Kadang saya melihat perjuangan atas nama kesetaraan hanya sebagai usaha menjatuhkan pihak yang ada di atas dan mendongkrak pihak yang ada di bawah. Bukan sebagai perjuangan untuk menggapai kebaikan dengan kesetaraan. Bahkan ada saja pihak yang kebablasan mendongkrak pihak yang di bawah, kemudian menindas pihak yang sudah dijatuhkan dari atas. Inikah yang ingin disampaikan George Orwell dalam novel Animal Farm?

"All animals are equal. But some animals are more equal than others."

Novel tersebut memang sangat ekstrim dalam menyimbolkan tokoh-tokoh dalam sejarah seperti Marx, Lenin, Trotsky dan Stalin. Babi revolusioner yang menggunakan slogan kesetaraan babi bijak, malah menjadi penindas yang lebih menyeramkan. Kepercayaan hewan di peternakan yang sama hanya dijadikan batu loncatan saja. Mungkin benar adanya perilaku keledai yang tidak peduli dengan revolusi. Siapapun yang berkuasa pasti begitu-begitu saja.


Tapi saya tidak memungkiri indahnya konsep kesetaraan kok. Tanpa bermaksud merendahkan kebaikan dari sistem yang berhierarki, saya percaya bahwa praduga tidak berdasar dan stereotype dalam hierarki sosial ataupun ekonomi jelas memiliki potensi efek negatif yang tidak sedikit.

Film Zootopia dapat menyajikan efek negatif itu dalam bentuk yang mudah dicerna. Rubah yang dicap sebagai penipu dan dianggap tidak setara oleh pramuka, sulit mendapatkan kesempatan untuk menjadi pramuka. Sama halnya dengan kelinci yang hanya dianggap cocok bekerja di pertanian, sulit diterima penuh menjadi polisi. Dombapun dinomorduakan dalam pemerintahan kota dibanding singa. Menemukan korelasinya dengan kehidupan nyata? Mantap.

Setelah menonton film yang sangat manusiawi-hewani ini, sedikit banyak saya menemukan keindahan di balik tiap karakter yang disebutkan tadi.

Kelinci yang terlihat begitu idealis, menghargai kesempatan yang sama untuk tiap hewan di Zootopia, ternyata bisa 'kepleset' juga saat diwawancara mengenai kasus ekstrim (beberapa predator mendadak menjadi buas). Ia mengatakan mungkin ada sesuatu yang bersifat 'bawaan' dari DNA predator, di depan rubah temannya sendiri. Untungnya kelinci ini sadar akan kesalahannya dan segera memperbaikinya.

Sedangkan rubah adalah korban stereotype yang sempat menyerah pada keadaan. Terlepas dari penampilan, sebetulnya rubah ingin menjadi hewan yang berprofesi jujur. Pengalaman masa kecilnya lah yang membuat ia tidak memiliki banyak pilihan hidup. Dipermalukan oleh anggota pramuka sejak kecil membuatnya menyerah memperjuangkan hak mendapat kesempatan yang sama seperti hewan lain. Tertindas oleh praduga tak berdasar, rubah akhirnya menjalani hidup seperti apa yang sudah menjadi stereotypenya. Seandainya rubah tidak bertemu dengan kelinci, bisa jadi ia tetap mengubur mimpinya dalam-dalam.

Tokoh terakhir yang saya ingin bahas adalah domba. Sebelum plot twist yang semakin mainstream di dunia perfilman, domba hanya terlihat sebagai hewan yang tidak dihargai di pemerintahan kota. Menyedihkan memang, namun tindakan domba selanjutnya menurut saya lebih menyedihkan lagi. Dengan rencana yang rapih, domba menggulingkan singa yang menjabat menjadi walikota pada saat itu. Dan ternyata... hal itu hanya dilakukan demi menjatuhkan pihak yang di atas dan menaikkan derajat diri saja. Apa gunanya memperjuangkan 'kesetaraan' kalau sendirinya menindas hewan lain? Ribet yah kesetaraan.

Lebih ribet lagi kalau kamu hidup di dunia yang mengindahkan hierarki sosial dan ekonomi dengan mengatasnamakan efektivitas dan efisiensi. Bukan bermaksud menjelekkan, saya setuju kok dengan beberapa pendapat mbah Adam Smith. Terkadang orang yang menduduki strata terbawah memang masih memiliki standar hidup yang lebih baik, dibanding orang yang hidup di sistem lainnya. Sayang, saya juga tidak bisa memungkiri banyaknya penindasan terselubung si dalamnya.


Jadi kesimpulan review ini apa dong?

Nggak ada sih sebenernya, cuma iseng doang. Udah lama nggak nulis sih. Kalau diminta pendapat, yaa saya hanya bisa berpendapat mau sistemnya kayak gimana juga percuma apabila niat orang dalam sistemnya memang ingin menindas aja. Kelihatan kan dari novel dan film yang saya bahas tadi. Mungkin hal terbaik yang bisa dilakukan sekarang hanyalah memurnikan niat untuk memposisikan diri sebagai manusia yang berbeda namun tetap setara, dengan penyesuaian sistem nilai yang dipercaya.

Baiklah semoga kesimpulan saya tidak membuat pembaca semakin bingung, soalnya saya juga bingung.