Mempertanyakan Framing Media Tempo

Baru saja kemarin malam, Tempo menerbitkan berita lewat dunia maya yang mengagetkan civitas akademik ITB. Dalam berita yang berjudul “NU : Radikalisme Menyebar ke Kampus, Terutama Masjid Salman ITB,” agaknya saya sedikit gagal paham dengan si penulis berita yang menyajikan berita tersebut dengan cara demikian.

Jujur saja, saya sedikit curiga ada sesuatu dibalik ini semua. Mengapa? Karena saya mencium kejanggalan yang ada pada berita tersebut, terutama di bagian judul berita. Saya takut masyarakat awam menyalah artikan isi berita tersebut. Karena, secara tidak sadar pikiran pembaca dimanipulasi oleh suatu trik media, yang bernama framing.

Bagi yang kurang familiar dengan istilah framing, framing media adalah suatu tindakan pemilik media menyajikan berita dengan suatu bingkai, sehingga hanya bagian tertentu yang menonjol, dan bagian lain dikesampingkan dengan maksud dan tujuan tertentu.

Tempo, dalam berita tersebut jelas sekali menggunakan trik framing untuk suatu tujuan, entah apa. Tak percaya?

Pertama, bila orang awam membaca judul berita tersebut pasti bayangan pertama/first impression pembaca tentang berita itu akan mengarah kepada “wah kampus udah radikal nih, TERUTAMA ITB”. Judul berita ini bagi saya bisa berpengaruh kepada aspek psikologis pembaca, dan secara tidak langsung akan tertanam dalam diri pembaca bahwa “masjid salman itb = radikal”. Hal itu berbahaya sekali bagi kalangan orang awam yang malas membaca berita sampai selesai, informasi terbatas yang mereka tangkap akan langsung menimbulkan kesimpulan yang melabeli masjid salman itb radikal.

Padahal, bila kita pahami berita tersebut secara keseluruhan, kesimpulan sementara tersebut akan berubah. Inilah alasan kedua saya, menurut saya isi berita itu nggak nyambung sama-sekali dengan judulnya. Bila kita amati secara seksama dan kita analisis konten beritanya, sebenarnya judul beritanya kurang tepat menggambarkan keseluruhan isi berita. Bahkan anak SMP pun seharusnya tahu, kalau kita analisis berita tersebut dengan 5W + 1H, lalu kita cari pokok-pokok tiap paragraf dan kita rangkum berita tersebut, akan menghasilkan data acara yang kurang lebih demikian

What : Ada acara peluncuran pusat komando dan kartu pintar nusantara, di pidatonya ketua PBNU menyampaikan radikalisme menyebar di kampus

Where : Di Jakarta

When : Senin, 22 Mei 2017

Who : Yang hadir Ketua Umum PBNU, PLT Gubernur DKI Jakarta, Menkominfo, Presiden Direktur XL. Narasumber Ketua Umum PBNU

Why : Karena radikalisme sudah meluas di masyarakat (?)

How : entah

Lalu dari situ, sebenarnya bisa kita tarik kesimpulan bahwa secara umum ada acara peresmian di Jakarta tgl 22 Mei yang dihadiri orang penting. Lalu dalam peresmian tersebut, Ketua Umum PBNU berbicara, yang isinya seperti diberitakan.

Oke, itu gambaran keseluruhan acaranya kan ya, sekarang pertanyaannya kenapa dengan konten berita itu, judulnya nyangkut-nyangkutin masjid salman itb, bahkan kampus? Masuk akal nggak sih? Bahkan kalau saya hitung persentase penyebutan kata “ITB” itu hanya ada 3 kali. Kata “kampus” hanya ada sekali di judul. Dan anehnya, judul berita hanya dijelaskan oleh 2 paragraf pertama. Paragraf selanjutnya tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan judul berita. Coba cek kalau tidak percaya kata-kata saya.

Ketiga, koherensi foto berita dengan judul sangat jauh sekali. Judul beritanya tentang radikalisme di kampus, tapi foto beritanya tanda tangan peresmian sesuatu. Are you kidding me, Sir?

Keempat, nama NU benar-benar diangkat sebagai organisasi baik yang menjunjung tinggi Pancasila, menolak radikalisme, dan bla bla bla. Ngerti sendiri kan yah.

Dari keempat kejanggalan dalam berita tersebut, sangat wajar bagi kita semua untuk curiga, dan mempertanyakan sebenarnya ada apa sih dibalik ini semua. Dugaan ngaco saya adalah, tempo ingin membentuk opini publik, untuk kepentingan tertentu. Kepentingan apa itu? Saya tidak berani berasumsi lebih jauh lagi. Yang jelas, poin utama saya adalah jangan sampai kita semua dibodohi oleh media. Apalagi dalam masyarakat informasi sekarang ini, sudah sewajarnya kita menggunakan akal sehat untuk menyaring informasi.