mapp.png

Wacana pemindahan ibukota Hindia-Belanda ke pedalaman berdampak baik dalam pembangunan sebuah gementee yang baru disahkan 10 tahun sebelumnya. Tata kota Bandoeng diarahkan untuk membangun kawasan utara yang masih kosong dan relatif tidak ada kampung inlander. Dengan kebijakan zonasi rasial, orang Eropa menciptakan benteng raksasa untuk kawasan mereka di sebelah utara dari rel kereta api dan alun-alun, dengan kaum Asia Asing menjadi bemper.

Kavling-kavling dipatok untuk membangun sebuah plan tata kota yang tertata. Dibagilah kota menjadi 11 distrik dengan klasifikasi yang berbeda-beda. Terkhusus plan VIII, yang berlokasi di barat Dagoweg, sepanjang lembah Cikapundung, di sebelah selatan plan III.  Plan ini ditujukan untuk menjadi sebagian pemukiman elit yang memiliki pemandangan lembah, dan sebagian lagi menjadi sebuah sekolah teknik pertama di Hindia, yang mana akan melengkapi sebuah wacana kota menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda.

Patok demi patok menegaskan jurang besar antara dunia luar dan dalam. Bapak donatur utama yang pincang dan minggu ini merupakan peringatan ke-89 kematiannya, memiliki angan bahwa pendirian institusi ini benar-benar kepanjangan tangan dari politik etis, bukan hanya karena kebutuhan pasokan ahli pasca PD I. Dan memang tak melulu orang eropa mengisi sekolah teknik ini. Bahkan seorang inlander yang bermimpi besar untuk menjadi pemimpin bangsa merdeka adalah salah satu lulusan angkatan kedua. Namun, sedari awal sekolah teknik ini sudah menjadi seolah-olah merupakan benteng di dalam benteng. Inlander berparas tampan dan jago deklamasi ini pun merasakannya : rumah indekos dia harus berada jauh di selatan, seperti pada umumnya kaum inlander bermukim. Menembus sandang gelar insinyur bukan berarti dia bisa tinggal di kawasan utara. Utara masih merupakan privilese bagi kaum eropa.

Situasi pasca kemerdekaan juga masih sama saja. Bandung utara pun masih diisi orang kulit putih, bahkan hingga meminta pasukan republik menyingkir dari Bandung. Pembumihangusan Bandung selatan justru yang dilakukan dengan orang pro republik dan diikuti menyingkir ke pedalaman. Nampaknya, benteng dan juga benteng di dalamnya masih kokoh pada peridoe bersiap ini.

Ketika republik sudah diambil alih, begitu juga dengan kawasan utara. Kekosongan peninggalan kolonis pun segera diisi orang republik : dari villa-villa di dago hingga perkebunan di Ujung Berung. Namun, walaupun rakyat mulai mengisi daerah planVIII, benteng yang sudah tidak di dalam benteng ini masihlah berupa benteng. Rakyat kebanyakan merupakan buta huruf, sehingga perbedaan antara rakyat kebanyakan dan orang akademisi nampak seperti jurang dan langit. Masih saja, ilmu pengetahuan menjadi benteng yang tak tertembus bahkan tak tersentuh. Segala kerumitan ilmu dari barat, layaknya orang kulit putih kolonis : asing, berdaya magis, dan tak bisa dipahami.

Seiring dengan situasi politik yang gencar-gencarnya proses nasionalisasi negara dan pemisahan kampus ganesha dengan induk Salemba, juga kekuasaan presiden yang tak terbatas, mengakibatkan mahasiswa dibentuk menjadi pribadi baru. Dosen-dosen Belanda dipulangkan. Mahasiswa sekolah teknik bersentuhan dengan rakyat, karena mahasiswa katanya adalah bagian dari rakyat.

Dalam masa 2 presiden, mahasiswa menjadi salah satu kekuatan tersendiri. Mahasiswa bukan lagi orang asing bagi rakyat. Mahasiswa adalah tombak mereka. Yang bisa digenggam, dan digunakan untuk menghalau ketidakadilan. Ada kalanya para aktivis dan rakyat dengan bebas, tanpa risau, tanpa rasa minder, masuk ke lorong student center ITB, mengobrolkan kegelisahan mereka terhadap pemerintah, menikmati kopi dan rokok dengan mengingat getirnya hidup. Kehangatan menyeruak, di tengah dinginnya udara Bandung. Benteng sudah roboh, tak bersisa, tak berbekas.

Itu dulu, ketika romantisme dan nostalgia masa pergerakan mahasiswa dikenang dan dibukukan. Sekarang, era pasca reformasi, kampus ini sudah dibangun menjadi benteng kembali. Arak-arakan wisuda yang pada mulanya diperuntukkan pesta antara mahasiswa dan rakyat sekitar ITB tinggal memori. Memutari bagian luar kampus dan euforia yang dibagikan kepada warga, menjadi acara pelampiasan lepasnya status mahasiswa, di dalam benteng yang seolah terbuka namun ada jaring-jaring yang melingkupi. Hal ini seolah memang legitimasi bahwa menjadi mahasiswa itu tingkatan tersendiri dari masyarakat, yang menuntut pembedaan dalam upah (terjun ke masyarakat: turun berarti dari posisi yang lebih tinggi dong). Masa-masa datangnya warga ke dalam kampus untuk berbagi resah dan menjadi mercusuar bagi pergerakan tinggallah kenangan. KM ITB mungkin memang masih menjadi tempat semacam itu, namun anggotanya seolah asyik sendiri dan tak menghiraukan lagi hal macam ini.

Budi-Budi seperti di Sore Tugu Pancoran, berjalan di Jalan Tamansari, Jalan Dayang Sumbi dan Jalan Ganeça. Mengamati gelak tawa yang muncul dari dalam benteng. Para tukang ojek yang menunggu para penghuni benteng yang tak muncul-muncul, sekilas mendengar hiruk pikuk di dalam benteng. Para pedangan kaki lima menunggu, hanya berharap para penghuni benteng membeli jajanan mereka.

Bagi para warga sekitar, benteng ini sekarang kembali angker dan mistis. Para penghuni benteng adalah hantu, yang biasanya tiba-tiba pulang ke kamar indekos dan pergi lagi entah kemana. Proses regenerasi hantu tetap, bahkan bertambah pula. Sesekali beberapa hantu mengumbar janji layaknya politisi. Tapi, hantu ini bukan politisi, karena seharusnya tugas mereka sudah bukan tombak lagi. Senjata sudah usang, basi. Penyegaran diperlukan dan inovasi merupakan tantangan.

Gambar terkait

Khalayak dunia luar sebenarnya menunggu kembalinya penghuni benteng. Ketika romantisme masih ada dan meninggalkan jejak-jejak, penghuni benteng adalah pelopor forum dan diskusi. Saya dan teman saya pernah bertanya-tanya, sebagai penghuni benteng, adakah wadah untuk antar kampus di luar sana. Bukan, bukan BEM SI, karena seperti kata teman saya yang bakal calon PresMa UGM namun menolak, organisasi ini menampakkan tanda-tanda tidak sehat. Tapi jawabannya memang ada. Keresahan masih dinaungi oleh komunitas macam Rakapare, Kail Bandung, Warung Bawah Tanah, Angin Malam dan lain lagi. Dalam arah gerak lain juga ada, macam: Greenpeace Bandung, Sahabat Museum KAA, Bandung Heritage Society, BCCF, Hong, Aleut dan lain sebagainya (saya masih mengutuk kenapa tidak ada komunitas yang menyerupai Salihara di Bandung -setahu saya-). Mereka menunggu, tapi apakah memang harus ditunggu?

Selama ini, para penghuni benteng cukup nyaman dengan status quo ini. Segala kegaduhan pemira cukuplah menjadi siklus beranak di dalam benteng, atau berlanjut juga di level negara nantinya (?). Tingkat tak acuh terhadap kemahasiswaan berbanding lurus dengan kehausan akan ilmu dan pengetahuan. Mungkin memang sudah diharapkan penerapan tridharma kampus ditonjolkan, namun apakah berarti penghuni benteng justru bakal lebih siap untuk keluar benteng? Atau perlukah ditiadakan benteng ini?

nb1: Idealnya ilmu adalah poros utama pembangunan bagi semua umat. Menghadirkan ilmu kembali kepada rakyat adalah keharusan. Namun, jika ilmu itu sendiri digunakan sebagai benteng untuk segelintir kelompok saja, “penindasan” lah yang kelak justru terjadi. Revolusi apa yang kelak akan terjadi?

nb2: beberapa info bersumber dari celetukan di sekre MG, dan dari komunitas Aleut.

sumbergambar: http://maps.library.leiden.edu/apps/s7#focus, https://id.wikipedia.org/wiki/Kampus_ITB_Ganesha#cite_note-foto1923-4, http://ppi-hamburg.de/news/lilin-lilin-penyala/

Ditulis pada 23 November 2017