Kebajikan dan angkara. Apakah bisa diidentikkan seperti ying dan yang, yang mempunyai batas yang jelas? Saya berpikir, dunia dengan tapal batas jelas antara baik dan buruk semakin kabur, seiring dengan semakin besar peradaban manusia dan kekompleksannya yang mengiringi. Tidak ada dunia (atau manusia) yang 100% baik. Tidak ada dunia juga yang 100% buruk. Manusia menginginkan sedekat mungkin dengan Yang Esa, dengan sesuatu yang sempurna. Setidaknya di alam semesta yang hidup ini (saya sedang tidak membahas kehidupan setelah hidup ini). Padahal apa yang diinginkan manusia ini kerap kali akan berbentur dengan realitas kehidupan yang tragisnya oleh manusia sendiri ciptakan.

Para Calvinis menciptakan doktrin dan dogma yang ketat, dengan berusaha sebisa mungkin menjauhi judi, duel-duel di kedai, mabuk, menyingkirkan kemenyan-hiasan emas-mozaik kaca ala gereja-gereja Roma, pokoknya segala yang bertentangan dengan Alkitab dan kesederhanaan menurut ukuran mereka. Mereka juga memandang rendah nafsu, terutama nafsu birahi, karena mereka yakin hal itu mendekatkan diri dengan angkara. Tapi apakah benar, bisa digaransi, bahwa kebiasaan para calvinis akan menjauhkan mereka, benar-benar tidak mempunyai dosa? Dosa dan angkara seiring peradaban telah berkembang pula tipe dan modelnya, seperti mode pakaian berubah-ubah. Dari “jangan mengumbar nafsu cabul” yang mempunyai maksud “jangan memperkosa wanita” berkembang pula menjadi “jangan berimajinasi dengan menjadikan teman wanitamu sebagai objek”. (Barangsiapa memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dalam hatinya).Ini hanya satu contoh saja.

Wejangan Wayang

Bagi orang Jawa masa kolonial, wayang menjadi tontonan dan tuntunan. Tidak hanya hiburan, tapi lebih dalam dari itu. Tapi bagi saya di masa kecil, wayang hanya bermakna hiburan. Saya begitu terpesona dengan kisah-kisah kepahlawanan yang ditampilkan oleh mpu Walmiki, yang jika hanya dilihat dari kacamata luar tampak terlihat kebajikan sempurna akan mengalahkan sifat-sifat angkara di dunia ini. Dari sudut pandang anak kecil, begitulah yang berbekas.

Saya pun tenggelam dalam pelbagai kisah imajinatif yang menimbulkan perasaan idol dalam jiwa anak kecil. Saya teringat ketika duduk di bangku SD dan membaca Ramayana, saya begitu mengidolakan Anoman (dalam versi India-nya Hanuman). Mungkin Anoman hanya seekor kera yang bisa berbicara layaknya manusia. Tapi, ternyata lebih dari itu. Anoman dengan wujud putihnya mempunyai watak ketulusan yang terpancar selalu dalam kejenakaan dirinya. Kejenakaan yang mendorong dia menyanggupi menjadi duta Rama dan menyusup ke Alengka dan bersua dengan Sinta. Kejenakaan yang dengan santainya setelah tertangkap Raden Indrajit dan akan dibakar justru malah lari-lari membakar Keraton Alengka (lakon Anoman Obong selalu jadi favorit saya, dalam imajinasi dari buku dan sendratari). Selain itu, Anoman juga dikisahkan kera yang sakti. Selain bisa terbang, Anoman berumur lama karena usianya merentang dari Ramayana hingga Mahabharata hingga kelak bertemu dengan saudara Bayu-nya: Bima.

Hal-hal imajinatif, seperti kemampuan terbang Anoman dan Gatutkaca, atau kemampuan memanah Arjuna yang legendaris, atau ketangkasan Bhisma yang termashyur atau kekuatan otot Bima dengan gada-nya adalah hal yang menarik hati pria dan membawa imajinasi mereka ke awang-awang. Mungkin para kuli, babu, jongos pria Jawa era kolonial sempat berimajinasi dalam pementasan bahwa mereka juga salah satu lakon ksatria dalam kisah. Yah, hiburan setelah kehidupan sehari-hari mereka yang melelahkan dan siklus hidup yang begitu-begitu aja : menunduk-menjongkok-jongkok, disuruh-suruh, dibentak, dihukum, dll.

Salah satu yang disayangkan dan menjadi ganjalan bagi saya adalah peran wanita. Praktis lakon wanita yang berpengaruh dalam arti positif hanyalah Srikandi dan jiwa yang “merasukinya” : Amba. Di luar itu, wanita hanya menjadi suatu objek, objek perebutan menjadi garwa, objek pendamping semata tanpa fungsi yang menentukan, objek yang tidak bisa menentukan apa-apa kecuali trimo akan nasibnya tanpa mengeluh (hal yang juga “dikuasai” wanita Jawa zaman dulu). Terkadang hal ini tampak tak adil di mata saya (sewaktu kecil), walau akhirnya saya belajar memang begitulah struktur sosial di masa itu. Struktur yang merendahkan status wanita, kasta paria dan bangsa Dravida. Sudah mirip dengan situasi kolonial di Jawa (bedanya poligami hal yang biasa juga untuk raja-raja Jawa, tetapi tak akan pernah ada sejarah poliandri semacam Drupadi yang menikahi kelima Pandawa). Satu hal positif tapi mempunyai artian sosial yang salah adalah : wanita dituntut harus setia kepada pria, dan khususnya nahkoda bahtera kehidupannya. Setia, sampai-sampai wanita dituntut pengertian dan bersuka rela diri untuk masuk dalam api pembakaran suaminya yang meninggal, sesuai dengan adat di India yang menolak janda (yang masih dilakukan orang Hindu India hingga abad 20 awal).

Lakon wayang yang merentang dari Arjunasasrabahu, Ramayana hingga Mahabharatadi balik kejayaan dan keagungannya tampak ada suatu yang luhur yang ingin disampaikan. Salah satunya (dari benar-benar sekian banyak pelajaran dari karya sastra yang kompleks ini) bahwa tak ada manusia sempurna. Tak ada manusia yang suci tanpa noda. Apa yang dijabarkan dalam kisah dengan kesaktian para protagonis, para protagonis juga ditampakkan selalu mempunyai dosa, walau agak tersembunyi, seperti sengaja untuk menciptakan makna berlapis.

Kebenaran Ramayana

Hasil gambar untuk bayangan wayang kulit pandawa

Dalam kisah Ramayana, apakah Rama merupakan sosok ksatria yang terhormat? Apakah cintanya yang luhur kepada Sinta merupakan sesuatu yang patut dipuji, seperti Romeo? Cerita alternatif mengesampingkan hal itu. Pada kenyataannya, Rama adalah seorang Aryan, dan Rahwana adalah seorang Dravida di Alengka. Ada benturan rasial dalam kisah ini. Rahwana yang Dravida mempunyai pemujaan cinta yang luhur pula terhadap Sinta. Dan faktanya, dalam kisah alternatif dan versi umumnya, Rahwana tidak pernah sekalipun menyentuh Sinta secara berlebihan. Sejak penculikan yang penuh kelicikan (versi umum), Sinta terus menunggu dengan cemas dan sabar. Diceritakan dirinya bingung kenapa Rama belum menjemput jua. Dirinya penuh kekalutan.

Cerita alternatif berpendapat, tingkah Rama sungguh tidak menunjukkan jiwa gentleman. Jika ingin menyelesaikan secara man to man, Rama datang sendiri dan mengajak berduel. Bukan dengan justru mencari bantuan, terlebih meminta bantuan kerajaan kera Kiskenda, Subali, dan Sugriwa. Hal ini justru berlarut-larut dan menimbulkan kehancuran, kerusakan dan nyawa yang melayang. Apakah Rama sebagai perantaraan Wisnu harus menciptakan perang antara kera dan tentara Alengka hanya demi kepentingan dirinya merebut kekasihnya? Apakah diperlukan menyingkirkan sifat angkara dari dunia dengan jalan itu? Apakah tentara Alengka yang hanya merupakan tumbal dan suruhan raja-nya juga perlambang dari angkara? Apakah bangsa Dravida yang berkulit hitam semua berwatak buruk? Apakah memang Rahwana ini berwatak angkara? Terlalu banyak pertanyaan timbul bagi pemaknaan alternatif ini. Jujur, mpu Walmiki seperti memiliki agenda politis dalam menulis karyanya. Bangsa Dravida, penduduk asli India yang terusir ke selatan hingga Sri Langka (ya, Alengka adalah nama kunonya) oleh serbuan bangsa Indo-Arya, memang nampak sengaja difitnah dan dicitrakan buruk.

Mungkin Rahwana memang buruk. Buruk rupanya mungkin, digambarkan seperti buto-raksasa. Sifat angkara digambarkan dengan ketidakpuasannya untuk memperoleh bidadari yang cantik yang bisa diperistri. Dan yang paling parah, kesaktiannya saat ber-titiwikrama menjadi super-raksasa dan berkepala sepuluh. Tampak buruk tapi sekaligus tak terkalahkan, dan versi umum menyiratkan Rahwana sadar akan hal ini. Dengan mudah Rahwana bisa akan mengobrak-abrik khayangan, dan para bathara pun gentar dibuatnya (lucu sekali para bathara ini bisa diusik dalam khayangan mereka. Tapi ini juga salah para bathara (pandangan hemat saya) yang terlalu mengendalikan dunia dengan sukma-sukma mereka yang menjelma dan kadang menjagoi anak jelmaannya sendiri-sendiri. Hampir sama dalam Illiad dimana dewa-dewa Yunani turut campur tangan dalam perang Troy. Tapi bedanya Olympus diceritakan tak akan tersentuh, sedangkan Mahameru bisa akan diserbu oleh Rahwana). Tapi, perlahan saya memaknai bahwa perlambangan angkara dalam Rahwana begitu luar biasa hiperbola, bahkan lebih daripada antagonis dalam Mahabharata (Duryudana dengan kurawa-nya), yang memang dasar politis terasa lebih melatarbelakangi kisah-kisah ini (dengan fakta Kurawa masihlah bangsa Aryan).

Seburuk-buruknya Rahwana, dalam kisah alternatif Sinta perlahan dalam masa penculikannya konon belajar untuk memaklumi Rahwana. Meskipun sampai akhir dirinya tak tersentuh Rahwana, Sinta tetap memiliki simpati terhadap Rahwana dan kepedihannya. Dikisahkan pula, Sinta merasa sangat sedih dan kecewa karena sikap Rama setelah Rahwana dikalahkan. Rama tidak percaya begitu saja akan kesetiaan Sinta dan kejujuran Sinta bahwa dia tidak dinodai oleh Rahwana. Dia meminta Sinta untuk membakar dirinya, dan jika dia jujur, para dewata akan menyelamatkan Sinta sehingga tidak terbakar (lakon Sinta Pati Obong). Jika cintanya tulus, apakah Rama memerlukan pembuktian berlebihan semacam itu sebagai ksatria?

Kegamblangan Mahabharata

Gambar terkait

Berbeda dengan Ramayana, Mahabharata sangat jelas tersurat bahwa tidak ada manusia sempurna. Manusia bisa memilih untuk berpihak lebih kepada angkara, seperti Kurawa, atau memilih seperti Pandawa. Tetapi, Mahabharata memiliki satu pesan lagi yang terkait dengan ketidakmungkin sempurnaan manusia biasa : bahwa segala tindak tanduk kita harus dipertanggung jawabkan kepada alam. Atau bisa diringkas saja dalam satu kata : karma.

Karma akan selalu mengiringi kehidupan manusia, seperti bayangan yang tak akan bisa lepas dan melekat kepada diri kita. Setiap lakon berbudi mempunyai paling tidak setitik keburukan. Setiap lakon antagonis memiliki kebaikan murni dalam diri mereka, meskipun hanya setitik yang terlihat.

Dewabrata, seorang ksatria bagus, sakti dan luhur saja memiliki dosa. Dewabrata yang berkorban untuk ayahnya dan tidak menghendaki dirinya menjadi raja, agar Santanu bisa menikah dengan Satyawati. Dewabrata yang bersumpah  urip wadat(selibat) karena calon ibu tirinya, Satyawati, sudah bersumpah tak akan dipinang kalau anaknya tidak menjadi raja, dan Bathara Narada sendiri turun karena sumpah pengorbanan yang termasuk dahsyat ini dan menganugrahkan nama Bhisma. Tetapi perbuatan luhur ini juga tak lepas dari setitik dosa. Selepas sayembara di Kerajaan Kasi dan memenangkan Ambika dan Ambalika, Dewabrata menyerahkan keduanya kepada adik tirinya, Citrawirya. Tetapi, Dewabrata menghancurkan hidup sang putri sulung : Amba. Amba yang dikembalikan ke Kasi karena ternyata sudah bertunangan dengan Salwa, tetapi Salwa menolak karena malu sudah dikalahkan dalam sayembara. Dewabrata pun menolak karena sumpahnya terdahulu. Terkatung-katung, Amba merasa hancur dan dalam beberapa versi Amba menjadi dendam (dan versi lain mengatakan tetapi cinta pula) kepada Dewabrata. Semedi Amba agar Dewata mengabulkan keinginannya untuk menjadi orang yang membunuh Dewabrata. Semedi yang kuat membuat terkabulnya keinginan ini, dan rohnya merasuk dalam raga Srikandi yang kelak membunuh Bhisma dalam tegalKurusetra. Karma. Dosa menghancurkan hati wanita karena keteguhan hati akan sumpah yang berakibat ajal.

Kegamblangan Mahabharata sangat jelas dalam ending dari kisah ini. Dikisahkan para Pandawa kecuali Yudhistira, mendapat siksaan dari Dewata, namun para Kurawa justru bersenang-senang dalam Surgaloka. Bukankah Pandawa adalah figur protagonis? Ini jelas, karena Pandawa pun tidak lepas dari dosa mereka masing-masing.

Drupadi. Pendamping setia dari kelima ksatria, yang selalu mendampingi Pandawa dalam kesusahan. Ketika Pandawa dibuang selama tiga belas tahun selepas kalah permainan dadu, Drupadi turut. Ketika Pandawa ingin bertapa dan naik puncak Mahameru, Drupadi pula menyertai. Tapi Drupadi pun mempunyai sifat angkara. Dalam hatinya timbul rasa serakah dan menginginkan Arjuna hanya untuknya. Drupadi juga mempunyai kebuasan dalam dirinya. Drupadi bersumpah, sumpah yang paling dahsyat, dan diikuti pula dengan Bima. Drupadi tak akan menyanggul, sebelum bisa keramas dengan darah dari Duryudana, yang diikuti Bima sebelum mati akan menghirup darah Duryudana dan menginjak-injak kepalanya

Nakula Sadewa. Putra kembar. Jagoan pedang yang secepat kilat. Namun, diam-diam memiliki jiwa sombong dalam diri masing-masing. Merasa paling cakap dalam pedang, paling elok dan paling pintar di antara keempat saudara lainnya. Keduanya terikat saling membelakangi dalam api siksaan.

Arjuna. Penengah Pandawa. Jago panah, hanya bisa ditandingi oleh Bhisma, Bambang Ekalaya dan Karna. Sama seperti adik tirinya, Arjuna merasa sombong dengan kemampuannya. Kelemahan Arjuna juga ialah Arjuna mudah tertarik dengan kecantikan wanita. Hampir bisa dikatakan seperti buaya darat. Pada suatu waktu, kelemahan Arjuna berakibat buruk. Ketika bertapa, dirinya terganggu dengan Dewi Anggraeni yang meminta pertolongan setelah diserang Buto. Sebagai balasannya, Arjuna menginginkan Dewi Anggraeni, padahal sang dewi sudah bersuamikan Bambang Ekalaya. Kejadian tak senonoh ini menimbulkan peperangan. Demi menghindari kerusakan lebih lanjut, Bambang Ekalaya menantang duel man to man dengan Arjuna. Karma menghantui Arjuna, Arjuna kalah duel dan tewas dalam duel tersebut (walau kemudian dibangkitkan kembali oleh Kresna).

Bima. Putra Bathara Bayu dan sang gajah Pandawa. Kekuataan ototnya benar-benar tak tertandingi. Kerap kali Bima bertarung dengan jujur, tanpa menggunakan senjata. Hanya di waktu tertentu dia mengeluarkan gada-nya yang sangat dikuasai Bima. Tapi, seperti kutukan, Bima juga sombong dengan kekuatan tubuhnya. Dalam api siksaan, Bima dirantai kuat-kuat agar tidak terlepas.

Terakhir, sang raja Hastinapura : Prabu Semiaji, Yudhistira. Dalam hidupnya, Yudhistira adalah seorang yang suci, bijak, berbudi luhur, tak pernah berbohong. Dalam ending pula, Yudhistira satu-satunya yang tidak menerima siksaan, dan hanya terpekur melihat saudaranya. Sang Prabu yang lemah lembut,  tidak mau mengangkat senjata, dan tak pernah turun berperang. Meskipun suci, sang prabu juga mempunyai satu dosa kecil. Dikisahkan setiap kereta yang ditumpangi Yudhistira akan selalu mengambang di atas tanah karena kejujurannya. Hanya satu kali, dia sedikit membohongi guru yang menjadi lawannya, Dorna, karena kesaktian sang guru akan memperlama jalannya Barathayudha. Dengan reputasinya, Pandawa meminta Yudhistira untuk menjawab “ya” jika ditanya sang begawan “Apakah anakku, Aswatama meninggal?” Padahal yang dibunuh oleh Bima adalah seekor gajah dengan nama Aswatama. Yudhistira sendiri meneruskan jawabannya hanya dengan berkata lirih: “Aswatama yang gajah.” Kereta Yudhistira pun menapak tanah karena satu dusta fatal ini.

.

Lakon  protagonis tidak menjamin dirinya adalah benar, suci dan tak mempunyai sifat-sifat angkara. Tak ada kebajikan itu putih sempurna. Tak ada angkara hitam gelap tanpa titik terang. Namun, kita bisa memilih untuk berusaha di jalur kebajikan, penuh cinta kasih dan menghindari segala angkara –sebisa mungkin-.

Berkaitan dengan sifat angkara, besar-kecil angkara harus dipertanggungjawabkan kembali. Sumpah dan karma mewarnai dunia perwayangan. Yang satu bersumpah demikian, untuk kembali sebagai karma karena kesalahan yang disumpahkan. Memang, ini tampak seperti bengis, agak biadab, karena salah satu pelajaran mengenai cinta kasih yang saya terima adalah : barangsiapa yang menampar pipi kananmu, maka berikanlah pipi kirimu.  Tapi, pemaknaan sumpah dan karma ini berbeda bagi saya, dimana karma ini adalah bentuk keseimbangan dunia akan terwujud, Sang Hyang Widi akan selalu membalas, segala yang baik maupun buruk perbuatan kita. Maka, jauhilah angkara, tebarkanlah cinta kasih, dan hiduplah dalam damai karena hidup di dunia ini maksimal hanya satu abad lebih sedikit.

nb: ada perbedaan versi wayang, antara asli saduran India dan versi wayang raja purwa (versi mataram). Masing2 punya kelebihan dan kekurangan, tetapi menurut saya lebih manusiawi dan beradab versi raja purwa.

sumber gambar : pribadi, penahitam.blogspot, cahyawisnuardi.wordpress