Timendi Causa Est Nescire
"Ignorance is the cause of Fear"
- Seneca

Pembacaan sebuah fenomena ada baiknya tidak hanya dilandaskan kepada apa yang nampak pada kita. Untuk mencapai pemahaman yang menyeluruh, kita harus berusaha menyingkap dan memahami noumena di balik sebuah peristiwa.

Noumena adalah bagian yang tidak secara langsung dapat kita persepsikan. Menelusuri noumena bukan hanya melihat apa yang ada dibalik objek yang nampak, melainkan juga menyusun dan membangun arti dari sebuah fenomena berdasarkan intuisi kita. [1]

“Apa yang dapat menyebabkan hal ini terjadi?”

Jawaban dari pertanyaan tersebut dapat membantu kita memberikan atau membangun arti pada sebuah kejadian. Dengan demikian, sebuah fenomena dapat kita sebut mendidik karena ia telah diberi arti oleh subjek penerimanya. [2]

Meninjau kasus Papua belakangan ini, ada hal-hal yang lebih besar yang dapat kita telusuri. Hal-hal lebih besar tersebut tidak terbatas dari dimensi luasnya saja, melainkan juga dimensi kedalamannya. Kita dapat memandang konflik ini dalam konteks kesadaran manusia hingga agenda kapitalisme global.

Ketidakadilan yang dialami oleh masyarakat Papua baru satu gejala diantara jelaga konflik. Penindasan akan tetap  berlangsung selama kita tidak memerdekakan kesadaran kita. Sekarang tugas kita adalah menyadari bahwa merdeka itu menjadi sadar. Sadar tentang ke-aku-an dan sadar akan fenomena-noumena yang terjadi di masyarakat.

Memerdekakan Kesadaran

Kesadaran terhadap diri (self-awareness & self consciousness) adalah hal yang membedakan manusia dan binatang. Kendati demikian, manusia juga memiliki dorongan primitif atau insting kebinatangan. Dorongan ini kemudian akan dibenturkan atau direpresi oleh nilai-nilai moral yang berlaku di sekitar individu tersebut sehingga menghasilkan laku seseorang. Proses ini kemudian dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak ada pertentangan antara dorongan, kesadaran, dan norma yang ia adopsi dari lingkungannya.

Sebagai contoh, kita dapat mengasumsikan bahwa mungkin saja aparat mendapatkan kesenangan dengan menindak keras masyarakat Papua. Keinginan untuk melakukan kekerasan adalah dorongan primitif manusia yang bisa dikatakan amoral. Akan tetapi, dengan rasionalisasi yang tepat aparat dapat menjustifikasi tindakannya. Bentuk rasionalisasi ini dapat berupa rasa nasionalisme atau bela negara dalam dosis yang akut.

Dalam contoh di atas, seseorang bukan merepresi dorongan primitifnya, melainkan merepresi kesadaran terhadap dorongan tersebut. Akhirnya, rasionalisasi tanpa sadar menjadi tindakan pemberian lampu hijau kepada manusia untuk bersikap seperti binatang. Erich Fromm mengatakan bahwa represi tidak hanya dilakukan terhadap dorongan tersebut, tetapi kepada fakta yang mungkin menentang rasionalisasinya. [3]

Sigmund Freud mengatakan bahwa mekanisme psikologis yang mendasari represi adalah rasa takut. [3] Salah satu bentuk rasa takut yang dapat kita baca dari konflik Papua adalah rasa takut kehilangan identitas diri. Masyarakat Papua melakukan perlawanan dalam bentuk anarkis, sementara aparat tak jarang menembakkan gas air mata, peluru karet, atau peluru tajam.

Mengapa masyarakat Papua maupun aparat melakukan hal tersebut? Keduanya takut kehilangan identitas diri. Monyet jelas bukan merupakan gambar diri yang ada di benak masyarakat Papua. Mereka menentang identitas yang disematkan kepada mereka dengan memberikan perlawanan. Sementara di sisi lain, identitas aparat sebagai penjaga kesatuan negara juga dipertaruhkan di sini. Apabila mereka gagal meredam aksi massa Papua, identitasnya akan ternodai. Dalam hal ini, kedua pihak merupakan korban dari konflik internal 'identitas' yang mengambil wujud dalam bentuk rasialisme dan patriotisme. Baik masyarakat Papua maupun aparat sama-sama menjadi korban.

H. S. Sullivan menyebut represi seseorang terhadap fakta yang menentang rasionalisasinya dengan terminatensi selektif’ (selective inattention). [4] Inatensi selektif dilakukan di dalam alam bawah sadar dengan cara mengambil potongan-potongan informasi yang mampu memperkuat rasionalisasi seseorang. Dengan mekanisme ini, seseorang akan memiliki bias dalam personifikasi terhadap hal diluar dirinya dan memandang realitas sebagai potongan gambar ketimbang suatu keutuhan.

Memandang dunia melalui gambar atau imaji juga ditegaskan Guy Debord dalam Society of The Spectacle. Relasi antarmanusia dalam konsep Debord tidak lagi terbatas pada relasi personal. Hubungan antarmanusia termediasi oleh gambar/imaji yang terus menerus diproduksi baik oleh sistem masyarakat maupun individu. [5]

Imaji ini tidak hanya mengubah interaksi antarmanusia, tetapi juga nilai dan norma di dalam masyarakat. Apa yang ‘baik’ akan dipertontonkan dan apa yang dipertontonkan itu baik. Oleh karena itu, sistem ini menuntut penerimaan pasif dari entitas di dalamnya. Pola penerimaan pasif ini sebenarnya sudah tercapai dengan monopoli imaji yang beredar.

Jika apa yang beredar di publik telah diseleksi terlebih dahulu oleh penguasa, lantas realitas yang kita lihat merupakan realitas semu. Apabila realitas semu ini tidak kita sadari, dan represi terhadap kesadaran kita tetap berlangsung, maka terbentuk lah fantasi yang sempurna yang bisa kita salah artikan sebagai apa yang nyata.

Dengan demikian, cepat atau lambat akan terbentuk suatu tatanan masyarakat yang hidup dalam hegemoni kaum yang berkepentingan; suatu masyarakat pasif yang tidak mampu mengkritisi; sebuah masyarakat yang kesadarannya merupakan akumulasi dari doktrin penguasa. Sebuah distopia yang sempurna, masyarakat yang mati!

Dan lebih parahnya, bisa jadi kita adalah salah satu di antara mereka.

Cui Bono?

Salah satu cara menggali lebih dalam adalah dengan melontarkan pertanyaan, cui bono? “Siapa yang diuntungkan?”

Jika Papua merdeka, cui bono?

Dalam logika kapitalisme, negara merupakan alat untuk melanggengkan sistem kapitalisme. [6] Negara menjadi alat pemilik modal untuk memberikan peraturan kepada masyarakat. Peraturan-peraturan ini bertujuan menjaga relasi kuasa antara negara dan masyarakat. Dengan begitu, dorongan untuk melawan akan teredam sementara perputaran roda produksi tetap berjalan.

Apabila suatu alat sudah rusak, pilihannya hanya ada dua: memperbaiki atau membeli baru. Keputusannya dilandaskan pada logika “meraup untung sebesar-besarnya dengan biaya sekecil-kecilnya.”

Jika Papua merdeka, berapa besar kemungkinan Freeport meningkatkan eksploitasinya? Dengan menjadi negara baru, Freeport dapat mengatur ulang perjanjian dengan Papua dan meningkatkan eksploitasi terhadap sumber daya alam di Tanah Papua. Biaya yang dikeluarkan Freeport untuk Papua akan jauh lebih kecil ketimbang ke Indonesia.

Sementara itu, Indonesia pun akan berusaha mempertahankan Papua. Tanpa Papua, Indonesia kehilangan salah satu pilar penunjang ekonominya. Dari contoh di atas, kita dapat menarik sebuah pola. Entah berkedok nasionalis, entah tampil telanjang, tujuan kapitalisme adalah menambah pundi-pundi kekayaan kelas borjuasi.

Manusia dibuat miskin hingga taraf produksi dan konsumsi. Melalui monopoli imaji yang ada di masyarakat, konsep hidup layak telah dimodifikasi oleh sistem kapitalisme. Anda dapat hidup dengan layak jika Anda mengonsumsi. Ketika Anda mengonsumsi suatu produk, Anda turut menyumbang tenaga untuk memutar roda kapitalisme.

Bagaimana cara untuk mendapatkan kemampuan mengonsumsi? Tentu dengan bekerja. Alhasil, masyarakat akan teralienasi dan terpisah-pisahkan karena seluruh waktunya habis untuk kegiatan produksi dan konsumsi.

Jika masyarakat diharuskan untuk bekerja tanpa henti, disparitas antar kelas akan semakin tinggi. Kelas borjuasi akan semakin kaya dan tak bermoral karena tujuan pertama -bahkan utama- mereka adalah akumulasi kapital sebesar-besarnya, sementara kelas pekerja akan semakin terasing dan terdiam dalam keterpisahan yang sempurna.

Dalam keterpisahan ini, kita harus bersandar penuh pada kemampuan kita untuk berpikir melampaui apa yang terlihat. Sebab, bagaimana mungkin seseorang mendapatkan pemahaman yang menyeluruh dari realitas parsial yang disuguhkan kepadanya?

Quo Vadis?

Meskipun kaum tertindas tidak selamanya akan tinggal diam, para penindas pun demikian. Penindasan akan mengambil bentuk dan kerangka yang baru. Lalu, siapa yang cukup kuat untuk membebaskan kita dari cengkeraman ketidakadilan?

Permasalahan Papua bukan persoalan yang bisa diselesaikan dengan menyebarkan propaganda sentimental. Kasih sayang atau memaafkan bukanlah jalan keluar dari suatu penindasan, karena para penindas dan sistemnya tidak mengenal belas kasihan. Seluruh usaha menunjukkan kebaikan selalu terwujud dalam bentuk ‘kebaikan semu’. [7]

Hanya kesadaran dari mereka yang ditindas yang mampu membebaskan baik diri mereka sendiri maupun para penindasnya. Karena kelas penindas tidak mungkin menyelamatkan dirinya sendiri dari keserakahannya.

Jalan keluar dari perangkap ini bukan suatu keadaan yang utopis. Penindasan harus dianggap sebagai suatu hal yang membatasi, bukan mustahil untuk dihapuskan. Kemudian, kita perlu menyadari bahwa kita sebenarnya memiliki ketakutan yang membelenggu pergerakan untuk memerdekakan diri kita dari situasi tertindas.

Akan tetapi, kita harus sadar bahwa tidak hanya kaum tertindas yang harus dibebaskan, melainkan juga para penindasnya. Mengapa harus keduanya? Karena dengan melawan tanpa kesadaran untuk membebaskan penindas, perlawanan yang kita lakukan hanya akan membentuk kita menjadi penindas-penindas yang baru.

Sebaliknya, jika kita memilih untuk tidak peduli, berarti kita berada di sisi kelompok yang tidak melihat kemanusiaan sebagai cita-cita umat manusia. Seperti kutipan di awal tulisan ini, tidak acuh adalah penyebab timbulnya rasa takut.

Takut merupakan perasaan yang timbul ketika kita menghadapi ancaman atau bahaya. Ketidaktahuan kita tentang ancaman atau bahaya tersebut membuat rasa takut itu semakin besar. Dalam logika tindas-menindas, rasa takut itu dipelihara oleh para penindas dan dibiarkan bertumbuh.

Belum lagi, secara naluriah kita memiliki mekanisme pertahanan terhadap dorongan primitif kita dengan cara memilih-milih informasi dalam realitas semu. Coba bayangkan lantas apa arti kesadaran jika kita masih terbelenggu kenyataan palsu dan ketidaktahuan?

Jika sampai hal itu terjadi, maka kemerdekaan hanyalah omong kosong belaka dan kemanusiaan hanya bualan kaum penguasa untuk tetap menjalankan roda penindasan. Kaum tertindas harus rela mendorong roda tersebut sekuat tenaga hanya untuk menindas kawannya sendiri.

Cui bono?

Salam Pembebasan
Fausto Axel Evans Keiluhu


Daftar Pustaka

[1] Kant, Immanuel. Critique of Pure Reason. Penyunt. Paul Huyer. Cambridge: Cambridge University Press, 1998.
[2] Driyarkara, Nikolaus. Karya Lengkap Driyarkara; Esai-Esai Pemikiran yang Terlibat Penuh dalam Perjuangan Bangsanya. Penyunt. SJ A Sudiarja. Jakarta: Gramedia, 2006.
[3] Fromm, Eric. Beyond the Chains of Illusion: My Encounter with Marx and Freud. New York: Continuum, 2009.
[4] Sullivan, H. S. The Interpersonal Theory of Psychiatry. New York: Norton, 1953.
[5] Debord, Guy. Society of The Spectacle. Detroit: Black & Red, 1983.
[6] Miliband, Ralph. State in Capitalist Society. Merlin Press, 2009.
[7] Freire, Paulo. Pendidikan Kaum Tertindas. Jakarta: Pustaka LP3S Indonesia, 2008.