bayflicks.net

Sudah menjadi ihwal yang wajar bagi kita apabila banyak manusia yang akhirnya berpasangan dalam hidupnya, entah karena tujuan tertentu, adanya suatu kebutuhan, keinginan yang tidak bisa dijelaskan, atau sekadar menghindari tekanan sosial. Bahkan sejak remaja kita telah mengenal pacaran (dating ataupun courtship) yang biasa dilakukan karena rasa penasaran untuk berpasangan. Untuk tahap yang lebih serius, hal ini bahkan perlu diresmikan oleh undang-undang maupun agama dalam suatu ikatan pernikahan.

Tapi toh, tanpa sadar orang-orang mengikuti standar tertentu dalam berpasangan.

Sampai saat ini kita paling sering menyaksikan pasangan terdiri dari dua manusia dengan jenis kelamin yang berbeda dan perbedaan umur yang tak terlalu jauh (sekitar 5 tahun). Rata-rata pasangan di dunia ini memiliki perbedaan umur sekitar 2,3 tahun dengan pasangan laki-laki lebih tua dari pasangan perempuan sebesar 64%, pasangan perempuan lebih tua sebesar 23%, dan pasangan seumuran (perbedaan usia tidak sampai 12 bulan) sebesar 13%.

Bayangkan betapa anehnya masyarakat memandang pasangan dengan perbedaan umur melampaui 15 tahun (walaupun terkadang akhirnya dianggap wajar juga). Begitupun dengan perempuan yang berpasangan dengan lelaki yang jauh lebih muda, hal ini dianggap lebih aneh dari lelaki yang berpasangan dengan perempuan yang jauh lebih mudah. Jika memang belum pernah menyaksikannya, mungkin film Harold and Maude bisa menjadi referensi yang bagus untuk persepsi kita.

Jika kita memang ingin beriman kepada data dan statistik, menikah dengan perbedaan usia yang tidak terlalu jauh sebenarnya adalah hal yang aman. Sebuah penelitian di Emory University menyatakan bahwa perbedaan usia pernikahan yang besar meningkatkan kemungkinan perceraian juga. Pasangan dengan perbedaan usia lima tahun memiliki kemungkinan perceraian sebesar 18%. Pasangan dengan perbedaan usia sepuluh tahun memiliki resiko perceraian yang lebih besar, yaitu 39%, dan meningkat jauh pada pasangan dengan beda usia 20 tahun sebesar 95%. Entah hal ini sebenarnya disebabkan oleh faktor kecocokan yang meningkat ketika kita berpasangan dengan orang yang memiliki usia tidak terpaut jauh, berpasangan dengan orang yang seumuran adalah hal yang bisa dimaklumi.

Di sisi lain, masih menjadi pertanyaan bagi kita mengapa kebanyakan pasangan terdiri atas lelaki yang lebih tua dari perempuan. Apakah hal-hal bersifat patriarkis yang menjadi penyebabnya? atauka memang ada hal tanpa alasan yang dibiasakan selama berabad-abad?

Tapi toh akhir-akhir ini mulai muncul tokoh-tokoh terkenal dengan struktur pasangan lelaki lebih muda dari perempuan. Setidaknya hal ini mulai membuat pasangan seperti ini dianggap wajar oleh masyarakat.

Tidak berhenti sampai situ, kita juga masih sering beranggapan bahwa manusia yang berpasangan selalu terdiri atas dua orang yang berbeda kelamin, walaupun hal ini wajar karena banyak orang yang meyakini bahwa tujuan berpasangan adalah untuk menghasilkan keturunan biologis yang biasa kita sebut sebagai buah hati. Pandangan ini membuat kita sering merasa aneh ketika ada pasangan terdiri atas dua orang dengan gender yang sama, sebut saja homoseksual. Kebanyakan agama pun tidak secara eksplisit membolehkan hubungan seperti ini, maka tak heran bila pasangan sesama jenis sering mendapat kecaman.

Tak heran jika belakangan ini banyak diadakan kampanye untuk mentolerir orang-orang yang memiliki kecenderungan berbeda dengan pandangan masyarakat. Mulai banyak film, musik, tontonan, maupun bacaan yang secara implisit atau eksplisit memuat bahasan ini entah demi mendukung kampanye ini maupun hanya ketidak sengajaan. Bahkan beberapa negara mulai melegalkan pernikahan sesama jenis. Bahasan mengenai LGBT (walaupun sebenarnya topik ini lebih luas dari apa yang sedang saya bahas) menjadi pembicaraan yang santer, dan perlahan orang-orang mulai memikirkan kewajaran hal ini.

Hal ini yang membuat kita harusnya mulai berpikir bahwa berpasangan sebenarnya tidak berupa ikatan antara lelaki dan perempuan saja. Masih banyak kemungkinan lain yang bisa dilakukan manusia, entah hal itu sesuai atau bertentangan dengan aturan yang ada.

Bahkan kita sering lupa bahwa berpasangan bukan hanya ikatan dari dua insan saja. Tidak sedikit orang-orang yang melakukan poligami maupun poliandri. Sayangnya poligami tak mendapat kampanye sehebat LGBT, entah karena alasan apa.

Pernikahan yang melibatkan lebih dari dua orang masih sering kita anggap sebagai hal yang tabu, walaupun sebenarnya tidak semua institusi melarangnya. Bahkan pasangan poligami ataupu poliandri masih sering mendapat cibiran tanpa alasan walaupun mereka hidup tanpa masalah. Bukannya wajar jika kampanye untuk mentolerir hal ini perlu digalakkan selama pernikahan dengan banyak orang tersebut bukanlah sebuah penindasan?

Akhirnya toh kita masih sering terkungkung oleh sempitnya pandangan kita mengenai bagaimana manusia berpasangan. Kita bahkan belum benar-benar mewajarkan manusia yang ingin berpasangan dengan hewan, tumbuhan, benda-benda mati, atau bahkan semesta. Sebenarnya dengan kebebasan berkehendak kita di luar aturan-aturan yang secara semu membelenggu kita, kita dapat berpasangan dengan siapapun, bahkan apapun, dalam jumlah berapapun.

Mungkin terlalu banyaknya kemungkinan tentang bagaimana manusia berpasanganlah yang membuat kita menyempitkannya sendiri dan menjadikannya sebuah standar yang secara tidak sadar kita patuhi bersama.

Dengan begitu bukankah lebih baik bagi kita untuk lebih menerima bagaimana orang lain mau berpasangan, entah hal itu berbeda dengan standar kita atau tidak.

Jika berlawanan? itu ihwal yang lain lagi, hahahahaha

Ditulis oleh Renanda Yafi Atolah