Perjumpaan saya dengan sosok Don Kisot terjadi secara tidak sengaja ketika membaca sebuah esai yang diterbitkan oleh salah satu jurnal filsafat. Dari situlah saya mulai mengagumi novel karya Miguel De Cervantes tersebut. Beberapa kali menyengaja untuk mencari novelnya ke toko buku namun tidak kunjung dapat. Belum jodoh. Namun sebuah kunjungan singkat saya ke sebuah toko buku di penghujung 2017 ternyata justru menghantarkan saya kepada Don Kisot. Tanpa berpikir panjang saya bawa pulang bukunya (dibayar dulu tentunya).

Don Kisot (Don Quixote) merupakan sebuah tokoh dalam novel karya Miguel de Cervantes berjudul Don Quixote de la Mancha yang terbit dalam dua volum, pertama pada tahun 1605 M dan kedua pada tahun 1615. Meski belakangan Cervantes mengakui bahwa kisah Don Kisot bukan karangannya sendiri melainkan karangan sejarawan Arab benama Cid Hamed Banengeli, kepopuleran kisah Don Kisot sudah kadung membawa namanya menjadi salah satu sastrawan terbesar di dunia barat, dan terbesar di negerinya, Spanyol. Don Quixote de la Mancha sendiri dianggap oleh sebagian orang sebagai novel modern pertama dan menjadi ‘Buku Terbesar di Dunia Barat’ menurut Encyclopedia Britannica. Sastrawan Rusia favorit saya, Fyodor Dostoevsky bahkan menyebut Cervantes sebagai ‘kata yang paling puncak dan paling luhur dari pemikiran manusia’.

Yang saya baca merupakan versi ringkasan dari versi aslinya yang sangat tebal. Meski begitu saya sama sekali tidak kecewa dan justru merasa senang karena pertama, bukunya ringan. Lha wong Cuma 124 halaman, tipis. Saya lahap dalam waktu satu jam. Salah satu buku yang saya khatamkan dalam sekali duduk. Kedua kisahnya lucu dan mengundang gelak tawa sehingga tidak bosan membacanya. Sudah spaneng UAS masa’ harus dihajar dengan bacaan serius yang bikin dahi berkerut. Duh! Ketiga, maknanya dalam (setidaknya yang saya tangkap). Jika boleh membandingkan, maka buku ini mirip dengan Animal Farm-nya George Orwell. Tipis, kocak, dan sarat makna.

Don Quixote de la Mancha bercerita tentang lelaki tua bernama Alonzo Quinjano. Pikirannya dipenuhi gagasan yang liar. Pria tua inilah Don Quixote de la Mancha, atau Don Kisot dari distrik Mancha, tempatnya tinggal. Ia mengira dirinya merupakan seorang ksatria yang hebat. Bersama kudanya yang ringkih, Rozinante, ia berkelana ke seluruh negri untuk berpetualang dan mendapatkan cinta seorang putri. Tak lama setelah kepergiannya, ia bertemu dengan Sancho Panza seorang pemuda miskin yang tolol. Keduanya kemudian melewati petualagan ‘hebat’ yang pasti akan membuat pembaca terpingkal karena kegilaannya.

Banyak pelajaran yang dapat diambil dari kisah petualangan Don Kisot. Pertama, banyak membaca buku tidak serta merta membuat seorang bertambah bijaksana. Alonzo Quinjano sepanjang hari menghabiskan waktu untuk membaca buku-buku mengenai ksatria. Alih-alih menjadi bijaksana, justru kegilaan yang diperolehnya. Sebetulnya tidak tepat demikian. Yang menyebabkan Don Kisot mempercayai dirinya adalah seorang ksatria adalah bukan karena ia banyak membaca buku, melainkan karena ia membaca buku yang itu-itu saja. Kalau dianalogikan dengan fenomena dewasa ini, mungkin mirip dengan filter bubble effect dimana seseorang seolah terperangkap dalam sebuah gelembung yang berisi informasi yang ia ‘inginkan’ saja. Bahaya dari filter bubble effect sudah diceritakan dengan baik dalam karya Cervantes tersebut. Sosok Don Kisot yang merasa paling benar agaknya relevan dengan perilaku-perilaku masyarakat di internet. Misalnya, ketika Don Kisot bersikeras bahwa yang ia kenakan di kepalanya merupakan sebuah helm ksatria meski kenyataannya hanyalah sebuah baskom belaka. Diingatkan Sancho pun Don Kisot tetap ngotot. Mirip dengan isi dari lini masa dan kolom komentar di media sosial yang kebanyakan merupakan debat kusir. Warganet yang kadung memegang teguh pengetahuannya akan sulit menerima masukan orang lain.

Kedua, bahwa premis ‘Pena lebih tajam dari pedang’ sudah disadari manusia sejak dulu, bahkan sudah ditulis dengan apik dalam sebuah karya sastra. Bagaimana Alonzo Quinjano berubah menjadi Don Quixote merupakan bukti sahih bagaimana jalinan huruf dan rangkaian kata yang ditulis oleh pena mampu mempengaruhi kesadaran manusia sebegitu jauh dan dalamnya. Dalam kacamata gagasan ini, sosok Don Kisot dapat dipandang, bukan lagi sebagai seorang Alonzo Quinjano, melainkan seluruh umat manusia. Makin berkembangnya teknologi membuat gagasan lebih mudah menyebar. Tidak hanya melalui teks-teks panjang, namun sesederhana melalui medium meme yang makin digemari. Maka hati-hati dalam menulis dan menyebarkannya. Salah-salah malah didatangi orang yang mengaku sebagai ksatria kerajaan, naik elang, dan bawa tongkat sakti, lalu ditantang duel.

Ketiga, sebetulnya bukan hikmah atau kebijaksanaan. Yang paling saya suka dari kisah Don Kisot adalah, ia bisa menjadi rem bagi segala bentuk perlawanan dan perjuangan. Menjadi rem tidak melulu berkonotasi negatif dan terasosiasi kepada segala bentuk kegiatan yang menghambat perlawanan. Namun rem disini lebih saya maksudkan kepada mempertanyakan kembali dalam berjuang, dalam melawan, sudahkah kalian, saya, kita, menjadi waras? Jangan jangan teriakan ‘Lawan!’ yang kita lontarkan kepada si setan tanah itu salah sasaran. Setan tanah yang kita lawan tak lebih dari kincir angin yang terlihat seperti setan di mata kita. Jangan-jangan, aksi demonstrasi mahasiswa itu tak lebih dari melawan domba domba gembalaan, yang dalam bayangan mahasiswa merupakan serbuan ‘tentara’ investor asing? Disitulah pesan dari kisah Don Kisot dapat membuat kita sejenak mengambil jarak dari apa-apa yang sedang kita perjuangkan dan mempertanyakan kembali kewarasan kita.

Namun begitu, dibalik kegilaan demi kegilaan yang dilakukan oleh Don Kisot, ada juga hal positif yang dapat diteladani. Terlepas dari kegilaannya, adalah Don Kisot yang mengajarkan kita bahwa cinta harus diperjuangkan. Berkali-kali ia menemui kesialan dalam petualangannya untuk membuktikan cinta, tidak pernah ia jera. Giginya tanggal, telinganya teriris, badan remuk hampir tewas, bukan apa-apa. Karena, apalah yang lebih romantis dari berjuang untuk apa yang kita cinta? *plaak*

Ditulis oleh Ismail Faruqi