Jujur, saya sebenarnya malas mengikuti drama akun-akun Line yang berdebat antara “hargailah orang yang berpuasa” lawan “hargailah orang yang tidak berpuasa”. Tapi ada beberapa saat saya ketawa-ketiwi sehingga saya like dan share di timeline saya. Ya, habisnya mau gimana lagi, wong yang sudah jelas kok masih diperdebatkan. Ya jelaslah, hormati orang yang berpuasa!

*Menghormati yang tidak berpuasa 12 tahun silam, saat saya baru lulus kuliah, saya sudah menemukan konsep baru yang...

Posted by Tere Liye on Tuesday, June 9, 2015

Hormati orang yang berpuasa! Apalagi kaya kata Tara Lieur yang dipos oleh akun Dakwah Islam. Ramadan tuh sudah ada sejak 1434 tahun yang lalu. Bayangkan, masa tradisi dari seribu tahun yang lalu tidak dihormati? Apalagi dikritisi, enggak sopan banget deh! Lebih baik kritisi saja liberalisme atau hak asasi manusia yang masa bodoh lahir tahun berapa tapi yang penting lebih dahulu munculnya puasa. Toh, rata-rata hidup manusia kan cuma enam puluh tahun, sopan sekali mengkritisi perintah Allah kepada umatnya. Memangnya hak asasi manusia diturunkan oleh Allah? Enggak, kan? Itu kan dicetuskannya oleh John Locke, bukan utusan Allah. Yasudah, kalau itu, baru boleh dikritisi! Lagipula, seperti kata Ustad Pelik Kwetiaw, kaum liberal dan komunis akan bersatu untuk menghancurkan islam. Waduh, seram!

Kata Tara Lieur lagi, kondisi seperti itu dapat dianalogikan seperti ini: Terdapat suatu komplek yang memiliki budaya untuk tidak membawa hewan yang berisik (sebut saja… soang) selama 1434 tahun. Tiba-tiba, suatu hari, datanglah satu keluarga untuk hidup di kompleks itu sambil membawa soang. Wow, masa satu komplek menghormati si keluarga pembawa soang itu? Masa umat islam yang merupakan agama asli Indonesia menghormati lima agama — eh maksudnya empat agama dan satu kepercayaan — lainnya yang diakui juga oleh Indonesia? Kan mereka impor! Apalagi kepercayaan macam sunda wiwitan dan kejawen. Itu kan 100% impor!

Apa susahnya sih, menghormati orang yang puasa dengan patuh sama perda dan menutup usaha rumah makan atau warteg? Ga perlu pakai razia-razia segala, cukup dengan kesadaran diri untuk menutup usaha selama sebulan. Lupakan saja kebutuhan keluarga untuk makan atau bahkan sekedar berbuka puasa dan sahur, pokoknya kalian harus tutup warung! Elah, cuma sebulan ini. Ga akan rugi kok! Pemasukan yang tertunda berapa, sih? Lagian ‘kan, hasil jualan di sebelas bulan sebelumnya bisa ditabung! Hah, pas-pasan? Alah, bilang saja malas menabung! Dulu waktu sekolah tidak pernah diajarkan untuk menabung, ya?

Berpuasa juga tidak mengganggu, kok! Memang selama puasa umat muslim memaksa yang tidak muslim atau yang sedang berhalangan untuk puasa untuk ikut berpuasa? Enggak, lah! Toh, paling hanya menutup warung-warung yang bisa menggoda hawa napsu saat berpuasa. Atau paling tidak kasih tirai-tirai di kaca-kaca jendela restoran sehingga napsu yang berpuasa dapat dijaga. Kalian, ‘kan, bisa beli makanan di supermarket atau minta delivery restoran cepat saji untuk makan siang!

Mungkin banyak yang bertanya-tanya, “Itu kenapa restorannya dikasih tirai, sih? Puasa kok manja banget! Orang makan harus ditutup-tutupi,” hello! Plis deh, analoginya tuh, megikuti logika jenius dari akun facebookAnti Liberal News, seperti ini: Orang yang nonton bokep pasti terangsang untuk melakukan apa yang dia lihat. Ya berarti kalau saya melihat orang makan, nanti saya terangsang untuk ikut makan juga. Begitu loh, Mas dan Mbak! Kan nanti bahaya, puasa saya nanti batal! Makanya restoran dari Sabang sampai Merauke hukumnya kudu, wajib, fardu ‘ain untuk menutup jendelanya dengan tirai.

Contoh tuh, orang-orang hindu! Apalagi yang ada di Bali. Setiap nyepi, tidak ada warung makan yang buka. Bahkan bandar udaranya saja tutup dikarenakan pada saat nyepi, semua pekerja di bandar udara yang mayoritas ikut menyepi tidak diperbolehkan bekerja. Yang minoritas tuh, menghargai mayoritas! Itu baru toleransi! Tidak ada tuh, bule-bule atau turis yang ke klab malam saat nyepi. Atau ngotot terbang di bandara. Apalagi orang-orang yang beragama hindu. Iyalah, orang hampir semua yang bekerja di kedua tempat itu ikut nyepi! Memangnya kalian, orang-orang islam yang mendukung dibukanya warung makan atau paling tidak mengizinkan restoran untuk beroperasi tanpa memasang tirai di jedelanya?

Atau, kalaupun kalian tidak bisa menghargai kami, orang dewasa yang sedang melaksanakan perintah Allah, lihatlah anak-anak kami! Mereka bersusah payah melatih diri mereka untuk menjalankan perintah dalam agama mereka. Mereka habis-habisan menahan lapar dan haus. Kasihanilah mereka! Kalian tega membiarkan anak-anak kami tergoda sehingga melanggar perintah dalam agamanya? Jika tidak tega, kalian bisa mulai dengan tidak membekali anak-anak kalian makanan saat mereka sekolah ketika Ramadan. Nanti anak-anak kami bisa tergoda. Ya masa bodoh kalau mereka kelaparan, yang penting mereka belajar menghormati dan bertoleransi! Hormatilah anak-anak kami! Jangan suruh mereka menghormati orang-orang yang tidak berpuasa. Karena sesungguhnya mengormati orang yang tidak berpuasa adalah salah.

Ditulis oleh Aisha Putri Mirauli