Hai kau yang selalu didengungkan orang-orang sejak aku lahir sampai sekarang. Kau yang dianggap awal dan akhir dari segalanya, yang berhak mencipta dan memusnahkan, dan yang paling menyebalkan adalah semua orang harus patuh dan menyembahmu, seperti mainanmu saja. Sudah sering sekali aku melihatmu dalam berbagai simbol entah itu berupa patung, mahluk aneh, benda, gambar, imajinasi, kata-kata, nama, ataupun dalam hal sakral yang tidak boleh dibayangkan. Bahkan terkadang hanya karena beda simbol, orang-orang berdebat tentang dirimu padahal kau sebenarnya juga produk usang khayalan mereka sejak ribuan tahun yang lalu, toh untuk apa juga berdebat perkara simbol? Toh semua simbol itu juga mengarah padamu walaupun secara eksoteris memang berbeda intepretasi. Aku sendiri sudah muak dengan semua itu, dari semua itu juga tidak ada yang benar-benar merupakan dirimu. Satu hal yang aku tahu, Kau tidak pernah ada kecuali karena aku percaya padamu.


Sungguh jika kau benar-benar ada, aku ingin mengucapkan “aku percaya padamu, walaupun tidak ada hal yang membuktikan bahwa kau ada”. Cukuplah rasa percayaku  yang  membuatmu ada. Jika saja ada bukti yang bisa membuktikan keberadaanmu, tentunya aku akan mencari semua celanya. Aku yakin bahwa itu semua hanyalah pembenaran oleh manusia-manusia konyol yang tidak kuat akan ketiadaanmu yang mengada, cocoklogi dengan kitabnya, mengada-ada peristiwa-peristiwa tertentu, menyimbolkanmu dengan segala hal yang terlihat suci. Ah, omong kosong saja. Aku tahu kok, kau tidak pernah ada.                

Apa sih serunya percaya pada hal yang jelas adanya? Keberadaanmu yang selalu abstrak antara ada dan tiadalah yang selalu membuatku percaya padamu. Jika aku tidak pernah ragu padamu, aku pun tidak akan pernah bisa percaya. Sudah berapa penemuan di bidang ilmu apapun toh juga tidak pernah bisa membuktikan keberadaanmu. Pemikiran filsafatpun hanya bisa berhenti pada kepercayaan yang tidak jelas terhadapmu. Pada akhirnya malah ada manusia yang melarang untuk berpikir dan mepertanyakanmu, katanya hal itu terlalu berat dan bisa menimbulkan keraguan terhadapmu. Jika memang akal pikirku ini adalah hasil karyamu sendiri, akankah kau dimusnahkan olehnya? Bukankah jika aku terus-terusan mempertanyakanmu itu berarti aku mempunyai keinginan untuk mempercayaimu?

Belum lagi urusan menyembahmu, terlalu banyak ritus tidak penting  yang harus kulakukan entah dalam bentuk gerakan, ucapan-ucapan tidak jelas, perayaan, atau wisata ke tempat yang kau anggap sakral. Katanya jika aku tidak melakukannya nanti akan ada siksaan yang menunggu entah neraka atau karma tak berujung. Tentunya akan ada hadiah menanti juga jika aku patuh. Hei, katanya kau maha segalanya? Masih ingin disembah saja, dasar sombong! Apakah kau hanya ingin mempermainkan ciptaanmu dengan perintah berbumbu ancaman dan iming-iming?

Kadang aku jadi tidak paham dengan penyembahmu. Mereka berpura-pura patuh kepadamu, menaati seluruh anjuranmu dan menghindari perintahmu. Toh beberapa dari mereka hanya ingin iming-iming telah kau janjikan. Lalu untuk apa menahan nafsunya jika ternyata hanya menunda nafsu untuk dipuaskan setelah kematian?

Bukankah kau bilang sendiri bahwa ada hal baik untuk dunia ini dari setiap perintahmu? Toh aku yakin bahwa adanya diriku di dunia ini seharusnya bertujuan baik untuk semua hal di sekitarku, bukan sekedar menjadi budakmu dan menunda nafsuku agar setelah akhir hayat bisa kupuaskan seenaknya. Apakah kau memang menciptakan surga untuk orang-orang yang telah menunda nafsunya? Jika dulu saja akhirnya ada yang kau jatuhkan ke dunia hanya karena ingin memakan satu buah, bagaimana dengan orang-orang penuh nafsu ingin ke surga ini? Tidakkah akan hancur surgamu oleh seluruh hawa nafsunya? Mungkin neraka akan lebih harum dengan orang-orang yang ingin bertobat dalam siksaanmu.                

Perkara ritus aku hanya bisa menyerah pada rasa cinta kepadamu saja. Mungkin lebih baik jika aku menyembahmu dengan rasa cintaku, membagikan kebahagiaan dan kemakmuran pada sekitar. Toh, sepertinya lebih menyenangkan untuk membuat dunia ini lebih baik daripada sekedar mengeruk pahala. Jika nantinya apa yang kulakukan tidak sesuai dengan apa yang disyiarkan oleh orang-orang yang katanya telah kaupilih,aku hanya bisa pasrah. Jika memang nanti kau lebih memilih diriku untuk menghuni nerakamu, mungkin menikmati siksaanmu nantinya adalah sebuah bentuk cintaku padamu. Jika memang surga yang kauberi, aku hanya ingin bertingkah seperti di dunia, membuatnya lebih indah dan tidak menghancurkannya dengan nafsuku.                

Aku lebih berharap bahwa surga ataupun nerakamu itu tidak ada, seperti aku membuktikan bahwa dirimu juga tidak ada. Toh, kehidupan setelah kematian juga belum tentu ada. Bisa saja itu semua hanya angan-angan dari orang-orang yang tidak puas dengan hidupnya di dunia yang terbatas. Keabadian waktu? Itu semua fana, toh jika semua memang berasal dari ketiadaan seharusnya aku pun menjadi tiada lagi dan bersatu denganmu yang memang tidak pernah ada.                

Cintaku padamu hanya perkara percaya saja                
Tidak akan pernah menjadi hal yang kongkrit                
Dan berakhir dengan meleburnya kita pada ketiadaan

Ditulis oleh Renanda Yafi Atolah