kawasan-konservasi-mawas-terbakar-orangutan-kalimantan-butuh-pertolongan