“HANYA KAMPUS adalah dua kata yang apabila digabungkan menjadi mimpi terburuk, kita tak dapat membayangkan bagaimana kampus menjadi kaku dan orang-orang didalamnya menjadi robot. Hanya kampus. Tak lebih. Tanpa interaksi antar manusia di dalamnya. Tanpa sisi humanis di dalamnya...”


Saya baru saja selesai membaca kedua tulisan teman saya Renanda Atolah Yafi
dan Abdul Haris Wirabrata saat menulis catatan ini. Sedih saat selesai membaca
kedua tulisan tersebut, karena tulisan keduanya telah menyadarkan saya, bahwa
saya memang sedang ada di kampus yang sedang mereka deskripsikan... Saya
sekampus dengan mereka... Ah sial!


Entah apa lagi yang harus saya jelaskan. Rasanya sebagian besar sudah saya
jelaskan di comment status Facebook Okie Fauzi Rachman:
https://www.facebook.com/holyass/posts/1159443070740182?comment_id=1
165499870134502&reply_comment_id=1165520026799153&notif_t=mentions_comment

karena rasa heran saya akan pola pikir masyarakat secara umum, dalam
menanggapi kasus ini, LGBT


Saya mungkin tidak sehebat teman2 saya dalam menjelaskan kronologis kasus
ini atau membahas kasus ini secara ilmiah dan teoritis. Namun, sekurang-kurangnya
ilmu yang saya miliki, saya rasa, hati nurani saya masih dapat bekerja dan dapat
memandang kasus ini dengan sudut pandang lain...


Dan saya rasa, perlu menjelaskan beberapa hal kepada teman-teman akan
persoalan yang marak ini. Supaya setelah teman-teman membacanya, mungkin saja
dapat memandang dari sisi yang sama dengan saya, juga sisi pandang yang temanteman miliki sendiri atau paling tidak, “Oh begitu, cukup tau aja saya mah...”
Yah paling tidak, daripada tidak sama sekali...


Saya mungkin belum banyak mempelajari buku-buku psikologi dan berbagai
referensi lainnya untuk bisa memahami kasus ini. Namun, justru saya sedikit
memahaminya dengan menjadi bagian dari masyarakat.


Sebelum kasus ini naik, rasanya hidup berjalan biasa aja. Mengetahui bahwa terdapat “kaum minoritas” di sekitar saya, walaupun pada awalnya kaget dan canggung (mungkin juga karena sejumlah batasan dari agama yg saya anut selama ini, sehingga mempengaruhi pandangan saya terhadap “kaum minoritas” tersebut),
namun seiring berjalannya waktu, saat saya tidak memandang “perbedaan” tersebut
menjadi suatu penghalang untuk berinteraksi atau berteman, akhirnya saya dapat
memahami, “perbedaan” ini bukanlah sesuatu yang harus dihindari apalagi dimusuhi serta dihujat. Mengingat, saat berhadapan dengan “kaum minoritas” tersebut di dunia nyata, sungguh sangat berbeda dengan apa yang selama ini saya ketahui atau media dan orang-orang beritakan. Setelah membandingkan apa yang media beritakan dan apa yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari sungguh sangat berbeda, dengan sialnya saya mengumpat, “Media kurang ajar! Terlalu mendramatisir dengan memberi bumbu-bumbu yang tidak penting”


Tak berselang lama, tiba2 muncul statement dari seorang menteri, mengatakan bahwa LGBT dilarang karena mungkin saja dapat melakukan tindakan tidak senonoh di lingkungan kampus. HAH!? Semakin heran saja dengan pernyataan yang dilontarkan oleh sang mentri yang mungkin saja di amini perkataannya oleh masyarakat mayoritas atau mungkin fans-fans nya.

Apa maksud pernyataan beliau!? Menyamaratakan dan melarang kebebasan
untuk menimba ilmu?


Duh jadi pusing dibuatnya...


Lagipula, pernahkah kita melihat adegan senonoh yg dilakukan oleh “kaum minoritas” tersebut di dalam lingkungan kampus? Atau mari kita persempit lagi, pernahkah kita melihat mereka melakukan adegan tidak senonoh di kampus kita?


Rasanya tidak!


Saya belum pernah mendengar apalagi melihat hal seperti itu di lingkungan
kampus.


Dan kalaupun dugaan dari beliau hanya berupa kalimat antisipasi, “Takut-takut suatu saat beneran kejadian”, mungkin ini akan jadi lain soal. Bisa jadi hal itu terjadi ketika insan akademis sudah tidak mengedepankan norma, atau mungkin jaman memang sudah Edhan!


Namun, mari kita lihat kondisi yang ada sekarang. Ketika kita berada di kampus, rasanya hampir sebagian besar masyarakat kampus, khususnya kawula muda, mengamini norma bahwa tidak boleh melakukan tindakan senonoh di kampus dengan pasangan.


Norma ini jelas diamini oleh hampir seluruh warga kampus. Dan pada kenyataanya, jangankan mau melakukan tindakan senonoh, ketika kita melihat sepasang kekasih berpacaran terlalu mesra di area kampus saja (PDA alias Public Display of Affection), kita pasti sudah terusik, dan dengan segera mereka mendapat sanksi sosial baik berupa teguran atau lainnya.


Apalagi untuk melakukan tindakan tidak senonoh lainnya!?


Lagian, mereka yang merupakan “kaum minoritas” juga rasanya tak mungkin PDA di lingkungan kampus atau masyarakat. Kita semua tentu tahu alasannya mengapa. Karena norma di negara kita jelas sangat tidak mendukung mereka, sehingga bila mereka melakukannya tentu mereka langsung tahu dampak terburuk atas sanksi yang mereka dapat.


Dan mereka pun menaati & menghormati norma yang berlaku di masyarakat luas dengan tidak melakukannya, karena walaupun minoritas, mereka tetap bagian masyarakat Indonesia, mereka terlahir di tanah dengan norma yang beragam ini, dan walaupun mereka minoritas sekalipun, mereka tetap dan pasti akan menaatinya walau hak pribadi harus dikesampingkan.


Jadi jelas, hal ini berpeluang besar tidak mungkin terjadi.

Kehidupan yang awalnya biasa saja, kini menjadi ramai dengan berbagai pemberitaan yang heboh, hujatan sejumlah masyarakat mayoritas terhadap “kaum minoritas” ini, sumpah serapah, hinaan, analogi-analogi yg terdengar menyebalkan dan menjijikkan, wah... masyarakat sudah termakan media sepertinya...


Kehidupan, apalagi media massa jadi semakin bising karena banyaknya pemberitaan yang tidak wajar dari permasalahan ini, tapi tak ada satupun yang menyampaikannya dengan baik. Tak ada media yang menyajikannya dan menanggapi hal ini dengan bijak. Atau menurut bahasa jurnalistiknya, berimbang. Hampir semua berbicara tentang ke engganan, rasa jijik, membawa-bawa, agama, atau berbagai macam upaya lain untuk memenangkan argumen mereka tanpa ada solusi atau sudut pandang lain. Yang penting si minoritas dan siapapun yang tertarik atau yang mendukungnya harus kalah!


Bahkan saya mengalaminya sendiri di rumah, orangtua saya mewanti-wanti saya juga adik saya untuk hati-hati terhadap “kaum minoritas” ini, jangan berteman dengannya, dan sebagainya, hati-hati terrtular, setelah beliau membaca atau menonton berita di televisi mengenai pemberitaan “kaum minoritas” ini Duh, kini kedua orangtua saya pun sudah meng-iya kan media, gimana ya...


Berawal dari pemberitaan heboh, keresahan yang dirasakan oleh “kaum minoritas” yang saya temui di hidup saya, orang terdekat yang mulai termakan media, hingga pelarangan membahas konten LGBT di kampus negeri ternama, akhirnya menimbulkan sejumlah pertanyaan dan pernyataan dalam benak


“Mengapa segitu bencinya masyarakat dengan kaum ini?”
“Mengapa semudah itu kaum ini dihakimi untuk dilarang berada di kampus, yang dengan mudahnya saya terjemahkan bahwa kaum ini gaboleh berkuliah? Begitukah”
“Kenapa masyarakat semudah itu menghujat, sembari mencatut ayat-ayat kitab suci yang melarang kaum itu, tanpa melihat ayat-ayat lain yang berkaitan namun tidak bertopik sama?”
“Mengapa saya begitu perih melihat umat muslim menghina dan mengutuk
“kaum minoritas” tersebut, sembari mereka lupa pada saat merekat ka melakukannya, mereka membawa identitas agama apa? Apa agamanya mengajarkan untuk menghujat?”

“Mengapa saya begitu sedih melihat teman saya yang merupakan “kaum minoritas” itu menjadi cemas, karena masyarakat menjadi judge mental seperti sekarang?”
“Kenapa para orang tua termakan pemberitaan media?”
“Mengapa kampus melarang mereka? Bukannya kampus adalah tempat dimana setiap orang bisa menimba ilmu tanpa melihat latar belakangnya, apalagi urusan pribadinya”
Dan terakhir “Mengapa pertanyaan-pertanyaan ini muncul di benak saya!?”
Hingga akhirnya, melalui perbincangan santai di suatu sekre di lingkungan kampus, kami yang ternyata memiliki pertanyaan yang sama, merasa persoalan ini perlu dibahas...
Dibahas supaya bisa kita pahami dari sudut pandang lain
Dibahas agar minimal kita tahu beberapa jawaban dari sekian banyaknya pertanyaan yang terngiang
Minimal jawaban atas pertanyaan, “Mengapa kampus melarang mereka?
Bukannya kampus adalah tempat dimana setiap orang bisa menimba ilmu tanpa melihat latar belakangnya, apalagi urusan pribadinya”
Kami sepakati, pertanyaan ini kami rasa perlu dicari tahu jawabannya, “Karena dari sekian banyak pertanyaan, mungkin paling tidak perlu ada 1
pertanyaan yang perlu ada jawabnya. Haha”
Dan kami juga tentu menyepakati pertanyaan ini perlu ada jawabnya karena pertanyaan ini berdasar atas latar belakang kami yang paling sama, yaitu kami sama-sama berada di sebuah institusi bernama kampus. Dan kami rasa, pertanyaan diluar pertanyaan ini, sepertinya tergantung akan masing-masing latar belakang pemikir.
Kami pun pada akhirnya berusaha mencari titik terang dari pertanyaan kami dengan memulai sebuah upaya kecil, yaitu diskusi.


Namun, ah... rupanya...
Tak perlu saya ceritakan lagi... Pembaca yang sudah membaca dua tulisan sebelum saya pasti tau ceritanya...
Diskusi ini dilarang?

Hmm, tidak mengherankan dan sedikit mengecewakan
Mengatasnamakan penjagaan citra institusi dari isu-isu berbau sensitif rasanya alasan yang bisa dibilang bagus tapi mengapa dirasa kurang cerdas ya...
Tindak tanduk kampus yang sejak awal menghalangi jalannya diskusi ini mencerminkan fenomena yang sudah tersebar di masyarakat.
Para tetua ini pastinya sudah termakan media dan pandangan-pandangan pendukung di sekitarnya, yang mengharuskan mereka menghindari isu-isu sensitif seperti ini.
Sebuah fenomena yang cukup menyedihkan dimana media saat ini sangat berperan dalam tahap-tahap mempengaruhi pandangan umum masyarakat, dan ditambah lagi sejumlah perkataan mengatasnamakan agama, membatasi namun tak memberi jawaban atau arahan lebih lanjut. “Pokonya kalo menurut agama kita harus menjauhi kaum ini, ya harus! Jangan didekati sama sekali. Tau kan kaum nabi Luth? Bahkan yang mendekatinya saja diazab. Makannya! Jauhi!” Pernyataan seperti itu langsung ditelan mentah, tanpa dipahami batasanbatasannya lebih lanjut.
Apakah ini memang sudah kebiasaan masyarakat kita? Menelan segala pemberitahuan dan pemberitaan dengan mentah kemudian langsung mengambil kesimpulan?


Namun, sedilarang-dilarangnya, kami tetap mencari jawaban dengan konsekuensi risiko yang sebanding atau tidak bahkan. Kami mengadakan close discussion hingga akhirnya satu persatu pertanyaan terjawab... Diantaranya kampus ini memang sudah tidak bisa menjadi tempat bertanya untuk mencari jawaban.
Apalagi pertanyaan dan jawaban yang tidak ada ilmiah-ilmiahnya sama sekali.
“Tolong pergi pertanyaan-pertanyaan tidak berguna seperti itu! Cuma bikin malu
nama kampus aja nanyain yang gituan”
Rasanya pertanyaan humanis sudah tidak mendapatkan tempatnya di kampus ini
Kampus ini sudah banyak beralih fungsi. Sudah bukan lagi tempat mengolah
rasa, bercengkrama, berdiskusi, atau tempat melakukan sebagian besar kegiatan refreshing setelah seharian penat berkuliah. Kampus ini... dewasa ini ya hanya
kampus saja. Hanya kampus. Tak lebih.


HANYA KAMPUS adalah dua kata yang apabila digabungkan menjadi mimpi terburuk, kita tak dapat membayangkan bagaimana kampus menjadi kaku dan orang-orang didalamnya menjadi robot. Hanya kampus. Tak lebih. Tanpa interaksi antar manusia di dalamnya. Tanpa sisi humanis di dalamnya...


Jawaban lain kami dapatkan kembali. Bahwa kami memang hidup di lingkungan dengan tingkat judge mental yang tinggi. Mau bagaimana lagi... Dan sialnya para tetua lah yang paling dominan mengisi posisi ini. Mungkin karena mereka sudah terbiasa dididik sejak dulu menerima pemahaman dari satu arah (baca: orba dan segala doktrinisasinya). (Tapi saya tidak akan membahasnya lebih lanjut di sini, mungkin nanti akan diadakan diskusinya atau tulisannya sendiri). Yang jelas, media berhasil mendoktrin para tetua, dan memang itulah targetnya, sehingga bila yang tua sudah termakan media, tentu akan membatasi pemahanan yang muda. Dan biasanya yang tua memang selalu harus di iya-kan, atau kalau tidak, durhakalah kita! Sukses menguasai tetua, kuasai juga pemuda yang masih fresh. Alhasil yang tua melihat yang muda menghujat, jadi ikut-ikutan juga. Sialnya menghujat tanpa alasan yang jelas, cuma ikut-ikut isu yang ramai saja


Kampus menjadi HANYA KAMPUS, oknum media berhasil menguasai targetnya, lantas apa lagi kemudian!?
Ah, ada lagi?
“Dugaan bahwa setiap orang yang membahas isu ini, kalau tidak membawa Atas Nama Agama, pasti disinyalir sebagai Pro.”
Lagi-lagi ini kembali lagi akan persoalan judge mental atau apapun yang mengiringinya.
Apa yang salah dengan menjadi pro?
Apa yang salah dengan menjadi kontra?
Apa yang salah dengan menjadi netral?
Apa yang salah degan menjadi apatis terhadap isu ini?

Semua adalah tentang pilihan.


Apakah kita tak akan berteman dengan seseorang hanya karena latar belakang, masa lalunya, hingga hal hal privasi seperti agama bahkan orientasi seksualnya?


Apakah dengan menjadi pro sudah pasti adalah bagian dari mereka atau mungkin “terjangkit virus mereka” (seperti yang selama ini orang-orang takutkan) (padahal ini bukan suatu penyakit menular apalagi virus mematikan)? (Untuk konteks ini tolong jangan bawa-bawa unsur agama di dalamnya, urusannya akan lain lagi)
Apakah dengan menjadi kontra sudah pastikah kita menjadi manusia yang paling mulia karena kita tidak mengidap “penyakit” yang selama ini dianggap hina dan melanggar norma masyarakat? Apakah dengan menolaknya maka kesucian diri, lingkungan sekitar dan negara kita dapat terjamin?


Apakah dengan menjadi netral, memilih jalan tengah, hanya sebatas mengikuti pemberitaan atau mempelajari serta memahami isu ini, jawaban dari isu ini akan dengan mudahnya ditemui? Tidak semudah itu bukan di tengah distraksi yang begitu banyak?


Hanya dengan memilih untuk berperan bagaimana dan bagaimana kita harus bersikap sebagai peran-peran yang sudah disebutkan di atas, tentu tidak akan tercapai sebuah konklusi. Karena semua hanya sibuk berperan masing-masing, tidak menjawabnya secara bersama-sama.


Untuk menjawab berbagai pertanyaan itu perlu dicari tahu bersama, dipahami, dan dirasakan dengan sisi manusia yang kita miliki, hingga akhirnya menemukan konklusi, yang mungkin saja konklusinya bukan sebuah pernyaataan, melainkan sebuah sikap atau tanggapan pasca upaya pencari tahuan dan pembahasan itu dilakukan.


Dan inilah kita sekarang. Siapapun kita, baik dari kalangan pro, kontra, netral, atau bahkan LGBT sendiri, kita tengah berada di tahapan itu. Tahapan menunggu sikap & jawaban pasca upaya pencaritahuan dan diskusi bagaimana korelasi antara “Kampus dan LGBT”


Diskusi sudah berjalan, sejumlah dugaan atau kesimpulan sudah didapat, pelarangan diskusi pun sudah di alami, selanjutnya? Kita tunggu saja jawaban yang semakin jelas nantinya...


Sekian

Ditulis oleh Annisaa Nurfitriyana