Berbagai persoalan yang menimpa dunia hari ini tidak bisa lepas dari hal-hal yang berkaitan mengenai lingkungan. Isu-isu seperti global warming, climate change, dan lainnya kerap memenuhi laman berita hari ini. Selain isu-isu yang mendunia, kita juga kerap kali membaca berbagai berita lokal mengenai banjir, kebakaran hutan, longsor, kekeringan, dan sebagainya.

Manusia modern seringkali dijadikan kambing hitam atas kerusakaan alam. Sejak dimulainya revolusi industri yang ditandai dengan ditemukannya mesin uap, pembakaran batu bara terjadi dimana-mana. Ketika batu bara dibakar, maka ia tidak hanya melepas kalor yang digunakan untuk memanaskan air menjadi uap, tetapi juga melepaskan gas karbon, sulfur oksida, nitrogen oksida, serta berbagai polutan lainnya yang menyebabkan hujan asam serta efek rumah kaca.

Ditambah lagi, dengan mudahnya proses produksi, budaya konsumtif juga menjadi meningkat. Artinya, dengan meningkatnya demand maka produksi pun ikut meningkat. Akibatnya, manusia semakin gencar dalam mengeksploitasi alam. Sebut saja penebangan hutan yang ditujukan untuk mengolah kayu menjadi hiasan atau bangunan. Perburuan hewan dengan dalih sebagai obat atau hanya karena punya nilai jual yang sangat tinggi. Juga pencemaran sungai sebagai tempat pembuangan limbah pabrik.

Dengan merebaknya antroposentris di kalangan manusia modern sebagai bentuk manifestasi dari humanisme, manusia modern telah menganggap dirinya adalah sebagai subjek, sebagai pusat alam semesta. Keberadaan alam hanya diperuntukkan bagi hidup manusia dan sumber daya alam dapat dieksploitasi untuk memenuhi keinginan manusia.

Nestapa Manusia Modern

“Dalam budaya tradisional, alam kita lihat sebagai istri, tetapi dalam modern barat, alam berubah menjadi pelacur,” begitulah Seyyed Hossein Nasr menggambarkan apa yang terjadi hari ini jika berbicara tentang alam. Dahulu, budaya tradisional mempunyai rumusan yang pas mengenai alam. Meskipun manusia memetik berbagai sumber daya alam, mereka tetap mempunyai nilai-nilai luhur tertentu dalam menjaga eksistensi alam. Sebaliknya, pada zaman modern ini manusia tidak lagi peduli soal rumus-rumus tersebut. Alam diibaratkan sebagai pelacur, hanya diambil manfaatnya, kemudian habis manis sepah dibuang.

Kemudian, dengan merebaknya paham empirisme yang positifistik, alam digambarkan secara mekanistik. Alam tidak lagi menjadi sesuatu yang sakral dan penting, tetapi berubah menjadi seperti mesin besar yang bisa ditentukan dan dapat diprediksi secara mutlak. Hal ini kemudian memunculkan masyarakat industri modern yang terindustrialisasi untuk menggerakan roda kapitalisme.

Eksploitasi alam yang terbukti secara materiil memberikan kekuatan dan sumber daya, menjadikan negara berlomba-lomba untuk mengeksploitasinya. Ada ucapan yang cukup mahsyur menggambarkan hal tersebut, “siapa yang dapat mengontrol minyak (sumber daya), maka dia dapat mengontrol sebuah negara.” Maka semangat imperialisme dan kolonialisme salah satunya bertujuan untuk mencari sumber daya alam sebanyak-banyaknya guna mempersiapkan kekuatan sebuah negara.

Tidak sedikit orang-orang yang melihat bahwa kerusakan alam yang ada hari ini berasal dari prinsip-prinsip yang dimiliki oleh manusia modern, kapitalisme, dan desakralisasi alam semesta. Oleh karena itu, banyak dari mereka yang menganjurkan untuk kembali ke rumus awal manusia, kembali menjadi masyarakat tradisional yang bersahabat dengan alam. Karena jika alam ini rusak, manusia sendiri yang akan merasakan akibatnya.

Kemajuan Manusia

Di lain pihak, revolusi industri dinilai telah meningkatkan kualitas hidup masyarakat, meningkatkan produktivitas, dan yang terpenting adalah kemajuan ilmu pengetahuan. Berbekal hal tersebut, manusia dapat mengurangi kemiskinan, meningkatkan angka harapan hidup, dan menyelesaikan masalah-masalah yang sebelumnya terlihat sulit seperti menciptakan vaksin, alat pengolah limbah, bibit unggulan, dan lainnya. Kemajuan ini juga dapat meningkatkan efisiensi, yang berarti lebih sedikit sumber daya yang harus dikorbankan untuk mendapatkan hasil yang sama.

Kendati demikian, mereka pun tidak bisa memungkiri bahwa bumi telah menghangat hingga sekitar 0.8° C. Jika terus berlanjut, suhu rata-rata bumi akan naik setidaknya 1.5°C di atas tingkat pra-industri pada akhir abad ke-21 dan mungkin hingga 4°C. Hal ini dapat meningkatkan frekuensi dan intensitas fenomena alam. Contohnya seperti badai akan lebih berat, hasil panen akan lebih rendah, kepunahan berbagai spesies akibat menghangatnya bumi, rusaknya terumbu karang, dan kenaikan rata-rata permukaan laut yang dapat menenggelamkan daerah pesisir.

Gerakan environmental sendiri tumbuh dari pengetahuan ilmiah (dari ekologi, kesehatan masyarakat, dan sains bumi serta sains atmosfer) yang merupakan hasil dari kehidupan modern. Gerakan ini membuat kesehatan planet bumi menjadi prioritas dalam agenda kemanusiaan dengan landasan ilmiah, alih-alih dengan menganggap alam sebagai sesuatu yang sakral. Gerakan yang tumbuh dari pengetahuan ilmiah untuk perlindungan lingkungan ini diberi nama seperti Ekomodernisme, Ekopragmatisme, Optimisme Bumi atau Environmentalisme Pencerahan.

Environmentalisme yang tercerahkan mengakui bahwa manusia perlu menggunakan energi untuk mengangkat diri mereka dari kemiskinan. Sebagaimana Indira Gandhi berkata, “kemiskinan adalah pencemar terbesar.” Sejarah menunjukkan bahwa environmentalisme modern, pragmatis, dan humanistik ini dapat membuahkan hasil. Saat manusia menjadi lebih kaya dan lebih mengerti teknologi, dunia ini mengalami dematerialisasi, dekarbonisasi, dan densifikasi—pengurangan penggunaan lahan. Ketika orang lebih kaya dan berpendidikan lebih baik, mereka lebih peduli pada lingkungan, mencari cara untuk melindunginya, dan lebih mampu membayar biayanya. Banyak bagian lingkungan yang kembali pulih, membuat kita berani menghadapi masalah-masalah serius yang masih ada.

Setiap masalah memiliki solusi. Itu tidak berarti bahwa mereka akan selesai dengan sendirinya, melainkan kita dapat menyelesaikannya jika kita mempertahankan kekuatan modernitas yang telah membantu kita untuk memecahkan masalah sejauh ini, termasuk kemakmuran masyarakat, pasar yang diatur dengan bijak, tata kelola internasional, dan investasi dalam sains dan teknologi. [1]

Maka, apakah kita harus kembali? Atau terus maju?

Refrensi:

[1] Pinker, Steven. Enlightenment Now. 2018