DISCLAIMER

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mendukung buta seluruh aksi dalam bentuk apapun. Saya pribadi tidak mendukung sikap KM ITB pada aksi #AntiSerampangan karena beberapa alasan. Walaupun begitu saya merasa harus mengetahui realita lapangan sehingga saya meminta izin untuk meliput ke Koordinator Lapangan aksi. Tulisan ini adalah hasil liputan tersebut berupa catatan perjalanan saya bersama massa aksi #AntiSerampangan dari KM ITB pada hari Jum’at 19 Mei 2017. Selamat membaca catatan saya yang banyak mematahkan mitos demonstrasi!

MITOS 1: BRIEFING DEMO = PROVOKASI BERBUAT RUSUH

Massa aksi KM ITB menyanyikan lagu Indonesia Raya

Setelah briefing di Kubus pagi buta dan menempuh perjalanan ke Jakarta diselingi ishoma saat subuh, saya dan massa aksi di bus 1 tiba di Stadion GBK pada pukul 09.00. Massa aksi langsung diberikan briefing lanjutan oleh Ketua Kabinet KM ITB, Menko Sospol Kabinet KM ITB, dan Komandan Lapangan aksi. Pada saat itu massa aksi diberikan panji KM ITB, spanduk, penanda massa aksi dan bendera kecil yang berisi sikap KM ITB. Massa aksi juga bernyanyi lagu Indonesia Raya bersama serta diajarkan lagu-lagu untuk dinyanyikan selama aksi sebelum mobilisasi.

Hal yang saya titikberatkan di sini adalah kedamaian briefing yang diberikan. Massa aksi diminta untuk berani menyatakan sikap di gedung MPR nanti karena gedung tersebut merupakan rumah rakyat yang hanya dititipkan ke perwakilan. Namun massa aksi sama sekali tidak diminta untuk membuat huru-hara dan justru diminta untuk menghormati masyarakat sekitar. Mengapa? Karena mahasiswa juga bagian dari masyarakat. Betul tidak?

MITOS 2: MOBILISASI DEMO MERUGIKAN DAN MEMBUAT MACET

Massa aksi KM ITB berjalan menuju gedung MPR

Pada pukul 10.00 massa aksi mulai berjalan kaki menuju gedung MPR sambil menyanyikan beberapa lagu aksi. Di lapangan, sejumlah polisi menjadi pasukan pendahulu dan barikade samping untuk menjaga ketertiban massa aksi. Di barisan paling depan, terdapat mobil polisi yang mengawal massa aksi keluar dari GBK. Cukup tertib.

Nah, sekarang coba tebak. Berapa kali massa aksi melakukan penyebrangan besar yang mematikan fungsi lalu lintas? Jawabannya bisa dihitung hanya dengan jari pada satu tangan saja. Durasi menyebrang pun juga demikian apabila dihitung dalam satuan menit. Lumpuhkah lalu lintas? Sila dipikir sendiri.

Pertanyaan berikutnya, ada berapa banyak fasilitas yang dirusak selama mobilisasi? Berdasarkan observasi saya, nol. Saya saja yang tidak mengenakan identitas massa aksi dan hanya menggunakan kemeja juga ikut ditegur saat menginjak rumput saat mobilisasi. Takut merusak fasilitas umum, kata pihak dari massa aksi yang menegur.

MITOS 3: DEMO DI DEPAN GEDUNG MPR = MENDOBRAK ATAU MEMANJAT GERBANG

Massa Aksi KM ITB tiba di gedung MPR

Setelah massa aksi sampai di gedung MPR pada pukul 10.40, sekitar 30 orang (apabila saya tidak salah hitung) polisi baik di dalam maupun di luar gerbang langsung mengawal dengan membawa sejumlah senjata, pentungan dan gas air mata. Massa aksi mulai menyatakan sikapnya dengan berorasi, bernyanyi dan lain-lain sambil diselingi istirahat seperlunya. Selama aksi tersebut, sepengamatan saya tidak ada massa aksi yang mendobrak atau memanjat gerbang selain untuk kepentingan memajang spanduk.

Lagipula perwakilan massa aksi KM ITB sudah menempuh jalur yang sah untuk menyatakan pendapat dan masuk ke gedung MPR. Untuk apa melakukan usaha masuk paksa seperti itu? Tidak worth it. Tapi belum tentu semua aksi seperti ini. Contohnya ketika saya mengobrol dengan (sepertinya) wartawan yang ada di sekitar pos medik saat membeli minum, saya diberitahu bahwa sebelum KM ITB ada massa aksi lain yang memanjat gerbang.

MITOS 4: SELESAI DEMO = SAMPAH BERSERAKAN

Pada waktu solat Jum’at, massa aksi yang berkewajiban melakukan ibadah menunaikan ibadah tersebut di masjid terdekat. Setelah itu massa aksi diberikan konsumsi berupa nasi bungkus. Air minum juga diberikan sepanjang aksi. Logistiknya cukup lengkap. Saya tidak heran apabila ada istilah pasukan nasi bungkus untuk massa demo begitu melihat di lapangan memang diberikannya nasi bungkus seperti ini.

Tapi intinya bukan di situ. Saya mendapati bahwa sejumlah massa aksi yang bertugas membagikan trashbag sangat sigap meminta massa aksi membuang sampah pada trashbag yang telah dibawa. Hal ini sesuai dengan pengamatan saya sebelumnya, massa aksi dijaga agar tidak merusak fasilitas umum.

MITOS 5: MAHASISWA YANG IKUT DEMO = MAHASISWA YANG MELALAIKAN KEWAJIBAN AKADEMIK

Aksi teatrikal dari KM ITB

Seusai istirahat siang, massa aksi kembali ke depan gerbang gedung MPR. Kali ini massa aksi KM ITB sudah bergabung dengan sejumlah massa aksi BEM UI yang baru hadir karena pada saat itu sedang dilanda ujian. Setelah menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama pada pukul 13.51, sekitar 230 orang massa (apabila perhitungan saya tidak salah) memulai aksi lagi dan polisi kembali mengawal. Beberapa aksi yang menjadi sorotan wartawan sekitar pada saat itu adalah aksi teatrikal dan penggantungan spanduk besar berisi ‘surat kuasa’ yang cukup diperdebatkan kontennya oleh massa KM ITB. Sebagai info, KM ITB telah menghapus keterlibatannya dalam ‘surat kuasa’ tersebut.

Spanduk surat kuasa yang kontroversial di KM ITB

Oke saya stop dulu ceritanya. Sekarang saya izin betanya, apakah massa BEM UI yang ikut aksi itu melalaikan kewajibannya? Yang saya temukan di lapangan itu tidak. Saya sempat mengobrol dengan kawan SMA saya dari BEM UI dan ia mengatakan bahwa massa BEM UI saat itu cukup sedikit dibanding massa KM ITB karena massa aksi BEM UI hanya yang kebetulan sedang tidak ujian. Hal ini juga dikonfirmasi dari seorang anggota Persma UI yang saya temui di lapangan. Tidak hanya UI, saya yang berasal dari ITB juga mengetahui bahwa sebetulnya massa aksi KM ITB masih bisa ditambah lagi. Namun pihak aksi menghormati sejumlah mahasiswa tingkat 1 yang memilih untuk ikut ujian perbaikan kimia pada hari yang sama.

MITOS 6: DEMO ITU SIA-SIA KARENA TIDAK AKAN DITANGGAPI

Aksi #AntiSerampangan diliput banyak wartawan

Aksi setelah solat Jum’at itu cukup ramai didatangi oleh wartawan baik itu wartawan resmi yang membawa kamera profesional seperti pihak TvOne maupun wartawan tanpa seragam yang jumlahnya sudah tidak bisa dihitung oleh jari lagi. Setidaknya begitu yang saya lihat pada pukul 14.50. Selang beberapa menit setelah itu Menko Sospol Kabinet KM ITB mengabarkan kondisi di dalam gedung MPR bahwa walaupun massa sempat dipersulit, buku kajian buatan massa aksi telah diterima oleh wakil ketua MPR dan massa aksi diberikan kesempatan audiensi pada Senin 22 Mei 2017 pukul 11.00.

Menko Sospol Kabinet KM ITB memberikan kabar terbaru dari dalam gedung MPR

Pertanyaan saya, apabila sudah mendapat publisitas seperti ini apakah demo bisa dianggap sia-sia? Sepengalaman saya salah satu tujuan demo adalah ekskalasi isu, sehingga apabila sudah terekspos media besar secara benar, tujuan tersebut bisa dianggap tercapai. Sip, satu tujuan tercapai. Sekarang apabila kita melihat kabar dari dalam gedung MPR, apakah itu berarti MPR tidak menanggapi? Jelas tidak. Usaha yang dilakukan membuahkan hasil, walaupun masih harus ditindaklanjuti lagi.

MITOS 7: MASSA DEMO AKAN BENTROK DENGAN APARAT

Perwakilan Polres Jakarta Pusat memuji kedamaian aksi

Setelah massa selesai ishoma, pada pukul 16.11 ada perwakilan Polres Jakarta Pusat yang meminta pengeras suara. Ternyata beliau mengajak massa aksi untuk bernyanyi lagu yang bernuansa nasionalisme — yang saya lupa judulnya karena tidak fokus pada saat itu. Massa aksi akhirnya ikut bernyanyi bersama sampai beliau menutup dengan pujian karena sudah tertib menyatakan pendapat. Beliau berkata bahwa massa harus berani menyatakan pendapat selama tidak melanggar hukum yang berlaku.

Seorang massa aksi dari KM ITB membagikan minum ke polisi yang sedang bertugas

Apakah ini yang dinamakan bentrok dengan aparat? Jelas tidak. Sebagai tambahan, massa aksi KM ITB juga sempat membagikan minum ke polisi yang menjaga di barikade selama aksi. Hal ini semakin memperjelas tidak ada permusuhan antara massa aksi dengan polisi terkait. Justru saya mendapati polisi yang menjaga sedikit bertegur sapa dengan massa aksi menjelang akhir aksi.

Massa aksi dan polisi berfoto bersama

Suasana ramai yang teratur itu akhirnya ditutup dengan pengumuman ketua kabinet KM ITB dan presiden BEM UI pada pukul 16.43 sampai 17.15. Kontennya tidak akan saya jelaskan di sini karena sudah dapat diakses di Official Account LINE KM ITB. Namun saya ingin menambahkan bahwa setelah itu di akhir aksi, massa tidak sungkan berfoto bersama. Apabila memang tidak ada yang saling merugikan, mengapa harus bermusuhan? Betul tidak?

PENUTUP

Sekali lagi seperti disclaimer pada awal tulisan, tolong jangan menjadikan tulisan ini sebagai pembenaran atas semua aksi. Saya tahu bahwa ada banyak pula aksi di luar sana yang tidak mengindahkan hukum yang berlaku, walaupun sebetulnya aksinya tidak perlu sampai melanggar hukum untuk mencapai kebaikan bersama. Saya menulis ini karena saya menyayangkan bahwa aksi damai seperti ini tidak terliput oleh media, hanya (mungkin) karena tidak akan laku dibaca dan oplahnya rendah.

Jadi masih mau asal melabeli aksi dengan stereotip buruk yang diciptakan media? Terserah, saya tidak bisa mengatur pikiran anda. Saya cuma bisa mendoakan semoga anda tidak memfitnah asal-asalan. Sudah mau Ramadhan loh, sayang apabila kita masih saling menyalahkan tanpa alasan yang baik.

Betul tidak?

Reynaldi Satrio Nugroho
13414034
Anggota Biasa KM ITB