Saya tidak tertarik membahas Cinta karena saya rasa kita semua sepakat bahwa Dian Sastro itu cantik. Apalagi dalam film tersebut Cinta digambarkan senang membaca dan menulis. Eksis pula. Sudah, jangan memperdebatkan hal seperti itu. Percaya saja. Mending kita bahas Rangga yang sebetulnya kontroversial.

Rangga adalah pria fiktif yang suka membaca dan menulis di bidang sastra. Ia berani hidup dalam kesepian selama prinsip hidupnya tetap terjaga. Semasa SMA ia tidak segan pula berteman dengan pegawai yang dianggap rendahan oleh orang kebanyakan. Ayahnya adalah orang yang berani mengungkap kebusukan pemerintah sehingga keluarganya dituduh yang tidak-tidak. Mungkin hidupnya yang keras serta ketidakhadiran ibunyalah yang membuat ia mandiri sehingga memasak bukanlah hal yang asing baginya.

Oke, sekilas pengantar kedua tokoh utama AADC. Sekarang bayangkan apabila Cinta dan Rangga ada di kehidupan sehari-hari. Namun dengan pengecualian, tidak ada Dian Sastro dan Nicholas Saputra yang memainkan peran tersebut. Mungkin Cinta hanya turun pamor sedikit, toh pada dasarnya dia sudah eksis di aktivitas mading dan pergaulan SMA-nya. Tapi Rangga? Patut dipertanyakan.

Asumsikan ketampanan Rangga hanya selevel saya. Rangga sepertinya hanya akan menjadi cowok yang ‘creepy’ saja. Gila aja, ngapain juga Cinta naksir sama cowok ansos kayak gitu? Paling-paling dibilang cowok yang nggak bisa survive di pergaulan, sehingga sok-sokan punya prinsip hidup. Sudah kerjaannya baca buku di pojokan sekolah, sinis pula dengan kehidupan sosialita pada saat itu. Jika kalian ingin hidup seperti Rangga, jangan harap masyarakat menganggap kalian keren seperti dia.

Kalo nggak ganteng, kayaknya kelar dah kisahnya dengan Cinta sejak pertama menolak diwawancara. Serem juga kali Cinta datang ke rumah keluarga yang kritis terhadap pemerintah. Dituduh PKI coy, taruhan nyawa itu. Trauma masyarakat masih kuat karena kejadian GS30/PKI dan propaganda era orde baru. Saat scene molotov melayang, sepertinya Cinta langsung ngibrit tanpa terlebih dahulu ditenangkan Rangga.

Tapi ini bukan berarti saya sinis terhadap film dengan pemeran yang GANTENG dan CANTIK ya. Saya justru bersyukur, pada zaman AADC rilis, budaya baca tulis menjadi suatu hal yang populer dan dianggap keren. Walaupun hanya dalam konteks sastra, namun setidaknya literasi bukanlah hal yang ditakuti. Sayang, hal itu cuma bertahan sementara. Di tahun 2016, semoga saja hanya perasaan saya, masih banyak orang yang menganggap kutu buku itu predikat yang tidak keren. Termakan tayangan remaja kekinian mungkin? Harus punya mobil, ninja dan tongkrongan baru terlihat keren? Ah sudah, jangan suudzon, mungkin saya terlalu banyak menilai masyarakat melalui media sosial.

Banyak kok pemuda sekarang yang ngequote Pramoedya Ananta Toer: “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Saya masih ada harapan melihat hal tersebut. Tapi eh tapi, yang ngequote tahu konteks Pram nulis begitu nggak ya? Jangan-jangan quote “Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan,” konteksnya dikira yang keren-keren. Padahal itu Minke lagi galau mikirin Annelies doang :( Quote memang membuat orang (sedikit) mau baca sih. Tapi ya baca lengkap siapa yang tahu. Yang penting terlihat keren!

Ehem fokus lagi ke Rangga. Jadi kapan nih pria berliterasi — berkemampuan untuk membaca dan menulis — kayak Rangga ngetren lagi? Kasihan loh pemuda kayak saya. Nulis-nulis sok kritis (tapi bias) kayak gini di media, tapi nggak pernah dapet cewek selevel Cinta. Hoki banget emang Rangga. Naskah filmnya utopis sekali. Sedangkan saya yang menulis naskah kehidupan sendiri, hanya bisa menonton mbak Dian Sastro dari layar kaca.

Semoga AADC nggak cuma jadi film percintaan saat remaja ataupun dewasa, tapi juga jadi motivasi orang-orang buat berliterasi (biar jadi keren)

Ditulis oleh Reynaldi Satrio Nugroho