Beberapa bulan yang lalu, civitas akademika Institut Teknologi Bandung (ITB) baru saja memilih Kadarsah Suryadi sebagai rektor baru periode 2014/2019 menggantikan Akhmaloka yang jabatannya berakhir. Terpilihnya Kadarsah menarik untuk disimak terutama terkait dengan visi-misi dan program kerja yang akan dilakukan dalam periode lima tahun mendatang. Sebagai kampus teknik tertua di Indonesia, ITB melalui kepemimpinan Kadarsah diharapkan mampu menjadi kampus penyelesai berbagai masalah Indonesia khususnya di bidang sains, teknologi, dan seni.

Aula Barat ITB (dok. Majalah Ganesha 2012)

Saat maju sebagai salah satu kandidat rektor ITB, Kadarsah membawa visi mewujudukanentrepreneurial university di lingkungan kampus ITB. Menurut Kadarsah entrepreneurial university dapat diwujudkan melalu lima hal. Pertama, peningkatan publikasi ilmiah pada jurnal dan forum ilmiah bereputasi. Kedua, peningkatan jumlah paten, prototype, dan karya kreatif serta penerapannya. Ketiga,  peningkatan pendanaan kegiatan penelitian Kelompok Keahlian.Keempat, reorientasi fokus penelitian yang berhubungan dengan sektor unggulan Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia seperti teknologi maritim/kelautan, biodiversity dan ring of fire, serta yang berhubungan dengan sektor kehidupan yang mendesak diselesaikan dalam jangka pendek seperti teknologi untuk pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan, ketahanan air dan obat-obatan, teknologi kesehatan, energi baru dan terbarukan, teknologi informasi dan komunikasi, terknologi transportasi, kewilayahan, infrastruktur, material, produk budaya serta lingkungan.


Merujuk Inti Entrepreneurial University
Sepintas melihat rencana program kerja Kadarsah di atas sangat mendukung dalam mewujudkan ITB sebagai entrepreneurial university. Namun, sejatinya paparan program Kadarsah di atas hanyalah sebagian dari beberapa poin penting terkait konsep entrepreneurial university. Artinya konsep entrepreneurial university ala Kadarsah kurang lengkap.


Merujuk buku yang dibuat oleh Direktur Triple Helix Research Group di Newcastle University Business School UK, Henry Etzkowitz, yang berjudul The Triple Helix, disebutkan bahwaentrepreneurial university adalah bentuk dari kapitalisasi pengetahuan (capitalization of knowledge). Ia menjadi kemudi (driver) dari konsep triple helix. Triple helix sendiri merupakan interaksi yang sangat terkait antara universitas, industri dan pemerintah. Lebih lanjut, Henry memaparkan lima norma entrepreneurial university. Pertama, kapitalisasi. Kapitalisasi pengetahuan menjadi dasar untuk ekonomi dan pembangunan yaitu sebagai upaya untuk memperbesar peran universitas dalam masyarakat. Kedua, Kesalingberhubungan (interdependence). Entrepreneurial university berinteraksi secara dekat dengan industri dan pemerintah dan tidak menjadi menara gading bagi masyarakat. Ketiga, mandiri. Entrepreneurial university merupakan institusi yang secara relatif mandiri. Ia tidak bergantung dengan lingkungan institusi lainnya. Keempat, perkawinan silang (hybridization). Ketegangan antara prinsip kesalingbergantungan (interdependence) dan mandiri (independence) memunculkan daya pendorong sebagai upaya mewujudkan format organisasi perkawinan silang (hybrid) untuk merealisasikan secara serentak keduanya secara objektif. Kelima, refleksivitas yaitu melanjutkan renovasi struktur internal dari universitas sebagai relasinya terhadap perubahan industri dan pemerintah.


Norma di atas ditambah  empat pilar entrepreneurial university berikut. Pertama, kepemimpinan akademik yang mampu memformulasikan dan mengimplementasikan sebuah visi strategis.Kedua, kontrol hukum (legal control) pada sumber daya akademik, mencakup properti fisik seperti gedung universitas dan intellectual property yang memancar dari riset. Ketiga, kapasitas organisasi untuk mentransfer teknologi melalui paten, lisensi, dan inkubasi. Keempat, sebuah etos entrepreneurship di antara pengelola, fakultas, dan mahasiswa.


Langkah ke Depan
Program kerja yang akan dilakukan Kadarsah belum cukup untuk menjawab visi entrepreneurial university. Penerapan hasil riset (paten, prototype, karya kreatif) sangatlah kurang dalam menjadikan ITB sebagai entrepreneurial university. Lebih lanjut dibutuhkan kepemimpinan dan etos kerja entrepreneurship di kalangan pimpinan kampus. Juga ditambah dengan lima normaentrepreneurial university yang telah penulis paparkan di muka. Dengan ini diharapkan ITB menjadi entrepreneurial university yang mampu menjawab berbagai tantangan bangsa khususnya di bidang sains, teknologi, dan seni.

Ditulis oleh Uruqul Nadhif Dzakiy