Sabtu 11 Maret 2017 tepat pukul 20.00 , lantunan orkestra membuka pertunjukan Teater “Bunga Penutup Abad” di Teater Tertutup Dago Tea House. Babak pertama dibuka dengan adegan Minke dan Nyai Ontosoroh, yang diperankan oleh Reza Rahardian dan Happy Salma, duduk berdua di Buitenzorg di bilangan Wonokromo. Minke membaca surat pertama dari Panji Darman yang menemani Annelies Mellema  (diperankan oleh Chelsea Islan) dalam pelayarannya ke Negeri Kincir Angin. Adegan ini menampilkan betapa masygulnya Nyai Ontosoroh dan Minke atas kegagalan mereka mempertahankan Annelies untuk tetap tinggal di Wonokromo.

Dengan adegan pertama yang seperti itu, penonton yang juga sudah mebaca bukunya, Bumi Manusia, akan tahu bahwa mereka akan dibawa dengan alur maju-mundur selama pertunjukan ini berlangsung. Cerita mengalir maju di tiap penggantian babak, dengan Minke membaca surat demi surat yang dikirimkan oleh Panji Darman. Lalu di tiap babak ini, Minke dan Nyai Ontosoroh, secara bergantian, akan mereka ulang memori mereka terhadap Annelies; tentang bagaimana Minke pertama kali bertemu Annelies atau bagaimana Nyai Ontosoroh menceritakan bagaimana ia dapat dijodohkan dengan ayah Annelies, Herman Mellema. Babak demi babak dengan pola yang nyaris selalu serupa terus diulang sampai pada datangnya surat terakhir dari Panji Darman yang memberi tahu bahwa Annelies tak mampu lagi bertahan menghadapi sakitnya.

Keputusan penulis skenario dan sutradara dengan mengambil alur cerita seperti ini, otomatis mengorbankan banyak momen menarik lainnya yang tertulis dalam Bumi Manusia. Secara garis besar, mereka hanya ingin membawakan cerita bagaimana perjalanan kisah asmara Minke dan Annelies, dan bahkan dengan fokus ini masih ada momen penting yang terlewat yaitu pernikahan antara keduanya. Meski begitu, justru Happy Salma mendapatkan peran yang lebih besar daripada Chelsea Islan karena Nyai Ontosoroh menjadi karakter sentral yang mengalami perguncangan batin dahsyat hampir di tiap babaknya, sementara Annelies dapat dikatakan hanya mondar-mandir dan mengucap dua tiga kalimat dalam adegan reka ulang yang dilakukan Minke dan Nyai Ontosoroh.  Dan dengan keputusan ini, penulis serta sutradara mengambil jalan untuk mengorbankan segalanya yang membuat Bumi Manusia besar hari ini.

Satu-satunya hal penting yang berada dalam pertunjukan ini adalah babak dimana Jean Marais, yang diperankan Lukman Sardi, meminta Minke untuk menulis dalam bahasa melayu karena sesungguhnya tulisannya telah mampu menggugah kesadaran pribumi atas kekuasaan kolonialisme Belanda. Walau begitu, adegan ini terpisah dari keseluruhan alur cerita pertunjukkan, seakan-akan ia hanya piece lego yang terpaksa diselipkan dalam satu bangunan lego satu warna. Segala hal yang membuat Bumi Manusia besar: relasi hierarkis dan menindas antara bangsa pribumi dan Indo; bibit nasionalisme yang muncul pada bangsa pribumi meskipun entitas Indonesia belum lahir saat itu; dan bagaimana tulisan Minke yang menggugat kekuasaan pemerintahan kolonial, tak ditunjukkan sama sekali di sepanjang pertunjukkan. Kalau ada pun, porsinya sangat minim yaitu pada saat Nyai Ontosoroh menentang anak Herman Mellema dari istrinya terdahulu yang datang untuk menuntut harta warisan dari ayahnya. Jika pertunjukkan teater ini ditujukan untuk mengapresiasi karya besar dari Pramoedya Ananta Toer, maka dapat dikatakan bahwa maksud tersebut tak tercapai sama sekali dan telah gagal karena segala hal yang membuat Bumi Manusia besar justru ditunjukkan dengan sangat minim.

Walaupun begitu, saya bisa mengatakan pertunjukkan teater “Bunga Penutup Abad” merupakan pertunjukkan yang tepat sasaran. Dengan kocek paling kecil yang mesti dirogoh sebesar seratus ribu rupiah, kita disuguhkan kisah cinta di masa penjajahan Belanda dengan penampilan yang apik dari aktor dan aktris papan atas nasional. Akan berbeda situasinya jika pertunjukan teater ini menyuguhkan sejarah penjajahan Belanda yang kental dengan hubungan antar manusia pribumi, keturunan Indo-Nederlan, dan orang-orang  asli Nederlan itu sendiri; atau bagaimana perjuangan Minke sebagai pelopor jurnalisme pertama di Indonesia (bahkan nama Indonesia belum muncul saat itu) mengkritik kesemena-menaan pemerintah kolonialisme dan pabrik Gula di Jawa. Bila yang disuguhkan adalah yang terakhir ini, maka harga tiket yang dijual mestilah jauh lebih kecil dari ini sebab pertunjukkan dengan konten seperti itu harus bisa dikonsumsi oleh seluas-luasnya masyarakat.

Hal serupa pun baru terjadi beberapa waktu lalu terhadap film “Istirahatlah Kata-Kata”. Film yang mengangkat kehidupan Wiji Thukul ini pun mendapatkan kritik soal akses terhadap film yang terbatas pada kelas masyarakat yang memiliki uang lebih untuk pergi ke bioskop padahal film ini menyuguhkan biografi Wiji Thukul dalam masa pesembunyiannya sebagai buronan Orde Baru.  Tapi kritik itu kiranya keliru karena periode yang diangkat dalam film ini bukanlah periode dimana Wiji Thukul gencar-gencarnya membangun jejaring kebudayaan di kalangan akar rumput atau bagaimana ia memilih untuk berkonfrontasi dengan rezim militer orde baru; yang ditampilkan dalam film ini lebih menjurus ke aftermath-nya. Karenanya, “Istirahatlah Kata-Kata” yang hanya ditampilkan di bioskop pun tidak muncul sepenuhnya sebagai media untuk mengenalkan Wiji Thukul khalayak umum yang tidak begitu mengenalnya.

Selanjutnya, buntut dari alur yang maju-mundur di pertunjukkan teater “Bunga Penutup Abad” adalah tak terperincinya jalan cerita secara keseluruhan sehingga penonton yang belum pernah membaca novel “Bumi Manusia” hampir dipastikan akan sedikit kebingungan. Tentu dapat dimaklumi karena terbatasnya waktu tidak memungkinkan alur cerita dapat dibawa dengan lebih detil. Beruntungnya bagi saya karena saya sudah pernah membaca buku “Bumi Manusia” tapi bagi yang belum, saya ikut merasa kasihan. Bagaimana kita akan membayangkan mengapa begitu depresinya Annelies sementara kalimat yang menyatakan bahwa ia telah diperkosa oleh Robert Mellema, kakak kandungnya sendiri, selama berkali-kali hanya disebutkan selewat saja. Ditambah lagi karakter Robert hanya disebutkan satu dua kali tanpa ada aktor yang memerankannya.

Akhir kata, pertunjukkan teater “Bunga Penutup Abad” cukup menjadi hiburan yang memuaskan di akhir pekan kemarin.Di tengah terangnya sinar Reza Rahardian dan Chelsea Islan, Happy Salma justru yang menjadi bintang di malam itu atas penampilan gemilangnya sebagai Nyai Ontosoroh. Dan sebagai adaptasi dari mahakarya seorang Pramoedya Ananta Toer dan penampilan dari para aktor dan aktris papan atas nasional, menonton pertunjukkan teater ini merupakan pengalaman pertama yang tak buruk sama sekali.