Pundung dalam bahasa Sunda artinya ngambek, atau mutung dalam bahasa Jawa. Nah bukan berarti Sungai Cikapundung juga memiliki arti yang sama karena dalam bahasa tentu saja ada homonim, homofon dan homo-homo lainnya.

Dalam suatu narasi kehidupan di kota, entah mengapa terdapat sekrup kecil dalam mesin yang selalu menyala bernama: toko barang antik. Dalam segala kemajuan dan modernisasi hidup perkotaan yang selalu menuntut tiap warganya untuk hidup efektif laiknya robot, tak bisa dinafikan keberadaan orang-orang bohemian yang selalu asik kongkow-kongkow dan menertawakan kehidupan, yang pada umumnya ditemani kopi dan rokok (hal yang kemudian ditiru anak-anak senja folk).

Saya tidak tahu bagaimana dan kapan toko barang antik bermula. Untuk kata tanya mengapa mungkin lebih mudah dicari jawabannya. Yang pasti, kota-kota Eropa dan negara lain di dunia memilikinya, begitupula kita. Klitikan untuk Jogja misalnya. Kawasan Jalan Garuda di kota lama Semarang. Dan tentu saja Bandung dengan Pasar Cikapundungnya (meskipun begitu terdapat beberapa tempat lain seperti Garasi Opa yang bersebelahan dengan Kineruku, Pasar Batununggal, dan Pasar Cihapit. Oh dan ada juga satu kios di Jalan Braga. Namun, Cikapundung menjadi fokus karena pasar ini yang sudah saya kunjungi berkali-kali).

IMG_20180728_163558
Salah satu kios di Jalan Garuda
IMG_20180728_163536
Penjaja Lukisan

Pasar Barang Antik ini menjadi semacam oase, tapi lebih mirip pulau harta karun, di tengah hiruk pikuk kota, bagi bajak laut seperti saya. Kau tak akan pernah tahu benda seperti apa yang bisa kau temukan di tengah-tengah tumpukan benda-benda nostalgia masa lampau. Mulai dari ukuran besar macam mesin arkade game, kulkas periode awal, sepeda, tv lawas, almanak, telepon putar, kamera analog, gramophone, piringan hitam, walkman, lemari antik,  hingga game boy, perangko, uang lama, berbagai seragam dan aksesoris militer berbagai negara, coca cola edisi Piala Dunia 2006 beserta isinya, orgel, organ, kloset duduk model lama, topi bajak laut, topi khas rusia, revolver, katana, mesin tik, lencana, jam weker, belati dan masih banyak lagi benda-benda aneh bin ajaib, kalau saya sebutkan semua bisa jadi tesis nanti.

Saya kagum dengan pedagang-pedagang ini, karena mereka benar-benar berperilaku bebas layaknya bohemian sejati. Dan kebanyakan manusianya ramah. Beberapa manusia memiliki karakteristik yang seantik barang pamerannya. Ya, pameran, karena alih-alih berdagang, saya lebih menangkap aura para pedagang memamerkan hasil berburu keluar masuk pedalaman. Para pedagang selalu santai, atau lebih tepatnya maklum, apabila mahasiswa kere seperti saya lebih sering hanya melihat, mencoba barang-barang aneh dan kemudian mengembalikan lagi setelah memuaskan hasrat keingintahuan. Tentu saja yang menjadi incaran mereka adalah bule-bule atau kolektor dalam negeri yang tentunya biasanya menjadi pelanggan tetap pasar ini. Tapi, itu juga lumayan jarang, jadi saya tidak bisa membayangkan berapa sebenarnya pemasukan per hari mereka. Untuk bertanya pun kok ya dirasa tidak sopan. Nah, kalau berkaitan dengan pengunjung yang dihindari, ada juga satu yang bernama Ahmad Dhani, karena utang beliau yang ratusan juta kepada para pedagang ini tak kunjung dibayar dan bahkan para pedagang sampai merayakan ultah utang kedua dengan membeli roti tart. Ah, sudah bukan seniman musisi namanya kalau seperti itu.

Jiwa bebas pedagang ini tercermin dalam suka-suka mereka membuka dan menutup kios. Jam pasar adalah jam sebelas siang hingga sembilan malam. Antara rentang itu, para pedagang hanya membuka jika ingin saja. Jadi memang beberapa ada yang membuka toko sebagai sambilan, atau hobi katakanlah. Bahkan ada juga salah satu pemilik kios yang merupakan alumni FSRD tahun 80an, yang memang membuka ketika hari-hari tertentu dimana dia tidak mengajar. Perawakannya mirip-mirip dengan Sudjiwo Tedjo lah.

Hanya satu frasa yang dirasa tepat untuk tempat ini: Wonder Boven Wonder. Memang aneh bin ajaib sungguh pasar barang antik. Tak lekang oleh usia, hidup dengan bebas tanpa terikat.

IMG_20180916_114412
Lokasi dilihat dari pertemuan Jalan ABC dan Jalan Cikapundung Barat
IMG_20180916_115009
Sungai Cikapundung : Halaman belakang kampung Braga dan mall BCW
IMG_20180916_114820
Pernak-pernik
IMG_20180916_114920
Bekas arcade game
IMG_20180916_115141
Kios Musik Lawas
IMG_20180916_115254
Kios lainnya
IMG_20180916_115830
Gramophone yang agung
IMG_20180916_115843
BMW : Bukan Motor Wiasa
IMG_20180916_120053
Mainan zaman baheula
IMG_20180916_120353
Di radio aku dengar…
IMG_20180916_120452
Eta sunda atau cina? Yang jelas indonesia lah
IMG_20180916_123013
BBM zaman Bapak masih berkuasa
IMG_20180916_114809