image

Terbit di Zine Majalah Ganesha Edisi Kaderisasi (Agustus 2017)

Beberapa waktu lalu, Majalah Ganesha mewawancarai Ketua OSKM 2017, Agung Cahyo Syamsu (Teknik Geofisika 2014). OSKM merupakan ajang kaderisasi terbesar di ITB dengan melibatkan seluruh mahasiswa yang baru masuk beserta panitia yang juga berjumlah ribuan. Tak berhenti di situ, dana yang dikucurkan oleh pihak rektorat pun tak bisa dibilang sedikit. Sekitar dua puluh persen dana kemahasiswaan atau hampir seperempat dari total dana yang diperuntukkan untuk kegiatan kemahasiswaan dialirkan ke kegiatan ini. Menjadikan OSKM sebuah event yang begitu megah dengan segala mata acara dan pernak-pernik yang menghiasinya. Padahal jika ditilik dari sejarah OSKM diadakan, kegiatan ini ditujukan untuk menyiapkan aksi gerakan mahasiswa melawan pemerintah  dan militer. Dengan meninjau sejarah ini, mungkin dapat ditarik benang merah mengapa panitia lapangan, yang terdiri dari mentor, medik, dan keamanan, selalu ada di rangkaian kegiatan OSKM di tiap tahunnya.

Untuk itu. menjadi menarik bagaimana mengetahui konsep OSKM ini lewat ketua acara itu sendiri. Tak hanya berbicara seputar OSKM tahun ini, kami pun membahas soal kaderisasi, mahasiswa, dan kondisi Indonesia belakangan.

Kenapa mencalonkan diri jadi ketua OSKM 2017?

Aku tertarik pada pembentukan manusia. Dulu pernah coba di bidang karya dan sebagainya tapi ternyata bidang itu sendiri adalah produk lanjutan dari kaderisasi. Produk utama dan contoh keberhasilannya kan manusianya, dan aku tertarik di situ daripada bidang lain. Dan aku lihat OSKM ini adalah awal kaderisasi, bukan kaderisasi awal. Segala baik buruknya tentang kemahasiswaan bagi mahasiswa baru tergantung di OSKM-nya. Dari OSKM sendiri banyak orang yang jadi motor penggerak di KM ITB dan membuat KM ITB jadi lebih baik lagi.

Awal mencalonkan diri jadi ketua OSKM memang inisiatif sendiri atau ada dorongan dari pihak luar?

Intergrasi 2016 aku jadi panitia pengawas (panwas) dan aku mengerti pelaksanaannya. Dari situ memacu aku untuk ingin jadi ketua. Tapi saat itu pun aku sebetulnya ingin menghilang dulu dari kegiatan kemahasiswaan sehingga keinginan maju jadi ketua OSKM pun aku anggap angin lalu. Tapi memang ada teman yang meyakinkan untuk mencoba dulu saja karena memang ada mimpi yang ingin dibawa. Jadi modalku dari pengalaman, keinginan dan dorongan teman.

Saya tertarik dengan pernyataan Agung yang bilang sempat ingin menghilang dari kemahasiswaan.

Setelah ikut mendiklat divisi mentor tahun lalu, aku akui kalau aku merasa capai dan ingin istirihat. Lalu aku isi dengan kegiatan yang beda banget. Aku sempat ikut Swiss Innovation Challenge (lomba tentang business idea) dan Robinhood MTI ITB (lomba tentang pengabdian masyarakat). Di Robinhood MTI ITB aku bersama tiga temanku yang lain berhasil masuk 5 besar dengan mengangkat UKM katering di Bandung dan kami satu-satunya peserta yang tidak bawa nama himpunan. Dari situ aku mendapatkan bahwa kalau kita ada minat gerak ke suatu hal, entah itu bidang karya, sosial masyarakat, atau organisasi, dan kita mencoba, ternyata hasilnya bisa seperti itu. Daripada teman-teman himpunan yang punya divisi tersendiri dan alur pikir yang aku tidak mengerti bagaimana (tertawa), kita yang cuma minat doang ternyata bisa. Dan aku yakin banyak teman-teman yang mampu dan bagus dalam hal ide tapi tidak mau mencoba, dalam hal ini berkarya. Temanku pernah bilang kalau yang pada akhirnya menang bukan yang terbaik tapi yang mau mencoba.

Menurut  Agung, apa yang membuat kamu menang di pemilihan ketua OSKM kemarin?

Konsep yang kubawa lebih mudah diaplikasikan (feasible). Misalnya, waktu Galih (calon ketua OSKM 2017 lain), membawa ide mentor untuk satu tahun dan akan menjaga track record kemahasiswaan. Aku tidak pernah berpikir seperti itu dan menurutku itu tidak memungkinkan di realisasinya nanti. Jadi, pertama, feasibilitykami unggul. Kedua, kami selaras dengan kabinet. Kami mempertimbangkan bahwa OSKM ini juga bagian dari Kabinet KM ITB dan yang dibawa OSKM, bagaimanapun, mesti selaras dengan yang dibawa Kabinet KM ITB. Kita punya tanggung jawa membentuk orang-orang untuk Kabinet KM ITB tahun ini. Ketiga, aku unggul basis massa. Basis kami panitia lapangan (Panlap) yang tersebar di semua himpunan. Hampir semua himpunan aku kenal orang yang latarbelakangnya mentor. Bukan sekadar kenal tapi aku jadi bisa ambil sampel bagaimana OSKM yang lebih baik lagi bagi massa kampus. Dalm pengonsepan, kami tidak menutup diri saat roadshow. Dibantu dari orang-orang yang sebenarnya tidak bisa gabung karena ring satu di organisasi lain tapi aku dapat banyak ide bagus dari mereka. Padahal dulu kami cukup ‘berlari’ saat menyusun strategi karena Galih start lebih awal, sekitar sebulan lebih cepat dari kami.

Bagaimana basis massa dari unit?

Aku berstrategi kalau sebenarnya basis massa KM ITB itu himpunan sehingga yang kami kejar lebih dulu adalah massa himpunan. Massa unit pun banyak mentornya sebetulnya tapi pendekatannya tidak begitu intens. Unit aku GAMAIS doang karena aku aktif di sana.

Apa yang membedakan OSKM tahun ini dengan yang sebelum-sebelumnya?

Selain apa yang kami bawa, kami juga eksplor metode. Beberapa mata acara kami coba rebranding, seperti seminar/talkshow kami datangkan orang-orang yang sudah bergerak. Waktu bagi pembicara pun tidak terlalu lama, cuma 15-20 menit, dan lebih banyak komunikasi dua arahnya. Mata acara ini terinspirasi dari TedTalk. Selain itu ada yang kami sebut Lingkar Pergerakan. OSKM melibatkan banyak orang, 4000 mahasiswa baru dan 2000 panitia. Kami terinspirasi dengan Forum Indonesia Muda. Di forum itu ada jejaring yang didapat dan kenapa ini tidak bisa diaplikasikan di OSKM, menurut kami. Kami juga terinspirasi dari Student Catalyst yang aku sempat coba, dan konsep SC sendiri motivasinya mempertemukan orang-orang yang ingin achieve lebih. Konsep ini coba dibawa ke OSKM, dengan mempertumakan orang-orang yang ingin berkarya di bidang karya, sosial-politik (sospol), dan sosial masyarakat (sosmas). Kalau selama ini jejaring yang didapat hanya nama dan jurusan saja, kenapa kita tidak bisa tahu ada orang yang punya tujuan dan semangat yang sama dengan kita. Dari Kabinet sendiri ingin ikut menjaga Lingkar Pergerakan ini. Lingkar ini sebetulnya terbentuk secara alami sesimpel perangkat-perangkat OSKM yang ngobrol tentang kaderisasi yang lebih baik, dan sebagainya. Tapi untuk bidang sosmas dan karya masih kurang. Dulu DDAT (Diklat Dasar Aktivis Terpusat) bisa membentuk lingkar seperti ini tapi kami ingin orangnya tidak sesedikit itu.

Kenapa OSKM sepenting itu sehingga mendapatkan dana yang banyak, 600-700 juta dari total dana kemahasiswaan sebesar 3 miliar Rupiah, dari pihak kampus?

Lembaga Kemahasiswaan ITB (LK) ingin penyambutan ini tidak menjadi perpeloncoan. Untuk membuat mahasiswa baru senang dengan OSKM ini akan ada perform dan sebagainya. OSKM ini juga awal kaderisasi dan jujur, bagi TPB sendiri, yang terpenting adalah impresi. Dan impresi tidak sesederhana itu. Dari segi panitia, banyak pula yang terlibat dengan diklat yang begitu intens. Dari diklat ini kami ingin bentuk orang ideal dengan  tujuan KM ITB, bukan wadah yang disesuaikan dengan orangnya.

Kenapa hal-hal yg diangkat di OSKM setiap tahun berbeda? Kenapa tidak dibuat sama supaya profil tiap tahun sama dan untuk menuju ke yg idealnya ruk?

Aku kan ambil analisis kondisi (analkon) internal (dokumen KM ITB, RUK) dan eksternal, yg terjadi di luar KM ITB. Dan kita ingin menciptakan sesuatu yang ideal, entah itu RUK (Rancangan Umum Kaderisasi) atau apapun, dengan lebih luwes. Saya tidak tahu apakah RUK sebetulnya masih relevan atau tidak. Maka dari itu ia perlu dibenturkan dengan kondisi eksternal, hal-hal yang ada hari ini. Dari sini, diharapkan kader akan adaptif dengan hal-hal yang selalu berubah di dunia luar. Kita tidak bisa hanya memegang RUK saja. Sehingga OSKM yang berubah-ubah tiap tahun adalah usaha dialog dengan perubahan zaman. RUK dibuat bertahun-tahun yang lalu (2010) dan sehebat apapun orang, ia mesti tahu kondisi hari ini.

Apa hal yang dibawa Agung di OSKM ini yang merupakan hasil dialektika RUK dengan kondisi hari ini?

Semangat pergerakan. Intinya ada tiga bidang untuk berkarya: sosmas, sospol, dan karya. Banyak orang yang bilang ingin berkontribusi ke masyarakat tapi juga mengelak dengan berkata, “Itu bisa nanti” padahal sekarang mereka punya sesuatu. Kenapa mereka tidak mau? Di sini aku membenturkan identitas dengan pergerakan di tiga bidang itu.

.

.

Kebanggan terhadap KM ITB bisa dibilang sangat kecil jika dibandingkan dengan kebanggaan terhadap himpunan. Menurut Agung, kenapa tidak ada arogansi/nasionalisme atas KM ITB?

Pertama, himpunan jauh lebih dulu terbentuk dan dari situ dasar setiap orang. Tiap orang ingin punya/berada, berkumpul dengan orang-orang yang mirip entah itu ketertarikan, ranah studi, atau apapun. Dan mereka lebih mudah menemukan itu di himpunan dengan orang-orang yg lebih homogen, dibandingkan dgn KM ITB dengan jumlah orang yg jauh lebih banyak. Dan dari cara terbentuknya pun berbeda. KM ITB kan sesuatu yg diidam-idamkan. Sebuah cita-cita besar yang kita masih perjuangkan, agar orang-orang merasa sistem ini yg terbaik.

Ada hal-hal yg lebih baik dilakukan di bawah KM ITB, seperti aksi atau pergerakan di ranah sospol. Menurut Agung, perlukah mahasiswa ITB punya ketertarikan terhadap KM ITB?

Semua mahasiswa ITB mestinya punya ketertarikan terhadap KM ITB. Karena dulu KM ITB dibentuk dari diskusi yang panjang, hingga hari ini KM ITB berdiri dengan sitem yg ada sekarang. Tapi orang-orang belum sadar akan hal ini padahal KM ITB menyediakan lebih banyak yang ada di himpunan maupun unit, untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Di sini letak pentingnya orang-orang perlu paham dengan KM ITB.

Jika dihubungkan dengan OSKM, Diklat Terpusat (Dikpus) adalah usaha mengenalkan sistem KM ITB ke mahasiswa tingkat dua. Sementara, bisa dibilang, Dikpus tidak dipersiapkan lebih baik dari Diklat Divisi (Dikdiv) seperti adanya chaos di hari pertama Dikpus tahun ini ataupun waktu yang jauh lebih pendek. Ditambah lagi Dikdiv terkesan sangat rapi dengan adanya kepala sekolah dan perangkat-perangkatnya. Padahal Dikpus sangat besar tanggungannya sementara Dikdiv, kalau boleh dibilang, hanya pembekalan panitia dalam hal teknis di hari H. Kenapa seperti demikian?

Di Dikpus yang diajarkan adalah hal yang fundamental, seperti sistem KM, visi misi OSKM, dan sebagainya. Dan untuk dikdiv, jika dibilang hanya untuk keperluan hari H ya tidak juga. Kami menitipkan ke pendiklat, kepsek, dsb untuk menanamkan profil RUK di Dikdiv itu. Dan Dikpus sependek itu karena ada satu masalah: sumber daya manusia (SDM). Lucunya, orang yang daftar untuk jadi pendiklat Dikpus jauh lebih sedikit dari Dikdiv. Di sini, aku akui bahwa memang ada arogansi divisi yang sangat terasa. Misalnya divisi keamanan, di Dikpus ga biasa ngementor sehingga bingung kalo ikut ke Dikpus mau berbuat apa. Dan kami jug aliat di Dikdiv ini lebih kecil scope nya sehingga bisa serapi itu. Profesionalisme divisi ya tidak ada. Materi dasar, identitas mahasiswa, visi misi OSKM dsb mesti diulang lagi di Dikdiv. Lalu untuk perangkat, kami berpesan ke mereka bahwa mereka bukan cuma untuk tiga hari OSKM tapi akan menjadi orang-orang terakhir yang berdiri di KM ITB, termasuk Komandan Lapangan (Danlap), sampai orang-orang keluar dari KM ITB. Perangkat dapat pembelajaran lebih dan mestinya punya tanggungjawab buat menyampaikan ke orang banyak.

.

.

Dulu ada anggapan bahwa tiga kaderisasi terbaik Indonesia dilakukan oleh PKI, ITB, dan TNI. Menurut Agung, kenapa ITB bisa ada di daftar itu dan bagaimana kondisinya hari ini?

Berdasarkan sejarah, ITB dengan metode lapangannya sangat berhasil membentuk orang. Banyak sekali monumen di ITB, seperti ITB 78 dan ITB 82 karena dulu mereka sangat solid satu angkatan. Dan dulu ITB menghasilkan pelopor-pelopor di bidang kemahasiswaan buktinya terbit Buku Putih ITB 1978. OSKM juga dulu makan waktu lama, dibanding sekarang yang cuma beberapa hari. Untuk sekarang, kita masih mencari metode yang cocok dengan generasi hari ini dan bisa disebut masa transisi metode karena dirasa keluarannya tidak sebagus dulu dilihat dari profil kader yang dihasilkan. Dan jujur, kita tidak bisa lagi disebut pelaku kaderisasi terbaik.

Kenapa metode lapangan tidak cocok lagi untuk anak-anak hari ini?

Karena generasinya berbeda. Arus informasi dulu beda dengan sekarang dan arus informasi serta budaya ikut “mengkader” generasi hari ini. Musuh bersama pun berpengaruh. Jika konteksnya persatuan, sekarang tidak ada common enemy, yang membuat orang-orang merasa penderitaan yang begitu besar seperti di zaman Soeharto.

Bagaimana tanggapan Agung soal pembatasan dari pihak rektorat terhadap ruang kaderisasi mahasiswa seperti Osjur yang hanya boleh 5 hari?

Aku rasa komunikasi dari rektorat terlalu satu arah. Teman-teman mahasiswa pun merasa tidak sesuai dengan kebijakan dari rektorat terhadap keperluan kaderisasi karena duduk bersama pun jarang. Berapa kali sih mereka (rektorat) duduk bersama kita untuk berdialog? Kopi Sore (Kopsor) jatuhnya lebih ke sosialisasi daripada dialog. Kita dibuat menerima saja keputusan mereka, jadi saya pun menyayangkan kondisi seperti ini. Pembatasan ini jadi salah satu faktor dari melempemnya kaderisasi kita, meskipun bukan faktor utama.

Kaderisasi dianggap sebagai proses penurunan nilai. Nilai apa sih yang membuat mahasiswa ITB menjadi mahasiswa ITB? Apa ciri nilai mahasiswa ITB idealnya? Atau memang tidak ada?

Kalau nilai kita mengacu ke beberapa hal. Dari Konsepsi KM ITB sebenarnya ada nilai-nilai yang terkandung. Rektorat pun sebetulnya menitipkan nilai yang perlu disampaikan ke mahasiswa ITB seperti integritas, cinta tanah air, dsb. Tapi untuk nilai dari rektorat ini belum turun-temurun. Mungkin untuk nilai dari Konsepsi KM ITB saja seperti kepeloporan, persatuan, dll. Di tiap Osjur rasanya selalu disampaikan di tiap himpunan bahkan unit.

Seberapa penting sih peran kaderisasi untuk organisasi menurut Agung?

Penting karena organisasi punya tujuan saat terbentuk dan untuk menuju tujuan itu butuh orang dengan profil tertentu. Dan profil tersebut dibentuk pada kaderisasi. Jadi sepenting itu.

.

.

Saya ingin membahas soal mahasiswa. Sekarang demo/aksi ke jalanan dianggap tidak efektif lagi. Setujukah Agung dengan anggapan ini?

Aku tidak setuju. Karena Kabinet KM ITB sekarang sangat ‘eksternal’ dan aku amati dari aksi-aksi yang mereka lakukan belakangan sangat berdampak. Beberapa waktu lalu saat Kapolri akan mengisi kuliah Stadium Generale, Ardhi (Presiden KM ITB) sampai dichat­ oleh alumni supaya ITB jangan sampai bikin aksi aneh-aneh saat Kapolri datang ke ITB. Dari situ aku lihat kalau ITB punya bargaining position-nya sebesar itu. Dan kabarnya pun dari aksi-aksi itu bisa sampai audiensi dengan MPR atas tindak lanjut aksi.

Bagi Agung sendiri, apakah mahasiswa harus selalu ‘turun ke jalan’ jika dirasa ada yang tidak beres?

Aku setuju dengan itu. Karena pemerintah memang sebutuh itu untuk diawasi oleh kita dan pengawasan ini harus kontinu. Dan itu harus kita selalu lakukan bahkan hanya untuk kesalahan kecil. Selain itu, ini berguna untuk memupuk pergerakan politik supaya aksi-aksi ini jadi budaya dan orang-orang sadar pentingya bergerak secara sosial politik.

Bagaimana pergerakan mahasiswa yang seringkali dianggap ditunggangi oleh kepentingan elit politik?

Sikap apapun yang diambil oleh mahasiswa akan selalu dianggap tunggangan politik karena politik identik dengan kepentingan. Dan kepentingan tiap orang berbeda. Misal kita mendukung pelemahan KPK maka otomatis kita dianggap mendukung partai yang juga mendukung pelemahan KPK. Dan sebaliknya. Yang aku garis bawahi adalah anggapan kalau mahasiswa selalu ditunggangi kepentingan eksternal. Sementara untuk kasus pergerakan yang benar-benar ditunggangi oleh kepentingan politik, saya kira bisa dihindari. Dengan catatan bagaimana kita bersikap. Kalau kita mengerti betul kemahasiswaan, bahwa itu adalah jalan untuk mencapai tridarma perguruan tinggi, itu akan bisa dihindari.

.

.

Soal isu-isu perpecahan yang belakangan terasa makin mengkhawatirkan di Indonesia sampai-sampai Pak Jokowi pun bilang bahwa semua yang anti-pancasila digebuk saja. Bagaimana tanggapan Agung soal hal ini.

Aku mulai dari aksi Kabinet KM ITB yang dilakukan saat Dikpus lalu yang menurutku positif karena ingin menyebarkan pesan bahwa Indonesia sebenarnya masih bersatu, dengan segala gimmick dari Ardhi (tertawa). Lalu untuk kondisi sekarang memang tidak dimungkiri sedang kacau.  Dan dulu aku baca buku Indonesia Emas 2045, yang isinya forecast atau skenario Indonesia di masa depan, diebutkan bahwa orang-orang akan tetap mempertahankan Indonesia dengan hubungan integrasi fungsional. Maksudnya daerah-daerah, misalnya, tetap terhubung atas dasar memenuhi kebutuhan materiil. Sulit untuk hubungan integrasi historis. Dan aku lihat, sampai presiden pun berkata seperti itu, takutnya akan mempengaruhi rakyat. Contoh kecilnya jika Koordinator Lapangan (Korlap) suatu acara terlihat panik pastilah anak buahnya akan terbawa panik. Padahal seharunya pemimpin itu mendinginkan suasana. Padahal kondisi awalnya tidak sekacau ini tapi karena ada pihak yang ikut mengkompori sampai seperti sekarang.

Bagaimana dengan organisasi yang dibubarkan karena dianggap anti-pancasila seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)?

Kalau untuk kasus HTI, memang seharusnya seperti itu. Pancasila itu bukan ideologi tapi konsensus, kesepakatan antar ideologi-ideologi yang ada saat itu. Maka dari itu mestinya semua orang sepakat. Untuk kasus HTI, aku lihat isu ini banyak dikompori oleh orang-orang yang berkepentingan dengan memojokan HTI. Sebelum dibubarkan ini sebenarnya kan santai-santai saja. Tapi karena dibubarkan mereka jadi punya musuh bersama yaitu pemerintah yang membubarkan. Mereka bisa jadi tambah bersatu dan melancarkan tujuan-tujuannya.

Ditulis Muhammad Rushdi