Ketakutan terbesar saya setelah tulisan ini sudah menyebar adalah kita akan dilarang untuk berpikir. Tentu saja ini bukan hal yang saya lebih-lebihkan jika kita melihat beberapa peristiwa ke belakang. Setelah beberapa aturan seperti jam malam yang memaksa kita meninggalkan kampus ketika jarum jam masih menunjukkan pukul 23.00, bahkan sekedar tidur di kampus karena tidak berani pulang dengan berbagai alasan yang bisa diterima akal. Sekarang muncul pelarangan yang lebih mengenaskan bagi sebuah perguruan tinggi yang seharusnya menjadi tempat kita bertukar pikiran dan memperkaya wacana untuk diri kita, sebuah diskusi harus dilarang untuk diselenggarakan di ITB.                

Mengapa pelarangan ini harus terjadi? Pihak kampus dengan hanya menjawab bahwa diskusi yang akan dilaksanakan cenderung terlihat pro pada LGBT dan kampus juga menghindari isu-isu berbau sensitif. Harus berapa kali lagi pengantar dari diskusi ini diterangkan lagi? Sudah jelas topik yang diangkat adalah ‘kampus dan LGBT’ di sini kami hanya ingin membahas bagaimana kampus harus bersikap terhadap LGBT, terutama setelah menristek mengeluarkan pernyataannya mengenai isu yang satu ini. Di sini kami tidak membahas LGBT secara biologi, sosiologi, agama, atau apapun, kami juga tidak membahas apakah sebaiknya kita harus pro atau kontra dengan hal yang satu ini. Di sini fokus kami hanyalah bagaimana kampus sebagai lemabaga akademis harus bersikap setelah adanya pernyataan menristek yang mengatakan bahwa LGBT dilarang masuk kampus karena bisa saja melakukan hal tidak senonoh di depan umum, bukannya orang heteroseksual juga bisa saja melakukannya? Jika alasannya karena perbuatan tidak layak dilihat yang dilakukannya di depan umum, bukannya itu berlaku untuk semua orang? Jikapun kita kontra dengan isu ini, bukan berarti kita harus memusuhinya dan membuatnya tidak bisa masuk kampus. Toh, bukannya pendidikan adalah hak bagi seluruh bangsa ini tanpa memandang siapa mereka? Pro, kontra, pembenaran, dan penyalahan terhadap isu ini bisa dikembalikan kepada pribadi masing-masing karena hal ini hanya akan menjadi debat yang tidak pernah berakhir, tapi bagaimana dengan sikap kampus? Lembaga akademik seharusnya mempunyai sikap sendiri tanpa harus melihat perkara pro ataupun kontra, toh haruskah pendidikan membeda-bedakan objek didikannya?                

Belum lagi perkara sebuah lembaga akademis menghindari isu yang sensitif. Bukannya dalam diskusi akademis kita tidak boleh membatasi diri agar tercipta pengetahuan yang baru? Apakah citra di depan media lebih penting dari sebuah diskusi di tengah kebutaan? Lihat saja di berbagai media baik online maupun cetak, isu ini sangat ramai dengan berbagai arah yang sebenarnya simpang siur dan membingungkan kita semua. Tidak pernah membicarakan sebuah kebingungan seharusnya malah membuat kita makin tersesat, dan di mana seharusnya kita membicarakan hal ini? Bukankah kampus tempat yang paling nyaman untuk itu? Pendidikan yang seharusnya bisa membuat kita yang tidak tahu menjadi lebih tahu, atau setidaknya membuat kita bisa menemukan jawaban atau pertanyaan lain, dan itu semua seharusnya bisa difasilitasi oleh sebuah lembaga pendidikan.  Sekarang harapan untuk bisa tahu dengan berbagai metode dari pendidikan itu harus kita peroleh dari mana jika sebuah lembaga pendidikan pun tidak mengiyakannya? Apakah larangan yang harus menjadi jawaban dari semua ini?Beberapa orang mungkin juga bertanya mengapa tidak kita buat diskusi lainnya saja? Apakah kalian semua memang kurang perhatian? Setiap lembaga kajian telah membuat diskusi minimal sekali dalam seminggu dengan berbagai tulisan, pun dengan tulisan yang telah melahirkan zine, booklet, bahkan buku. Dan diskusi kali ini dibuat karena isu ini terlalu ramai dan kami rasa orang-orang memang perlu membicarakannya secara langsung, bukan sekedar dibuat agar menjadi ramai dan mengisi kekosongan saja. Begitu banyak diskusi yang dibuat tidak pernah kalian gubris, begitu ada topik yang sepertinya sensitif langsung saja kalian melarangnya.                

Mungkin memang benar kata Nietzsche  bahwa orang-orang memang cenderung takut untuk mendengarkan kebenaran karena takut ilusi yang telah mereka ciptakan selama ini akan hancur. Sudah berapa ilmuwan yang akhirnya harus bernasib tragis karena apa yang mereka temukan. Setidaknya beberapa masih bisa selamat walaupun harus mendapat label yang buruk selama hidupnya, beberapa yang lebih beruntung masih bisa hidup dengan lebih baik, dan apapun nasibnya pada akhirnya apa yang mereka temukan setelah proses yang tidak mudah akhirnya bisa diakui. Pastinya bukan hal yang mudah untuk mengakui bahwa bumi itu bulat setelah sekian lama orang-orang menganggapnya datar, atapun mengakaui bahwa bumi yang mengelilingi matahari setelah sekian lama orang-orang percaya bahwa bumi adalah pusat dari semesta. Tapi toh pengetahuan yang baru terkadang memang harus kita peroleh setelah mempertanyakan hal-hal yang biasa kita anggap tabu. Haruskah kita berhenti bertanya-tanya dengan hal yang menakutkan untuk dipertanyak di masyarakat? Membiarkan kita tetap buta untuk melihat hal tersebut? Hapus saja kemampuan kita untuk berpikir jika berdiskusi harus pada topik-topik yang kalian ingikan saja. Ucapkan saja selamat tinggal pada kebebasan akademis dan kemanusiaan jika hal itu benar-benar terjadi.                

Bukankah sudah jelas salah satu tujuan kita masuk ke sebuah lembaha pendidikan adalah untuk memperoleh proses pendidikan itu sendiri? Berangkat dari orang yang tidak tahu dan keluar menjadi orang yang lebih tahu. Berangkat dari orang yang masih bingung bagaimana hidup dan keluar sebagai manusia yang tahu bagaimana harus hidup. Berangkat dengan berbagai pertanyaan dan kembali dengan jawaban maupun pertanyaan yang baru. Haruskah harapan itu sirna di sebuah lembaga yang menjanjikan proses pendidikan?                

Mungkin memang benar bahwa terlalu banyak bertanya bisa membahayakan diri kita, malah ketidak tahuan adalah sebuah kenikmatan. Baiknya kami tetap bertanya sesuai dengan daftar pertanyaan yang telah kau susun di kurikulummu yang telah sesuai untuk memenuhi kebutuhan industry. Kami akan tetap menerima jawaban dari pertanyaan yang telah kalian susun juga, entah setuju ataupun tidak setuju, kami tetap menerima tanpa harus bertanya lagi apalagi bertanya di luar hal tersebut. Akhirnya memang lebih baik bagi kami untuk memberikan kebebasan  akan mencetaka kami seperti apa, toh kami semua memang berangkat dari ketidak tahuan ketika akan memasuki kampus ini.                

Kalian bebas mengatur pengetahuan kami, membatasi ruang gerak kami, dan memperlakukan kami melalui serangkaian aturan dan perangkat yang ada di kampus ini. Kebebasan memang milik kalian, dan kami adalah objek kebebasan kalian. Lebih baik kami lupakan saja konsep bahwa kebebasan itu harus bertanggung jawab dan memiliki batasan sosial, kami serahkan saja seluruhnya agar kalian benar-benar merasa bebas di atas ketertindasan kami. Masabodoh jika Ki Hadjar Dewantara berkata bahwa pendidikan semacam ini tidak lagi memerdekakan ataupun jika Paulo Freire mengatakan bahwa pendidikan seperti ini telah menghilangkan kebebasan yang merata untuk setiap insan. Semoga dua orang itu tidak menangis melihat ini semua, pun orang-orang lain yang telah berpikir banyak tentang dunia pendidikan.

Ingatlah bahwa kebebasan yang telah kalian miliki bisa saja membuat nilai lembaga akademik tercoreng. Mungkin sekarang kalian bisa  berbuat apapun kepada kami. Tapi pikiran dan harapan yang telah kami bangun tidak mudah hancur hanya karena apa yang telah kalian lakukan. Anggap saja sekarang kami sedang berkamuflase menuruti kehendak bebas kalian kepada kami. Tapi tunggu saja bahwa suatu saat kami akan merealisasikan bahwa pendidikan adalah sebenar-benarnya alat untuk memerdekakan jiwa dan raga umat manusia, bangkit dari ketidaktahuan menjadi insan yang bebas dan bertanggung jawab.

Ditulis oleh Renanda Yafi Atolah