Review Film Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (2017)

Mildred dan, kelihatannya, baju monyetnya

Kau pernah dengar cerita Nabi Muhammad yang merawat seorang nenek tua Yahudi yang sakit? Kalau belum, begini ceritanya yang kudengar dari tetangga pembantu temanku yang mengenal baik tukang cukur langganan Eddy Tansil:

Seperti Jokowi dan Prabowo, seorang yang dipuji bak malaikat akan dihina juga bak iblis. Ini juga yang sempat terjadi pada Muhammad. Seorang nenek begitu membenci Beliau hingga tega melemparinya dengan sampah dan kotoran tiap ia pergi ke mesjid. Tapi Beliau begitu sabar dan ikhlas menerimanya sampai suatu hari ia tak lagi dilempari saat melewati rumah nenek tersebut. Bertanya pada tetangga si nenek, rupanya nenek tersebut mendapat penyakit keras. Tebak respon apa yang diberikan Muhammad saat itu? Beliau menjenguk dan merawat si nenek hingga sembuh dan akhirnya menjadi seorang muslim.

Sekarang bayangkan cerita macam ini tidak berakhir dengan “bahagia” dan diganti dengan kegetiran. Misalnya Muhammad pada akhirnya mengetahui kalau si nenek adalah orang yang merawatnya saat masih bayi. Atau Muhammad bersikap sedikit lebih “manusiawi” dengan tidak hanya menerima hinaan yang dilontarkan si nenek tapi, mungkin, bertanya atau marah atas tindakan si nenek lalu menemukan alasan mengapa Beliau begitu dibenci si nenek. Kira-kira cerita seperti ini yang menjadi kepingan-kepingan penyusun film Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (berikutnya disingkat menjadi Three Billboards) besutan Martin McDonagh.

Three Billboards bercerita tentang Mildred Hayes, diperankan Frances McDormand, seorang ibu yang anaknya diperkosa lalu dibunuh oleh entah siapa. Tujuh bulan berlalu sejak kengerian itu, polisi setempat masih saja belum mendapat siapa identitas pelaku. Satu-satunya petunjuk yang paling mungkin dapat menuntun ke siapa pelaku pemerkosa hanyalah DNA yang tertinggal di mayat Angela Hayes (Kathryn Newton). Proses pengusutan kasus pun mengalami deadlock karena terbatasanya petunjuk. Mildred yang berang atas kinerja polisi yang dinilainya payah lantas menyewa tiga papan reklame di sebuah jalan yang jarang dilewati. “Raped while dying”, “And still no arrest?”, “How come, Chief Willoughby?” ditulis di tiga papan iklat tersebut dengan warna hitam dan latar belakang merah. Terdengar simpel tapi cukup untuk meneror sebuah kota kecil di Missouri dengan tragedi yang melibatkan manusia-manusia di dalamnya.

Jika dengan membaca ulasan singkat film ini di Rotten Tomatoes atau situs semacamnya kau mengharapkan bagaimana misteri pembunuhan Angela Hayes, anak Mildred yang dibunuh, disingkap dengan cara-cara detektif macam film Se7en (1995) atau Sherlock Holmes baiknya kau gunakan saja waktumu dengan kegiatan yang lebih berfaedah seperti mengantar ibumu ke tukang sayur atau pergi ke dokter gigi. Usaha mencari pelaku pembunuhan yang paling mencuri perhatian dilakukan oleh Officer Dixon (Sam Rockwell) dengan mencakar pipi seorang mantan marinir demi mendapat DNA-nya yang juga berujung nihil.

Ada satu adegan menarik saat James (Peter Dinklage) menyelamatkan Mildred dari tuduhan pembakaran kantor polisi, yang tentu saja pelakunya Mildred, dengan memberi kesaksian palsu untuk alibi Mildred. Momen ini mengingatkan saya kepada bagaimana saya dan kawan-kawan SMA saling melindungi mulai dari ketahuan mencontek ujian atau tertangkap merokok di kantin sekolah.

Selanjutnya, James yang dengan terang mengajak Mildred kencan diterimanya atas dasar melunasi utang budi dan paksaan. Mildred bahkan tidak berpakaian seperti perempuan yang hendak pergi kencan. Memang tak ada ketentuan bagaimana seharusnya seseorang berpakaian untuk pergi kencan tapi mengenakan, semacam, baju monyet rasanya berlebihan. Ditambah sikap Mildred yang bagi James terlihat malu dan tak pernah ingin ada di sana membuat James berang dan meninggalkan restoran sendirian. Scene ini memotret bagaimana si tokoh utama bukanlah malaikat yang serba baik dan bisa saja bersikap kurang ajar seperti manusia biasanya.

Three Billboards menampilkan bagaimana hubungan antar tokoh di dalamnya diacak-acak dan diputarbalikkan 180 derajat dengan cara yang paling wajar dan manusiawi. Kadang kau mengharapkan ada aksi balas dendam dari tokoh yang tertindas terhadap si penindas. Tapi di film ini tak akan kau temukan satu pun. Coba tengok bagaimana Dixon berhadapan dengan Red Welby, pegawai kantor penyewaan papan reklame yang sebelumnya ia pukuli dan dilempar dari lantai dua kantornya. Dixon yang diperban sebadan-badan setelah nyaris terbakar hidup-hidup di bekas kantornya bisa saja dihabisi balik oleh Red. Tapi toh si pegawai tak melakukannya. Sekalipun setelah ia tahu bahwa mumi di depannya adalah orang yang hampir membunuhnya, sikap ramahnya langsung hilang tapi justru ia lantas mengambilkan segelas jus jeruk untuk Dixon.

Dixon menjadi tokoh yang paling “dibolak-balikkan hatinya”, menggunakan istilah salah satu ayat dalam Al-Quran. Ia diceritakan melalui Mildred sebagai seorang polisi yang rasis karena menghajar seorang kulit hitam dalam sebuah interogasi. Ia juga menjadi seorang yang sangat emosional dan impulsif dengan menghajar habis Red karena murka setelah mendengar kabar bunuh diri Chief Willoughby. Menakjubkan bagaimana manusia bisa bertindak sadis atas dasar rasa kasih terhadap seseorang. Dan kita belum membahas usaha Dixon menyelesaikan kasus pembunuhan anak Mildred, yang sebelumnya pasti ia anggap sebagai biang kerok tindakan bunuh diri Willoughby. Bahkan di akhir film, keduanya sepakat untuk berada dalam satu kemarahan yang sama yaitu terhadap pelaku pemerkosaan, tanpa merasa perlu menjadi kawan.

Tapi adegan paling getir bagi saya adalah dimana Chief Willoughby memutuskan untuk bunuh diri dengan menembak kepalanya sendiri di istal miliknya. Willoughby memilih jalan ini setelah menghabiskan seharian bersama istri dan kedua anaknya di tepi danau, yang ia gambarkan sebagai hari paling indah di hidupnya dalam surat perpisahan pada sang istri. Kanker yang tinggal di tubuh dan tekanan dari seorang ibu yang anaknya dibunuh rasanya memang tak sesepele menentukan caption yang cocok untuk post Instagram-mu.

Jika kegetiran adalah rasa yang bisa dicicipi lidah ia adalah pahit. Bukan pahit pada obat tablet tapi seperti kopi americano yang diminum berjam-jam setelah jadi dibuat. Ada asam pekat menyertainya yang memaksa wajahmu mengalami konvergensi ke arah mulut. Getir tak bisa muncul dari perilaku serba mulia seperti pada cerita-cerita nabi, Ia membutuhkan dua hal bertolak belakang, baik dan buruk, hitam dan putih, yang bertemu dalam waktu yang tak jauh beda. Tapi itulah yang membuatnya menarik sebagai cerita karena ia begitu akrab dengan kita manusia yang begitu mulia sekaligus biadab. Dan ini bukan masalah sama sekali.

Ngomong-ngomong soal biadab, kau pernah melihat video kuli bangunan yang dipelorotkan celananya saat mengangkat karung pasir yang beratnya tak jauh beda dengan beratnya kuliah?