Akhir-akhir ini entah mengapa saya punya masalah dengan sikap kelas menengah. Tidak saya pungkiri saya juga merupakan seorang kelas menengah. Namun oleh karena itu, yang saya permasalahkan adalah sikapnya, bukan orangnya. Kebanyakan kebiasaan sikap kelas menengah saat ini dapat kita temukan tidak saja berada pada mereka yang sudah mengecap moda produksi, namun juga dapat kita temukan pada mereka yang merupakan calon generasi masyarakat yang akan terjun langsung kedalam arus putaran ekonomi. Ya, tidak lain dan tidak bukan saya berbicara tentang mahasiswa.

Sebagai seseorang yang menekuni bidang rekayasa ilmu alam di kuliah, saya berusaha keras untuk nyambi belajar filsafat dan ilmu-ilmu sosial-budaya untuk dapat memahami bagaimana sesungguhnya dunia ini bekerja dan berkontribusi kepadanya agar menjadi lebih baik. Namun, di sisi lain, tentu saja teori-teori perubahan sosial yang saya pelajari selama ini merupakan makanan sehari-hari bagi mereka yang duduk di fakultas-fakultas seperti FISIP, FIB, dsb. Sehingga seolah-olah Slavoj Zizek dan psikoanalisis Freudian merupakan bahan obrolan mereka ketika ngobrol di Starbucks.

Lantas dimana masalahnya? Tentu saja ada di kalimat di atas. Bagaiamana mungkin mereka membicarakan Zizek sambil minum-minum di Starbucks. Padahal Zizek pernah memberikan penjelasan dengan gamblang bahwa Starbucks merupakan salah satu contoh bentuk kapitalisme dengan wajah manusia abad ini. Tentu saja semua yang sebut di atas hanya contoh dan bukan berarti saya melarang kalian untuk minum di Starbucks (jika ada seseorang yang mentraktir saya Starbucks, tentu saya akan ikut). Namun intinya saya seringkali menemukan bahwa terjadi separatisme antara ilmu dan realitas. Mereka yang cerdas tentang teori-teori sosial kontemporer abad ini seringkali lulus hanya untuk mengintegrasikan dirinya dalam sistem ekonomi global tanpa ada satu pun keinginan dalam hatinya untuk merubahnya, sedikit saja. Seolah-olah telah terjadi pemisahan antara ilmu dan realitas. Ilmu adalah untuk ilmu, dan realitas hanya untuk realitas.

Sesungguhnya apa yang saya sedang bicarakan? Ya, saya sedang berbicara tentang sebuah hal yang halus, yaitu kesadaran. Karena saya tidak hanya menemukannya di di fakultas ilmu-ilmu sosial dan budaya, melainkan juga di kampus saya, yang notabene merupakan kampus yang hampir semua mahasiswanya mempelajari kalkulus di tingkat dasar. Dalam setiap tahun penerimaan mahasiswa baru, para mahasiswa baru yang masih lucu ini akan ditanamkan tentang kesadaran-kesadaran kebangsaan dan didoktrin bahwa mahasiswa memiliki peran yang penting untuk melakukan perubahan di masyarakat. Maka berbondong-bondong lah para mahasiswa ini melakukan kajian kebijakan pemerintah atau turun langsung ke masyarakat untuk melakukan pengabdian masyarakat. Tidak sedikit juga ada yang berusaha mengaplikasikan ilmu yang dipelajarinya di kuliah untuk kemudian diaplikasikan di masyarakat yang katanya ‘tertinggal’. Namun semangat-semangat membara itu harus lenyap ketika kita semua memakai toga. Dan keesokan harinya kita akan berlomba-lomba untuk mengintegrasikan diri dalam arus ekonomi konvensional.

Saya tahu reality sucks, dan hidup pasca kampus tidaklah semudah belajar sistem kebut semalam untuk ujian esok hari atau membuat proposal pengmas. Saya tahu akan sulit melakukan hal-hal yang berbau kemahasiswaan di dunia pasca kampus. Namun saya memang tidak sedang membicarakan apa yang dilakukan oleh para sarjana, melainkan apa yang ada dalam dada setiap sarjana tersebut. Yaitu jiwa mereka, kesadaran mereka.

Kita dididik seolah-olah untuk menjadi revolusioner saat mahasiswa dan manut-manut saat lulus. Apakah memang harus selalu seperti ini? Dan jika seperti itu, apakah tidak terlalu berat untuk melabeli kita-mahasiswa sebagai agent of change? Padahal proposal pengmas atau demo ke senayan seringkali gagal membuahkan perubahan yang signifikan. Jika memang demikian, kasihan sekali Indonesia, yang hanya memiliki agen perubahan yang seringkali gagal dari pada berhasil.

Hal ini seringkali mengganggu bangun saya (karena tidur saya tetaplah pulas) dan membuat saya terpaksa melakukan kilas balik tentang asal muasal glorifikasi dari peran mahasiswa dalam masyarakat. Sejarah memang membuktikan, bahwa perubahan-perubahan sosial dilakukan oleh para mahasiswa. Namun ternyata hal ini tidak terjadi ketika mereka mahasiswa saja seperti sekarang ini, namun mereka benar-benar meneruskan proyek-proyek perubahan sosialnya bahkan ketika mereka harus minggat (tak jarang DO) dari kampusnya. Kita dapat melihat hal ini dalam rentang sejarah 1900an awal sampai 1960an. Oleh karena itu, subjek yang lebih dikenal pada masa itu bukanlah mahasiswa, melainkan pemuda. Sehingga seringkali masa-masa terjadinya Revolusi Indonesia tersebut dikenal juga sebagai Revolusi Pemuda.

Dalam masa itu, pemuda seringkali mengambil inisiatif-inisiatif yang diperlukan untuk terus melakukan perubahan sosial. Dari mulai membentuk badan-badan perjuangan hingga memobilisasi massa. Semua kegiatan terintegrasi untuk melakukan perubahan sosial, dan hal ini tidak saja ada dalam badan-badan kemahasiswaan.

Namun, hal ini ternyata berakhir saat tragedi G30S meletus di tahun 1965. Pasca tragedi itu, semua euforia politik yang berbau revolusi nasional kandas dan kehidupan tidak semeriah dulu lagi. Ketika dahulu semua tenaga diarahkan untuk melakukan perbaikan keadaan, maka pada orde yang baru kehidupan telah tersegmentasi sebagaimana Aristoteles menata lemari kehidupannya. Semua hal di tata sesuai fungsinya untuk pembangunan. Yang bertani, ya bertani. Yang kuliah ya kuliah. Yang kerja ya kerja. Semuanya atas nama pembangunan.

Hal ini bukanlah terjadi tanpa sebab akibat. Hal ini ternyata memang dirancang oleh pemerintahan Soeharto agar masyarakat yang dahulunya termobilisasi kembali melakukan pekerjaannya sebagaimana mestinya. Dan salah satu program demobilisasi rakyat ini terangkum dalam buah pikiran penasehatnya, Ali Murtopo, yang berjudul 25 Tahun Akselerasi Modernisasi Pembangunan. Dalam buku itu, tertulis :

“Dengan demikian rakyat di desa-desa tidak perlu menghabiskan waktu dan tenaganya yang berharga untuk melibatkan dirinya dalam kancah perjuangan politik partai dan golongan, tetapi menyibukan dirinya dalam usaha-usaha pembangunan, sehingga didapatlah apa yang disebut sebagai ‘floating mass’ yang tidak terikat secara permanen dalam keanggotaan suatu partai politik”

Dari uraian tersebut, dapat kita lihat sendiri, ternyata pada Soeharto beserta rekan-rekannya memang sengaja membuat masyarakat menjadi massa mengambang atau floating mass yang tidak memiliki sama sekali kesadaran untuk melakukan revolusi sosial dan hanya melakukan apa yang menjadi pekerjaannya dalam sistem besara pembangunan ekonomi. Mungkin saja pengerucutan makna agent of change dari subjek yang lebih luas seperti pemuda menjadi mahasiswa dimulai di masa ini. Dimana walaupun mereka mempelajari teori-teori perubahan sosial ataupun seringkali melakukan langsung pengabdian masyarakat, tetapi ketika mereka lulus, mereka tetaplah menjadi massa mengambang yang tidak memiliki kesadaran sosial-politik.

Tentu saja kita bisa berkilah bahwa rezim soeharto telah runtuh. Namun seringkali banyak akademisi yang berpendapat bahwa tidak banyak aspek yang berubah di masa reformasi ini. Dan seringkali tidaklah mudah untuk menghapus kebiasaan dan budaya yang telah dibentuk selama 32 tahun. Apakah kita masih merupakan produk dari orde baru ataukah telah menjadi seorang insan akademis yang bebas? Who knows.

Okie Fauzi Rachman