image

Tidak banyak band yang mencuri hati (dan telinga) saya di kali pertama saya mendengar lagu mereka diputar. Entah karena selera musik saya yang ketinggian saya yang susah suka sama band tertentu atau saya kekurangan referensi musik bagus. Duo folk asal Surabaya, Silampukau, menjadi salah satunya.

Semua berawal dari cuitan @armandhani yang memuja - muja album baru dari Silampukau:  Dosa, Kota, dan Kenangan. Tentu saat itu saya tidak langsung percaya dan setuju soal rekomendasi Arman Dhani soal musik, karena sebelumnya, ternyata selera musik kami tidak cocok. Maka sebagai netizen yang baik saya langsung mengecek keabsahan twit Dhani di Youtube. Dan ternyata kali ini, saya mesti setuju dengan Arman Dhani. Saya malah ikut - ikutan memuja dan merekomendasikan duo ini ke kawan - kawan saya. Bedanya, tak satu pun dari kawan saya yang suka sama Silampukau ini. So sad :( . Susahnya punya selera musik tinggi beda.

Di album ini Silampukau memerankan peran seorang storyteller. Mereka menceritakan kehidupan di Surabaya dari sudut yang mungkin jarang diketahui orang yang bukan asal Surabaya. Karena mungkin, kita -orang yang bukan asli sana- hanya tahu Surabaya dari walikotanya yang hits itu.

Silampukau pada lagunya yang berjudul “Malam Jatuh di Surabaya” bercerita bagaimana kehidupan di jalanan Surabaya di jam pulang kerja yang bising dengan deru mesin kendaraan dan umpatan para pengendaranya. Lalu dengan apik diselipkannya satu kalimat yang begitu dahsyat di dalamnya: “Tuhan kalah di riuh jalan”.

Di lagu yang berlatar Surabaya lainnya, mereka bertutur tentang seorang perantau yang gagal mengadu nasib di Surabaya dan rindu kampung halaman. Dolly, pusat prostitusi legendaris di Surabaya, juga tak lupa diceritakan oleh duo yang digawangi Kharis dan Eki ini.

Lalu, ada lagu kesukaan saya: “Puan Kelana”. Temanya memang mainstream yaitu, cinta-cintaan. Tentang sepasang kekasih yang kudu pisah karena salah satu dari mereka pergi ke Paris. Bedanya dengan lagu cinta-cintaan lainnya, lagu ini gak fokus di cinta-cintaan tadi (loh?). Ya. Silampukau berkisah juga berkisah bahwa sesungguhnya Surabaya, Paris, dan tempat lainnya di dunia ini ya sama saja. Bahwa anggur di Paris dan anggur di Surabaya ya sama memabukkannya. Bahwa hujan di Paris dan di Surabaya ya sama mengagumkannya. Bahwa baik di Paris atapun di Surabaya luka dunia ya sama sama saja.

Saya perlu menggarisbawahi soal storyteller di atas. Karena Silampukau adalah sebenar - benarnya pencerita di album ini, tidak kurang atau lebih. Mereka bercerita, tapi tidak memberi kritik kritis atas apa yang mereka ceritakan. Mereka bukan Efek Rumah Kaca. Mereka berhenti pada batas menceritakan apa yang mereka lihat dan rasakan.

Kekuatan Silampukau pun tanpa diragukan adalah pada lirik yang mereka ciptakan. Di samping lirik yang sederhana dan ngena, mungkin ini berlebihan. Tapi saya melihat Eka Kurniawan di lirik awal beberapa lagu mereka. Tentu bukan dari sisi diksi atau gaya menulis dari Eka Kurniawan yang saya tangkap. Lebih ke bagaimana Silampukau memiliki lirik pembuka yang mencuri perhatian di beberapa lagunya, sama seperti Eka di tiap novelnya. “Hidup ini memang keras, apa salahnya kujual miras?” di pembuka lagu “Sang Juragan” atau “ Waktu memang jahanam, kota kelewat kejam, dan pekerjaan menyita harapan.” di “Lagu Rantau” adalah apa yang saya maksud.

Intinya, mendengarkan album ini, kamu seperti diajak melihat halaman belakang dari Kota Surabaya. Kamu akan diberitahu soal hal-hal yang tidak bisa kamu lihat dari teras depan sebuah rumah bernama Surabaya ini. Hal-hal yang hanya akan kamu tahu jika kamu masuk dan melihat sendiri halaman belakang itu, atau cara lainnya tanpa melalui cara pertama tadi: diberitahu/diceritakan oleh penghuni rumah tersebut. Tentunya bukan oleh sembarang penghuni, tapi oleh penghuni yang mampu berkisah melalui melodi dan lirik yang Maha Asyik.

Oh ya. Dan tentunya sebagai bentuk apresiasi terbesar yang dapat saya berikan kepada duo ini, saya membeli album fisik originalnya looh. Ya meski sebelumnya saya sudah dengar semua lagunya di Youtube.

Ditulis Muhammad Rushdi