Ternyata gak terasa banget setelah Mas Garry kepilih jadi K3M,  sekarang udah mau ada pemilihan K3M yang baru aja. Wah, ini aja masih berapa bulan periode kemaren ngurusin KM, sekarang udah saatnya buat ganti lagi. Males juga sih, udah harus nyoblos lagi, mikirin siapa yang enaknya mimpin mahasiswa-mahasiswa kampus gajah. Kayanya para penyelenggara ini bener-bener gak tahu betapa banyaknya tenaga dan waktu yang harus disiapkan untuk nyoblos. Nyoblos itu bikin capek, euy!

Eh, tapi jangan-jangan malah gak ada yang pernah mikirin atau gak ada yang tahu kalau abis ini ada pemira. Paling juga cuman hasil survey yang bikin placebo ke penyelenggara biar mereka ngerasa kalau rakyat kampus ini pada tau dan pengen partisipasi sama hura-hura terbesar dari sistem demokrasi. Wah, sebenarnya ga apa kok kalau kenyataannya emang begitu, seenggaknya orang-orang yang terlibat di foya-foya demokrasi ini masih punya semangat untuk bermain dengan ribuan masa mengambang di kampusnya si gajah.          

Para calon pemegang kekuasaan jangan takut dong. Tenang aja, mau tau ataupun gak tau, rakyat kampus gajah gak akan terlihat sangat apatis kok. Mereka pasti punya topeng kok buat menutupi wajah-wajah apatis, seenggaknya biar klan-klan mereka enggak malu kalau massanya pada ngilang dan nggak partisipatif. Sekedar tanya-tanya sok kritis dan sok peduli teknis juga cukup kok, sekalian biar wajah rakyat-rakyat ini sering ngeksis di depan kalian, para calon pemimpin, Tapi gak ada jaminan juga bahwa nantinya orang-orang kritis teknis ini bakal membantu kalian atau enggak. Untung-untung kalau nanti bukannya membantu, tapi malah terus-terusan jadi oposisi, seenggaknya kalian masih bisa merasa diperhatikan. Kalau ternyata pada gak peduli? oh, ga apa sih, mungkin kalian nantinya bakal senang karena yang protes juga dikit, program-program kalian bakal berjalan tanpa kritik, dan kalau ada hal yang kalian janjikan di kampanye tapi gak dilaksanakan juga gak akan ada yang ingat.          

Atau ternyata orang-orang ini nanti pada takut kalau jumlah pemilih kurang dari harapan pemira nanti bakal gagal? Ooh, tenang saja rakyat-rakyat kita sekarang semakin cerdas. Mereka pasti mau memberikan tenaganya buat sekedar tanda tangan lembar dukungan atau sok-sokan nyoblos orang-orang popular di kertas suara. Katanya capek, tapi kok masih mau aja, ya? pasti pada mau dong, kalo nanti mereka males dan bikin pemira ini gagal, nanti bakal ada  lanjutannya lagi yang bikin mereka harus kerja dua kali. Seenggaknya bersikap sedikit peduli di tengah ketidak jelasan ini bisa bikin rakyat kita merasa bahagia.          

Lhoh, tapi para penyelenggara jangan kecewa dong. Kalau misal foya-foya demokrasi yang kalian buat terlalu niat, nanti kalian malah kalian menyesal lho. Sudah jelas rakyat ganesha ini adalah manusia-manusia anarkis yang cerdas, mereka gak butuh pemerintahan ataupun orang-orang yang ngurusin mereka dengan segala tetek bengek peraturan yang biasa dikaji dari malam sampai pagi, kalaupun ada itu pasti cuman sebuah pemanis biar para pejabat kemahasiswaan bisa bangga dengan hasil kerjanya. Rakyat-rakyat kampus gajah ini sudah jelas bisa bikin anarkisme terselubung yang sangat kuat tanpa harus sok-sokan bikin revolusi atau menggulingkan kekuasaan KM ITB? Buat apa bikin usaha segitu ribetnya kalau ternyata anarkisme bisa terjadi di balik sebuah pemerintahan.


Omong-omong soal anarki, nanti para pejabat kemahasiswaan pada protes nih “yah, rakyat mahasiswa ini pasti kalang kabut kalau gak ada kita”. Eit, jangan sombong begitu kalian. Seperti paragraf-paragraf di atas, rakyat ini patuh juga cuman buat jadi placebo atas kekuasaan kalian. Mereka sudah menjadi masyarakat anarkis yang sangat dewasa. Emang seperti apa sih masyarakat anarkis? Pastinya bukan anarki seperti kata media massa yang dipadankan dengan kata kekerasan dan vandal. Anarki di sini adalah keadaan di mana masyarakat bisa hidup secara bahagia tanpa diikat negara, pemerintah, ataupun peraturan tertulis yang mengekang.

“Utopis banget itu!”, satu gajah tiba-tiba berteriak. Lah, kalian masih gak percaya kalau rakyat kampus ini sudah mencapai keadaan anarkis? Kalau  mereka  memang butuh pemerintah, aturan, dan segala tetek bengeknya, kenapa sekarang banyak yang gak tahu keadaan kalian dan mereka tetap bisa hidup dengan tenang? Betapa mandirinya rakyat kandang gajah ini. Coba deh tanya satu persatu tentang keadaan kalian ke mereka, entah tentang coblos-coblosan yang dalam satu tahun udah mau dua kali dilaksanakan atau tentang tetek bengek kemahasiswaan yang kalian kaji sampai kurang tidur, kalaupun tidak tahu tentang itu semua, kehidupan mereka sampai saat ini juga baik-baik saja tanpa ada masalah. Benar-benar sebuah anarkisme yang mandiri di bawah sebuah government yang semu!

Sekarang kita bicarakan tentang peraturan-peraturan yang kalian buat atau yang dibuat oleh dewa-dewa kalian. Memang sekarang kehidupan di kandang gajah ini berjalan lancar dan bahagia seakan semua rakyatnya mematuhi segala peraturan dan “kode etik” yang telah dibuat. Tapi coba tanya saja satu persatu kepada rakyat, apakah mereka berlaku baik tersebut karena patuh pada aturan yang telah dibuat atau ternyata malah mengikuti common sense masing-masing? eh, terlalu jauh nih kalau misal tanya hal itu, tanya saja apakah orang-orang ini benar-benar tahu tentang aturan dan “kode etik” itu? kalau ternyata mereka belum tahu tetapi sudah melaksanakannya, berarti rakyat kita memang sudah sepenuh orang-orang anarkis yang dewasa dan tidak perlu government beserta aturan tertulis dari para pejabat kemahasiswaan.

Gimana? dengan fakta ini saja seharusnya penyelenggara sudah tahu dengan keadaan ini bahwa mereka tidak perlu capek-capek, ribet, dan mengeluarkan banyak tenaga untuk menghasilkan pemira yang terlihat keren dan populis. Sepertinya keputusan penyelenggara periode ini untuk menciptakan foya-foya demokrasi yang terkesan underground adalah sebuah keputusan yang sangat bijak. Betapa pengertiannya mereka terhadap keadaan rakyat yang sudah dewasa, mandiri, dan anarkis. Enak juga kan? tidak usah banyak-banyak buang tenaga, tapi kebahagiaan di kampus gajah sudah bisa tercipta.          

Pada akhirnya kita semua bisa berbahagia dengan semua kabar ini. Ternyata kita sudah berada pada sebuah keadaan yang biasa dianggap utopis oleh orang-orang. Walaupun masih ada pemerintah yang merasa berkuasa, kita sudah menciptakan keadaan anarkis di kampus gajah. Tapi para pejabat kampus gajah tidak perlu kecewa dengan kondisi ini, para rakyat yang anarkis ini juga tetap pura-pura peduli dan berusaha agar sistem yang sudah susah-susah kalian buat bisa tetap berjalan kok. Mereka juga mengerti kok kalau para pejabat kemahasiswaan pasti butuh kedudukan supaya nanti CV-nya gak kosongan, susah-susah hidup di kampus gajah kok CV-nya sepi dan gak keren? malu dong, hehehe.

Betapa hebatnya kandang gajah ini, layak saja orang-orang menyebutnya sebagai kandang terbaik yang perlu diperjuangkan untuk memasukinya. Bagaimana tidak? Rakyatnya yang sudah menciptakan anarkisme ideal  saja masih punya pengertian terhadap orang-orang yang juga ingin jadi government, hal ini pun terjadi tanpa ada masalah yang berarti. Benar-benar sebuah simbiosis mutualisme yang sempurna!

Ditulis oleh Renanda Yafi Atolah