Menyebut nama Munir Said Thalib berarti membahas juga sepak terjangnya dalam membela siapa saja tanpa terkecuali, tapi ini bukan berarti netral. Keberpihakannya jelas yaitu berada di sisi mereka yang lemah dan dilemahkan. Tanah pijakan Munir bukan sebatas dalam ranah hukum tapi hingga hal paling mendasar yaitu kemanusiaan. Mata Munir memandang manusia lepas dari embel-embel harta kekayaan dan pangkatnya.

Bukan sekali atau dua, Munir membela kaum buruh dan tani yang tertimpa kasus hukum. Perkara pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang Munir advokasikan, seperti penghilangan orang dan kekerasan militer terhadap warga sipil, membuat dirinya jadi sasaran penguasa yang terusik kepentingannya.

Menakjubkannya Munir, selain tentang kegigihannya, adalah ia tak dirasuki sentimen pada pihak tertentu. Film Kiri Hijau Kanan Merah menceritakan bahwa Munir juga mengajukan peningkatan taraf hidup prajurit melalui advokasi rancangan Undang-Undang Pertahanan. Maksudnya supaya para serdadu ini tidak perlu menjadi tukang pukul guna memenuhi kebutuhan keluarganya. Padahal tentara kerap menjadi pihak yang dianggap bertanggung jawab atas banyak pelanggaran HAM berat.

Namun tidak semua orang suka apa yang Munir perjuangkan. Ia mesti dibunuh di langit Eropa dalam penerbangannya menuju Amsterdam. Racun arsenik, yang terhitung mematikan karena kemampuannya mengakhiri hidup meski dalam dosis kecil, dicampurkan pada kopi yang Munir teguk. Skema pembunuhan yang begitu rapi, sekaligus kejam, untuk sosok yang menghabiskan sebagian besar umurnya memperjuangkan hak paling dasar manusia. Munir dibungkam karena ia benar, karena jika ia memang bersalah tak perlulah cara yang menjijikan ini dilakukan.

Semua yang tersisa hari ini adalah perkara pelanggaran HAM masa  lalu yang belum selesai dipecahkan, termasuk pembunuhan Munir itu sendiri. Kasus Marsinah, Talangsari, sampai pembunuhan aktivis reformasi praktis hanya menjadi endapan di benak mereka yang masih mengingatnya. Pasalnya tak ada ikhtiar serius dari pemerintah maupun penegak hukum untuk menuntaskan tumpukan masalah tersebut.

Maka selemah-lemahnya usaha yang bisa kita lakukan adalah mengabarkan pada sekeliling kita bahwa tepat di hari ini, 14 tahun Munir Said Thalib mati dibunuh. Bahwa di tanah negeri ini, pernah hidup seseseorang yang menjalankan hidupnya dengan adil, sejak dari pikiran sampai perbuatannya. Bahwa sembari mencari cara untuk menekan pemerintah dan aparat hukum, ingatan-ingatan tadi juga mesti dirawat dan disebarkan supaya kekuatan kita terus bertambah dan tumbuh pada generasi yang baru.

Jangan lupa juga menambahkan bahwa di negeri ini, tak hanya dollar, kebenaran dan keadilan juga masih mahal harganya.