Bandung – Annex adalah momok bagi mahasiswa ITB, karena Annex merupakan salah satu jalan keluar dari ITB, selain Sabuga. Namun nampaknya itu tak berlaku bagi 10 mahasiswa pemberani ini. Rombongan yang terdiri dari perwakilan MWA-WM, Kabinet KM ITB, dan sobat unit Persma, Boulevard, serta Majalah Ganesha bertaruh nyawa mengunjungi gedung angker tersebut pada Senin (10/12/18). Mereka bermaksud menagih kabar perihal isu Seleksi Mandiri (SM) yang sedang panas belakangan ini. Namun sayang seribu sayang, masuk saja tak diizinkan. Kok bisa? Begini kisahnya.

Semua ini bermula dari desas-desus yang didapatkan oleh X (nama disamarkan) terkait akan diadakannya press conference dari ITB secara resmi kepada media nasional perihal isu SM. Selidik punya selidik ke beberapa pihak oleh PJS MWA-WM dan Kabinet KM ITB, ternyata agenda tersebut benar adanya. Tanpa pikir panjang, beberapa unit media mahasiswa ITB berinisiatif mengikuti press conference tersebut pada siang tadi, karena mereka juga merupakan wartawan dari pihak mahasiswa.

Setibanya di Tempat Kejadian Perkara (TKP), salah seorang stakeholder bernama Ferguso --yang menurut warga sekitar adalah ibu-ibu Humas-- menyalami mahasiswa iseng ini. Ungkap beliau, press conference hari ini  khusus untuk media eksternal dulu, mahasiswa gilirannya nanti. “Memangnya kenapa Bu?”, tanya seorang mahasiswa. “Mahasiswa nanti setelah pleno MWA tanggal 14, karena biasanya nanti lama kalau dengan mahasiswa. Hari ini ada Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan (WRAM) juga.” Para mahasiswa iseng ini sontak terpukau dengan jawaban cemerlang dari Ferguso.

Setelah sempat pelan-pelan bersilat lidah, perwakilan mahasiswa melalui Kabinet KM ITB meminta satu saja perwakilan mahasiswa yang masuk ke ruangan. Namun usaha ini dimentahkan oleh Danielo (bukan nama asli tapi tentu saja warga Annex), “Saya hanya menyampaikan perintah atasan, mahasiswa tidak boleh ada yang di dalam, bahkan MWA-WM sekalipun.”

Menurut Andriana Kumalasari (SI’14) selaku PJS MWA-WM, ada kejanggalan dalam proses pengambilan keputusan dan penyebarluasan informasi terkait kebijakan SM ini. “Pembahasan di rapat pleno MWA baru diadakan tanggal 14 Desember 2018 tapi hari ini ITB sudah memanggil media nasional,” tutur Andriana. Selain itu, perwakilan dari Persma, Haura Zidna Fikri (PL’16) juga menyampaikan pendapatnya, “Bagaimana ceritanya, media nasional diundang untuk menyampaikan kebijakan ini, tapi media kampus dibuat tak berkutik kekurangan informasi. Jadi mahasiswa tidak boleh tahu perihal kebijakan di dalam kampusnya sendiri?”, ungkap Haura dengan nada tegas.