Mahabharata sebagai salah satu epos klasik terbesar di samping Illiad, pada dasarnya adalah kisah rumit nan kompleks keturunan dari Bharata, salah satu dari dinasti Candra di masa lampau di anak benua India. Kisah yang ditulis mpu Wyasa (Abiyasa) ini mengandung banyak simbolisme yang menumpuk, mulai dari perenungan manusia dengan meditasi berbalut mitologi Hindu, dipadukan dengan budaya mistik nusantara, ditambah dengan masuknya Islam dan Sunan Kalijaga beserta dinasti Mataram yang menambah lengkap sudut pandang baru akan tinjauan filosofis. Alhasil, kisah yang dinikmati dari pedalangan dan komik-komik R.A Kosasih merupakan karya adiluhung lebih disebabkan karena manusia-manusia di baliknya, sama seperti peradaban itu sendiri yang bukan dibangun oleh satu bata namun ribuan batu bata.

Namun, sedari awal terdapat kerancuan mendasar dari pusat konflik yang dibawa oleh mpu Wyasa ini. Puncak dari Mahabharata adalah Baratayudha. Bharata mengacu pada Bharata, titik mula cerita ini berasal (mengapa sosok Bharata mungkin biar tidak makin puyeng kalo saja cerita ini dinaikkan lagi ke atas). Sedangkan yudha bermakna peperangan. Bharatayudha adalah pertarungan tidak sebanding lima saudara melawan seratus sepupu tunggal kakek. Disinilah kerancuan bermula.

Sudah menjadi acuan dari namanya, pertarungan terbesar di dunia kuno selain Troy ini adalah pertarungan keturunan Bharata. Tapi, jika dilogika, tidak ada darah Bharata sama sekali yang mengalir pada baik Pandawa maupun Kurawa. Setetes pun ditinjau dari alur cabang keluarga manapun. Dan ini semua salah siapa?

Risalah cabang keluarga.

Baik mari kita urut dan pijat dengan pelan-pelan.

Bharata diturunkan dan menurunkan cabang pada Kerajaan Hastina hingga Raja Santanu. Kerajaan Hastina hingga saat itu makmur dan adidaya karena kebijaksanaan raja-rajanya. Santanu sebagai raja muda jatuh cinta secara tidak sengaja oleh Dewi Gangga yang dihukum turun ke Bumi. Singkatnya, Dewi Gangga kembali ke khayangan sesudah hukumannya habis, namun tak lupa dia beri keturunan pada Santanu yaitu Dewabrata.

Setelah sekian lama, Santanu begitu mendamba akan adanya pendamping. Dikisahkan ketika berburu menyusuri sungai Gangga, Santanu bertemu dengan Satyawati dan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Sayangnya, Satyawati yang merupakan janda dari Begawan Palasara hanya mau dipinang jika anaknya kelak menjadi putra mahkota karena sumpahnya terdahulu. Hal ini ditolak oleh Santanu yang sangat sayang pada anak tunggal-nya. Tetapi, dia juga memendam rasa cinta pada Satyawati, sehingga dia jatuh sakit selama berhari-hari.

Setelah Dewabrata mengetahui sebab musababnya, karena rasa hormat dan baktinya, dia bersumpah pada ayahnya dan pada Satyawati bahwa dia tidak akan menjadi raja. Lebih lanjut, setelah tapa-nya, dia mengucapkan sumpah yang termasuk dahsyat dalam kisah epos ini : bersumpah untuk hidup wadat, tidak akan beristri hingga akhir hayat agar tidak ada keturunannya yang mempeributkan tahta. Batara Narada sendiri turun dan memberi berkat pada Dewabrata : 1) bahwa tapa-nya sudah diterima para dewa, dan namanya berganti menjadi Bhisma, 2) akan diberi kesaktian sehingga benar-benar tidak akan pernah kalah perang, 3) bisa menentukan sendiri ajalnya. Berkat sumpah ini, hidup Satywati ayem dan damai pun bersemayam dalam diri Santanu.

Cilaka dua belas pun menghantui sumpah Satyawati terdahulu. Sumpah yang terdapat setitik rasa serakah akan kekuasaan. Setelah kematian Santanu, impian Satyawati pun tercapai. Anak sulungnya, Raden Citragada menggantikan sang ayah, dengan didampingi Bhisma yang sayang terhadap dua saudara tirinya. Rasa sayang yang berakibat pada kematiannya kelak. Citragada dikisahkan mati saat berperang. Citrawirya menggantikan dalam suasana kedukaan. Untuk menghapus kesedihan pada ibu tiri-nya, Dewabrata mengikuti sayembara di Kerajaan Kasi untuk memenangkan putri-putri Kasi untuk menjadi istri adiknya. Singkat cerita, Citrawirya yang lumayan tampan beristrikan Ambika dan Ambalika. Naas lagi, sang raja mangkat tanpa menurunkan seorang insan. Terjadi rechtvacuum pada tampuk tahta Hastina. Kondisi rawan yang mudah diserbu kerajaan lain.

Dengan ikhlas dan membujuk, Setyawati beserta tetua meminta Bhisma untuk naik menjadi raja. Namun sang ksatria menolak, karena dirinya sudah bersumpah, dan ksatria tak penah menjilat ludah sendiri. Hati yang luas dan bijak selalu bersemayam dalam diri Bhisma, yang dengan tenang menyarankan Setyawati untuk teringat putranya yang lain : Abiyasa, anak Palasara, yang terlupakan karena kejelekan wajah dan baunya.

Singkat cerita (lagi, melelahkan memang untuk saya menulis singkat cerita untuk ketiga kalinya), Abiyasa bersedia memberikan keturunan kepada Hastina lewat Ambika dan Ambalika, dan akan kembali bertapa sesudah keturunan ini cukup mampu. Dan anak dari kedua wanita inilah : Destarata dan Pandu yang menurunkan Kurawa dan Pandawa.

Logika epik

Menurut logika, pewaris tahta Hastina yang sah terakhir hanya 3 : Bhisma, Citragada dan Citrawirya. Kedua anak Setyawati purnaning donya tanpa beranak dan Bhisma dengan sumpahnya. Ketiga ksatria ini adalah keturunan terakhir Bharata secara darah.

Di sisi lain, Pandawa, Kurawa dan ayah mereka tidak mewariskan darah. Destarata dan Pandu berayahkan Abiyasa dan beribukan putri Kasi, yang notabene tidak berhubungan dengan Bharata. Begitu pula dengan Kurawa, dimana ibu mereka adalah putri Kerajaan Gandhara – jauh di Pakistan sekarang. Pandawa, nah mereka mengalirkan darah yang sama dengan Bharata sebenarnya, namun tunggal moyang agak jauh, lewat ibu mereka. Kunti (ibu setengah Pandawa sebenarnya), adalah wangsa Yadawa. Sedangkan Bharata adalah wangsa Puru. Wangsa Yadawa (dari kakek moyang Yadu) dan wangsa Puru (dari kakek moyang Puru) berbagi darah dari Yayati. Yayati inilah leluhur Bharata, dan leluhur sangat-sangat jauh lagi dari Pandawa (setengah Pandawa, yang kembar, keturunan Madra, entah manalagi itu). Maka tidak bisa dikatakan baik Pandawa maupun Kurawa keturunan Bharata.

Faktanya, justru mereka adalah keturunan Palasara dari Abiyasa (India kan patriarki kan, kita bahas dari jalur laki-laki). Maka mungkin lebih tepat jika dinamakan Palasarayudha. Tapi tentu saja nama ini aneh. Lebih cocok Bharatayudha. Hanya karena lebih cocok?

Apakah tidak mungkin, Abiyasa di balik dirinya yang bijak, alim, dapat diandalkan dan setia, memendam rasa tidak percaya diri dan ketidakpasrahan? Buruk rupa, bau tidak enak, ditinggalkan ibunya. Lengkap sudah. Bhisma, walau piatu, tapi dirinya mendapatkan segala-galanya dengan semua darah ksatria dan ketampanan dan kehebatannya. Dengan peran penulis, mungkinkah penamaan Bharatayudha dimaksudkan mengarah pada sang keturunan terahkir Bharata yang bertahan hidup : Bhisma, dan menyalahkan atas semua yang terjadi.

Satu, karena Bhisma keras kepala tanpa toleransi karena seakan-akan sosoknya yang agung, berdampak pada lahirnya kecacatan Destarata, Pandu dan Arya Widura yang berdampak pula tragedi antar saudara kelak pada Pandawa dan Kurawa.

Dua, tanpa Bhisma pula, Abiyasa tak akan pernah malu menjadi raja dengan penampilannya, dan tak perlu malu karena bahkan Ambika dan Ambalika tidak tahan terhadap dia. Bukankah awalnya Abiyasa memang menepikan diri bersama ayahnya karena tampilannya – logika manusia biasa-?

Tiga, tanpa manusia angkuh seperti Bhisma, perang tidak akan berlarut dan menyedihkan seperti itu jika sedari awal Bhisma mau rikuh campur tangan, atau hanya dengan berpangku tangan tanpa ikut berperang.

Jadi, tragedi epik ini kesalahan dari keturunan terakhir Bhatara. Bukan keturunan Palasara, pendeta religius yang saleh.

.

Namun alangkah baiknya jika kita berasumsi baik. Mungkin sebutan Bharatayudha karena secara legal, kedua keturunan ini adalah pejabat sah yang diberi wewenang pada tahta Hastina. Toh, Abiyasa memang saleh, setia, bijak, alim, setia dan luhur. Toh juga, seperti Kumbakarna, Bhisma berpegang teguh sesuatu yang luhur melebihi manusia.

Jadi, lebih baik kita kembali memikirkan hidup kita masing-masing saja. Toh, pemikiran orang zaman lampau berbeda dengan rasionalitas ala barat masa kini. Iya kan?