Apa yang membuat seorang manusia, manusia? Apa yang membentuk identitas seorang manusia? Fisiknya kah? Pemikirannya kah? Pengalamannya kah? Atau justru kepercayaannya? Pertanyaan sederhana ini mungkin telah diajukan oleh banyak orang sejak dahulu kala. Banyak ahli juga telah mengemukakan pendapatnya. Bahkan, dari situlah muncul banyak cabang-cabang keilmuan baru seperti rasionalisme, empirisme, pragmatisme, dan lain sebagainya. Namun sayangnya, di dunia sekarang ini manusia telah lupa hakikat eksistensinya hingga ia menyerahkannya kepada suatu benda. Identitas seorang manusia telah direduksi sedemikian rupa, hingga hanya ditentukan oleh kertas-kertas yang ia punya. Tak percaya?

Dari awal kita lahir sebagai manusia, bahkan kertas telah mendefinisikan nafas pertama kita lewat sebuah Akta Kelahiran. Kertas juga telah mewakili status kita sebagai anak dari siapa, lewat sebuah Kartu Keluarga. Saat masih balita, di posyandu kita diberikan segala macam vaksin dan bukti fisiknya juga ada pada sebuah kertas, Kartu Menuju Sehat. Masih meragukannya? Lanjut ke bangku pendidikan, apa yang kita kejar? Kelulusan dari setiap jenjang bukan? Lagi-lagi kertas, Ijazah. Dalam prosesnya pun, pemahaman kita dinilai dengan kumpulan angka yang tertera pada sebuah kertas ujian. Akumulasi nilai tersebut mewujud dalam suatu kertas lagi, rapor.

Di umur 17 tahun tepat, kita diberikan hak dan kewajiban sebagai warga negara secara menyeluruh oleh sebuah kertas, KTP. Sebuah kertas pula yang memberikan kita hak untuk berkendara, SIM. Dalam dunia kerja pun tak ada bedanya, kemampuan seorang pelamar kerja ditentukan oleh apa? Berkas-berkas yang ia bawa, kertas lagi! Itulah mengapa selama ini orang-orang berbondong-bondong mengikuti seminar dimana-mana demi mendapatkan sertifikat dan memenuhi CV untuk melamar kerja. Bahkan hingga mati pun ada kertasnya loh, surat kematian. Luar biasa bukan pengaruh benda tipis ini?

Padahal, awalnya kertas diciptakan untuk menyimpan suatu pemikiran manusia, dokumen kerajaan, dan kitab suci. Bagaimana bisa akhirnya benda ini dijadikan tempat singgah identitas kita? Hmm, entahlah. Coba sekarang kita pikirkan. Sebenarnya untuk apa kertas-kertas itu? Seharusnya, kertas tersebut merupakan simbol/lambang/bukti seseorang telah melewati suatu fase kehidupan.

Sekarang pertanyaannya, siapakah yang berhak mengeluarkan kertas itu? Lembaga yang berkaitan, contohnya ijazah dikeluarkan oleh institusi pendidikan. Kredibilitas lembaga itu dinilai dari apa? Akreditasi, lagi-lagi kertas. Badan akreditasi tersebut diatur oleh siapa? Dokumen negara berupa aturan, serta standar akreditasi internasional yang dijadikan acuan. Itu juga kertas lho. Artinya apa, bahkan kertas yang kita punya diatur oleh kertas-kertas yang lain. Dan sekarang, kertas-kertas aturan juga telah mengatur manusia, mengerikan.

Pertanyaan selanjutnya mungkin lebih ekstrem lagi, memangnya kenapa kalau kertas sedemikian berpengaruhnya? Mari kembali lagi ke pertanyaan di atas, kertas sebenarnya kan jadi sebuah tanda akan sesuatu. Dalam pembahasan semiotik mengenai tanda, adalah hal yang wajar bila membahas mengenai tanda yang memenuhi dunia. Kalau boleh meminjam istilah ala-ala semiotik dari Saussure dan kita terapkan dalam kasus ini, maka kertas disini berperan sebagai penanda (signifier) yang menandakan suatu petanda (signified) yaitu identitas. Dan seharusnya, penanda tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya sesuatu yang ditandai. Namun, beberapa hal dilapangan justru terjadi sebaliknya.

Kita terlalu mengagung-agungkan tanda sampai lupa akan sesuatu dibaliknya. Hal ini dapat kita amati dalam kehidupan sehari-hari dan mungkin beberapa orang perlahan mulai menyadari. Kalau dalam dunia pendidikan, mungkin bukti nyatanya ada pada orientasi siswa yang bergeser mengejar nilai daripada ilmu. Kita mengejar penanda, bukan petandanya. Kalau dalam dunia profesional, kita berlomba-lomba memperbanyak CV kita dibanding memperkaya skill yang lebih bermanfaat. Penanda lagi bukan yang kita kejar?

Padahal, seharusnya penanda muncul setelah petanda terbentuk. Nilai seharusnya dijadikan penanda setelah petanda ilmu siswanya memadai. Namun agaknya dunia ini sudah terbalik, sekarang ini lebih banyak yang memahami “aku dapat 100 maka aku paham” daripada “aku paham maka aku dapat 100”. Begitu pula pada CV yang seharusnya menjadi penanda akan skill seseorang. Bukan malah sebaliknya. Pergeseran paradigma inilah yang justru berbahaya, dimana dunia tanda disalahpahami. Disalahpahami saja sudah berbahaya, apalagi kalau disalahgunai?

Penyalahgunaan tanda begitu berbahaya karena ia mencederai konstruk semiotika mengenai tanda itu sendiri. Oknum-oknum tak bertanggung jawab ini menghalalkan segala cara untuk menciptakan suatu penanda ghaib sehingga menciptakan kesan ada suatu petanda dibaliknya. Padahal tak ada sama sekali! Contohnya apa? Banyak. Pemalsuan Ijazah, pemalsuan nilai, sertifikat kejuaraan abal-abal, dan semua pemalsuan dokumen berupa kertas masuk dalam kategori ini.

Oke, kembali lagi ke masalah kertas. Bagiku, ini sebuah fenomena yang agak lucu. Sebenarnya sah-sah saja menggunakan tanda untuk mewakili suatu identitas. Namun, jangan lupa bahwa sebenar-benarnya identitas, ada dalam diri kita. Yang di kertas itu cuma mewakili sebagian saja, dan itu terbatas. Jangan malah dibalik, identitas sepenuhnya kita tempatkan dalam kertas. Dengan begitu kita justru malah merendahkan harga diri kita sebagai manusia. Masak kamu terima begitu saja bila identitasmu hanya ditentukan oleh kertas yang kamu punya? Aku sih tidak.

Aku ya aku, dan identitas sejatiku tak akan bisa diwakili oleh apapun, apalagi dengan terbatasnya kata dan bahasa manusia.

Yang terakhir ini mungkin agak ngaco, namun bila terjadi akan sangat mengerikan sih. Aku takut, bila suatu saat nanti ada suatu map kumpulan kertas yang memuat identitas manusia, dan itu dibawa kemana-mana. Hingga suatu saat ada percakapan

A : “Siapa kamu?”

B : “Aku adalah kumpulan kertas-kertas ini, silahkan dibaca” (Sambil menyerahkan dokumen identitasnya)

A : “Oh jadi kamu kertas ini, kalau kamu siapa?”

B : “Aku adalah kertas ini”

A : “Salam kenal ya”

.

.

.

.

.

.

…………. Aku harap ini tak akan terjadi.