Pendahuluan

“Itu bukan kejadian. Itu amarah.” — Anton Kurniawan (TM’13).

Baru aja selasa kemarin di sekre MG bahas tentang teori konflik. Eh kamis sore, 4 Februari 2016, langsung ada bahan studi kasus live di kampus. Mahasiswa teknik sipil yang megang bendera di plaza widya baru aja dilantik, tapi mendadak ada empat manusia berjamal melantunkan puisi W.S. Rendra yang berjudul Sajak Sebatang Lisong. Setelah itu, bapak presiden unit tetangga menambahkan kalimat, “Kepadamu Dhika Zein, PSIK bertanya.” Tujuannya apa? Entahlah, sila bertanya langsung kepada yang mengutarakan pernyataan tersebut. Tapi intuisi saya berkata, “Wah ada hawa-hawa konflik, baik itu bersifat destruktif maupun konstruktif, disini.” Tentu saja itu masih sebuah intuisi, kita lihat realitanya nanti. Sayang banget loh kalau kejadian di dalam kampus, apalagi yang di luar, hanya ditanggapi dengan persepsi parsial saja. Belum lagi kalau hanya tau dari media sosial aja, terus terbawa arus tren baru aktivisme 2.0 padahal nggak punya dasar yang jelas. Nah darisitu saya kepikiran, gimana kalau hasil kajian teori konflik kemarin saya publish, supaya pembaca bisa nambah-nambah referensi berpikir. Maka dari itu, kurang lebih sisa tulisan ini akan membahas hasil kajian teori konflik yang dibawakan oleh Hamzah Imanul Haq (GL’14). Semoga (beneran) bermanfaat.

Presentasi kajian dapat diunduh di:

https://drive.google.com/file/d/0B-scj0mGL9jxZy1hVWlGc1hWQ216bklzRXRNeU1XbmFybzZR/view?usp=sharing

Definisi Konflik

Apa itu konflik? Konflik berasal dari kata configere yang artinya saling memukul. Saling memukul di sini tentu saja disesuaikan dengan konteks kejadiannya yak, tidak serta-merta harus melulu kontak fisik. Konflik ada dimana-mana kok. Hamzah mencoba memberitahu itu lewat video konflik yang ditayangkannya. Perang Dunia? Konflik. Perang suku? Konflik. Tawuran antar masyarakat? Konflik. Pacaran aja banyak konfliknya, berantem terus minta diturunin di jalan aja bisa ada videonya. Kesimpulannya: Cakupan konflik itu luas.

Sebelum masuk ke teori konflik, ada baiknya kita mengingat bahwa setiap teori yang dirumuskan pasti punya asumsi dan batasannya masing-masing, bergantung kepada realita yang dihadapi pembuatnya sebagaimana juga tiga teori konflik yang akan dipaparkan setelah paragraf ini. Harapannya, teori yang dipaparkan nanti bener-bener bisa jadi insight. Ohiya Punten ya masmbak, khusus untuk pembahasan teori konflik, saya akan menggunakan bahasa yang agak serius.

Beberapa Teori Konflik

Teori Konflik Kelas — Karl Marx (1818–1883)

“Pertentangan kelas proletar dan borjuis tidak ada sangkut pautnya dengan sikap hati atau moralitas masing-masing pihak, melainkan kepentingan objektif berlawanan satu sama lain.”

Merupakan antitesis dari teori struktural-fungsional yang mengklaim bahwa segalanya akan membentuk sebuah keteraturan, teori ini didasari asumsi bahwa suatu nilai tidak dibentuk dari penyesuaian melainkan dibentuk dari konflik. Karl Marx membuat teori ini berdasarkan realita di inggris dimana kelas proletar ditindas oleh kelas borjuis pada masanya. Bahasa gampangnya, masyarakat kelas dua seperti buruh, petani atau nelayan ditindas oleh masyarakat yang berkuasa lebih karena memiliki modal. Menurutnya, setiap kelas punya kepentingannya masing-masing sehingga terjadi konflik antara dua kelas itu. Kepentingan kelas proletar cenderung hanya untuk hidup, sedangkan kepentingan kelas borjuis cenderung membuat mereka mengeksploitasi kaum proletar. Beliau berpendapat, cara menghilangkan konflik ini adalah revolusi oleh kelas proletar yang sadar. Sayangnya Marx belum sempat membahas apa yang harus dilakukan setelah revolusi saat pahamnya disebarluaskan dan digunakan oleh tokoh lain seperti Lenin.

Teori Konflik Fungsional — Georg Simmel (1858–1918)

Salah satu kutipan kuno dari bahasa latin yang bisa menggambarkan teori ini secara kasar adalah “Si vis pacem, para bellum.” Artinya adalah jika kamu menginginkan perdamaian, bersiaplah untuk perang.

Menurut sosiolog berkebangsaan Jerman ini, konflik akan menyebabkan fungsi-fungsi dalam masyarakat akan berkembang. Konflik akan selalu ada di dunia ini karena pada dasarnya merupakan sebab berkembangnya fungsi tersebut. Pada akhirnya setiap kelompok atau negara akan mengalami konflik untuk mendapatkan kemajuan. Perspektif konflik ini dikembangkan lebih lanjut oleh Lewis A. Coser.

Teori Konflik Animal Power — Ibnu Khaldun (1332–1406)

“Manusia pada dasarnya mempunyai sifat agresif di dalam dirinya. Potensi ini muncul karena adanya pengaruh animal power dalam dirinya. Karena potensi inilah manusia juga dikenal sebagai rational animal.”

Ibnu Khaldun dalam bukunya yang berjudul Muqaddimah menyatakan bahwa setiap insan punya insting hewani. Hal ini ia simpulkan setelah mengamati masyarakat nomaden (hidupnya berpindah-pindah) di Afrika Utara yang masih berkebutuhan dasar saja, tidak seperti masyarakat di pemukiman yang lebih maju. Ternyata dari hasil pengamatan beliau, di saat kebutuhan masyarakat nomaden tersebut tidak dipenuhi akan terjadi konflik. Masyarakat yang hidup di perkotaan yang memiliki kebutuhan lebih luas juga mengalami konflik karena pada dasarnya tetap punya kebutuhan yang mirip dengan masyarakat nomaden. Masyarakat apapun lama kelamaan akan membentuk suatu kelompok dengan solidaritas sosial yang kuat sehingga mempunya kepentingan masing-masing yang berbeda sehingga akan menyebabkan konflik.

Tabel Perbandingan Teori Konflik

Teori konflik fungsional (Simmel & Coser)Ibnu KhaldunTeori konflik kelas (Marx & Dahrendorf)Hipotesis Pembawa Materi KajianKonflik selamanya ada dalam masyarakat karena dalam diri manusia terdapat naluri berkelahiKonflik akan selalu ada sebab adanya animal power mendorong agresifKonflik tidak selamanya terjadi karena perjuangan kelas akan berakhir ketika revolusi proletar berhasilKonflik hanya akan terjadi ketika terdapat perbedaan kepentingan dipertemukanKonflik bersifat asosiatif dan disasosiatifKonflik bersifat positif negativeKonflik bersifat disasosiatifKonflik bersifat konstruktifStruktur sosial bersifat asosiatif dan disasosiatifStruktur sosial bersifat integrative dan disintegrative, pelaku utama konflik ashobiyahStruktur sosial bersifat disintegrative, pelaku utama konflik adalah kelas sosial, proletar-borjuis melahirkan perlawananPelaku utama adalah masyarakat diingerasi

Penyebab, Akibat dan Akomodasi Konflik

Merangkum teori-teori yang telah disebutkan sebelumnya, konflik disebabkan oleh kebutuhan dan perbedaan baik itu idealisme, kebudayaan, kepentingan, maupun latar belakang. Konflik di berbagai bidang baik itu ras, agama dan antar kelas sosial yang terjadi karena perbedaan tadi akan mengakibatkan hal-hal yang merugikan seperti hancurnya harta benda, hilang nyawa dan retaknya persatuan. Walaupun begitu, konflik juga bisa meningkatkan tingkat solidaritas suatu kelompok yang memperjuangkan kepentingannya bersama. Akibat konflik besar yang pernah terjadi bisa dilihat pada grafik berikut:

Konflik akan melalui proses penyelesaian sehingga selesai sebelum akhirnya muncul masalah baru yang menyebabkan konflik lagi. Bentuk akomodasi konflik yang dipaparkan pada kajian kali ini adalah:

  1. Koersi: Pemaksaan pihak lain menggunakan ancaman, intimidasi atau bentuk tekanan lainnya.
  2. Ajudikasi: Penyelesaian melalui pengadilan.
  3. Toleransi: Sikap yang melarang diskriminasi terhadap kelompok yang berbeda.
  4. Konsiliasi: Usaha mempertemukan keinginan pihak yang berselisih untuk mencapai persetujuan.
  5. Stalemate: Keadaan ketika kedua belah pihak yang bertentangan memiliki kekuatan seimbang, lalu berhenti pada titik tidak saling menyerang.

Hubungan Teori Konflik dengan Realita Kampus

Oke sekarang bagian serunya. Secara garis besar tulisan ini kan telah membahas beberapa sudut pandang konflik dari tokoh-tokoh yang menghadapi realita berbeda. Selain itu hasil kajian juga mencakup penyebab, akibat dan akomodasi konflik. Berbekal sedikit cocoklogi dari teori konflik, kita dapat menyimpulkan bahwa konflik yang terjadi di kampus ganesha ini juga memiliki pola yang mirip dengan konflik lainnya. Berikut adalah hasil analisis singkat ofek yang kebetulan lagi duduk di sebelah saya waktu lagi ngetik:

  • Konflik yang terjadi antar organisasi di kampus umumnya membuat setiap organisasi tersebut makin solid. Coba saja lihat konflik antar himpunan yang terjadi beberapa waktu yang lalu, himpunan tersebut malah semakin solid secara internal.
  • Konflik yang melibatkan golongan-golongan tertentu di kampus sebenarnya bukan malah menimbulkan kecemasan tetapi justru kepedulian. Biasanya animo massa kampus terhadap kemahasiswaan cenderung naik ketika terjadi sebuah konflik, apalagi ketika konfliknya tidak penting tetapi mudah untuk digosipkan.
  • Beberapa kaderisasi cenderung memakai metode konflik sebagai sarana penyatu angkatan ataupun seluruh organisasi tersebut. Sepertinya mereka sudah mendapatkan ilham dari Mbah Karl Marx ketika merancang kaderisasi berbasis konflik ini, entah konflik antar angkatan ataupun konflik-konflik lainnya.
  • Konflik kubu politis di ITB (tahu sendirilah ya) yang dari dulu sampai sekarang ga pernah kelar sebenarnya sangat konstruktif bagi kehidupan kampus. Orang-orang yang terlibat salah satu golongan ini cenderung memiliki semangat lebih karena adanya motivasi dari konflik tersebut. Ya, biarkanlah saja konflik dua kubu ini terus berlangsung di kampus, sepertinya itu salah satu nafas terbesar bagi kehidupan berkemahasiswaan kita.
  • Ada juga konflik yang direkayasa oleh kubu-kubu tertentu. Selain menambah oplah bagi kedua kubu, konflik ini juga cenderung konstruktif seperti konflik lainnya. Perbedaannya adalah kondisi konstruktif ini akan berhenti ketika orang-orang sadar bahwa konflik tersebut hanya rekayasa belaka dan kampus ini hanya akan begini-begini aja. Lalu apakah “konflik” di Plaza Widya yang terjadi 4 Februari itu merupakan sebuah rekayasa? Kita lihat saja kelanjutannya…

Penutup

Saya mohon maaf atas segala kesalahan yang ada dalam tulisan ini. Sila kunjungi sekre MG apabila ada koreksi atau pendapat yang ingin disampaikan. Masukan pembaca sekalian sangat berharga untuk proses pembuatan zine kami yang sebentar lagi terbit. Akhir kata, semoga mas mbak yang berhasil membaca tulisan ini sampai habis ataupun yang bacanya skip-skip bisa mendapat referensi pikir baru dalam menghadapi konflik.

Salam Pembebasan!

Ditulis pada 22 Mei 2016 oleh

Reynaldi Satrio Nugroho (13414034) — Ketua Divisi Pusat Studi dan Analisis Data Majalah Ganesha ITB 2016/2017

Renanda Yafi Atolah (18013043) — Ketua Umum Majalah Ganesha ITB 2016/2017

Referensi

Affandi, H.I. (2004). Akar Konflik Sepanjang Zaman: Elaborasi Pemikiran Ibn Khaldun. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Susan, N. (2009). Pengantar Sosiologi Konflik & Isu-Isu Konflik Kontemporer. Jakarta: Prenada Media.

Susesno, F.M. (1999). Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.