Dikisahkan, Andi adalah salah satu dari ribuan mahasiswa yang berhasil masuk perguruan tinggi tahun ini. Mungkin kita harus sedikit menghayal, karena dunia di mana Andi tengah hidup, tidak sedang berada dalam masa pandemi. Andi menyelesaikan sekolahnya dengan baik, menjadi salah satu kandidat siswa terbaik malahan ketika dia SMA.

Perguruan tinggi itu dijuluki institut terbaik bangsa. Bukan tanpa alasan, konon katanya banyak orang-orang hebat di dalam negerinya berasal dari perguruan tinggi tersebut. Mulai dari presiden, menteri, juga pengusaha-pengusaha sukses yang turut membangun bangsa—katanya. Tapi bukan berarti semua lulusan lembaga tersebut “berhasil”, ada saja dari mereka berprofesi yang dipandang “rendah” oleh sebagian masyarakat. Misalnya saja tukang tambal ban. Padahal, pejabat-pejabat yang suka pakai sirine di kerumunan kota itu akan kerepotan setengah mati kalau ban mobilnya kempes dan tidak menemukan tukang tambal ban. Lagian, apa salahnya seorang lulusan sarjana menjadi tukang tambal ban? Pun, jika dia seorang doktor sekalipun, tidak ada salahnya, bukan?

Andi tidak pernah merasa begitu bangga akan kampusnya, walaupun keluarganya sangat membanggakan hal itu. Dia sendiri melihat tidak sedikit temannya yang bangga telah diterima di lembaga yang katanya terbaik bangsa itu. Menurut Andi, rasa bangga ini terlalu mematikan. Sebutan terbaik bangsa ini lebih mirip racun daripada obat. Kampus ini hanya terlihat bagus jika dibandingkan dengan universitas lain di negerinya sendiri –walaupun juga tidak sepenuhnya demikian, jika dibandingkan dengan universitas negeri lain, apanya yang mau dibanggakan? Masuk peringkat 100 besar saja tidak.

Begitulah keraguan Andi dalam menjalani kehidupannya selama di kampus. Jika mendapat pelajaran yang sulit dia hanya berpikir, “kalau aku tidak bisa mengatasi ini, bagaimana aku bisa mengalahkan mereka yang lulus dari universitas dengan ranking tertinggi?” Pun kalau dia mendapat nilai yang bagus, dia tidak pernah merasa bangga akan capaiannya. Toh, kampusnya memang kampus  yang biasa saja, bukan?

Mungkin kegiatan sehari-hari yang paling rutin Andi lakukan adalah berpikir. Berpikir mengapa bangsa ini tertinggal begitu jauh perkara pendidikan dan teknologi. Berpikir apa yang salah dari sistem yang selama ini ada. Apakah budaya bangsanya yang malas? Apakah para pengajar yang tidak kredibel? Apakah memang kurikulumnya yang terlalu rendah? Belum lagi masalah-masalah lain seperti ekonomi, kesajahteraan, keadilan, dan sejuta masalah lainnya. Andi yakin bahwa manusia lahir baik di negerinya ataupun di negara maju nan jauh di sana sama-sama tidak tahu apa-apa. Tapi, mengapa orang-orang yang hebat di sana bisa jauh lebih baik kehidupannya dibandingkan dengan bangsanya?

Hidup dalam berpikir sama saja seperti hidup dalam keraguan. Pertanyaan demi pertanyaan silih berganti menghampirinya setiap waktu. Mulai dari pertanyaan sederhana seperti “Apakah yang aku lakukan sudah benar?” hingga keraguan seperti “Apakah kebenaran itu? Apakah yang aku anggap dengan kebenaran itu ternyata bukanlah sebuah kebenaran?”

Kemudian tiba-tiba Andi juga ragu dengan indranya sendiri. Dilihatnya sendok yang patah dalam gelas melalui matanya tetapi akalnya menolak kalau sendok tersebut patah. Pernah juga sekali dalam mimpinya, Andi merasakan kehangatan di bawah teriknya sinar matahari. Dia merasa apa yang dia rasakan itu begitu nyata. Rasa tersebut memang terasa nyata, tapi kenyatannya dia tidak mengalami hal demikian. Tidak ada tanda pasti bahwa untuk membedakan  antara kondisi mimpi dan kondisi sadar menurutnya jika mengandalkan indranya.

Tetapi, kalau Andi meragukan segalanya, baik dunia materiil maupun spiritual, ada satu hal yang tidak dapat diragukan lagi. Bahwa Andi yang meragu itu tidak dapat diragukan. Maka, Andi yang meragu itu adalah sebuah kepastian. Sehingga didapatlah bahwa keraguannya itulah yang membuat dirinya menjadi ada.

“Dubito, ergo cogito, ergo sum”
“Aku meragukan, maka aku berpikir, maka aku ada”

Demikianlah akhirnya Andi menemukan dirinya. Dia berpikir maka dia ada. Sikapnya pada realitas adalah selalu meragu. Meragu apakah sesuatu itu benar atau salah. Meragu pada penghilatannya. Meragu pada pendengarannya. Meragu dari janji-janji yang menjadi andalan dari para politisi licik itu. Meragu dari media berita yang tak lepas dari keberpihakan. Meragu dari ucapan pejabat yang katanya memperjuangkan keadilan. Meragu dari apa yang orang sebut dengan kebenaran. Hingga meragu pada kebenaran yang telah dia percayai sebelumnya.

Tetapi, terlepas dari itu, apakah kalian tidak ragu Andi ini nyata?

Memangnya, Andi ada?