MERDEKA! Begitulah slogan yang mewarnai keseharian kita di hari kemerdekaan. Sudah 75 tahun sejak dibacakannya proklamasi, negara kita menyatakan terbebas dari segala bentuk penjajahan negara lain. Selang sehari berikutnya, pembukaan UUD 45 disahkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Dalam pembukaan UUD 45 tersebut, dicantumkan cita-cita bangsa Indonesia yang berbunyi “...memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial..”--sekadar mengingatkan. Apakah anda penasaran apakah Indonesia telah memperjuangkan cita-citanya?

Sebagai catatan, kalo Anda mencari prestasi yang beneran prestasi, jangan disini ya teman-teman. Ini tempat renungan dan ratapan serta refleksi ke belakang.

Setelah 75 tahun merasakan kemerdekaan, mari kita lihat prestasi apa saja yang telah dicetak oleh negara tercinta kita ini, terutama pada tahun 2020 dan sekitarnya.

Juara 1 Olimpiade Covid ASEAN

Sebuah foto editan dengan Presiden Jokowi yang memegang Silver Play Button tanda Corona sudah punya subscriber 100 ribu lebih

Tentu saja yang achievement pertama yang cukup signifikan adalah ini! Akhir-akhir ini Indonesia berhasil comeback dari negara yang berada di ranking terakhir, sampai-sampai saat ini menjadi juara bertahan Covid-19 se-ASEAN. Hebat sekali ya. Kudos to Menteri Kesehatan dan jajarannya (Kalo lagi baca ini tolong jangan tuntut kami ya pak, xixixi).

Ranking Pendidikan yang Luar Biasa

Berdasarkan pengumuman The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) hasil Programme for International Student Assesment (PISA) pada tahun 2018, seperti tahun-tahun sebelumnya, Indonesia berada di posisi 10 besar, dari belakang.

PISA merupakan survei evaluasi sistem pendidikan di dunia yang mengukur kinerja siswa kelas pendidikan menengah. Penilaian ini dilakukan setiap tiga tahun sekali dan dibagi menjadi tiga poin utama, yaitu literasi, matematika, dan sains. Pada survei tersebut, siswa Indonesia menempati jajaran nilai terendah terhadap pengukuran membaca, matematika, dan sains.

Pada kategori kemampuan membaca, Indonesia menempati peringkat ke-6 dari bawah (74) dengan skor rata-rata 371. Turun dari peringkat 64 pada tahun 2015. Lalu pada kategori matematika, Indonesia berada di peringkat ke-7 dari bawah (73) dengan skor rata-rata 379. Turun dari peringkat 63 pada tahun 2015. Sementara pada kategori kinerja sains, Indonesia berada di peringkat ke-9 dari bawah (71), yakni dengan rata-rata skor 396. Turun dari peringkat 62 pada tahun 2015. Dari data ini, Indonesia masih tertinggal dari Malaysia dan Brunei, kalau dengan Singapura tidak perlu ditanya lagi. [1]


Sawit Indonesia dilarang di berbagai negara maju

Jika Anda seorang individu yang cukup sering membaca berita, mungkin Anda sudah tahu mengenai isu ini. Akan kami jelaskan sedikit mengenai ini, jadi ceritanya adalah, negara-negara yang tergabung di Uni Eropa sekarang ini sedang berusaha untuk “melestarikan lingkungan” dan “menyelamatkan bumi”. Salah satu metode mereka dalam melakukan itu adalah dengan “memboikot mereka yang berkontribusi dalam perusakan bumi”, salah satu dari pelaku hal tersebut siapa? [2] Tidak lain dan tidak bukan, Indonesia.

Sumber gambar: https://s4.reutersmedia.net/resources/r/?m=02&d=20190213&t=2&i=1356158231&r=LYNXNPEF1C11X&w=1280

Perkebunan kelapa sawit seringkali menjadi dilema bagi pemerintah dalam melakukan kegiatan ekonomi dan meningkatkan devisa negara. Dilansir dari beritagar.id, perkebunan kelapa sawit seringkali menyisakan gas metana dalam volume yang besar, limbah cair, serta gas buang crude palm oil (CPO) yang juga berkontribusi untuk pemanasan global [6]. Sementara itu, kesiapan petani-petani kelapa sawit untuk implementasi ISPO (Indonesia Sustainable Palm Oil) belum siap untuk mengimplementasikannya [7]. Banyak petani sawit yang menggunakan bibit yang tidak jelas asal-usulnya sehingga memunculkan berbagai masalah seperti legalitas sehingga memunculkan penolakan dari pasar internasional [7].

Disisi lain, sudah ada usaha-usaha dari pemerintah Indonesia untuk memproduksi sawit yang lebih ramah lingkungan [3]. Seperti membawa standar Indonesian Sustainable Palm Oil ke level global. Semoga saja bisa dilakukan dan sukses mengurangi kerusakan lingkungan.

Kebakaran Hutan sudah menjadi norm (Normalized)

Sumber gambar: https://images.bisnis-cdn.com/posts/2019/10/05/1155749/jokowi-karhutla-riau.jpg

Dari catatan yang dimiliki oleh Greenpeace Indonesia, 3,4 juta hektare lahan telah terbakar selama periode 2015-2018. Lalu, berdasarkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) 328.724 hektare hutan dan lahan terbakar sepanjang Januari hingga Agustus 2019. Hebatnya lagi, tidak ada perusahaan yang dituntut dan harus membayar akibat kebakaran hutan ini[4].

Selain terbakarnya hutan, karhutla juga menyebabkan kabut asap. Kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia menghasilkan lebih banyak karbon dioksida daripada kebakaran yang terjadi di Amazon, menurut laporan Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS). Berdasarkan informasi dari Straitstimes, kebakaran hutan yang menutupi sebagian wilayah Asia Tenggara dengan awan tebal abu dan asap, diperkirakan telah melepaskan 709 juta ton karbon dioksida hingga 15 November[5].

Berdasarkan data kementerian kesehatan, hingga paruh akhir September 2019 tercatat ada 919.516 orang yang menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat karhutla. Selain itu juga, asap dari karhutla ini menyebabkan gangguan transportasi karena jarak pandang yang menjadi terbatas.

Ketahanan pangan

Gambar diambil dari tirto.id

Ketahanan pangan di Indonesia masih merupakan suatu hal yang jauh dari ideal. Ketahanan pangan itu terwujud apabila dua aspek telah terpenuhi, pertama adalah pangan yang cukup dan merata untuk seluruh penduduk. Lalu, aspek kedua yang harus terpenuhi adalah tiap penduduk punya akses fisik dan ekonomi terhadap pangan agar mencukupi [8]. Sementara itu, akhir-akhir ini, ketahanan pangan di Indonesia cenderung “variatif”. Sebagai contoh, mengambil sampel acak dari salah satu daerah di Indonesia (Provinsi Riau) terdapat 49,21% penduduk yang berpotensi mengalami rawan pangan [11].

Dilansir dari katadata.co.id, meskipun Indonesia mengalami kenaikan peringkat secara internasional mengenai ketahanan pangan, sebenarnya bukan berarti ketahanan pangan di Indonesia itu sudah mandiri. Nyatanya terjadi peningkatan impor, dan dalam pemeringkatan ketahanan pangan, asal dari pangan tidak dipertimbangkan. Impor bahan pangan cenderung meningkat tiap tahunnya, dari 2014 sebanyak 22 juta ton hingga 28 juta ton pada 2018. Mengacu data The Economist Intelligence Unit December 2019, ketahanan pangan Indonesia tercatat 62,6 poin [10].

Mengingat sekarang ini kondisi dunia sedang menghadapi pandemi, kondisi ketahanan pangan ini sangat berpotensi untuk menjadi semakin buruk ke depannya. Kebijakan PSBB, pengurangan kontak fisik, serta kebijakan bekerja dari rumah (Work from home), dapat berpengaruh terhadap produksi, distribusi, dan juga konsumsi pangan [9]. Contoh nyata yang dapat dilihat adalah banyaknya UKM yang bangkrut di tengah kondisi pandemi. Dengan kondisi pandemi, distribusi pangan menjadi terhambat dan stok pangan tidak merata di banyak daerah. Ada yang mengalami defisit, ada pula yang mengalami surplus.

Potensi Indonesia dalam menerima investasi asing

Indonesia digadang-gadang akan menjadi salah satu negara dengan ekonomi yang besar dan kuat. Bank Dunia (World Bank) dan IMF memprediksi pada tahun 2024 Indonesia akan menjadi negara dengan perekonomian terbesar ke-5 di dunia. Salah satu faktor utama yang akan meningkatkan perekonomian Indonesia adalah investasi.

Sumber gambar: https://www.indomeme.id/wp-content/uploads/2020/01/20200116_0709511.jpg

Berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh Bank Dunia dalam laporan Global Investment Competitiveness Report 2019/2020, disebutkan bahwa Indonesia menjadi salah satu dari 10 negara yang paling banyak dilirik oleh investor asing. Indonesia patut berbangga karena posisinya berada di urutan nomor 5 dari 10 negara yang dilirik oleh investor asing.

Meskipun demikian, para investor asing ini biasanya terkendala akibat regulasi yang ada di Indonesia, khususnya regulasi investasi yang dibuat oleh pemerintah setempat. Menurut kepala BKPM, Bahlil Lahadalia, terdapat 24 perusahaan dengan total nilai investasi sebesar Rp700 triliun yang urung berinvestasi akibat regulasi perizinan, perpajakan, dan pengaturan lahan yang dinilai rumit[12].

Berbicara soal regulasi berkenaan investasi asing, apakah anda ingat satu hal?? Ya benar! Omnibus Law yang mencurigakan itu digadang-gadang sebagai solusi atas permasalahan regulasi--setidaknya itu yang disebutkan oleh para influencer di instagram mereka.

--

Para pembaca tidak perlu khawatir tentang hal-hal yang kami angkat disini karena Indonesia masih punya banyak prestasi lainnya. Jangan panik, jangan resah, enjoy saja, makan yang cukup. Toh, lagi kemerdekaan kok, santai saja, nikmati saja momen selama masih berlangsung. Kapan lagi kan semua orang jadi nasionalis di satu hari dalam setahun? y x g kuy? Hehe. Sekian, sekadar mengingatkan.

SALAM PEMBEBASAN.


Tambahan: Pasca-Nasionalisme

REFERENSI

[1] tirto.id/alasan-mengapa-kualitas-pisa-siswa-indonesia-buruk-enfy
[2] tirto.id/mati-matian-menjaga-industri-sawit-dari-gempuran-boikot-eropa-Ms
[3] liputan6.com/bisnis/read/3801522/sawit-indonesia-masih-diboikot-menko-luhut-kembali-lobi-eropa
[4] cnnindonesia.com/nasional/20190723162307-20-414796/tak-berdaya-rakyat-jokowi-dicekik-asap-karhutla
[5] suara.com/news/2019/11/28/083320/kebakaran-hutan-indonesia-tahun-2019-lebih-parah-dari-amazon?page=all
[6] beritagar.id/artikel/berita/perkebunan-kelapa-sawit-di-antara-keuntungan-dan-kerusakan-lingkungan
[7] Dharmawan, Arya Hadi, et al. "Kesiapan Petani Kelapa Sawit Swadaya dalam Implementasi ISPO: Persoalan Lingkungan Hidup, Legalitas dan Keberlanjutan." Jurnal Ilmu Lingkungan 17.2 (2019): 304.
[8] Pangan, Dewan Ketahanan. "Kebijakan Umum Ketahanan Pangan 2006–2009." Jurnal Gizi dan Pangan 1.1 (2006): 57-63.
[9] https://www.umy.ac.id/ketahanan-pangan-indonesia-di-masa-pandemi.html
[10] katadata.co.id/agungjatmiko/berita/5f0d617872d58/pengamat-nilai-ketahanan-pangan-indonesia-buruk-karena-andalkan-impor
[11] Rahmadya, Saputri, Arsanti Lestari Lily, and Susilo Joko. "Pola konsumsi pangan dan tingkat ketahanan pangan rumah tangga di Kabupaten Kampar Provinsi Riau." Jurnal Gizi Klinik Indonesia (2019).
[12] https://www.goodnewsfromindonesia.id/2020/07/29/menelisik-potensi-besar-investasi-asing-di-indonesia