Akhir-akhir ini, wacana tentang mahasiswa dan kemahasiswaannya sedang hangat-hangatnya kembali terdengar, setidaknya di kuping saya. Mungkin sebagai seorang mahasiswa tingkat akhir, saya seringkali mendengarkan nasihat dari beberapa kawan bahwa sudah bukan waktunya lagi untuk mengurusi tetek-bengek kemahasiswaan. Dan memang hal itu seringkali diamini oleh beberapa kawan teman ‘main’ saya di kemahasiswaan dulu. Jika dahulu kami seringkali berbicara mengenai kondisi mahasiswa yang absurd, politik kampus yang hampir dihegemoni, hingga birokrasi kampus yang semakin mencekik kegiatan mahasiswa, kini bahan-bahan obrolan kami telah bergeser topiknya menjadi kemungkinan melanjutkan s2, tempat yang cocok untuk meniti jalan hidup, hingga pada urusan jodoh.

Namun sebagai seorang mahasiswa tingkat akhir, izinkan saya untuk sekali lagi mengomentari keadaan kemahasiswaan kita. Pasalnya hal ini tidak bisa tidak menjadi pikiran saya akhir-akhir ini semenjak saya diminta oleh kawan saya Haris untuk menjadi moderator uji dengar para calon presiden (bagaimanapun kalian menyebutnya, karena seperti kata Tizar, sebutan K3M sangatlah alay) KM-ITB di sunken court hari minggu lalu. Bukanlah hal yang mengagetkan jika kedua calon terlihat mengecewakan, karena di mata penghuni sunken court calon pesiden macam apa pun pasti mengecewakan. Namun hal yang membuat saya bergidik adalah komentar salah satu teman saya yang dikenal sebagai legenda hidup mbah pers ganeca, atau lebih sering dikenal dengan nama pena H.A.S. Menurut pendapatnya, kualitas calon presiden kita dari tahun ke tahun semakin memperlihatkan penurunan. Hal ini dapat dilihat dari konten yang dibawa, data yang dipakai, hingga usaha yang dilakukan kedua timses [1]. Karena dia sudah berada lebih lama di kampus ini, mau tidak mau saya percaya saja dengan analisisnya.


Pasca hearing sunken court, ternyata kegelisahan kawan-kawan saya tentang kondisi pemilu raya tidaklah pudar. Banyak kawan-kawan yang mengajak saya berdiskusi tentang kekecewaan serta kegelisahan mereka dengan pemilu raya pada khususnya dan kemahasiswaan pada umumnya. Bahkan tidak sedikit yang menuliskan kegelisahannya dalam bentuk opini di media maya [2]. Yang menarik, ternyata yang merasakan hal serupa bukan saja teman-teman saya di sunken court. Beberapa kawan yang saya kenal sedang menjabat di himpunannya masing-masing pun ‘mewujudkan’ kegelisahannya tentang pemilu raya ini dalam bentuk tulisan maupun gambar [3].

Semua kegelisahan serta kebingungan kawan-kawan saya ini seolah-olah menemukan puncaknya ketika senin kemarin salah seorang kawan saya yang baru saja dilantik menjadi anggota himpunan membawa temannya untuk berbincang-bincang mengenai kemahasiswaan. Salah satu hal yang mereka keluhkan adalah minimnya minat serta antusiasme massa himpunannya untuk berhimpun (atau berkemahasiswaan). Hingga akhirnya dia menannyakan satu hal yang menjadi muara dari semua kekacauan ini : “apa yang sebenarnya terjadi dengan kemahasiswaan kita ?”.

Kebingungan

Dari mulai kecewanya kawan-kawan sunken court dengan calon presiden KM-ITB, gelisahnya pejabat-pejabat himpunan karena pemilu yang minus pertarungan gagasan dan antusiasme massa kampus, sampai bingungnya mereka yang baru masuk himpunan melihat himpunannya tidak terlalu diminati untuk berkegiatan oleh anggotanya. Sesungguhnya apa yang tengah terjadi dengan kemahasiswaan kita?

Bagi saya sendiri, tentu saja mudah untuk menjawab pertanyaan tersebut, seperti komentar status salah status kawan saya, Bohok [4], bahwa teori yang mencoba menjawab apa yang sesungguhnya terjadi dengan kemahasiswaan kita sudah banyak dituliskan dan dibicarakan sampai-sampai membuat kita jenuh. Bagi saya sendiri, muara dari semua teori bullshit tersebut adalah sesimple kebingungan. Saat ini hampir semua mahasiswa di Indonesia (tentu saja ini generalisasi dari obrolan saya dengan kawan-kawan di beberapa kampus) tengah mengalami kebingungan masal. Mengapa saya bilang bingung? Pasalnya mereka seperti orang yang tidak mengerti kemana mereka hendak melangkah. Wadah-wadah berkegiatan di kampus seperti BEM dan Himpunan mulai sepi dari peminatnya. Efeknya adalah doktrin bahwa mahasiswa itu seharusnya punya satu arah dan tujuan melalui wadah-wadah tersebut pun mulai buyar.

Kalau boleh diistilahkan, para mahasiswa kita sekarang ini sedang kembali mencari jati dirinya. Boleh dibilang bahwa dahulu dia berkaca kepada masa lalu dimana mahasiswanya seringkali aktif berkegiatan melalui wadah seperti BEM dan Himpunan. Hingga akhirnya wadah-wadah seperti BEM dan Himpunan dengan segala ilusi “satu arah gerakan” menjadi semacam imaji akan identitas kemahasiswaan yang tunggal. Tentu kita boleh sebut bahwa momen yang paling menjadi cermin adalah kemahasiswaan 98, dimana semua mahasiswa melalui wadah-wadah kampusnya bersatu-padu untuk sebuah satu tujuan : penggulingan Soeharto. Namun sialnya, ketika wadah itu kini dicoba, mereka yang berasal dari generasi yang berbeda seolah-olah berkata “kok ini gak gue banget ya”. Dan masa ini lah yang kita sebut masa sekarang, dimana kita semua tengah bertanya-tanya “terus apa dong yang gue banget ?” [5].

Bagi saya, pertanyaan “terus apa dong yang gue banget ?” dapat diterjemahkan menjadi bentuk kemahasiswaan apa sih yang sesuai dengan tantangan zaman ini? Ya, bentuk kemahasiswaan yang sesuai dengan jiwa zaman (zeitgeist [6]) merupakan salah satu pertanyaan eksistesial yang paling hits yang saat ini harus kita jawab. Jika jiwa zaman terdiri dari tantangan zaman (faktor eksternal) dan jiwa dari aktor-aktornya (dalam hal ini generasi kita, mahasiswa, faktor internal), maka fungsi suatu wadah di kampus adalah memediasi bertemunya kedua faktor ini. Jika wadah ini tidak dapat memungsikan dirinya dengan baik, akan terjadi gap. Tidak sesuainya wadah dengan jiwa dari aktor-aktornya, hanya menghasilkan keengganan berkontribusi dari sang aktor. Seperti yang terjadi pada himpunan tempat kawan saya berkegiatan. Sedangkan tidak sesuainya wadah dengan tantangan zaman hanya akan menghasilkan pemuda-pemuda yang asik sendiri seperti yang baru-baru ini dikeluhkan salah seorang dosen UGM di dunia maya saat mewawancari calon penerima beasiswa LPDP : tidak mengerti masalah macam apa sesugguhnya yang hendak mereka selesaikan [7].

Kemudian ketika saya ditanya oleh kawan saya yang baru masuk himpunan tersebut, lantas bentuk wadah seperti apakah yang cocok? Saya tidak dapat memberikan jawabannya. Hal ini dikarenakan saya bukanlah nabi yang diberikan wahyu oleh jibril untuk memberikan arah bagaimana seharusnya mahasiswa melangkah. Minke dalam tetralogi Burunya Pram Saja membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menemukan bentuk organisasi modern yang cocok untuk pribumi, itu pun belum da temukan hingga dia meninggal. Maka jika kita mengharapkan dapat membuat semua kekacauan ini menjadi baik dalam waktu satu-dua tahun, mungkin sangkuriang akan bangun dari kuburnya dan mengejek kita dengan sebutan gila dan tidak sabaran.

Tetapi setidaknya, hal ini mengingatkan saya pada anjuran seorang senior saya di KMPA dulu yang tertuang dalam bentuk puisi berjudul Pemuda Hari Ini mengenai kemana sebaiknya kita mencari jawabannya :

Kadangkala kita perlu pergi
Ke tempat yang sama sekali tak kita kenal
Berbaur dengan masyarakatnya
Saling bercerita tentang makna kehidupan
Mengikuti anjuran Rendra
Mencoba merumuskan keadaan
Mencatat sendiri semua gejala
Dan menghayati persoalan yang nyata

Tentu saja senior saya yang bernama Dani Andipa Keliat tersebut mencatut Puisi Rendra yang berjudul Sajak Sebatang Lisong yang salah satu baitnya berbunyi :

Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar ke jalan raya,
keluar ke desa-desa,
mencatat sendiri semua gejala,
dan menghayati persoalan yang nyata.

Setidaknya, sudah semenjak 1977 lalu Rendra mengatakanya dengan jelas di ITB, bahwa jika kita ingin mengerti mengenai tantangan zaman yang sesungguhnya, kita tidak dapat menemukannya hanya dengan melihat berita di layar-layar ponsel kita lalu mengkajinya di forum-forum kampus. Kita mesti keluar dari zona nyaman kita, mencatat dan menafsir sendiri semua gejala. Hingga akhirnya kita dapat mengerti apa sesungguhnya yang disebut dengan persoalan yang nyata, yang konkret.

Tentu saja kita tidak harus sepenuhnya setuju dengan Rendra bahwa merumuskan keadaan hanya dapat dilakukan di jalan raya dan desa-desa. Namun intinya adalah kita harus keluar dari mencari tahu sendiri permaslaahan apakah yang sesungguhnya terjadi. Perpaduan antara masalah yang ada dengan kemampuan diri kita akan menghasilkan sebuah pernyataan seperti “sepertinya kita butuh wadah yang sepeti ‘ini’” atau “Kita butuh organisasi yang mampu melakukan hal ‘ini’”, dsb. Dan ketika kita sudah sampai pada pernyataan seperti tersebut, mungkin kita sudah semakin mendekat kepada bentuk wadah yang seseungguhnya kita butuhkan.

Jika kita merasa wadah-wadah di kampus sudah tidak sesuai lagi dengan apa yang kita butuhkan, bahkan makna mahasiswa sendiri dengan segala tetek bengek popopenya sudah terlalu usang untuk dikenakan, maka ada baiknya kita mungkin mencari penggantinya di luar wilayah tersebut. Keluar menembus zona nyaman kita selama ini. Bahkan melanggar batasan-batasan tentang apa-apa saja yang seharusnya dilakukan oleh seorang mahasiswa. Karena definisi dan makna mahasiswa yang kita pahami sendiri sudah usang. Kita tidak mungkin mengganti sesuau yang baru dengan hal yang kita dapat dari tempat yang sama dengan yang lama. Karena zaman tidak pernah dibentuk di kampus saja.

Catatan :

[1]. Menurut pendapat beliau, visi yang dimiliki oleh para calon semakin abstrak dan tidak dapat diterjemahkan ke dalam ranah kongkrit penyelesaian permasalahan KM-ITB. Dari segi data yang digunakan, menurutnya data yang digunakan oleh kedua calon tidaklah signifikan. Sebagai contoh, data untuk mengetahui jumlah unit beserta kegiatan yang sedang dilakukan dan kebutuhannya saja mereka tidak punya. Sedangkan dari segi usaha, kedua calon beliau nilai tidak memiliki usaha mengenal lebih jauh kepada masyarakat sunken court. Hal ini terlihat dari tidak adanya kunjungan-kunjungan yang dilakukan diluar jadwal uji dengar untuk sekedar misal nongkrong bareng.

[2]. https://www.facebook.com/notes/annisaa-nurfitriyana/sedikit-mengingat-kzl-di-hearing-sunken/1083691551671261
https://www.facebook.com/notes/kukuh-samudra/mahasiswa-perjuangan-ideologi-aksi-dan-hal-hal-lucu-di-dunia-ini-sebagaimana-yan/10150565288089960
https://www.facebook.com/notes/kartini-f-astuti/pemira-itb-panggung-meriah-ganesha-idol/10154477643010752
https://www.facebook.com/notes/abdul-haris-wirabrata/sunken-court-kanal-toilet/1025352150820125

[3]. https://www.facebook.com/notes/luthfi-muhamad-iqbal/pemira-km-itb-2015-sebuah-autokritik/10153729773862389
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1093289997349386&set=a.747365458608510.1073741827.100000051892827&type=3&theater

[4]. https://www.facebook.com/alvaryan.maulana/posts/10208483500233436?comment_id=10208489885913074&notif_t=feed_comment_reply

[5]. Analogi ini saya catut dari Lacan, Jacques. “The Mirror Stage As Formative Of The Function of The / As Revealed In Psychoanalitic Experience”, dalam Ecrits, W. W. Norton & Company : 2007.

[6]. Saya tidak menggunakan term ini dalam diskursus Hegelian. Karena baru ada satu saja Hegelian muda di ITB, dan dia belum sempat membagi-bagikan ilmunya.

[7]. https://www.facebook.com/notes/lukito-edi-nugroho/anda-memang-pintar-tapi-/10153784883703934

Ditulis oleh Okie Fauzi Rachman