Lock down, karantina, virus, Wuhan, pandemi, kuliah daring, Work From Home (WFH), dan berbagai jargon lainnya adalah istilah yang sering didengar beberapa bulan belakang, lebih tepatnya setelah Indonesia mengumumkan kasus COVID-19 pertamanya. Pandemi ini sukses besar mengubah dinamika sosial dan cara pandang manusia terhadap dirinya.

Gara – gara karantina, kita kehilangan insentif untuk bisa keluar rumah setiap hari, tidak lagi memiliki insentif untuk bisa bertemu orang lain—walaupun kadang keberadaan mereka membuat otak makin penat saja. Gara – gara karantina, saya jadi sadar. Ada satu permasalahan pelik yang selama ini menghantui tapi luput dari pembahasan : rasa kesepian atau loneliness. Bagi yang belum familiar dengan istilahnya, kesepian juga sering dimanifestasikan dalam bentuk perasaan hampa, gelisah, serta pemikiran negatif terhadap dunia atau kehilangan kesadaran akan realitas (sense of reality).

Menurut hemat saya, kesepian merupakan salah satu bentuk perasaan yang selalu menghantui. Meskipun demikian, masih banyak masyarakat Indonesia yang belum berani untuk mengakui dan menyampaikannya secara verbatim [1]. Oleh karena itu, esai ini berusaha merekonstruksi makna ‘rasa kesepian’ secara gamblang, jujur dan simpel tentang sifat dasar perasaan ini agar kita bisa lebih menghargai hidup dan memahami diri sendiri.

Untuk memberikan konteks, mari kita ambil inspirasi dari beberapa kutipan karya kultur pop sebagai berikut,

And I’ve been trying to fill all of this empty, but fuck I’m still so empty
Yeah, I could use some love
And I’ve been trying to find a reason to get up
Been trying to find a reason for this stuff
Modern Loneliness
We’re never alone but always depressed, yeah
Love my friends to death but I never call, I never text

Lauv, Modern Loneliness (2020)

Atau

Women have minds and soul as well as just hearts, and they’ve got ambition and talent as well as just beauty. And I’m sick of people saying that all love is all a woman is fit for. I’m so sick of it! But—I’m so lonely!”
Jo, Little Women (2020)

Dari beberapa kutipan tersebut dapat disimpulkan bahwa rasa kesepian dekat sekali dengan kehidupan manusia sehari-hari. Beberapa orang mungkin akan menampik dengan “Ah kayanya orang Indonesia gamungkin ngerasa kesepian deh. Kita kan punya nilai kekeluargaan, gotong royong, dan solidaritas” seolah – olah imun terhadap rasa kesepian. Seolah-olah berhimpun bersama dalam satu kelompok besar di tempat yang sama merupakan penangkal jitu dari rasa kesepian. Tapi, apakah benar demikian?

Banyak orang menganggap bahwa kesepian sama artinya dengan kesendirian. Padahal, kesepian (loneliness) dan kesendirian (aloneness) adalah dua hal yang berbeda. Berdasarkan KBBI, kesendirian [2] adalah keadaan tersendiri (terasing) sedangkan kesepian [3] adalah perasaan sunyi (tidak berteman dan sebagainya). Kesendirian dapat diamati oleh mata karena merupakan sebuah ‘keadaan’ yang bersifat fisik. sedangkan kesepian tidak dapat diamati oleh mata karena merupakan sebuah ‘perasaan’ yang bersifat psikis. [4]

Oleh karena itu, berada di satu wilayah yang terdiri atas banyak manusia bukan merupakan jaminan untuk tidak merasa kesepian. Lucu rasanya jika mengingat kenyataan bahwa kita hidup di era yang mengglorifikasi koneksi dangkal lewat internet namun pada saat yang bersamaan juga kehilangan realitas dan koneksi sosial yang bermakna antar sesama manusia. Ratusan, ribuan atau bahkan jutaan pengikut di sosial media acapkali justru membuat kita semakin merasa kesepian.

Indonesia yang sering pamer kekeluargaan dengan berbagai macam tradisi yang mengharuskan orang-orang untuk berhimpun di satu wilayah tidak selamanya bisa menjadi penangkal rasa kesepian yang pasti pernah dirasakan setiap orang baik secara sadar ataupun tidak sadar. Minimnya edukasi dan stigma negatif masyarakat pun membuat kita semakin merasa enggan untuk membahas emosi yang dimilik. Sepertinya, yang dialami oleh warga Indonesia pasca globalisasi ini bukan imun dari rasa kesepian, melainkan tidak berani untuk menyuarakan dan kemudian melampiaskan kegelisahannya melalui media yang menawarkan gratifikasi instan seperti tik tok, instagram, facebook, dsb. [5]

Menurut Reichmann [6], kesendirian terbagi menjadi dua yaitu kesendirian konstruktif dan kesendirian tidak konstruktif. Kesendirian konstruktif ialah ketika seseorang merasa kesendiriannya dapat memberi rasa pembebasan sehingga dapat merangsang kreativitas yang ia miliki. Jenis ini biasa dirasakan oleh para seniman yang justru sengaja menseklusikan diri dari peradaban.

Kemudian ada juga kesendirian tidak konstruktif yang bisa berakhir pada kondisi psikotik— dimana seseorang merasa layuh dan kehilangan tujuan hidup. Kesendirian tidak konstruktif dapat membuat seseorang mengalami “anaclitic depression” yang ditandai dengan ketergantungan berlebih pada orang lain yang akhirnya membuat orang tersebut terlalu takut untuk ditinggalkan (fear of abandonment). Orang-orang seperti ini sangat takut dan gelisah untuk ditinggalkan sampai-sampai mereka berusaha sebisa mungkin untuk tidak jatuh di lubang yang sama atau merasa diabaikan.

Beberapa contoh pembelaan yang biasa dilakukan yaitu dengan tidak mengambil resiko untuk membuka diri ke orang lain, menginterpretasikan reaksi netral seseorang sebagai suatu reaksi negatif dengan menambah asumsi (cynicism), sengaja menghindarkan diri dari kesempatan untuk bisa dikelilingi orang-orang, atau bahkan terlebih dahulu mendorong seseorang keluar dari hidupnya sebagai bentuk proteksi diri. Saya bukan seorang psikolog/psikiater, tapi jika salah satu contoh di atas ada yang beresonansi dengan diri Anda, mungkin saja yang selama ini kita (iya, saya juga merasakan hal ini) rasakan adalah kesendirian yang tidak konstruktif.

Karl Menninger [6] menjelaskan bahwa ada juga tipe kesendirian lebih ringan yang diakibatkan oleh kegagalan orang tua untuk memberikan afeksi yang cukup pada sang anak. Hal ini biasa ditandai oleh perasaan kesepian dan kondisi schizoid (sering berubah – ubah). Dalam situasi yang lebih buruk, seseorang juga bisa merasakan kesepian mendalam. Orang seperti ini sulit untuk mengomunikasikan perasaannya karena kemampuan untuk berempati dengan diri sendiri atau orang lain terhambat oleh perasaan gelisah yang terpancar dari rasa kesepian mendalam. Ironisnya, karakteristik ini membuat orang – orang yang kesepian jadi semakin merasa terisolasi karena memproduksi sebuah keyakinan menyedihkan bahwa tidak ada orang lain yang merasakan apa yang pernah atau sedang mereka rasakan.

I don’t know why people think of hell as a place where there is heat and where fires are burning. That is not hell. Hell is if you are frozen in isolation into a block of ice. That is where I have been” – dari seorang pasien Reichmann yang mengalami kesendirian.

Lantas, sebenarnya apa sih penyebab dari rasa kesendirian ini? Mengapa ada orang yang bisa merasakan kesendirian konstruktif sementara yang lain tidak?

Banyak psikiater percaya bahwa kekurangan perhatian serta penerimaan (acceptance) dari orang dewasa terhadap seorang anak memiliki pengaruh yang cukup besar pada potensi perkembangan responsif untuk cinta dan keintiman (intimacy). Hal ini bersifat inheren, sehingga bisa jadi masa depan anak terpengaruh. Anak tersebut jadi rindu sekaligus takut akan kedekatan interpersonal.

Selain itu, kesendirian juga bisa diakibatkan oleh peletakan orientasi diri yang salah. Pada era yang serba digital ini, seseorang baru bisa mendapat orientasi diri yang valid atau bahkan sadar akan kehidupan mereka sendiri berdasarkan apa yang dipikirkan oleh orang lain terhadap mereka. Ketidakmampuan untuk mencari atau mendapat validasi dari orang-orang di tengah pandemi ini membuat kita jadi semakin sadar akan masalah kesendirian yang inheren ini. Sebagai alternatif, kita jadi menggunakan media sosial sebagai tempat pelarian untuk mendapat validasi dari orang lain dengan cara membangun gambaran tertentu agar kembali mendapat kesadaran akan realitas sebagai seorang manusia. Oleh karena itu, manusia sebenarnya adalah seorang arsitek handal dengan kehidupan mereka sendiri sebagai cetakan birunya.

"Every human being gets much of his sense of his own reality out of what others say to him and think about him," - Rollo

Jika dilihat dari sejarah peradaban, manusia memang merupakan makhluk hidup komunal yang saling hidup berdampingan. Menjadi bagian dari satu komunitas merupakan aspek krusial untuk dapat bertahan hidup. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat mendasar dan esensial sampai-sampai masih terbawa oleh manusia modern. Oleh sebab itu, banyak dari kita yang juga sering mengalami fomo (fear of missing out). Seseorang sangat takut akan kesendirian atau tidak menjadi bagian dari suatu komunitas mana pun karena ‘merasa’ membutuhkan validasi orang lain untuk tetap dapat bertahan hidup. Alhasil, banyak dari kita yang berusaha untuk mengikuti tren agar tetap merasa menjadi bagian dari suatu komunitas.

Meskipun ‘mengais validasi’ adalah hal yang manusiawi, ketakutan untuk merasa kesepian juga tergantung pada seberapa bergantung seseorang terhadap orang lain untuk memproleh orientasi dirinya. Semakin orientasi diri seseorang bergantung pada orang lain, maka orang tersebut jadi semakin takut untuk merasa kesepian. Ketakutan untuk ditinggalkan inilah yang terkadang justru menjauhkan kita dari komunitas atau orang yang sebenarnya peduli dan bisa membuat kita merasa tergabung dalam satu kelompok atau belong. Padahal dalam teori kebutuhan yang dicetuskan oleh Abraham Maslow [7], love dan belonging itu menempati urutan ketiga setelah kebutuhan untuk merasa aman (security) dan sebelum kebutuhan untuk merasa percaya diri (esteem). Dapat disimpulkan bahwa perasaan belong atau tergabung dalam satu kelompok merupakan sesuatu yang sangat penting agar kita bisa seutuhnya menjalani realitas sebagai seorang manusia.

Before Sunrise (1995)

Berdasarkan survey Ontario Canada pada tahun 2016, didapat sebuah data bahwa wanita lebih sering merasa kesepian daripada pria.  Akan tetapi, data yang didapat ini belum tentu bisa menggambarkan situasi pelik yang sesungguhnya terjadi yaitu dimana orang-orang dengan rasa kesepian mendalam justru sulit untuk mengomunikasikan atau bahkan menyadari perasaan yang mereka miliki. Permasalahan mental bukanlah sesuatu yang bisa dikuantifikasi melalui angka dalam data karena tidak memiliki tanda-tanda spesifik dan biasanya bergantung pada ketersediaan seseorang untuk menyelesaikan atau menyadari masalah yang mereka miliki.

Ontario Canada Reference Group, Executive Summary Spring 2016

Bisa jadi informasi yang diberikan oleh tabel di atas [8] bukan menggambarkan jumlah orang yang merasa kesepian melainkan seberapa banyak orang yang sudah cukup berani untuk mengkonfrontasi masalah kesepian yang mereka miliki. Studi menyatakan bahwa wanita memiliki sensitivitas terhadap emosi yang lebih besar daripada pria. Ego atau keinginan untuk terlihat dominan mungkin saja merupakan salah satu faktor yang menghambat para pria untuk mengakui kerentanan yang mereka miliki. Padahal sebenarnya, pria ataupun wanita tidak ada yang imun dari masalah kesendirian yang inheren ini.

Wah kayanya aku emang kadang suka ngerasa kesepian deh secara nggak langsung, ini juga berpengaruh terhadap hubungan interpersonalku dengan orang lain. Terus harus gimana dong?”

Jika mencari di internet tentang cara mengatasi kesendirian/kesepian, kita pasti mendapat sebuah instruksi untuk ‘mengusir’ rasa tersebut dengan menyibukkan diri, seola-olah perasaan ini merupakan sesuatu yang sangat hina/tabu dan tidak boleh dirasakan oleh siapapun. Padahal jika dikaji lebih dalam, perasaan ini merupakan sesuatu yang normal dan sangat bisa dirasakan oleh siapapun tanpa memandang bulu. Menyibukkan diri merupakan sebuah solusi yang ditawarkan untuk mengatasi perasaan ‘kurang nyaman’ dari rasa kesepian. Namun, apakah ini cukup?

Menurut saya solusi tersebut tidak cukup karena yang dilakukan hanyalah memendam perasaan dan membiarkannya menggerogoti jiwa kita secara perlahan. Jika hal ini terus terjadi, seseorang bisa jadi mati rasa dan masyarakat secara keseluruhan pun semakin enggan untuk membangun koneksi lebih dalam.

Yang harus dilakukan adalah menerima (acceptance) sebuah kenyataan bahwa setiap orang pada satu titik pasti pernah merasa kesepian dan itu merupakan hal yang wajar. Dengan menormalisasi hal tersebut, kita tidak lagi memandang rasa kesepian sebagai sesuatu yang sangat menyeramkan. Pandangan kita terhadap dunia pun jadi lebih clear tanpa ditambahkan bumbu-bumbu negatif yang membuatnya terlihat menyeramkan.

Ketidakmampuan untuk menormalisasi rasa kesepian atau kesendirian adalah salah satu akar permasalahan dari maraknya kebencian di media sosial. Orang – orang berusaha untuk memproyeksikan kesepiannya di internet lewat akun anonim ke seorang artis berpikir bahwa jutaan pengikut yang dimiliki sang artis telah berhasil membuatnya jadi seorang manusia utuh yang tidak merasa kesepian. Padahal, sang artis ini juga sama-sama manusia yang justru sering merasa kesepian dan terisolasi karena status yang dimilikinya.

Untuk bisa menikmati kesendirian yang ada, seorang seniman harus memiliki orientasi diri yang memadai dan merasa aman di ruang yang dibuat untuk dirinya sendiri. Setelah melalui proses (acceptance), kita harus bisa memperoleh orientasi diri melalui sumber yang lebih terpercaya yaitu diri kita sendiri. Mungkin beberapa dari kalian ada yang beranggapan bahwa istilah-istilah seperti ‘kenali dirimu sendiri’ merupakan sebuah jargon klise yang tidak masuk akal dan hampir mustahil untuk dilaksanakan. Tapi ternyata, ini merupakan satu cara untuk bisa lebih menikmati kesendirian karena sudah memiliki orientasi diri yang memadai. Melalui cara ini, kita tidak lagi bergantung pada orang lain untuk bisa memperoleh validasi dan akhirnya jadi lebih berani untuk menciptakan koneksi yang lebih dalam. Secara perlahan, kita bisa memeluk perasaan kesendirian/kesepian yang inheren dan hidup lebih bebas sebagai seorang manusia.

Referensi

[ 1] Hartini, N., Fardana, N. A., Ariana, A. D., & Wardana, N. D. (2018). Stigma toward people with mental health problems in Indonesia. Psychology research and behavior management, 11, 535–541. https://doi.org/10.2147/PRBM.S175251

[2] Kamus. 2016. Pada KBBI Daring. Diambil 16 Juli 2020, dari https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/kesendirian

[3] Kamus. 2016. Pada KBBI Daring. Diambil 16 Juli 2020, dari https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/kesepian

[4] Julle-Daniere, Eglantine. (2020, 16 April). Being Alone vs. Being Lonely. Retrieved from https://www.psychologytoday.com/us/blog/talking-emotion/202004/being-alone-vs-being-lonely

[5] Jeste, D. V., Lee, E. E., & Cacioppo, S. (2020). Battling the Modern Behavioral Epidemic of Loneliness. JAMA Psychiatry. doi:10.1001/jamapsychiatry.2020.0027

[6] Frieda Fromm Reichmann (1959) Loneliness, Psychiatry, 22:1, 1-15, DOI: 10.1080/00332747.1959.11023153

[7] Maslow, A. H. (1943). “A theory of human motivation”. Psychological Review. 50 (4) : 370-396. CiteSeerX 10.1.1.334.7586. doi:10.1037/h0054346.

[8] ACHA-NCHA. (2016) “Executive Summary : Spring 2016”. Ontario Canada Reference Group. H:13, 1-19. DOI: http://oucha.ca/pdf/2016_NCHA-II_WEB_SPRING_2016_ONTARIO_CANADA_REFERENCE_GROUP_EXECUTIVE_SUMMARY.pdf

Hamermesh, D. (2020). Lock-downs, Loneliness and Life Satisfaction. doi:10.3386/w27018

Thomas, L., Orme, E., & Kerrigan, F. (2019). Student loneliness: The role of social media through life transitions. Computers & Education, 103754. doi:10.1016/j.compedu.2019.103754

Vox. (2020, 8 Januari). Why Are We so Lonely? – Glad You Asked S1 [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=EidKI1Bdons

Kurzgesagt. (2019, 17 Februari). Loneliness [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=n3Xv_g3g-mA&t=5s